Categories
Artikel Manhaj

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT (Bag.14)

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.14*

بسم الله الرحمن الرحيم

MACAM-MACAM TAUHID

▪Tauhid adalah mengesakan Allah ta’ala dengan beribadah kepadaNya
semata.

Ibadah merupakan tujuan penciptaan alam semesta ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

و ما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون

“Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu (saja).” [Adz-Dzaariyaat: 56]

Maksudnya yaitu !
Agar manusia dan jin mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah dan mengkhususkan kepadaNya dalam berdo’a

Tauhid berdasarkan Al-Qur’anul Karim terbagi tiga macam:

1⃣ TAUHID RUBUBIYAH
Yaitu Pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb dan Maha Pencipta. Orang-orang kafirpun mengakui macam tauhid ini.

Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai kaum muslimin. Allah berfirman,

و لئن سألتهم من خلقهم ليقولن االله

Dan sungguh, jika Kamu bertanya kepada mereka. “Siapakah yang menciptakan mereka”, niscaya mereka akan menjawab, “Allah”. [Az-Zukhruf: 87]

Berbeda dengan orang-orang komunis, mereka mengingkari keberadaan Tuhan. Dengan demikian, mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah.

2⃣ TAUHID ULUHIYAH
Yaitu Mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyari’atkan

Seperti; berdo’a, memohon pertolongan kepada Allah, thawaf, menyembelih binatang kurban, bernadzar dan berbagai ibadah lainnya

Jenis tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan tauhid ini pula yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh alihissalam hingga diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam

Dalam banyak suratnya, Al-Qur’anul Karim sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyah ini

Di antaranya, agar setiap muslim berdo’a dan meminta hajat khusus kepada Allah ta’ala semata

Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman,

إياك نعبد و إياك نستعين

Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan. [Al-Fatihah: 5]

Maksudnya !
Hanya khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdo’a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selainMu

Tauhid uluhiyah ini mencakup masalah berdo’a semata-mata hanya kepada Allah ta’ala, mengambil hukum dari Al-Qur’an, dan tunduk berhukum kepada syari’at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah,

إنني أنا االله ، لا إله إلا أنا فاعبدوني

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.” [Thaha: 14]

(Bab ini bersambung pada pembagian tauhid yang ketiga)

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

HUKUM BID’AH DALAM AGAMA ISLAM

*HUKUM BID’AH DALAM AGAMA ISLAM*

Sesungguhnya agama Islam sudah sempurna setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maa-idah: 3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan semua risalah, tidak ada satupun yang ditinggalkan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunaikan amanah dan menasihati ummatnya. Kewajiban seluruh ummat mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Wajib bagi seluruh ummat untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak berbuat bid’ah serta tidak mengadakan perkara-perkara yang baru karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[1]

Demikian juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”[2]

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama itu diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu sendiri.

Ada bid’ah yang menyebabkan kekufuran (Bid’ah Kufriyah), seperti berthawaf keliling kuburan untuk mendekatkan diri kepada para penghuninya, mempersembahkan sembelihan dan nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada mereka, meminta keselamatan kepada mereka, demikian juga pendapat kalangan Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Rafidhah.

Ada juga bid’ah yang menjadi sarana kemusyrikan, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, shalat dan berdoa di atas kuburan dan mengkhususkan ibadah di sisi kubur.

Ada juga perbuatan bid’ah yang bernilai kemaksiyatan, seperti bid’ah membujang -yakni menghindari pernikahan- puasa sambil berdiri di terik panas matahari, mengebiri kemaluan dengan niat menahan syahwat dan lain-lain.[3]

Ahlus Sunnah telah sepakat tentang wajibnya mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, yaitu tiga generasi yang terbaik (Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in) yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambahwa mereka adalah sebaik-baik manusia. Mereka juga sepakat tentang keharamannya bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan kebinasaan, tidak ada di dalam Islam bid’ah yang hasanah.

Ibnu ‘Umar Rdadhiyallahu anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً.

“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik.”[4]

Imam Sufyan ats-Tsaury rahimahullah (wafat th. 161 H)[5] berkata:

اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا.

“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiyatan dan pelaku kemaksiyatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiyatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.”[6]

Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari (beliau adalah Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada zamannya, wafat th. 329 H.) rahimahullah berkata: “Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apapun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”[7]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44), dari Sahabat Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu, hasan shahih.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.
[3]. Lihat Kitaabut Tauhiid (hal. 82 ) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dan Nuurus Sunnah wa Zhulumaatul Bid’ah (hal. 76-77).
[4]. Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushuulil Bid’ah (hal. 92).
[5]. Nama lengkap beliau adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Abu ‘Ab-dillah al-Kufi, seorang hafizh yang tsiqah, faqih, ahli ibadah dan Imaamul hujjah. Beliau wafat tahun 161 H pada usia 64 tahun. Lihat biografi beliau dalam kitab Taqriibut Tahdziib (I/371).
[6]. Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 238).
[7]. Syarhus Sunnah lil Imaam al-Barbahary (no. 7), tahqiq Khalid bin Qasim ar-Radadi, cet. II/Darus Salaf, th. 1418 H

Sumber: almanhaj
Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT (Bag.13)

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.13*

بسم الله الرحمن الرحيم

THA’IFAH MANSHURAH
(KELOMPOK YANG MENDAPAT
PERTOLONGAN)

(Lanjutan poin ke tujuh)

7⃣ Dengan spesialisasi studi dan pendalamannya di bidang sunnah serta hal-hal yang berkaitan dengannya, menjadikan para ahli hadits sebagai orang yang paling memahami tentang
sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, petunjuk, akhlak, peperangannya dan berbagai hal yang berkaitan dengan sunnah.

Para ahli hadits semoga Allah mengumpulkan kita bersama
mereka. Tidak fanatik terhadap pendapat orang tertentu, betapapun tinggi derajat orang tersebut. Mereka hanya fanatik kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Berbeda halnya dengan mereka yang tidak tergolong ahli hadits dan mengamalkan kandungan hadits. Mereka fanatik terhadap pendapat imam-imam mereka, padahal para imam itu melarang hal tersebut.

Sebagaimana para ahli hadits fanatik terhadap sabda-sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Karenanya !
Tidaklah mengherankan jika ahli hadits adalah kelompok yang mendapat pertolongan dan
Golongan Yang Selamat.

Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Syarafu Ashhabil Hadits menulis;

“Jika shahibur ra’yi disibukkan dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya, lalu dia mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alihi wasallam, niscaya dia akan mendapatkan sesuatu yang
membuatnya tidak membutuhkan lagi selain sunnah

Sebab sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengandung pengetahuan tentang dasar-dasar tauhid, menjelaskan tentang janji dan ancaman Allah ta’ala, sifat-sifat Rabb semesta alam, mengabarkan perihal sifat Surga dan Neraka, apa yang disediakan Allah ta’ala didalamnya buat
orang-orang yang bertaqwa dan yang ingkar, ciptaan Allah ta’ala yang ada di langit dan di bumi.

Di dalam hadits terdapat kisah-kisah para Nabi dan berita-berita orang-orang zuhud, para kekasih Allah, nasihat-nasihat yang mengena, pendapat-pendapat para ahli fiqih, khutbah-khutbah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan mukjizat-mukjizatnya

Di dalam hadits terdapat tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, kabar dan peringatan yang penuh bijaksana, pendapat-pendapat sahabat tentang berbagai hukum yang terpelihara

Allah menjadikan ahli hadits sebagai tiang pancang syari’at, Dengan mereka setiap bid’ah yang keji dihancurkan

Mereka adalah pemegang amanat Allah di tengah para makhlukNya, perantara antara Nabi dan umatnya, orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam memeliharah kandungan (matan)
hadits.

Cahaya mereka berkilau dan keutamaan mereka senantiasa hidup

Setiap golongan yang cenderung kepada nafsu jika sadar pasti kembali kepada hadits

Tidak ada pendapat yang lebih baik selain pendapat ahli hadits

Bekal mereka Kitabullah, dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hujjah (argumentasi) mereka

Rasulullah kelompok mereka dan kepada Beliau nisbat mereka

Mereka tidak mengindahkan berbagai pendapat, selain merujuk kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Barangsiapa menyusahkan mereka, niscaya akan dibinasakan oleh Allah, dan barang siapa memusuhi mereka niscaya akan dihinakan oleh Allah.”

اللهم !
اجعلنا من أهل الحاديث، وارزقنا العمل به، ومحبة أهله، ومناصرة العاملين به

Ya Allah !
Jadikanlah kami termasuk kelompok ahli hadits. Berilah kami rizki untuk bisa mengamalkannya, cinta kepada para ahli hadits dan bisa membantu orang-orang yang mengamalkan
hadits.

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

PEMBAGIAN BID’AH[1]

*PEMBAGIAN BID’AH[1]*

1. Bid’ah Haqiqiyyah
Bid’ah haqiqiyyah adalah bid’ah yang tidak memiliki indikasi sama sekali dari syar’i baik dari Kitabullah, As-Sunnah ataupun Ijma’. Serta tidak ada dalil yang digunakan oleh para ulama baik secara global maupun rinci. Oleh sebab itu, disebut sebagai bid’ah karena ia merupakan hal yang dibuat-buat dalam perkara agama tanpa contoh sebelumnya.[2]

Di antara contohnya adalah bid’ahnya perkataan Jahmiyyah yang menafikan Sifat-Sifat Allah, bid’ahnya Qadariyyah, bid’ahnya Murji’ah dan lainnya yang mereka mengatakan apa-apa yang tidak dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.

Contoh lain adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan hidup kependetaan (seperti pendeta) dan mengadakan perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Isra’ Mi’raj dan lainnya.

2. Bid’ah Idhafiyyah
Adapun bid’ah Idhafiyyah adalah bid’ah yang mempunyai dua sisi. Pertama, terdapat hubungannya dengan dalil. Maka dari sisi ini dia bukan bid’ah. Kedua, tidak ada hubungannya samasekali dengan dalil melainkan seperti apa yang terdapat dalam bid’ah haqiqiyyah. Artinya ditinjau dari satu sisi ia adalah Sunnah karena bersandar kepada As-Sunnah, namun ditinjau dari sisi lain ia ada-lah bid’ah karena hanya berlandaskan syubhat bukan dalil.

Adapun perbedaan antara keduanya dari sisi makna adalah bahwa dari sisi asalnya terdapat dalil padanya. Tetapi jika dilihat dari sisi cara, sifat, kondisi pelaksanaannya atau perinciannya, tidak ada dalil sama sekali, padahal kala itu ia membutuhkan dalil. Bid’ah semacam itu kebanyakan terjadi dalam ibadah dan bukan kebiasaan semata.

Atas dasar ini, maka bid’ah haqiqi lebih besar dosanya karena dilakukan langsung oleh pelakunya tanpa perantara, sebagai pelanggaran murni dan sangat jelas telah keluar dari syari’at, seperti ucapan kaum Qadariyyah yang menyatakan baik dan buruk menurut akal, mengingkari hadits ahad sebagai hujjah,[3] mengingkari adanya Ijma’, mengingkari haramnya khamr, mengatakan bahwa para Imam adalah ma’shum (terpelihara dari dosa)[4] … dan hal-hal lain yang seperti itu.[5]

Dikatakan bid’ah Idhafiyyah artinya bahwa bid’ah itu jika ditinjau dari satu sisi disyari’atkan tetapi dari sisi lain ia hanya pendapat belaka. Sebab dari sisi orang yang membuat bid’ah itu dalam sebagian kondisinya masuk dalam kategori pendapat pribadi dan tidak didukung oleh dalil-dalil dari setiap sisi.[6]

Sebagai contoh bid’ah di sini adalah dzikir jama’i. Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dianjurkan dalam syari’at Islam, namun apabila dilaksanakan dengan berjama’ah, beramai-ramai (massal) dan dengan satu suara, maka amalan ini tidak ada contohnya dalam syari’at Islam.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
______
Footnote
[1]. Lihat al-I’tishaam (I/367 dan seterusnya).
[2]. Ibid.
[3]. Sebagaimana yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dan orang-orang yang serupa dengannya. Lihat kitab ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hal. 148).
[4]. Seperti yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyyah.
[5]. Al-I’tishaam (I/221).
[6]. Ibid.

Sumber: almanhaj
Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.11

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.11*

بسم الله الرحمن الرحيم

TANDA-TANDA GOLONGAN YANG SELAMAT

1⃣ Golongan Yang Selamat

هم قلة بين الناس

“Jumlahnya sangat sedikit di tengah banyaknya umat manusia.”

Tentang keadaan mereka, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طوبى للغرباء:
أناس صالحون، في أناس سوء كثير، من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم

“Keuntungan besar bagi orang-orang yang asing Yaitu; Orang-orang shalih di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada orang yang menta’atinya.” [HR. Ahmad, hadits shahih]

Dalam Al-Qur’anul Karim, Allah memuji mereka dengan firmanNya,

وقليل من عبادي الشكور

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” [QS. Saba’; 13]

2⃣ Golongan Yang Selamat

يعاديهم الكثير من الناس، ويفترون عليهم، وينابزونهم بالألقاب

“Banyak dimusuhi oleh manusia, difitnah dan dilecehkan dengan gelar dan sebutan yang buruk.”

Nasib mereka seperti keadaan para nabi yang dijelaskan dalam firman Allah,

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس و الجن ، يوحي بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu para syetan (dari jenis) manusia dan jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain (dengan) perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” [QS. Al-An’am; 112]

Semisal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika mengajak kaumnya kepada tauhid beliau dijuluki (oleh mereka) sebagai “tukang sihir lagi sombong”.

Padahal sebelumnya mereka memberi gelar kepada beliau dengan julukan “Ash-shadiqul amin” (yang jujur dan terpercaya)

3⃣ Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya tentang
Golongan Yang Selamat, beliau menjawab

هم السلفيون، و كل من مشى على طريقة السلف الصالح

“Mereka adalah salaf (pendahulu kita yang sholeh) dan setiap orang yang
mengikuti jalan para salafush shalih (yaitu; Rasulullah, para sahabat dan setiap orang yang mengikuti jalan petunjuk mereka).”

Sifat-sifat diatas adalah sebagian dari manhaj dan tanda-tanda Golongan Yang Selamat.

Pada pasal-pasal berikut akan dibahas masalah akidah Golongan Yang Selamat yaitu golongan yang mendapat pertolongan.

Semoga kita termasuk mereka yang berakidah Firqah Najiyah (Golongan Yang Selamat) ini, Amin.

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT (Bag.10)

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.10*

Golongan Yang Selamat;

تدعو المسلمين جميعا إلى الجهاد في سبيل الله

“Mengajak seluruh umat Islam
berjihad di jalan Allah”

▪Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan
dan kemampuannya.

Jihad dapat dilakukan dengan beberapa keadaan;

1⃣ Jihad dengan lisan dan tulisan:
Yaitu mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Dengan bersabda,

لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي بالمشركين ، و حتى تعبد قبائل من
أمتي الأوثان

“Hari kiamat tidak akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala.” [Hadits shahih, riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim]

2⃣ Jihad dengan Harta:
Menginfakkan harta buat penyebaran dan perluasan ajaran Islam. Mencetak buku-buku dakwah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada
umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa makanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan

3⃣ Jihad dengan Jiwa:
Bertempur dan ikut berpartisipasi dimedan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah (Laa ilaaha illallah) tetap jaya, dan kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina

Dalam hubungannya dengan ketiga
perincian jihad diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dalam sabdanya:

جاهدوا المشركين بأموالكن وأنفسيكم وألسنتكم

“Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan
lisanmu.” [HR. Abu Daud, hadits shahih]

▪Adapun hukum jihad di jalan Allah ada beberapa keadaan:

1⃣ Fardhu ‘ain:
Berupa perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan agresi ke beberapa negara Islam wajib dihalau. Agresor-Agresor Yahudi misalnya, yang merampas tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan jika hanya berpangku tangan, maka mereka ikut berdosa sampai orang-orang Yahudi terkutuk itu pergi dari wilayah Palestina

Mereka harus berupaya mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam dengan kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun jiwa

2⃣ Fardhu kifayah:
Jika sebagian umat Islam telah ada yang melakukannya, maka sebagian yang lain kewajibannya menjadi gugur.

Seperti dakwah mengembangkan misi Islam ke negara-negara lain, sehingga berlaku hukum-hukum Islam di segenap penjuru dunia.

Barangsiapa yang menghalangi jalan dakwah ini, ia harus diperangi, sehingga dakwah Islam dapat berjalan lancar.

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj

ASAL MUASAL PERKATAAN: “MEREKA (YANG TIDAK MENGIKUTI SUNNAH NABI) LEBIH BAIK AKHLAKNYA DARIPADA YANG MENGIKUTI SUNNAH

*ASAL MUASAL PERKATAAN: “MEREKA (YANG TIDAK MENGIKUTI SUNNAH NABI) LEBIH BAIK AKHLAKNYA DARIPADA YANG MENGIKUTI SUNNAH.”*

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ أُوتُوْا نَصِيْبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْـجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلًا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisaa’: 51]

[2]- Imam Ibnu Katsir -rahimahullaah- berkata:

“Firman Allah:

…وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلًا

“…dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”

Yakni: mereka (orang-orang Yahudi) menganggap orang-orang kafir (kaum musyrikin) lebih utama dari kaum muslimin. (Anggapan semacam ini) dikarenakan kebodohan mereka (Yahudi), dan tipisnya agama mereka, serta kekafiran mereka terhadap kitab Allah (Taurat) yang ada pada mereka.

Imam Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan (dengan sanadnya)…dari ‘Ikrimah, ia berkata: Huyay bin Akhthab dan Ka’b bin Al-Asyraf (tokoh-tokoh Yahudi) datang ke Makkah, mereka (kaum musyirikin) berkata (kepada orang-orang Yahudi tersebut): “Kalian adalah Ahlul Kitab dan Ahli ilmu, maka kabarkanlah kepada kami tentang kami dan tentang Muhammad!” Mereka (orang-orang Yahudi) berkata: “Bagaimana keadaan kalian dan keadaan Muhammad?” Mereka (kaum musyrikin) berkata: “Kami menyambung silaturahmi, menyembelih unta (untuk dibagikan), memberi minum air dan juga susu, memerdekakan budak-budak, dan memberi minum kepada jama’ah Haji. Sedangkan Muhammad adalah “Shunbuur” (terputus, tidak punya keturunan laki-laki), memutus silaturahmi, pengikutnya adalah para pencuri dari kaum Ghifar yang mencuri Jama’ah Haji. Maka, apakah kami yang lebih baik ataukah dia?” Maka orang-orang Yahudi menjawab: “Kalian lebih baik dan lebih benar jalannya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ أُوتُوْا نَصِيْبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْـجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلًا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisaa’: 51]

(Tafsiran) ini diriwayatkan dari banyak jalan, dari Ibnu ‘Abbas, dan dari sekelompok ulama Salaf.”

[“Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Azhiim” (II/335- cet. Daar Thayyibah)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

Categories
Artikel

PENGERTIAN BID’AH

*PENGERTIAN BID’AH*

Bid’ah sama artinya dengan al-ikhtira’ yaitu sesuatu yang baru, yang diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya.[1]

Bid’ah secara bahasa (etimologi) adalah hal yang baru dalam agama setelah agama ini sempurna.[2] Atau sesuatu yang dibuat-buat setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa kemauan nafsu dan amal perbuatan.[3] Apabila dikatakan: “Aku membuat bid’ah, artinya melakukan satu ucapan atau perbuatan tanpa adanya contoh sebelumnya…” Asal kata bid’ah berarti menciptakan tanpa contoh sebelumnya.[4]

Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah pencipta langit dan bumi…” [Al-Baqarah: 117]

Yakni, bahwa Allah menciptakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya.[5]

Bid’ah secara istilah (terminologi) memiliki beberapa definisi yang saling melengkapi menurut penjelasan para ulama, di antaranya:

Al-Imam Ibnu Taimiyyah :
Beliau rahimahullah mengungkapkan: “Bid’ah dalam Islam adalah segala yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib atau bentuk anjuran.”[6]

Bid’ah itu sendiri ada dua macam: Pertama, bid’ah dalam bentuk ucapan atau keyakinan. Kedua, bid’ah dalam bentuk perbuatan dan ibadah. Bentuk kedua ini mencakup juga bentuk pertama, sebagaimana bentuk pertama dapat menggiring pada bentuk yang kedua.[7] Atau dengan kata lain, hukum asal dari ibadah adalah dilarang, kecuali yang disyari’atkan. Sedangkan hukum asal dalam masalah keduniaan dibolehkan kecuali yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ibadah asal mulanya tidak diperbolehkan, kecuali yang disyari’atkan oleh Allah Azza wa Jalla. Dan segala sesuatu (selain ibadah) asal mulanya diperbolehkan, kecuali yang dilarang oleh Allah.[8]

Beliau (Ibnu Taimiyyah) juga menyatakan: “Bid’ah adalah yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau ijma’ para ulama as-Salaf berupa ibadah maupun keyakinan, seperti pandangan kalangan al-Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah dan Jahmiyyah. Mereka beribadah dengan tarian dan nyanyian dalam masjid. Demikian juga mereka beribadah dengan cara mencukur jenggot, mengkonsumsi ganja dan berbagai bid’ah lainnya yang dijadikan sebagai ibadah oleh sebagian golongan yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wallaahu a’lam.”[9]

Imam asy-Syathibi (wafat tahun 790 H):[10], Beliau menyatakan:

اَلْبِدْعَةُ: طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ ِللهِ سُبْحَانَهُ.

“Bid’ah adalah cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syari’at dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ungkapan: “Cara baru dalam agama,” maksudnya bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama. Tetapi sesungguhnya cara baru yang dibuat itu tidak ada dasar pedomannya dalam syari’at. Sebab dalam agama terdapat banyak cara, di antaranya ada cara yang berdasarkan pedoman dalam syari’at, tetapi juga ada cara yang tidak mempunyai pedoman dalam syari’at. Maka, cara dalam agama yang termasuk dalam kategori bid’ah adalah apabila cara itu baru dan tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Artinya, bid’ah adalah cara baru yang dibuat tanpa ada contoh dari syari’at. Sebab bid’ah adalah sesuatu yang ke luar dari apa yang telah ditetapkan dalam syari’at.

Ungkapan “menyerupai syari’at” sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada-adakan dalam agama itu pada hakekatnya tidak ada dalam syari’at, bahkan bertentangan dengan syari’at dari beberapa sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syari’at. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang tidak ada ketentuannya dalam syari’at.

Ungkapan “untuk melebih-lebihkan dalam beribadah kepada Allah”, adalah pelengkap makna bid’ah. Sebab demikian itulah tujuan para pelaku bid’ah. Yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya seperti disebutkan dalam firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyaat: 56). Seakan-akan orang yang membuat bid’ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid’ah adalah untuk beribadah sebagaimana maksud ayat tersebut. Dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syari’at tentang undang-undang dan hukum-hukum belum men-cukupi sehingga dia berlebih-lebihan dan menambahkan serta mengulang-ulanginya.[11]

Beliau rahimahullah juga mengungkapkan definisi lain: “Bid’ah adalah satu cara dalam agama ini yang dibuat-buat, bentuknya menyerupai ajaran syari’at yang ada, tujuan dilaksanakannya adalah sebagaimana tujuan syari’at.”[12]

Beliau rahimahullah menetapkan definisi yang kedua tersebut bahwa kebiasaan itu bila dilihat sebagai kebiasaan semata tidak akan mengandung kebid’ahan apa-apa, namun bila dilakukan dalam wujud ibadah, atau diletakkan dalam kedudukan sebagai ibadah, ia bisa dimasuki oleh bid’ah. Dengan cara itu, berarti beliau telah mengkorelasikan berbagai definisi yang ada. Beliau memberikan contoh untuk kebiasaan yang pasti mengandung nilai ibadah, seperti jual beli, pernikahan, perceraian, penyewaan, hukum pidana, karena semuanya itu diikat oleh berbagai hal, per-syaratan dan kaidah-kaidah syari’at yang tidak menyediakan pilihan lain bagi seorang muslim selain ketetapan baku itu.[13]

Imam al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat th.795 H):[14]
Beliau rahimahullah menyebutkan: “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah yang tidak memiliki dasar hukum dalam ajaran syari’at yang mengindikasikan keabsahannya. Adapun yang memiliki dasar dalam syari’at yang menunjukkan kebenarannya, maka secara syari’at tidaklah dikatakan sebagai bid’ah, meskipun secara bahasa dikatakan bid’ah. Maka setiap orang yang membuat-buat sesuatu lalu menisbatkannya kepada ajaran agama, namun tidak memiliki landasan dari ajaran agama yang bisa dijadikan sandaran, berarti itu adalah kesesatan. Ajaran Islam tidak ada hubungannya dengan bid’ah semacam itu. Tak ada bedanya antara perkara yang berkaitan dengan keyakinan, amalan ataupun ucapan, lahir maupun bathin.

Terdapat beberapa riwayat dari sebagian Ulama Salaf yang menganggap baik sebagian perbuatan bid’ah, padahal yang dimaksud tidak lain adalah bid’ah secara bahasa, bukan menurut syari’at.

Contohnya adalah ucapan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ketika beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat Tarawih) dengan mengikuti satu imam di masjid. Ketika beliau keluar, dan melihat mereka shalat berjamaah. Maka beliau berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah yang semacam ini.”[15]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
___
Footnote
[1]. Menurut Imam ath-Thurthusyi dalam al-Hawaadits wal Bida’ (hal. 40), dengan tahqiq Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid.
[2]. Mukhtaarush Shihaah (hal. 44).
[3]. Al-Qamuus al Muhiith, Lisaanul ‘Arab dan al-Fataawaa karya Ibnu Taimiyyah.
[4]. Mu’jamul Maqaayis fil Lughah (hal. 119).
[5]. Mufradaat Alfaazhil Qur-an (hal. 111) oleh ar-Raaghib al-Ashfahani, materi kata bada’a.
[6]. Majmuu’ Fataawaa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (IV/107-108).
[7]. Ibid, (XXII/306).
[8]. Ibid, (IV/196).
[9]. Ibid, (XVIII/346 dan XXXV/414).
[10]. Al-I’tisham (hal. 50), Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Gharnathi asy-Syathibi, tahqiq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, cet. II/Daar Ibni ‘Affan, 1414 H.
[11]. Lihat ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hal. 24-25) oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid
[12]. Al-I’tishaam (hal. 51).
[13]. Al-I’tishaam (II/568, 569, 570, 594). Lihat juga Nuurus Sunnah wa Zhulumaatul Bid’ah oleh Syaikh Sa’id bin Wahf al-Qahthany (hal. 30-31).
[14]. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (hal. 501, cet. II/Daar Ibnul Jauzi, th. 1420 H) tahqiq Thariq bin ‘Awadillah bin Muhammad. Lihat Nuurus Sunnah wa Zhulumaatul Bid’ah (hal. 30-31).
[15]. Shahiihul Bukhari (no. 2010).

Sumber: almanhaj
Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Manhaj

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT (Bag.9)

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.9*

💊 Golongan Yang Selamat;

تنكر قوانين وضعية التي هي من وضع البشر، المخالفتها حكم الإسلام

“Mengingkari peraturan
perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, apabila
undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran
Islam.”

▪Dan mereka mengajak manusia berhukum kepada kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Dan dia (Allah subhanahu wata’ala) maha mengetahui sesuatu yang lebih
baik bagi mereka (manusia).

Dan hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, serta cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.

Dan sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan kemunduran khususnya dalam perkara dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Allah (kitabullah) dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam; baik secara pribadi, kelompok, maupun secara pemerintahan

Kembali kepada hukum-hukum
Kitabullah, sebagai realisasi dari firman-Nya:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri.” [Ar-Ra’ad; 11]

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

AKHLAK BAIK SESEORANG

*AKHLAK BAIK SESEORANG*

Berakhlak yang baik merupakan amalan yang paling berat timbangannya di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَن

“Tidak ada satu amalan pun yang paling berat timbangannya kelak di akhirat selain akhlak yang baik.” [Hadits shahih, diriwayatkan dalam kitab Mushannaf Ibni Abi Syaibah, Musnad Ahmad, dan selainnya]

Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya:

مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ؟

“Amalan apa yang paling banyak menjadikan manusia masuk surga?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

تَقْوَى اللَّهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Bertakwa kepada Allah, dan berakhlak yang baik.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya kembali:

فَمَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟

“Sebaliknya, perbuatan apa yang banyak menjadikan manusia masuk ke dalam Neraka?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

الأَجْوَفَانِ: الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Dua lobang, yaitu mulut dan kemaluan.” [Hadits Hasan, diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Shahih Ibni Hibban, dan selainnya]

#كل_يوم_سؤال_للأطفال_الصغار #أدب

السؤال (٢):
ماهي أثقل الأعمال في الميزان، وأكثر ما يلج به الناس الجنة بعد تحقيق التوحيد؟

الجواب:
الأخلاق الحسنة أثقل الأعمال في الميزان.

قال رسول الله ﷺ:
«مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَن».
(صحيح، مصنف ابن أبي شيبة ومسند أحمد وغيرهم)

وسُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: ” تَقْوَى اللَّهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ “، قِيلَ: فَمَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: ” الأَجْوَفَانِ: الْفَمُ وَالْفَرْجُ ”
(حسن، مسند أحمد وصحيح ابن حبّان وغيرهم)

#عرفات_بن_حسن_المحمدي

Sumber: Channel Telegram Asy Syaikh Arafat Al Muhammadi hafizhahullah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah