Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

NASAB & KELUARGA BESAR NABI MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 2 —————

*🌴 “NASAB & KELUARGA BESAR NABI MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam”*

Nasab Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam terbagi ke dalam tiga klasifikasi:

1) Pertama, ‘yang disepakati oleh Ahlus Siyar wal Ansab’ (para sejarawan & ahli nasab); yaitu urutan nasab beliau hingga kepada Adnan: ‘Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib (nama asli: Syaibah) bin Hasyim (nama asli: Amr) bin Abdu Manaf (nama asli: al-Mughirah) bin Qushay (nama asli: Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (dialah yang dijuluki ‘Quraisy’ yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin an-Nadhar (nama asli: Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama asli: Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.’

2) Kedua, ‘yang masih diperselisihkan antara yang mengambil sikap diam & tidak berkomentar dengan yang berpendapat dengannya’, yaitu urutan nasab beliau dari atas Adnan hingga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu:
‘Adnan bin Add bin Humaisi’ bin Salaman bin Awsh bin Buz bin Qimwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadhaf bin Thabikh bin Jahim bin Nahisy bin Makhiy bin Idh bin Abqar bin Ubaid bin ad-Di’a bin Hamdan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar’awi bin Idh bin Disyan bin Aishar bin Afnad bin Ayham bin Muqashshir bin Ahits bin Zarih bin Sumay bin Mizzi bin Udhah bin Uram bin Qaidar bin Ismail alaihis salam bin Ibrahim alaihis salam’.

3) Ketiga, ‘yang tidak diragukan lagi bahwa di dalamnya terdapat riwayat yang tidak shahih’, yaitu nasab beliau mulai dari atas Nabi Ibrahim alaihis salam hingga Nabi Adam alaihis salam. Yaitu: ‘Ibrahim alaihis salam bin Tarih (nama asli: Azar) bin Nahur bin Saru/Sarugh bin Ra’u bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh alaihis salam bin Lamik bin Mutawasylikh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa di adalah Nabi Idris alaihis salam) bin Yarid bin Mihla’il bin Qaynan bin Anusyah bin Syits bin Adam alaihis salam.’

”Keluarga Besar Nabi”, ‘Al-Usrah an-Nabawiyyah’ (Keluarga Besar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam) lebih dikenal dengan sebutan ‘al-Usrah al-Hasyimiyyah’ (dinisbatkan ke kakek beliau, Hasyim bin Abdu Manaf).

Hasyim termasuk pemuka masyarakat yang hidupnya berkecukupan. Dia mengajak masyarakatnya supaya menafkahkan hartanya untuk memberi makanan kepada para pengunjung Ka’bah ‘(seperti dilakukan oleh Qushay bin Kilab, kakeknya)’.

Hasyimlah orang yang bertanggung jawab atas penyediaan air minum ‘(siqayah)’ & penyediaan makanan ‘(rifadah)’ [untuk jama’ah haji] dari keluarga Bani Abdi Manaf.

Hasyim dikenal sebagai orang yang hidup berkecukupan dan bangsawan besar. Dialah orang pertama yang menyediakan ‘ats-tsarid’ (semacam roti diremuk & disiram kuah ini merupakan makanan paling mewah di kalangan mereka) kepada para jamaah haji di Makkah.

Nama aslinya adalah ”Amr”, kenapa dinamakan Hasyim, Dikarenakan pekerjaannya yang meremuk-remukan roti tersebut ‘(sesuai dengan arti kata Hasyim dalam bahasa Arabnya)’.

Dia jugalah orang pertama yang membuat tradisi melakukan perjalanan niaga bagi kaum Quraisy, yaitu ‘rihlatus syita’ (perjalanan niaga musim dingin ke wilayah Syam), dan ’rihlatush shaif’ (perjalanan niaga musim panas ke wilayah Yaman). Kedua perjalanan tersebut disebutkan di dalam Al-Qur’an surat Quraisy.

Peran Hasyim tidak hanya itu, jasanya sampai ke seluruh Makkah, karena saat musim paceklik, ia mampu membawakan persediaan makanan untuk penduduk Makkah.

Berkat perannya pula Makkah menjadi berkembang dan memilili kedudukan penting di seluruh Jazirah Arab.
Bahkan, ‘Makkah menjadi ibukota’.

Seiring kemajuan itu, anak Abdu’ Manaf yang lain membuat perjanjian damai dengan tetangga-tetangganya. Hasyim, mengadakan perjanjian sebagai tetangga & sahabat dengan imperium Romawi dan penguasa Ghassân. Hasilnya pihak Romawi mengizinkan kaum Quraisy memasuki Syiria dengan aman. Abdu’ Syams, membuat perjanjian dagang dengan Najasyi (Negus). Naufal dan Muththalib, mengadakan persetujuan dengan Persia, dan perjanjian dagang dengan pihak Himyar di Yaman. Sejak itulah, ‘Makkah bertambah maju dan makmur’.

Suatu hari Hasyim berniaga ke Syam.
Ketika tiba di Yatsrib (sekarang Madinah) dia menikah dengan “Salma binti Amr”, seorang putri Bani Adi bin an-Najjar.

Dia tinggal bersama istrinya beberapa waktu, kemudian berangkat ke Syam ‘(sementara istrinya ditinggalkan bersama keluarganya & mengandung Abdul Muththalib)’.

Hasyim akhirnya meninggal di Ghaza, Palestina. Istrinya, melahirkan Abdul Muththalib pada tahun 497 M. Salma mendidik anaknya di rumah ayahnya (Amr) di Yatsrib, ‘Keluarganya yang di Makkah tidak seorang pun mengetahui perihal dirinya.’

Setelah Hasyim meninggal dunia, Kepengurusan masalah air minum dan makanan bagi para peziarah digantikan oleh adiknya, Muththalib.

‘Akan tetapi di tengah kemajuan besar itu, Masyarakat Arab juga mengalami kemunduran yang luar biasa. Itulah sebabnya mereka dijuluki ”Masyarakat Jahiliyah”, yaitu masyarakat yang diliputi kebodohan.’

”Ikhwah fillah, Apa saja kah yang dilakukan masyarakat Jazirah Arab saat itu sehingga dijuluki MASYARAKAT JAHILIYAH ??? ”

‘Nantikan di Episode selanjutnya ya..
In Syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin..’

TO BE CONTINUED……………….

📜 “FOOTNOTES:”

✍🏻 PEMBAGIAN PENGURUSAN

Beberapa jabatan pemerintahan di Makkah saat itu di antaranya adalah:
– Hijabah : Pemegang kunci Ka’bah
– Siqoyah: Penyedia air minum
– Rifadah : Penyedia makanan
– Nadwa : Pengurusan rapat tiap tahun musim
– Liwa’: Pengurusan panji-panji
– Qiyadah : Pengatur/pemimpin urusan peperangan

“ANAK-ANAK HASYIM”
Hasyim mempunyai empat orang putra:
1. Asad,
2. Abu Shaifi,
3. Nadhlah,
4. Abdul Muththalib

Dan lima orang putri:
1. Asy-Syifa,
2. Khalidah,
3. Dhai’fah,
4. Ruqayyah,
5. Jannah.

“Mulianya Garis Keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam”

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata tentang silsilah keturunannya, “Sesungguhnya ALLAH memilih Kinanah dari garis keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari garis keturunan Kinanah, dan memilih aku dari garis keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.” [HR. Muslim, 4/1782. No. 2276]

Kesaksian tentang suci dan mulianya garis keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam diakui hingga oleh musuh-musuh Islam.

Raja Romawi Heraklius pernah bertanya kepada Abu Sufyan (sewaktu masih kafir) tentang garis keturunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Abu Sufyan berkata, “Dia (Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam) memiliki silsilah garis keturunan yang sangat mulia di antara kami.” [HR. Bukhari, 1/5, Kitab Bad’u Al-Wahyi, no.6]

Ibnu Hisyam berkata, “An-Nadhar adalah Quraisy, Siapa saja yang menjadi anak dari An-Nadhar, Maka dialah orang Quraisy dan siapa saja yang bukan anak-anaknya, maka dia bukan orang Quraisy.”

Orang Quraisy dinamakan seperti itu karena berasal dari kata taqarrasya’ yang artinya; berdagang dan mencari nafkah.

Ibnu Ishak berkata, “Orang Quraisy dinamakan demikian karena mereka kembali bersatu setelah bercerai berai”. Kalau membahasakan sebuah perkumpulan maka selain at-tajammu’ juga bisa dengan kata taqarrasya’. [Lihat ‘Sirah Ibnu Hisyam, 1/102-103, ‘Al-Bidayah’, 2/200-201]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Dr. Syafiq Riza Basalamah, Lc, MA _hafizhahullaah_. Resume Kajian

Ketika Ramadhan Menyapa

*RESUME KAJIAN*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

📒Tema : Ketika Ramadhan Menyapa
🎓Pemateri : Al-Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, Lc, MA _hafizhahullaah_.
🕌Tempat : Masjid Jami’ Abu Ad-Darda’
📅Tanggal : Sabtu 13 Sya’ban 1429 H – 28 April 2018.

📃✏ Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan apa yang Dia kehendaki. Menciptakan sesuai apa yang diinginkan-Nya. Setiap ciptaan itupun tidaklah sama. Ada tingkatan-tingkatannya. Seperti diciptakannya semulia-mulia manusia di muka bumi ini yakni Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi shallahu’alaihi wa sallam mengatakan : “Bahwa sesungguhnya aku kata Nabi adalah semulia-mulia manusia dari anak keturunan cucu Nabi Adam ‘alaihiwasallam.” Hal demikian disebut bukanlah untuk berbangga atau membanggakan diri melainkan sebagai bentuk untuk senantiasa beryukur kepada Allah Ta’ala. Demikian juga dengan mahkluk lainnya seperti para Malaikat. Diantara sekian banyak Malaikat ada 3 Malaikat yang termulia, yaitu Malaikat Jibril, Mikail dan Izrail. Demikian pula teman dan sahabat untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang termulia setelah Nabi yang ada dimuka bumi ini. Demikian pula dengan tempat, Allah Ta’ala memuliakan Makkah dibanding seluruh tempat yang ada di muka bumi ini. Demikian pula dengan waktu ada hari dan bulan yang termulia dibanding hari dan bulan-bulan lainnya. Yaitu hari Jum’at dan Bulan Ramadhan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Qhasas ayat 68.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحٰنَ اللَّهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Al-Qasas: Ayat 68]

✏📃 Allah Ta’ala menciptakan siang mengejar malam dan sebaliknya dan berganti siang dan malam itu agar membuat kita berfikir dan sadar bahwa hidup kita ibarat perjalanan waktu. Dari waktu ke waktu umur kita akan habis hingga datangnya ajal. Dan kini kita tanpa terasa sekarang sudah tanggal 13 Sya’ban, maka sebentar lagi Ramadhan tiba. Tanpa kita sadari Ramadhan sudah menyapa kita. Lantas, apa persiapan yang telah kita siapkan untuk menyambut dan mengisi bulan termulia dari seluruh bulan yang diciptakan Allah Ta’ala. Dengan berjalannya waktu sungguh kita sedikit demi sedikit kita semakin dekat pada satu titik, yakni kematian. Lantas, sebelum berhenti pada titik kepastian itu, amalan apa yang telah kita siapkan jika waktu itu tiba kepada kita. Dan setiap kita akan diberikan kotak amalannya masing-masing dan tiap2 kita akan menjadi saksi bagi dirinya sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Isra’ surat : 12-15.

وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيلًا

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang-benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” [QS. Al-Isra’: Ayat 12]

وَكُلَّ إِنْسٰنٍ أَلْزَمْنٰهُ طٰٓئِرَهُ ۥ فِى عُنُقِهِۦ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ ۥ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَلْقٰىهُ مَنْشُورًا

“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.”
[QS. Al-Isra’: Ayat 13]

اقْرَأْ كِتٰبَكَ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” [QS. Al-Isra’: Ayat 14]

مَّنِ اهْتَدٰى فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرٰى ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُولًا

Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. [QS. Al-Isra’: Ayat 15]

✏📃 Sungguh Allah Ta’ala itu sangat sayang kepada kita umat manusia. Betapa tidak, kita sesungguhnya sangatlah banyak berdosa, tapi Allah Ta’ala ciptakan satu bulan penuh kemuliaan yakni Bulan Ramadhan. Dan sungguh antara Ramadhan ke Ramadhan merupakan masa yang disiapkan sebagai masa pengampunan dosa-dosa. Sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah ayat :183.

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah: Ayat 183]

👤📢 Terkait ayat ini sahabat yang mulia Abdullah ibnu Mas’ud mengatakan : “Ketika dalam Qur’an menyeru dengan seruan “Wahai Orang-orang yang Beriman”..maka pasanglah kuping kalian baik-baik dan dengarkanlah bahwa jika Allah Ta’ala telah menyeru demikian pastilah ada hal-hal kebaikan yang akan disampaikan dan akan diraih atau diberikan kepada manusia terutama orang-orang yang beriman. Sebab yang diseru Allah Ta’ala adalah orang yang beriman.”

✏📃 Do’a yang disyari’atkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika melihat hilal (bulan) ketika tanda masuknya Ramadhan. Doa Tanggal Satu Awal Bulan (Do’a Melihat Hilal) :

“Allahu akbar. Allahumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal-iimaan was-salaamati wal-islaami wat-taufiiqi limaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa. Rabunaa wa rabbukallaahu.”

“Allah Maha Besar, ya Allah, tampakkan hilal (bulan tanggal satu) itu kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufik untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.”

✏📃 Do’a ini bukan khusus untuk bulan Muharram atau Ramadhan atau Syawal saja, tapi juga dibaca setiap awal bulan dalam kalendar Hijriah, sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Nabi berikut: “Dari Ibnu Umar, dia berkata, dulu Rasulullah shalallau ‘alaihi wa sallam apabila melihat Al-Hilal beliau mengucapkan doa: “Allahu akbar. Allahumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal-iimaan was-salaamati wal-islaami wat-taufiiqi limaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa. Rabunaa wa rabbukallaahu.” Allah Maha Besar, ya Allah, tampakkan al-hilal (bulan tanggal satu) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, dengan keselamatan dan Islam, serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau Ridhai. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah” (HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalamShahih Al-Kalimith Thayyib no.162]

✏📃 Keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan :

🍀 Bulan pertama kali diturunkannya Al-Qur’an, surat Al ‘Alaq 1-5, kemuka bumi. Turun di hari Senin tanggal 21 Ramadhan saat itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 41 tahun.

🍀 Di bulan Ramadhan, 8 pintu Surga dibuka dan 7 pintu neraka ditutup oleh Allah Ta’ala. Hal itu terjadi pada masuknya hari pertama Bulan Ramadhan.

🍀 Ini bulan dimana diwajibkannya berpuasa bagi setiap orang yang beriman.

🍀 Di Bulan Ramdhan ada satu malam yang penuh dengan kemuliaan. Yakni malam Qadar.

🍀 Di Bulan Ramadhan ada pembebasan dari siksaat api neraka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ … وفيه : وَلِلَّهِ عُتَقَاءُمِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Ketika awal malam bulan Ramadan tiba… -diantara yang disebutkan- Dan Allah menetapkan (orang-orang yang) dibebaskan dari siksa neraka, dan hal itu (terjadi pada) setiap malam.” [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Orang yang umrah di bulan Ramadhan maka pahalanya seperti Menunaikan Haji bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagi yang memiliki harta pasanglah niat untuk bisa melaksanakan ibadah umrah pada Bulan Ramadhan nanti.

Camkanlah dalam hati kita, pasang target terbaik bahwa Ramdhan tahun ini lebih baik dari tahun lalu.

Alhamdulillah kajianpun selesai.

Semoga bermanfaat dan berfaedah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Aqidah Artikel Manhaj

Alqur’an dan Sunnah

*AQIDAH & MANHAJ*

*🍀 Kaidah yang ke 2 🍀*

_[Kitab Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan]_

Karya Syaikh Al Ubailaan, حفظه الله تعالى

Bahwa landasan persyariatan demikian pula landasan dalam berdakwah beribadah adalah Alqur’an dan Sunnah yang shohihah.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan dalam Alqur’an untuk mentaati Allah dan Rasulnya.

Allah berfirman:

‎وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Taati Allah dan taati Rasul agar kamu di rahmati.” [Al- Imran : 132]

Allah juga berfirman [Az-Zukhruf :43]

‎فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Berpeganglah kepada yang di wahyukan kepadamu.”

Allah memerintahkan nabinya untuk berpegangan kepada wahyu.
Berarti kalau Rasulullah saja berpegangan kepada wahyu, kewajiban kita adalah untuk berpegang kepada wahyu seluruhnya.

Sedangkan Alqur’an dan hadits adalah wahyu.

Allah juga berfirman [Al-Hujurat :1]

‎بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu mendahului Allah dan Rasulnya.”

Yaitu mendahului Allah dan Rasulnya dengan akal kita, pemikiran kita, dengan hawa nafsu atau mendahulukan pendapat siapapun diatas Allah dan Rasulnya.
Itu semua dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Aku tinggalkan kepada kalian 2 perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama berpegang pada 2 perkara tersebut, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.”

Kata Beliau (Syaikh Al Ubailaan):
“Ini sebetulnya penyempurnaan dari kaidah yang pertama.
Bahwa tidak akan di terima di sisi Allah kecuali apabila sesuai dengan apa yang di turunkan oleh Allah dalam Alqur’an dan Sunnah.
Kalau tidak sesuai dengan apa yang di turunkan, maka itu tertolak.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang beramal setengah suatu amalan yang dengan tidak ada perintah kami, maka itu tertolak.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.”

Allah tidak mengatakan, dan taati ulil amri. Karena ketaatan kepada ulil amri — dan ulil amri yang dimaksud di sini ulama dan umaro — Ketaatan kepada mereka mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.

Para ulama berkata: Allah memerintahkan manaati Allah, manaati Rasulnya dan menaati Ulil Amri dari kalangan ulama dan umaro.

Dan yang di maksud dengan ulil amri adalah ulama dan Umaro

Tapi ketaatan kita kepada ulil amri itu apabila sejalan dengan perintah Allah dan rasulnya.

Bukan dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah dan perintah rasulnya.

Karena tidak boleh kita menaati mahluk untuk memaksiati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka inilah ya akhowati islam dasar kita dalam beragama, di dalam ibadah, dalam berdakwah.

Di dalam persyariatan semuanya harus berdasarkan kepada Alqur’an, yang kedua berdasarkan kepada hadits yang shohih.

Wallahu a’lam

📚 Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Aqidah Artikel Manhaj

Ikhlas dan Mutaba’ah

*AQIDAH & MANHAJ*

*🍀 Kaidah yang ke 1 🍀*

_[Kitab Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan]_

Karya Syaikh Al Ubailaan, حفظه الله تعالى

kata beliau (Syaikh Al Ubailaan) : Agama kita dibangun diatas 2 pokok yang agung.

Yang pertama yaitu ikhlas –> yaitu ikhlas, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Yang kedua adalah Mutaba’ah (ittiba kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Ini adalah merupakan 2 POKOK YANG AGUNG, yang merupakan makna daripada _Asyhadu alla ilaaha illallah_
_Wa asyhadu anna_ _Muhammadar Rasulullah_.

Ketika kita mengucapkan _Asyhadu alla ilaaha illallah_ artinya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan ketika kita mengatakan _Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah_ artinya kita memurnikan ittiba atau mutaba’ah kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Dimana amal kita harus sesuai dengan apa yang di syari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam

Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 2:

‎الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ

“Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan agar Allah menguji kalian siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.”

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

“Yang lebih baik amalnya, artinya yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Yang paling ikhlas artinya yang betul-betul karena Allah.

Dan yang paling benar artinya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Kata Beliau (Syaikh Al Ubailaan) : Manusia di lihat dari 2 pokok ini, ada 4 macam:

1. Ahlul Ikhlas.

Mereka adalah orang-orang yang betul-betul ikhlas wal Mutaba’ah (dan betul-betul mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Maka ini adalah derajat yang paling tinggi.

2. Orang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutaba’ah.

Sudahlah hatinya tidak ikhlas, tidak mengharapkan wajah Allah, sudah begitu tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Ini yang paling buruk tentunya

3. Orang yang ikhlas amalannya, tapi tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, namun ia berbuat mengada-ada kebid’ahan.

Maka amalannya juga tertolak.

4. Orang yang amalannya sesuai dengan sunnah Rasul tapi tidak ikhlas, maka inipun sama tidak diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Maka yang terbaik adalah yang pertama, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dan ia ikhlas di dalam mengamalkan ibadah tersebut.

Maka setiap kita berusahalah semaksimal mungkin akhowati islam untuk merealisasikan keikhlasan dengan cara mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah, bukan karena pujian manusia, bukan pula karena mengharap dunia, tidak pula karena ia ingin diberikan kesenangan dari kehidupan dunia ini.

Maka ini adalah merupakan akhwati islam kaidah yang harus kita benar-benar kita perhatikan dalam masalah tarbiyah dan islah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah.

Wallahu a’lam

📚 Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

MAKKAH

SIRAH NABAWIYAH

————— EPISODE 1 —————

🕋 “MAKKAH” 🕋

Makkah adalah kota suci bagi kaum muslimin (Al-Ashimah Al-Muqadasah).
Secara geografis, kota Makkah terletak di sebelah barat Kerajaan Arab Saudi di ‘tanah Hijaz’, dikelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi, Berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut.

Kota ini terletak sekitar 400 kilometer arah barat daya kota Madinah, atau sekitar 120 kilometer dari arah timur kota Thaif, atau sekitar 72 kilometer dari arah kota Jeddah dan pantai Laut Merah.

Di dalam kota Makkah inilah letaknya Ka’bah ‘(Baitullah: rumahnya Allah)’,
Sebagai kiblat di mana seluruh umat muslim menghadapkan diri saat sedang sholat.

Makkah adalah sebuah lembah yang tidak begitu luas di tengah lautan pasir. Bukit-bukit mengurung lembah ini rapat-rapat. Begitu rapatnya sehingga cuma ada 3 jalan keluar masuk kota Makkah. Jalan pertama menuju Yaman, Jalan kedua menuju Laut Merah, dan Jalan ketiga adalah menuju Persia.

Ribuan tahun yang lalu, lembah Makkah hanyalah sebuah tempat persinggahan rombongan kafilah, baik yang datang dari Yaman menuju Palestina maupun sebaliknya, dan yang datang dari Persia menuju Yaman. Nabi Ismail ‘alaihis salam dan Ibunya lah yang pertama kali membuat Makkah menjadi sebuah kota.

Kota Makkah terletak di Jazirah Arab,
dahulu merupakan daerah subur,
tetapi kemudian dalam waktu yang cukup lama mengalami kekeringan-kekeringan. Kini Jazirah Arab sebagian besar merupakan gurun pasir dan gunung berbatu.

Namun di Jazirah Arab masih ada tanah-tanah subur yang telah dihuni sejak lama. Tanah-tanah subur itu terletak terutama di daerah pantai,
seperti Yaman, Yamamah, Hadramaut, dan Ahsa.

Sejarah Islam telah bersaksi bahwa cahaya kebenaran dari dakwah Islamiyah telah terpatri ke seluruh pelosok dunia dari kota yang terletak di tengah-tengah peta dunia itu.

‘Nabi Ibrahim ‘alaihis salam’ berhijrah dari negeri Irak menuju Haran atau Hirran, setelah itu ke Palestina yang beliau jadikan markas dakwahnya.

Beliau pernah mengunjungi Mesir.
Fir’aun (sebutan bagi penguasa Mesir atau sering disebut Ramses) kala itu berniat buruk terhadap istri beliau, ‘Sarah’. Namun ALLAH membalas tipu dayanya, dan tersadarlah Fir’aun betapa kedekatan hubungan Sarah dengan Allah, hingga akhirnya ia jadikan anaknya, ‘Hajar’, sebagai abdi Sarah. [2]

Hal itu dia lakukan sebagai ungkapan pengakuannya terhadap keutamaan Sarah, Kemudian dia (Hajar) dikawinkan oleh Sarah dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kembali ke Palestina, Hasil pernikahannya dengan Hajar tersebut ALLAH anugerahi anak bernama ‘Ismail’. Lalu beliau membawa keduanya ke tanah Hijaz di suatu lembah gersang & tandus di sisi Baitul Haram, yang saat itu hanyalah tanah tinggi berupa gundukan-gundukan. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina.

Selang beberapa hari bekal dan air pun habis, dan tidak ada mata air yang mengalir. Ketika itulah mata air ‘Zamzam’ memancar berkat karunia Allah, menjadi sumber penghidupan bagi mereka berdua ‘(sesuai cerita masyhur yang sudah banyak kita ketahui)’.

Kabilah dari Yaman, yaitu ‘Jurhum Kedua’, datang dan bermukim di Makkah atas izin dari Ibu Ismail. mereka sebelumnya berada di lembah-lembah pinggir kota Makkah. Riwayat Al-Bukhari menegaskan mereka singgah di Makkah setelah kedatangan Ismail, juga dikatakan, mereka sudah biasa melewati lembah ini (Makkah) sebelum itu.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu Abbas secara marfu’. ketika Ismail beranjak dewasa telah belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, mereka tertarik dan kemudian mengawinkannya dengan wanita dari suku mereka, yaitu putri ‘Madhdhadh bin Amr Al-Jurhumi’, sesepuh dan pemuka kabilah Jurhum.

Dari perkawinannya, Nabi Ismail ‘alaihis salam dikarunia Allah sebanyak 12 belas orang anak laki-laki, Yaitu:
1. Nabit (Nabayuth),
2. Qaidar,
3. Adba’il,
4. Mibsyam,
5. Misyma’,
6. Duma,
7. Misya,
8. Hidad,
9. Yutma,
10. Yathur,
11. Nafis, dan
12. Qaidaman.
Anak keturunan ‘Qaidar bin Ismail alaihis salam’ menetap di Makkah,
beranak pinak hingga lahirlah darinya ‘Adnan’ dan anaknya, Ma’ad.
Dari dialah kaum Arab Adnaniyah menisbatkan nasab mereka.
‘Adnan adalah kakek kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam’.

Ikhwah fillah,
Berikutlah beberapa sejarah dari kota dan penduduk Makkah yang merupakan keturunan dari Nabi Ismail alaihis salam. Ingin Berkenalan dengan Keluarga Rasulullah ???

Episode selanjutnya ya..
In Syaa Allah kita semua diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin..

📜 “FOOTNOTES:” 📜

🕋 “Pembangunan Ka’bah atas Perintah ALLAH” 🕋

Pembangunan Ka’bah ini perintah dari ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.
Pembangunannya dari batu, tingginya 9 hasta (4,5 meter), Panjangnya dari arah timur 32 hasta (16 meter), dari arah barat 31 hasta (15,5 meter), dari arah utara 20 hasta (10 meter), dari arah selatan 22 hasta (11 meter).

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah ayat 127]

“Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah (Kajian Islam) episode ke-2 hal. 292”,
Tulisan Dr. Husain Kamaluddin, pada mukaddimahnya beliau menulis sebagai berikut; Yang harus saya sebutkan pada kesempatan ini adalah tatkala saya telah meletakkan langkah-langkah awal pada tulisan ini dan saya menggambar peta dunia, Saya mendapatkan bahwa ‘Makkah adalah berada di tengah lingkaran yang menyentuh segala ujung benua’, atau dengan bahasa lain, Wilayah daratan dari bumi ini terletak di sekitar Makkah dengan letak yang tertata rapi, dan bahwasannya ‘kota Makkah sekarang merupakan pusat orbit bumi daratan’,
dan Mahabenar ALLAH dengan Firman-NYA [baca Al-Qur’an surat As-Syura ayat 7]

🏜 “KEEMIRAN DI HIJAZ” 🏜

Nabi Ismail ‘alaihis salam menjadi pemimpin kota Makkah dan menangani urusan Ka’bah sepanjang hidupnya. Beliau meninggal pada usia 137 tahun. Kedua putra beliau, Nabit kemudian Qaidar bergilir menggantikan posisinya.

Sepeninggal keduanya, urusan Makkah kemudian diambil alih oleh kakek mereka Madhdhadh bin Amr Al-Jurhumi.

Periode Nabi Ismail ‘alaihis salam diprediksi berlangsung sekitar dua puluh abad sebelum Masehi. Dengan demikian masa keberadaan bani Jurhum di Makkah sekitar dua puluh satu abad, Masa kekuasaan mereka atas kota Makkah berkisar dua puluh abad.

Makkah juga sempat dikuasai oleh ‘Bani Khuza’ah’ berlangsung sekitar tiga ratus tahun. Pada periode kekuasaan mereka ini, Kaum Adnan menyebar di kawasan Najd, pinggiran Irak dan Bahrain. Sedangkan marga dari Quraisy bertahan di pinggiran kota Makkah serta menempati rumah-rumah berpencar-pencar di tengah kaum mereka, Bani Kinanah. Mereka tidak memiliki wewenang apa pun dalam Makkah ataupun Ka’bah hingga kemunculan Qushay bin Kilab.

[2] Menurut kisah yang sudah banyak dikenal, Hajar adalah seorang budak wanita. Tetapi seorang penulis kenamaan, Al-Allamah Al-Qadhi Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri telah melakukan penelitian secara seksama bahwa Hajar adalah seorang wanita merdeka, Dan dia adalah putri Fir’aun sendiri. [Lihat ‘Rahmah Li al-Alamin’, 2/36-37 dan juga ‘Tarikh Ibni Khaldun’, 2/1/77]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Categories
Artikel Kisah

KISAH SI KAYA DAN SI MISKIN (PEMILIK DUA KEBUN: SURAT AL-KAHFI 32-44) Bag.1

*SERI KISAH*

*KISAH SI KAYA DAN SI MISKIN (PEMILIK DUA KEBUN: SURAT AL-KAHFI 32-44)*

_PART 1_

Surat Al-Kahfi adalah surat dalam Alquran yang bermuatan kisah-kisah hikmah. Dan itu tampak dari sebagian besar ayat-ayatnya.

Setidaknya ada empat kisah utama dalam surat ini: kisah Ashhabul Kahfi, kisah pemilik dua kebun, kisah Nabi Musa ‘alaihissalam, dan kisah Dzul Qarnain.

Nah.. tulisan kali ini hanya mengajak para pembaca memasuki muatan faidah dari *kisah Pemilik Dua Kebun.* Kisah yang Allah cantumkan antara ayat 32 hingga 44 dari surat Al-Kahfi.

Tidak didapatkan hadits shahih dari Nabi ﷺ yang bercerita kepada kita tentang kisah ini. Maklumat yang kita miliki hanyalah Al Quran saja. Karena itu, akan dijabarkan satu per satu ayat Al Quran sebagai perangkat cerita. Apa yang tak disebutkan Al Quran, kami pun tak akan membicarakannya.

Alquran mengisahkan tentang dua orang lelaki di zaman dulu. Keduanya bersahabat. Yang satu beriman. Dan temannya ingkar. Al Quran tak menerangkan siapa mereka. Namanya. Di zaman siapa mereka hidup. Dimana tempat mereka hidup. Semua disamarkan. Jadi, kita tak tahu siapa mereka. dimana mereka hidup. Dan di zaman apa mereka ada.

Orang yang beriman dalam kisah ini, Allah ﷻ uji dengan kesempitan hidup. Sedikit rezeki, harta, dan barang yang ia miliki. Tapi Allah memberinya nikmat terbesar, yaitu nikmat iman, yakin, dan ridha dengan takdir Allah. Serta berharap surga yang ada di sisi-Nya. Nikmat ini lebih utama dari harta dan materi yang fana.

Temannya yang ingkar, Allah uji dengan kelapangan rezeki. Kemudahan duniawi. Dan Allah beri untuknya harta dan materi yang melimpah. Allah uji dia, apakah bersyukur atau malah kufur. Apakah rendah hati atau malah menyombongkan diri.

Allah mengaruniai yang ingkar dengan dua kebun. Al Quran menyebutkan tentang dua kebunnya sebagai berikut:

جَعَلْنَا لأحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِن أعنابٍ وحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وجَعَلْنَا بينهما زَرْعًا * كِلتا الجنَّتَيْن آتتْ أُكُلَهَا ولم تَظْلِم منه شَيئًا وفَجَّرْنَا خلالهما نَهَرًا * وكان لهُ ثَمَرٌ

_“Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar.”_ [QS. Al-Kahfi : 32-34].

*Si kafir memiliki dua buah kebun anggur.* Pohon-pohon kurma mengelilingi kebunnya sebagai pagar. Di antara dua kebun itu, ada ladang. Allah alirkan air ke kebun itu. Saat panen, ia merasakan limpahan anggur, kurma, dan hasil ladang. Ia kaya, menikmati hasil panennya.

Dengan penataan kebun yang hebat ini, ia pun berbangga. Ia memiliki ilmu dalam mengatur dan memaksimalkan lahan. Ia mampu menggabungkan tanaman yang berbeda dengan susunan rapi, serta irigasi yang baik. Ditambah lagi, dengan perawatannya, ia bisa panen dengan maksimal. Ia pun masuk ke dalam kebun dengan congkak, padahal ia menzhalimi dirinya sendiri. *Ia ingkar dengan anugerah Rabbnya. Dan sombong pada orang lain.*

Ia berkata,

فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

_“Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: *“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”*_ [QS. Al-Kahfi : 34].

Tak hanya itu, kenikmatan harta dan pengikut telah membuatnya lupa. Ia sangka miliknya itu kekal. *Padahal bagaimana bisa sesuatu yang fana menjadi abadi.*

Ia berkata,

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

_“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: *“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.”*_ [QS. Al-Kahfi : 35].

*Harta dan materi yang ia miliki benar-benar membuatnya tenggelam.*

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” [QS. Al-Kahfi : 36].

Demikianlah perasaan seseorang ketika merasakan puncak kuasa dan kaya. Ia pongah. Menyangka karunia harta adalah bukti Allah sayang padanya. Sehingga ia mengira di akhirat akan mendapatkan kedudukan serupa. Atau lebih baik lagi.

*⏯ Bersambung insyaallah…*

[Tafsiran ayat diambil dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al-Baghawy]

✍🏻 Nurfitri Hadi
Sumber: www.kisahmuslim.com

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj Tauhid

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag. 25

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag. 25*

بسم الله الرحمن الرحيم

“URGENSI TAUHID”

(Sambungan poin ke 3-6 dari bab ini)

3). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabatnya agar memulai dakwah kepada umat manusia dengan tauhid

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman sebagai da’i, beliau berpesan (kepadanya),

فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله” وفي رواية “أن يوحدوا الله”

“Hendaknya yang pertama kali engkau serukan mereka adalah bersaksi, “Sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah”, Dalam riwayat lain disebutkan, “Agar mereka mengesakan Allah (saja dalam ibadah)”, [Muttafaq ‘alaih]

4). Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Maknanya, tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kalimat syahadat ini bisa memasukkan orang kafir ke dalam agama Islam, karena ia adalah kunci Surga

Orang yang mengikrarkannya akan masuk Surga selama ia tidak merusaknya dengan sesuatu yang bisa membatalkannya, misalnya syirik atau kalimat kufur.

5). Orang-orang kafir Quraisy pernah menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kekuasaan, harta benda, isteri dan hal lain dari kesenangan dunia, tetapi dengan syarat beliau meninggalkan dakwah kepada tauhid dan tak lagi menyerang berhala-berhala (mereka)

Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihu wasallam tidak menerima semua tawaran itu dan tetap terus melanjutkan dakwahnya

Maka tak mengherankan, dengan sikap tegas itu, beliau bersama segenap sahabatnya menghadapi banyak gangguan dan siksaan dalam perjuangan dakwah, sampai datang pertolongan Allah dengan kemenangan dakwah tauhid

Setelah berlalu masa tiga belas tahun, kota Makkah ditaklukkan, berhala-berhala dihancurkan. Ketika itulah beliau membaca ayat,

جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا” (سورة الإسراء)

“(Dan katakanlah) yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [QS. Al-Israa; 81]

6). Tauhid adalah tugas setiap muslim dalam hidupnya. Seorang muslim memulai hidupnya dengan tauhid. Meninggalkan hidup ini pula dengan tauhid

Tugasnya di dalam hidup adalah berdakwah dan menegakkan tauhid. Tauhid mempersatukan orang-orang beriman, menghimpun mereka dalam satu wadah kalimat tauhid.

Kita memohon kepada Allah, semoga menjadikan kalimat tauhid sebagai akhir dari ucapan kita di dunia, serta mempersatukan umat Islam dalam satu wadah kalimat tauhid. Aamiin.

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Kesulitan mendatangkan kemudahan

*🍀 Kaidah yang ke 3 🍀*

*👉🏼 Kesulitan mendatangkan kemudahan.*

Telah disebutkan bahwa agama ini mudah, namun ketika ada kesulitan, maka lebih diberi kemudahan oleh syariat.

Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan yang melebihi kebiasaan dan bukan hanya sebuah kekhawatiran belaka.
Seperti orang yang sakit takut berwudlu dengan air, namun sebetulnya tidak memberi bahaya apapa.
kecuali bila diduga kuat akan menambah sakitnya, maka diperbolehkan bertayammum.

Kesulitan seperti ini mendatangkan kemudahan. Tentunya kemudahan pun harus sesuai syariat dan bukan disesuaikan selera dan shahwat manusia.

Contoh kaidah ini diantaranya:

⚉ Bolehnya bertayammum ketika tidak ada air, atau ada air namun malah menimbulkan bahaya bila menggunakannya.

⚉ Disyariatkan mengqoshor sholat di saat safar.

⚉ Dibolehkan menjamak dua sholat di saat ada kerepotan baik dalam safar maupun muqim.
.
⚉ Bolehnya sholat sambil duduk bagi orang yang sakit yang tak mampu berdiri.

⚉ Dan sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih”, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.24

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag.24*

بسم الله الرحمن الرحيم

*”URGENSI TAUHID”*

1). Sesungguhnya Allah menciptakan segenap alam agar mereka menyembah kepadaNya

Mengutus para rasul untuk menyeru semua manusia agar mengesakanNya

Al-Qur’anul karim dalam banyak suratnya menekankan tentang arti pentingnya aqidah tauhid, menjelaskan bahaya syirik atas pribadi dan jama’ah

Dan syirik merupakan penyebab kehancuran didunia serta keabadian didalam Neraka

2). Semua para rasul memulai dakwah (ajakan)nya kepada tauhid

Hal ini merupakan perintah Allah yang harus mereka sampaikan kepada umat manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون

“Dan Kami tidaklah mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepada mereka, “bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [QS. Al-Anbiyaa: 25]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tinggal dikota Makkah selama tiga belas tahun. Selama itu, beliau mengajak kaumnya untuk mengesakan Allah, memohon kepadaNya semata, tidak kepada yang lain.

Diantara wahyu yang diturunkan kepada beliau saat itu adalah,

قل إنما أدعو ربي ولا أشرك به أحدا

Katakanlah!
“Sesungguhnya aku hanyalah menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya” [QS. Al-
Jin: 20]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendidik para pengikutnya kepada tauhid sejak kecil. Kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas, beliau bersabda,

إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن باالله

“Bila kamu meminta, mintalah kepada Allah saja dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” [HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Tauhid inilah yang diatasnya di dirikan hakikat ajaran Islam. Dan Allah tidaklah menerima (amalan) seseorangpun yang mempersekutukanNya.

(Bersambung dalam bab ini)

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

KARAKTERISTIK PENGIKUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

*KARAKTERISTIK PENGIKUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH*

📚 Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

1. Hanya bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka senantiasa menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber pengambilan, baik dalam ibadah, akidah, mu’amalah, sikap maupun akhlak. Setiap yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka menerima dan menetapkannya. Sebaliknya, setiap yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka menolaknya, tak peduli siapa pun yang berpendapat dengannya.

2. Menyerah kepada nash-nash syara’, serta memahaminya sesuai dengan pemahaman As-Salafus Shalih. Mereka menyerah kepada nash-nash syara, baik mereka memahami hikmahnya maupun tidak. Mereka tidak menghakimi nash-nash tersebut dengan akal mereka, tetapi mereka menghakimi akal mereka dengan nash-nash syara’.

3. Itiba’ dan meninggalkan ibtida’. Mereka tidak mendahului perkataan Allah dan Rasul-Nya, tidak meninggikan suara di atas suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka juga tida rela jika seseorang meninggikan suara di atas suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Mereka memperhatikan al-Qur’an, baik dalam hal hafalan, bacaan maupun penafsiran. Juga perhatian dengan al-Hadits, baik dalam hal dirayah (matan, isi hadits) maupun riwayah (pembawa hadits).

5. Mereka senantiasa berdalil dengan sunnah shahihah dan meninggalkan pembedaan antara hadits mutawatir dengan ahad, baik dalam hukum maupun aqidah.

6. Mereka tidak memiliki imam yang diagungkan, yang mereka ambil seluruh ucapannya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka menimbangnya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, jika ia sesuai dengan keduanya maka diterima, dan jika tida maka di tolak.

7. Mereka adalah orang yang paling mengerti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengetahui petunjuk, amal, ucapan dan ketetapan-ketetapannya. Karena itu, mereka adalah orang yang paling mencintai beliau dan paling setia mengikuti sunnahnya.

8. Mereka masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan beriman kepada Al-Qur’an secara keseluruhan pula [al-Baqarah/2 : 208].

9. Para pengikut Ahlus Sunnah mengagungkan para as-Salafush Shalih, meneladani dan menjadikan mereka sebagai teladan. Mereka melihat bahwa jalan para as-Salafus Shalih adalah jalan yang paling selamat, paling mengetahui dan paling bijaksana.

10. Mereka memadukan antara nash-nash tentang suatu persoalan dan mengembalikan al-mustasyabih (nash yang belum jelas) kepada al-muhkam (yang telah jelas ketentuannya), yang dengan demikian mereka bisa mencapai kebenaran dalam masalah tersebut.

11. Mereka memadukan antara ilmu dan ibadah. Ini berbeda dengan selain mereka yang terkadang sibuk beribadah dengan meninggalkan ilmu, atau sebaliknya.

12. Mereka memadukan antara tawakal kepada Allah dengan ikhtiar, mereka tidak mengingkari perlunya ikhtiar, sehingga tetap berusaha, tapi pada saat yang sama mereka tidak menggantungkan kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki’. Karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan”. [Hadits Riwayat Muslim 8/56 No. 2664 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

13. Memadukan antara kekayaan harta dengan sikap zuhud terhadapnya. Para pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mengingkari orang yang memiliki kekayaan harta yang melimpah. Sebaliknya mereka memandang, setiap orang harus memenuhi kebutuhan dirinya dan orang yang ada di bawah tanggung jawabnya, dan tidak menggantungkan kepada orang lain. Tetapi, hendaknya tidak menjadikan dunia sebagai puncak harapan dan keinginannya. Mereka juga tidak boleh membenci orang yang lebih menerima dan rela terhadap yang sedikit dari kesenangan dunia. Sebab mereka berpendapat, zuhud letaknya di hati, yakni meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi akhiratnya. Sedangkan orang yang lapang kekayaannya, tetapi ia meletakkannya di tangan dan tidak di hati, dan menyedekahkannya kepada fakir miskin, maka itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Dan itulah keadaan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf dan para sahabat lainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar radiyallahu ‘anhum.

14. Mereka memadukan antara khauf (takut), raja’ (harap) dan hubb (cinta), bahkan mereka berpendapat bahwa antara ketiganya tidaklah bertentangan. [as-Sajdah/32 : 16]. Dalam hal ini terdapat ucapan yang mashur dari para salaf : “Siapa yang menyembah Allah hanya dengan cinta maka dia adalah zindiq, dan siapa yang menyembah Allah hanya dengan perasaan takut maka dia adalah haruri (Khawarij), dan siapa yang menyembah Allah hanya dengan harapan dia adalah Murji’. Sedang yang menyembah Allah dengan takut, cinta daan harapan maka dia adalah mukmin sejati”.

15. Mereka memadukan antara kasih sayang dan lemah lembut dengan sikap keras dan kasar. Ini berbeda dengan selain golongan mereka yang berlaku keras atau lemah lembut dalam setiap kesempatan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa menempatkan sesuatu pada tempatnya, menurut maslahat dan tuntutan kondisi.

16. Mereka memadukan antara akal dengan perasaan. Akal mereka jernih, perasaan mereka jujur dan ukuran yang mereka gunakan tepat. Mereka tidak mengalahkan akal atas perasaan atau sebaliknya, tetapi mereka memadukan antara keduanya dengan sesempurna mungkin. Perasaan mereka kuat, tetapi dikendalikan oleh akal, dan akal dikendalikan oleh syari’at : “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki”. [an-Nur/24 : 35]

17. Keadilan merupakan keistimewaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang paling agung. Mereka adalah orang yang paling adil, dan orang-orang yang paling berhak menta’ati firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah”. [an-Nisaa’/4 : 135]. Bahkan jika kelompok-kelompok lain bertikai maka mereka akan meminta keputusan hukum kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

18. Amanah ilmiah. Di antara bentuk amanah ilmiah yaitu ketika menukil sesuatu, mereka tidak memalsukan atau memutarbalikkan fakta. Jika mereka menukil dari orang yang berbeda pendapat dengan mereka, maka mereka menukilnya dengan sempurna, tidak mengambil apa yang sesui dengan pendapatnya dan meninggalkan yang lain. Dan mereka tidak berfatwa atau memutuskan hukum kecuali berdasarkan apa yang mereka ketahui.

19. Mereka adalah kelompok moderat dan pilihan. Allah berfirman : “Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu, umat yang moderat dan pilihan”. [al-Baqarah/2 : 143]. Sikap moderat Ahlus Sunnah wal Jama’ah tampak dalam banyak hal, baik dalam hal aqidah, hukum, perilaku, akhlak maupun lainnya. Mereka adalah kelompok pertengahan, antara yang berlebih-lebihan dan yang meremehkan.

20. Tidak berselisih dalam masalah-masalah prinsip aqidah. Para As-Salafush Shalih tidak berselisih dalam suatu persoalan prinsip-pun dalam agama, juga tidak dalam prinsip-prinsip aqidah. Dalam masalah Asma’ dan Sifat-sifat Allah misalnya, pendapat mereka adalah satu. Pendapat mereka juga sama dalam masalah iman, defenisi dan berbagai persoalannya, dalam masalah takdir juga dalam masalah-masalah prinsip lainnya.

21. Mereka meninggalkan perseteruan dalam masalah agama, serta menjauhi orang-orang yang suka berseteru. Sebab perseteruan akan mengakibatkan fitnah, perpecahan, fanatisme buta dan hawa nafsu.

22. Perhatian untuk menyatukan kalimat umat Islam pada kebenaran. Mereka sangat peduli bagi kesatuan umat Islam, menghilangkan sebab-sebab pertikaian dan perpecahan. Sebab mereka mengetahui, persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab. Dan karena Allah memerintahkan persatuan dan melarang perselisihan. Allah berfirman : “Dan berpegang lah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali-Imran/3 : 103].

23. Mereka adalah orang-orang yang memiliki wawasan yang luas, pandangan yang jauh ke depan, paling lapang dada dalam soal perselisihan dan paling teguh memegang berbagai peringatan. Mereka tidak risih menerima kebenaran dari siapapun, juga tidak malu untuk kembali kepadanya. Selanjutnya, mereka tidak memaksakan orang lain mengikuti ijtihad mereka, tidak mengatakan sesat orang-orang yang menyelisihinya, dan tidak menjadi sesak dada mereka karena persoalan ijtihadiyah, yang di situ banyak orang berbeda paham. Termasuk tanda keluasan wawasan mereka yaitu mereka jauh dari fanatik, taklid buta dan hizbiyah.

24. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, rendah hati, penuh kasih sayang dan toleran. Dan mereka selalu mengajak kepada akhlak baik dan perbuatan terpuji.

25. Mereka senantiasa berdakwah kepada Allah dengan hikmah, pelajaran yang baik dan perbedaan dengan cara yang baik pula.

26. Mereka adalah ghuraba, orang-orang yang memperbaiki apa yang dirusak menusia dan selalu berbuat baik saat manusia lain rusak.

27. Mereka adalah Firqatun Najiyah, yang selamat dari berbagai bid’ah dan kesesatan di dunia ini dan selamat pula dari siksa Allah kelak di akhirat.

28. Mereka adalah Thaifah Manshurah (kelompok yang menang), karena Allah senantiasa bersama mereka menolong dan meneguhkan mereka.

29. Mereka tidak setia atau memusuhi kecuali berdasarkan agama. Mereka tidak memenangkan hawa nafsunya, juga tidak marah karenanya. Semua kesetiaan dan kebenciannya hanyalah semata-mata karena Allah.

30. Selamat dari sikap saling mengkafirkan satu sama lain. Ahlus Sunnah hanya membantah dan menjelaskan kebenaran kepada orang yang berselisih dengan mereka. Ini berbeda dengan kelompok lain seperti Khawarij yang senang berselisih, menyesatkan dan mengkafirkan.

31. Hati dan lisan mereka selamat dari mencerca shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, hati mereka dipenuhi kecintaan kepada para sahabat, lisan mereka senantiasa basah memuji, karena Ahlus Sunnah berpendapat bahwa para shahabat adalah sebaik-baik generasi sebagaimana dinyatakan Allah dan Rasul-Nya.

32. Mereka selamat dari keragu-raguan, keguncangan dan kontradiksi. Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang awam di antara mereka. Berbeda dengan ahli kalam atau kelompok lainnya. Ar Razi, misalnya, salah seorang pembesar ilmu kalam yang karena kebingungan dan keguncangannya, dalam salah satu syairnya mengatakan : ” Dan akhir dari usaha para ilmuwan adalah kesesatan”. Bandingkanlah hal itu dengan ucapan Umar bin Abdul Aziz : “Di pagi hari aku tidak merasakan kegembiraan kecuali dalam qadha’ dan qadar”.

33. Selalu mengecek ulang berita-berita yang datang dan tidak gampang men-genalisir hukum. Mereka tidak mudah menghukumi fasik, kafir atau tuduhan-tuduhan lain tanpa bukti dan asalan-alasan nyata.

34. Mereka mendapatkan berita gembira saat datangnya kematian, karena keimanan dan istiqamah mereka dalam keimanan tersebut. [Fushilat/41 : 30].

35. Kebaikan mereka di lipat gandakan dan derajat mereka ditingkatkan, hal itu karena aqidah mereka benar dan iman mereka kuat.

Karena semua hal di atas tidak berarti Ahlus Sunnah adalah orang-orang maksum. Tetapi manhaj (jalan) dan jama’ah mereka adalah yang maksum. Jika Ahlus Sunnah memiliki kesalahan kelompok lain lebih banyak, dan jika kelompok lain memiliki keutamaan dan ilmu maka keutamaan dan ilmu Ahlus Sunnah lebih sempurna dan lengkap.

Karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

[Saduran dari Mukhtashar Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin Dakwah An Nur Thn IV/No.140/ Jum’at II/R.Awal 1419H]

Sumber: almanhaj
Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah