Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

MASA MENYUSUI RASULULLAH Shallallahu Alaihi Wa Sallam

*SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 9 —————

*🗓 “MASA MENYUSUI RASULULLAH Shallallahu Alaihi Wa Sallam”*

Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusuinya selama 3 atau 7 hari. Pernah diasuh oleh ‘Ummu Aiman’, ‘Barakah Al-Khabsyiyyah’, kemudian setelah itu disusui oleh ‘Tsuwaibah’, mantan budak Abu Lahab selama beberapa hari.

Tradisi kalangan bangsa Arab yang tinggal di kota adalah mencari para wanita yang dapat menyusui bayi-bayi mereka, sebagai tindakan preventif terhadap tersebarnya penyakit-penyakit kota.

Hal itu mereka lakukan agar tubuh bayi-bayi mereka kuat, berotot kekar dan mahir berbahasa Arab sejak masa kanak-kanak.

Oleh karena itu, Abdul Muththalib mencari wanita-wanita yang dapat menyusui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia mendapatkan wanita penyusu dari kabilah ‘Bani Sa’ad bin Bakr’ bernama ‘Halimah binti Abu Dzuaib’. Suaminya bernama ‘Harits bin Abdul Uzza’ (berjuluk Abu Kabsyah), berasal dari kabilah yang sama.

Dengan begitu, di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memiliki banyak saudara, yaitu ‘Abdullah bin al-Harits’, ‘Anisah binti al-Harits’, ‘Hudzafah’ atau ‘Judzamah binti al-Harits’ (berjuluk asy-Syaima’).

Halimah merawat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam serta ‘Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib’, saudara sepupu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Paman beliau, ‘Hamzah bin Abdul Muththalib’ juga disusui di tengah kabilah Bani Sa’ad bin Bakr. Suatu hari, ibu susuannya menyusui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, saat beliau berada di sisi Halimah. Dengan demikian Hamzah merupakan saudara sesusuan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dari dua pihak, yaitu Tsuaibah dan Halimah as-Sa’diyyah.

Halimah merasakan keberkahan dari kehadiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang membuatnya berkisah yang aneh-aneh tentang dirinya.

‘Ibnu Ishaq berkata’, “Halimah pernah berkisah, bahwasannya ketika dia pergi bersama suami & bayinya bersama rombongan wanita Bani Sa’ad bin Bakr yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi untuk disusui, ketika itu musim paceklik di mana kami tidak memiliki apa-apa lagi, aku pergi mengendarai keledai betina putih kehijauan milikku beserta seekor unta tua.

Demi ALLAH!
Tidak setetes pun susu dihasilkannya, kami tidak bisa melewati malam dengan pulas lantaran tangis bayi kami yang kelaparan sedangkan air susu payudaraku tidak cukup. Air susu unta tua kami sudah tidak berisi. Keledai betinaku tidak kuat meneruskan perjalanan sehingga rombongan kami merasa kesulitan akibat letih & kondisi kekeringan. Akhirnya kami sampai ke Makkah.

Tidak seorang wanita pun di antara kami ketika ditawarkan untuk menyusui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam melainkan menolaknya karena kondisi beliau yang yatim.
Sebab, tujuan kami, hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedang beliau bayi yatim.
Apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu & kakeknya buat kami?
Kami semua tidak menyukainya karena hal itu.
Akhirnya semua wanita penyusu mendapat kan bayi susuan kecuali aku.
Aku berkata pada suamiku,
“Demi ALLAH!
Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan.
Demi ALLAH!
Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku”.

Lalu suamiku berkata,
“Tidak mengapa bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan ALLAH menjadikan kehadirannya di tengah kita sebagai suatu keberkahan”.

Akhirnya aku pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam & membawanya serta. Motivasiku membawanya serta hanyalah karena aku tidak mendapatkan bayi susuan selain beliau.

Setelah itu, aku kembali membawanya menuju tungganganku. Ketika dia kubaringkan di pangkuanku, kedua susuku seakan menyongsongnya meneteki seberapa dia suka hingga kenyang, dilanjutkan oleh bayiku hingga kenyang pula. Keduanya tertidur lelap.

Suamiku memeriksa unta tua kami & ternyata susunya sudah berisi,
Dia memerahnya untuk diminum dan aku ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu adalah malam tidur terindah yang pernah kami rasakan, di mana kami tidur dengan lelap.

Pagi harinya,
Suamiku berkata, “Demi ALLAH!tahukah kamu wahai Halimah?
Kamu telah mengambil manusia yang diberkahi”.

Aku menimpali,
“Demi ALLAH!
Aku berharap demikian”.

Kemudian kami pergi lagi, menunggangi keledai betinaku beserta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam di atasnya.

Demi ALLAH!
Keledai tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh unta-unta merah mereka, sehingga teman-teman wanitaku penuh heran berkata,
“Wahai putri Abu Zuaib!
Ada apa denganmu!
Kasihanilah kami, bukankah keledai ini yang dulu engkau tunggangi ketika pergi?”.

Aku menjawab, “Demi ALLAH, inilah keledai yang dulu itu”.

Mereka berkata, “Demi ALLAH, pasti ada sesuatu pada keledai ini”.

Kemudian sampailah kami di tempat tinggal kami.
Tidak ada bumi ALLAH yang lebih tandus darinya.
Sejak kami pulang membawa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kambingku tampak kenyang dan air susunya banyak sehingga kami memerah dan meminumnya. Padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susu pun meskipun di kantong susu kambing.

Kaumku berkata pada penggembala mereka, “Celakalah kalian! Pergilah, ikuti kemana saja penggembala kambing putri Abu Zuaib menggembalakan kambingnya”.

Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari ALLAH hingga tak terasa 2 tahun berlalu & tiba waktuku untuk menyapihnya.

Dia tumbuh tidak seperti kebanyakan anak sebayanya, sebab sebelum mencapai usia 2 tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor.

Halimah melanjutkan;
Akhirnya kami mengunjungi ibunya,
Kami sangat berharap dia masih bisa berada di tengah keluarga kami. Kami membujuk ibunya.

Aku berkata kepadanya, “Kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang bisa menjangkiti kota Makkah”.

Kami terus memelas hingga dia bersedia mengembalikannya untuk tinggal bersama kami lagi.

Begitulah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam akhirnya tetap tinggal di perkampungan Bani Sa’ad, hingga terjadi peristiwa dibelahnya dada beliau ketika berusia 4 atau 5 tahun.”

Bersambung In Syaa Allah

📜 “FOOTNOTES:” 📜

PEMBELAHAN DADA

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam didatangi oleh Jibril ‘alaihis sallam saat beliau tengah bermain bersama teman-teman sebayanya. Jibril menangkap dan merebahkan beliau di atas tanah lalu membelah jantungnya, kemudian mengeluarkannya, dari jantung ini dikeluarkan segumpal darah.

Jibril berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu (sehingga bila tetap ada, ia dapat memperdayaimu, pent.)!”.

Kemudian mencuci jantung tersebut dengan air zamzam di dalam baskom yang terbuat dari emas, lalu memperbaikinya & menaruhnya di tempat semula. Teman-teman sebayanya tersebut berlarian mencari ibu susuannya seraya berkata, “Muhammad telah dibunuh!”

Mereka akhirnya beramai-ramai menghampirinya & menemukannya dengan rona muka yang sudah berubah.

Anas (periwayat hadist) berkata, “Sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam”. [Shahih Muslim, Kitab al-Isra’, 1/92]

Semua itu sebagai bentuk pengagungan & persiapan untuk memikul beban amanah bukan semata untuk membuang sesuatu yang menjijikkan karena Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memiliki fisik yang sempurna.

Kejadian itu menunjukkan ke-ma’shum-an Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sejak kecil, karena bagian dari setan telah dihilangkan semenjak kecil.

Hal yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam akan besar dalam kondisi tidak terdapat jatah setan dalam kehidupannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terjaga dengan pengertian yang khusus agar tampil beda dengan manusia lainnya.

KEMATIAN AMINAH

Setelah peristiwa pembelahan dada tersebut, Halimah merasa khawatir atas diri beliau sehingga dikembalikan lagi kepada ibundanya. Beliau tinggal bersama ibundanya sampai berusia 6 tahun.

Sebagai bentuk kesetiaannya, Aminah memandang perlu untuk menziarahi kuburan suaminya di Yatsrib (Madinah). Untuk itu, dia keluar dari Makkah menempuh perjalanan yang mencapai 500 km bersama anaknya yang masih kecil, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, pembantunya, Ummu Aiman dan mertuanya, Abdul Muththalib.

Setelah tinggal selama sebulan di sana, dia kembali pulang ke Makkah akan tetapi di tengah perjalanan dia terserang sakit sehingga akhirnya meninggal dunia di suatu tempat bernama al-Abwa’, yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Salla

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

KELAHIRAN NABI MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam

————— EPISODE 8 —————

*🌌 “KELAHIRAN NABI MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam”*

Sayyidul Mursalin,
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di kota Makkah pada hari Senin, tanggal 9 Rabi’ul awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah atau 40 tahun dari berlalunya kekuasaan ‘Kisra Anusyirwan’. Juga bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahung 571M sesuai analisis seorang ulama besar, Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri dan seorang astrolog (ahli ilmu falak), Mahmud Basya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan, Ibunda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menceritakan, “Ketika aku melahirkannya, dari faraj-ku (kemaluan-ku) keluarlah cahaya yang karenanya istana-istana negeri Syam tersinari”. [Imam Ahmad, Ad-Darimi dan periwayat selain keduanya juga meriwayatkan versi yang hampir mirip dengan riwayat tersebut]

Sumber lainnya menyebutkan, telah terjadi ‘irhashat’ (tanda-tanda awal yang menunjukkkan akan diutusnya nabi) ketika kelahiran beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, diantaranya; Jatuhnya 14 beranda istana kekaisaran Persia, padamnya api yang disembah kaum Majusi, dan robohnya gereja-gereja di sekitar danau sawah setelah airnya menyusut. Riwayat tersebut dilansir oleh ath-Thabari, al-Baihaqi, dan lainnya [1] namun tidak memiliki sanad yang valid.

Setelah beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan, ibundanya mengirim utusan ke kakeknya, Abdul Muththalib untuk memberitahukan kepadanya berita gembira kelahiran cucunya tersebut. Kakeknya langsung datang dengan sukacita dan memboyong cucunya tersebut masuk ke Ka’bah; Berdoa kepada ALLAH dan bersyukur kepada-NYA. Kemudian memberinya nama ‘Muhammad’. Padahal nama seperti ini tidak popular ketika itu di kalangan bangsa Arab, dan pada hari ketujuh kelahirannya Abdul Muththalib mengkhitan beliau sebagaimana tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab.[2]

Abdul Muththalib memotong kambing dan mengundang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya, “Wahai Abdul Muththalib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?”

“Saya namakan dia Muhammad.”,
Kata Abdul Muththalib.

Mereka bertanya lagi,
“Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu.”

“Saya berharap penduduk bumi memujinya dan penduduk langit pun memujinya.”, Kata Abdul Muththalib.

Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan arab jahiliyah,
Kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi,
Maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad.

Selain itu,
ALLAH Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi,
Atau bahkan menampakan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya.

Wanita pertama yang menyusui beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam setelah ibundanya adalah ‘Tsuwaibah’. Wanita ini merupakan budak wanita ‘Abu Lahab’ yang saat itu juga tengah menyusui bayinya yang bernama ‘Masruh’. Sebelumnya, dia juga telah menyusui ‘Hamzah bin Abdul Muththalib’, Kemudian menyusui Abu Salamah bin ‘Abdul Asad al-Makhzumi’ [3] setelah menyusui beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,
“Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan pada tahun Gajah dan inilah yang terkenal di kalangan mayoritas ulama”. Ibrahim bin Al-Mundzir berkata, “Dan yang tidak diragukan oleh seorang pun dari ulama kita adalah beliau dilahirkan pada tahun Gajah, tahun 571 Miladiyah”.

Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu,
Di berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ibuku telah bermimpi melihat ada cahaya keluar dari dirinya yang menerangi istana-istana yang ada di Syam”. [4]

Bersambung In Syaa Allah…

📜 “FOOTNOTES:”

📝 PELAJARAN

(A)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan setelah ayahnya meninggal. Dalam hal ini, Ibnu katsir Rahimahullah berkata, “Ini adalah kondisi yatim dalam urutan yang tinggi (beliau ditinggal mati ayahnya sebelum lahir).”

Hikmah yatimnya beliau adalah agar tidak menjadi alasan bagi penolak dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk berkata, “Muhammad melakukan dakwahnya itu karena arahan ayahnya, atau sebagai warisan ayahnya.” Karena ayahnya telah meninggal sebelum dia lahir dan sama sekali belum pernah bertemu. Dengan demikian, alasan sebagai warisan kepemimpinan, arahan, dan permintaan dari seorang ayah terputus.

(B)
Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan dalam keadaan yatim, Hal ini menjadikannya lebih respons dengan nilai-nilai kemanusiaan, Karena orang yang telah merasakan berbeda jauh dengan yang belum pernah melalui masa itu. Anak orang kaya bagaimanapun respons sosialnya tidak akan bisa merasakan perihnya kemiskinan. Kondisi kehidupan seperti yang telah dilalui oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberikan baginya pengalaman dalam menempuh dakwah tatkala diutus.

(C)
Kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam usia balita bersama ibunya tanpa ditemani ayahnya bukan secara kebetulan,
Karena sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, telah hidup para Nabi yang dibesarkan oleh ibunya dalam jumlah yang tidak sedikit, Dan hal ini menunjukkan besarnya peran seorang ibu dalam mendidik anak-anak mereka.

[1] Ad-Dala’il, karya al-Baihaqi, 1/126,127; Tarikh ath-Thabari, op.cit., 2/166,167; al-Bidayah wan Nihayah, 2/268/269

[2] Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau lahir dalam kondisi sudah bersunat (Talqih Fuhumi Ahil al-Atsar, jal.4). Ibnul Qayyim berkata, “Tidak terdapat satu pun hadits yang valid tentang hal ini” (Zad al-Ma’ad, 1/18)

[3] Lihat, Shahih al-Bukhari, no. hadits: 2645, 5100, 5106, 5107, 5572)

[4] Ad-Darami, Sunan, 1/17 nomor 13, pentahqiqnya berkata: diriwayatkan juga oleh Ahmad, At-Thabrani dalam Kitab Al-Kabir, dan sanad Ahmad hasan, Al-Albani menshahihkan dalam kitab Al-Jami’ As-Shagir, hadits nomor 3451.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

ABDULLAH BIN ABDUL MUTHTHALIB

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 7 —————

*👤 “ABDULLAH BIN ABDUL MUTHTHALIB”*

Ibu Abdullah bernama ‘Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Yaqzhah bin Murrah’.
Abdullah adalah anak paling tampan di antara putra-putra Abdul Muththalib, yang paling bersih jiwanya dan paling disayanginya. Dialah yang sebenarnya calon kurban yang dipersembahkan oleh Abdul Muththalib sesuai nadzarnya.

Ketika Abdul Muththalib sudah menggenapkan jumlah anak laki-lakinya menjadi sepuluh orang & mengetahui bahwa mereka mencegahnya agar mengurungkan niatnya, dia kemudian memberitahu mereka perihal nadzar tersebut sehingga mereka pun mau menaatinya. Dia menulis nama-nama mereka di anak panah yang akan diundikan di antara mereka & dipersembahkan kepada patung ‘Hubal’, kemudian undian tersebut dimulai, dan yang keluar adalah nama Abdullah.

Maka Abdul Muththalib membimbingnya sembari membawa pedang dan pergi menuju ke Ka’bah untuk menyembelihnya, namun orang-orang Quraisy mencegahnya, terutama paman-pamannya (dari pihak ibu) dari Bani Makhzum dan saudaranya, ‘Abu Thalib’.

“Lantas, Apa yang harus kuperbuat dengan nadzarku?”, Kata Abdul Muththalib.

Mereka menyarankannya agar mendatangi tukang ramal wanita & meminta petunjuknya. Dia kemudian datang kepadanya & meminta petunjuknya.

Si peramal wanita ini memerintahkannya untuk mengundi antara anak panah bertuliskan nama Abdullah dan anak panah bertuliskan 10 ekor unta; jika yang keluar nama Abdullah maka dia (Abdul Muththalib) harus menambah tebusan 10 unta lagi, begitu seterusnya hingga Rabbnya ridha. Dan jika yang keluar nama unta, maka cukuplah unta itu yang disembelih sebagai kurban.

Abdul Muththalib pun pulang & melakukan undian antara nama Abdullah dan 10 ekor unta, ‘lalu keluarlah nama Abdullah’. Manakala yang rerjadi seperti ini, dia terus menambah tebusan atasnya 10 unta, begitu seterusnya, setiap diundi maka yang keluar adalah nama Abdullah dan dia pun terus menambahnya dengan 10 ekor unta ‘hingga unta tersebut berjumlah 100 ekor barulah undian tersebut jatuh pada nama unta-unta tersebut’, maka kemudian dia menyembelihnya (sebagai pengganti Abdullah).

Unta tersebut ditinggalkannya begitu saja dan ia tidak melarang siapa pun yang menginginkannya, baik manusia ataupun binatang buas. Dulu ‘diyat’ (ganti rugi atas jiwa yang terbunuh) di kalangan orang Quraisy dan Bangsa Arab secara keseluruhan dihargai dengan 10 ekor unta, namun sejak peristiwa itu maka dirubah menjadi 100 ekor unta yang kemudian dilegitimasi oleh Islam.

Abdul Muththalib menjodohkan putranya, Abdullah, dengan seorang gadis bernama ‘Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab’.
Aminah ketika itu termasuk wanita idola di kalangan Quraisy, baik ditilik dari nasab ataupun martabatnya. Ayahnya adalah pemuka suku Bani Zuhrah secara nasab & kebangsawanannya. Abdullah pun dikawinkan dengan Aminah & membina rumah tangga dengannya di kota Makkah.

Tak berapa lama kemudian, dia dikirim oleh ayahnya (Abdul Muththalib) ke Madinah untuk mengumpulkan (membeli) kurma, ‘lalu meninggal di sana’.

Menurut versi riwayat yang lain,
Dia pergi dalam rangka berniaga ke negeri Syam dengan memandu rombongan niaga Quraisy,
Kemudian ia singgah di Madinah dalam kondisi sakit, sehingga akhirnya meninggal di sana & dikuburkan di ‘Dar an-Nabighah al-Ja’di’.

Pada saat itu Abdullah berumur 25 tahun, dan wafatnya tersebut sebelum kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Demikian pendapat mayoritas sejarawan.

Riwayat yang lain menyebutkan bahwa dia wafat dua bulan setelah kelahiran Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam atau lebih dari itu. Saat berita kematiannya sampai ke Makkah, Aminah sang istri meratapi kepergian sang suami dengan untaian bait syair yang sangat indah dan amat menyentuh:

“Seorang cucu Hasyim tiba membawa kebaikan di dekat Bathha’ Keluar mendampingi lahad tanpa suara yang jelas. Rupanya kematian mengundangnya lantas disambutnya
Ia (kematian) tak pernah mendapatkan orang semisal cucu Hasyim. Di saat mereka tengah memikul keranda kematiannya di sore hari sahabat-sahabatnya saling berdesakan untuk melayatnya. Bilalah pemandangan berlebihan itu diperlakukan maut untuknya, sungguh itu pantas karena dia adalah dermawan dan penuh kasih”

Keseluruhan harta yang ditinggalkan oleh Abdullah adalah lima ekor unta,
Sekumpulan kambing, seorang budak wanita dari Habasyah bernama ‘Barakah’ yang kunyah-nya (nama panggilannya) adalah ‘Ummu Aiman’. Dialah pengasuh RasulullahShallallahu Alaihi Wa Sallam.

‘Nantikan di Episode selanjutnya ya..

In Syaa Allah kita sekeluarga diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin..’

Bersambung In Syaa Allah

📜 “FOOTNOTES:” 📜

🗣 NAZAR ABDUL MUTHALIB

Terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas mengenai nadzarnya Abdul Muthalib – kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

وقد كان عبدالمطلب بن هاشم نذر إن توافى له عشرة رهط أن ينحر أحدهم فلما توافى له عشرة أقرع بينهم أيهم ينحر فطارت القرعة على عبدالله بن عبدالمطلب وكان أحب الناس إلى عبدالمطلب فقال عبدالمطلب اللهم هو أو مائة من الإبل ثم أقرع بينه وبين الإبل فطارت القرعة على المائة من الإبل

“Dulu Abdul Muthalib pernah bernadzar, Jika dia memiliki 10 anak lelaki maka akan menyembelih salah satunya. Ketika Abdul Muthalib memiliki 10 anak lelaki, dia mengundi siapa anaknya yang akan disembelih. Ternyata yang keluar nama Abdullah. Sementara Abdullah adalah anaknya yang paling dia cintai. Kemudian Abdul Muthalib mengatakan, ‘Ya Allah, Abdullah atau 100 ekor unta.’ Kemudian dia mengundi antara Abdullah dan 100 unta. Lalu keluar 100 ekor unta.” [Tarikh at-Thabari, 1/497]

⚔ IBNU DZABIHAIN

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keturunan Nabi Ismail ‘alaihis sallam. Dalam hadits dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah memilih bani Kinanah di kalangan keturunan Ismail. Lalu Allah memilih Quraisy di kalangan bani Kinanah. Lalu Allah memilih Bani Hasyim dari kalangan Quraisy. Dan Allah memilihku dari kalangan bani Hasyim.” [HR. Muslim no.6077, Turmudzi no.3964 dan yang lainnya].

Sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keturunan 2 manusia yang berencana akan disembelih (Ibnu Dzabihain), yaitu Nabi Ismail alaihis salam dan Abdullah (ayah beliau).

Disebutkan dalam riwayat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أنا ابن الذبيحين

“Saya putra dua manusia yang akan disembelih.” [Sirah Ibnu Hisyam, 1/151 – 155]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

KEDATANGAN PASUKAN GAJAH

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 6 —————

*“KEDATANGAN PASUKAN GAJAH”*

Ketika ‘Abrahah ash-Shabbah al-Habasyi’, wakil umum ‘an-Najasyi’ atas negeri Yaman melihat orang-orang Arab berbondong-bondong melakukan haji ke Ka’bah,
Dia membangun gereja amat megah & besar di kota Shan’a dan menamakannya ‘Al-Qulais’. Tujuannya, agar orang-orang Arab mengalihkan haji mereka ke sana.

Niat buruk ini didengar oleh seorang dari Bani Kinanah. Dia mengendap-endap malam hari menerobos masuk ke gereja tersebut, Lalu melumurinya kotoran. Meledaklah amarah Abrahah & serta merta mengerahkan pasukan besar 60.000 personil menuju Ka’bah.

Dia menunggangi gajah paling besar bernama ‘Mahmud’. Dalam pasukannya terdapat 9 atau 13 ekor gajah lainnya. Dia berjalan hingga sampai di ‘al-Mughammas’, Di tempat ini pasukan bersiap-siap untuk menginvasi Makkah.

Abrahah mengutus seorang lelaki Habasyah bernama ‘Al-Aswad bin Mafshuud’ untuk menyelidiki keadaan Makkah. Dalam perjalanannya menuju Makkah tersebut Al-Aswad berhasil merampas harta benda milik kaum Quraisy dan lainnya termasuk di dalamnya dua ratus unta milik Abdul Muththalib bin Hasyim.

Saat itu Abdul Muththalib adalah pembesar Quraisy. Demi melihat hal itu suku Quraisy bersama Kinanah dan Hudzeil serta suku-suku yang ada disekitar tanah haram marah dan bertekad melawan pasukan Abrahah. Namun akhirnya mereka sadar bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk menghadapinya.

Lalu Abrahah mengutus ‘Hanathah Al-Himyari’ ke kota Makkah, ia berpesan kepada utusannya itu:

“Tanyalah siapa yang berkuasa di kota itu!
Lalu katakan kepadanya bahwa baginda raja menitahkan:
“Kami kemari bukanlah untuk memerangi kalian, tetapi hanya untuk menghancurkan ‘rumah’ itu!
Jika kalian tidak merintangi maksud kami, maka kami pun tidak berkeinginan menumpahkan darah kalian.”

“Jika pemimpin mereka itu tidak bermaksud melawan, bawalah ia ke hadapanku!”, begitu pesan Abrahah.

Ketika tiba di Makkah, Hanathah menanyakan siapakah pembesar suku Quraisy.
Orang-orang berkata: “Dialah Abdul Muththalib bin Hasyim!” ,
Ia pun datang menemuinya dan menyampaikan pesan Abrahah tadi.

“Demi Allah, kami tidak berkeinginan melawan, Kami tahu diri bahwa kami tidak sanggup melawannya. Rumah ini adalah Baitullah Al-Haram. Rumah suci yang dibangun oleh Khalilullah Ibrahim alaihis salam.
Jika DIA membelanya, maka itu adalah rumah-NYA dan kehormatan-NYA.
Jika dibiarkan-NYA,
maka demi ALLAH kami tidak ada kuasa untuk melindunginya.”,
Kata Abdul Muththalib

Hanathah menimpali:
“Kalau begitu, marilah ikut bersamaku menemui baginda raja. Karena saya telah diperintahkan untuk membawa Anda!”

Abdul Muththalib pun berangkat,
Bersama beberapa orang putranya.
Sesampainya di perkemahan pasukan,
Abdul Muththalib menanyakan perihal ‘Dzu Nafar’, Dzu Nafar ini adalah teman lamanya. Ia pun menemuinya dalam kurungan.

“Wahai Dzu Nafar,
apakah engkau dapat memberikan solusi atas musibah yang menimpa kami?”, kata Abdul Muththalib.

“Bagaimana mungkin seorang tawanan raja yang tidak jelas nasibnya entah besok pagi atau besok sore dihukum mati dapat memberikan solusinya?
Saya tidak bisa memberikan solusi apapun atas musibah yang menimpa kalian”, jawab Dzu Nafar.

“Tetapi saya punya teman bernama Anis yang bertugas mengurus gajah.
Saya pesankan kepadanya agar memperhatikan kesulitanmu itu, dan saya coba menghubunginya supaya ia dapat membawamu menemui raja Abrahah, engkau dapat mengajukan maksud engkau di hadapannya. Barangkali temanku itu dapat memberi rekomendasi bagimu.”,
sambung Dzu Nafar.

“Itu sudah cukup bagiku!”, sambut Abdul Muththalib.

Dzu Nafar berpesan kepada Anis: “Temanku ini, Abdul Muththalib, adalah seorang pemuka Quraisy, pemimpin kafilah perniagaan di Makkah, ia sangat dermawan, sering memberi makan orang-orang yang tinggal di lembah dan memberi makan hewan-hewan ternak di puncak-puncak gunung. Baginda raja telah merampas dua ratus ekor unta miliknya, mintalah izin untuknya agar dapat menemui baginda raja, bantulah ia semampumu.”

“Baik saya coba lakukan”,
jawab Anis.

Anis pun melobbi Abrahah, ia berkata: “Wahai baginda raja,
seorang pemuka Quraisy berdiri di depan pintu meminta izin bertemu dengan baginda, Ia adalah seorang pemimpin kafilah perniagaan di kota Makkah. Ia sangat dermawan, sering memberi makan orang-orang yang tinggal di lembah dan memberi makan hewan-hewan ternak di puncak-puncak bukit. Berilah ia izin agar ia dapat mengajukan keperluannya kepada baginda raja.”

Abrahah pun memberinya izin.

Abdul Muththalib adalah seorang pria yang tampan dan bertubuh tinggi besar. Begitu melihat Abdul Muththalib, Abrahah langsung menghormati dan memuliakannya. Ia tidak membiarkan Abdul Muththalib duduk di bawah, namun ia juga tidak mau orang-orang Habasyah melihatnya duduk bersama Abdul Muththalib di singgasana. Akhirnya ia duduk bersamanya di bawah.

Ia berkata kepada penerjemahnya:

“Katakan padanya: Apa keperluan Anda?”

Abdul Muththalib menjawab:
“Keperluanku adalah agar engkau mengembalikan dua ratus unta milikku yang engkau rampas.”

Mendengar jawaban Abdul Muththalib, Abrahah terheran ia berkata kepada penerjemahnya:

“Katakan padanya: Aku takjub saat pertama melihatmu, hingga aku membebaskanmu berbicara. Lalu apakah engkau berbicara kepadaku tentang dua ratus ekor unta yang kurampas darimu, dan membiarkan rumah yang merupakan tempat ibadahmu dan nenek moyangmu, padahal engkau tahu bahwa aku datang kemari untuk menghancurkannya! Mengapa engkau tidak berbicara tentang itu kepadaku?”

“Saya hanyalah pemilik unta-unta itu.
Sementara ‘rumah’ itu ada pemiliknya yang akan menjaganya.”, kata Abdul Muththalib.

“Siapakah yang dapat mencegahku!”,
tantang Abrahah.

“Itu urusanmu!”, jawab Abdul Muththalib.

Abrahah mengembalikan unta-unta yang dirampasnya itu kepada Abdul Muththalib.

Setelah itu Abdul Muththalib pulang menemui kaum Quraisy dan menceritakan hal itu kepada mereka. Ia memerintahkan mereka supaya mengosongkan Makkah dan mencari tempat berlindung di puncak-puncak bukit, atau di lembah-lembah agar tidak menjadi korban keganasan tentara Abrahah.

Kemudian Abdul Muththalib disertai beberapa orang Quraisy meraih rantai pintu Ka’bah dan berdoa kepada ALLAH, memohon pertolongan kepada-NYA dari kezhaliman Abrahah dan tentaranya.

Sambil memegang rantai pintu Ka’bah ia berdoa: “Jika tiada seorang hamba yang bermaksud menghadangnya Maka hadanglah tentara yang ingin menyerbu rumah-MU. Salib dan kekuatan mereka takkan dapat melumpuhkan kekuatan-MU. Namun jika ENGKAU membiarkan mereka dan membiarkan kiblat kami maka urusannya terserah pada-MU.”

Kemudian Abdul Muththalib melepas rantai pintu Ka’bah dan pergi bersama orang-orang Quraisy yang menyertainya berlindung ke puncak-puncak bukit.

Di sana mereka mengawasi apa aksi yang akan dilakukan Abrahah dan tentaranya di Makkah.

Saat Abrahah dan pasukanya baru saja sampai di ‘Wadi Mahsir’ (Lembah Mahsir) di antara Muzdalifah & Mina,
Tiba-tiba gajahnya berhenti & duduk.
Gajahnya tak mau berdiri bila diarahkan ke Ka’bah, tetapi bila ke arah selatan, utara, atau timur, ia maju & berlari kecil, Sedangkan bila mereka alihkan ke arah Ka’bah lagi, ‘Gajah tersebut duduk’.

Saat itu,
ALLAH mengirimkan ke atas mereka burung-burung berbondong-bondong sembari melempari mereka dengan batu yang terbuat dari tanah yang terbakar.
ALLAH menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Burung tersebut semisal ‘khathathif’ (burung layang-layang) dan ‘balasan’ (pohon murbey).

Setiap burung melempar tiga buah batu; Sebuah di paruhnya, Dan dua buah di kedua kakinya sebesar kerikil. Tidaklah lemparan batu tersebut mengenai seseorang melainkan akan menjadikan anggota-anggota badannya hancur berkeping-keping & binasa. Tidak semua dari mereka terkena lemparan tersebut; Ada yang melarikan diri tapi mereka saling berdesakan satu sama lain sehingga banyak yang jatuh di jalan-jalan lantas mereka binasa terkapar di setiap tempat.

Sedangkan Abrahah, ALLAH kirimkan kepadanya satu ‘penyakit yang membuat sendi jari-jemari tangannya tanggal & berjatuhan satu persatu’. Sebelum mencapai Shan’a, Dia tak ubahnya seperti ‘seekor anak burung yang dadanya terbelah hingga jantungnya terlihat’, untuk kemudian dia ‘roboh tak bernyawa’.

Adapun kondisi kaum Quraisy,
Berpencar-pencar ke celah-celah bukit & bertahan di puncak-puncaknya karena takut atas keselamatan mereka dan dipermalukan oleh tentara bergajah tersebut. Manakala pasukan telah mengalami kejadian tragis & mematikan tersebut, Mereka turun gunung & kembali ke rumah masing-masing dengan rasa penuh aman.

Bersambung In Syaa Allah…

📜 “FOOTNOTES:” 📜

🗡 PENYERANGAN KA’BAH

Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharram, 50 hari atau 55 hari (menurut pendapat mayoritas) sebelum kelahiran Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dalam kalender masehi bertepatan dengan penghujung bulan Februari atau permulaan bulan Maret tahun 571 M.

Peristiwa tragis tersebut terjadi dalam kondisi di mana berita dapat sampai ke seluruh penjuru dunia yang ketika itu sudah maju. Sampai ke negeri Habasyah yang saat itu memiliki hubungan erat dengan Romawi. Di sisi lain, Orang-orang Persia masih memantau perkembangan dan menunggu apa yang akan terjadi terhadap orang-orang Romawi & sekutunya. Ketika mendengar peristiwa tersebut, Orang-orang Persia ini berangkat menuju Yaman. Persia & Romawi saat itu merupakan negara maju dan berperadaban (super power).

Peristiwa tersebut juga mengundang perhatian dunia & memberi isyarat kepada mereka akan kemuliaan Baitullah. Baitullah dipilih ALLAH sebagai tempat suci. Jadi, bila ada seseorang berasal dari Makkah mengaku sebagai pengemban ‘risalah’ kenabian, Maka hal inilah tujuan utama dari terjadinya peristiwa tersebut dan penjelasan terhadap hikmah terselubung di balik pertolongan ALLAH terhadap kaum musyirikin melawan kaum Mukminin dengan cara yang melampaui ukuran yang ada pada dunia yang bernuansa kausalitas ini.

👥 ANAK ABDUL MUTHTHALIB

Abdul Muththalib dikaruniai 10 orang putra:
1. Al-Harits
2. Az-Zubair
3. Abu Thalib
4. Abdullah
5. Hamzah
6. Abu Lahab
7. Al-Ghaidaq
8. Al-Muqawwam
9. Shaffar
10. Al-Abbas

Dan putrinya berjumlah 6 orang:
1. Ummul Hakim (al-Baidha’ / si putih)
2. Barrah
3. Atikah
4. Shaffiyah
5. Arwa
6. Umaimah

🏝 AL-MUGHAMMAS

Tempat tersebut hingga sekarang masih dikenal, Terletak di sebelah timur Haram Makkah, Yang dikelilingi dari arah timur oleh gunung yang bernama ‘Kabkab’, Dan ujung Al-Mughammas dari selatan berbatasan dengan akhir Arafah, Berjarak sekitar 20 km dari kota Makkah. [Muhammad Hasan Syarab, ‘Al-Ma’alim Al-Atsirah fi As-Sunnah wa As-Sirah, hal. 277.]

Ibnu Ishaq berkata: “Ketika ALLAH mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul-NYA, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala menyebut peristiwa itu sebagai sebuah nikmat dan karunia yang dicurahkanNya kepada bangsa Quraisy. ALLAH telah meluluh lantahkan Abrahah dan bala tentaranya. Dengan itu ALLAH memelihara kekuasaan dan kelangsungan bangsa Quraisy.

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana RABB-mu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah DIA telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia, dan DIA mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” [QS. Al-Fiil ayat 1-5]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Terjemah Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Kitab Tauhid

Kitab tauhid syaikh Muhammad bin abdul wahhab – Bab 2

KEISTIMEWAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA

 

Allah ﷻ berfirman:

 

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 82)

Iman ialah: ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat karena Allah, dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah ﷺ.

Syirik disebut kezhaliman karena syirik adalah menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya, dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.

Sahabat ubaidah bin Shamit رضي الله عنهم menuturkan : Rasulullah ﷺ bersabda “Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya,dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari pada-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Syahadat ialah: persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dari sahabat Itban رضي الله عنهم bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : Sesungguhnya Allah ﷻ mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan لا اله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”.

Diriwayatkan dari Said al khudri رضي الله عنهم. Rasulullah ﷺ bersabda :

“Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”,

Allah berfirman:” ucakan wahai Musa لا إله إلا الله

Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”,

Allah menjawab:” Hai Musa, seandalnya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat diletakkan pada sisilain timbangan, niscaya kalimat لا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” (HR.Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya).

Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik رضي الله عنهم ia berkata:”aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah ﷻ berfirman: “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.

Kandungan bab ini:

1. Luasnya karunia Allah ﷻ

2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah ﷻ

3. Dan tauhid juga dapat menghapus dosa.

4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am.

5. Perhatikan kelima masalah yang ada hadits Ubadah.

6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimatلا إله إلا الله. juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.

7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya).

8. Para Nabipun perlu diingatkan akan keistimewaan لا إله إلا الله.

9. Penjelasan bahwa kalimat لا إله إلا الله berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.

10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.

11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.

12. Menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah (8).

13. Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban: “sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukanNya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.

14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.

15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah( Kalimat Allah maksudnya bahwa Nabi Isa itu diciptakan Allah dengan firman-Nya “Kun” (jadilah) yang disampaikan-Nya kepada Maryam melalui malaikat Jibril.).

16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh di antara ruh-ruh yang diciptakan Allah.

17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.

18. Memahami sabda Rasul: “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.

19. Mengetahui bahwa timbangan (di hari kiamat) itu mempunyai dua daun.

20. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah

 

Categories
Kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Kitab Tauhid , Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Bab 1

TAUHID [HAKIKAT DAN KEDUDUKANNYA]

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Az-Zariyat 51:56)

Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَـقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِيْ الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

(QS. An-Nahl 16: Ayat 36)

Thoghut ialah : setiap yang diagungkan – selain Allah –dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

Dan beberapa ayat yang lain.

Ibnu Mas’ud رضي الله عنهم berkata: “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Nabi Muhammad ﷺ Yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah ﷻ : “Katakanlah ( Muhammad ) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. (Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.)

Mu’adz bin jabal رضي الله عنهم berkata :

Aku

Bab 1
TAUHID [HAKIKAT DAN KEDUDUKANNYA]
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51:56)
Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata; dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَـقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِيْ الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 36)

Thoghut ialah : setiap yang diagungkan – selain Allah –dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

Dan beberapa ayat yang lain.

Ibnu Mas’ud رضي الله عنهم berkata: “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Nabi Muhammad ﷺ Yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah ﷻ : “Katakanlah ( Muhammad ) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. (Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.)
Mu’adz bin jabal رضي الله عنهم berkata :
Aku pernah diboncengkan Nabi Muhammad ﷺ di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku: “wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda: “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: “ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang? Beliau menjawab: “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah.” (HR. Bukhari, Muslim).

Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:
1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah ﷻ
2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah ﷺ dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
3. Barangsiapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah ﷻ Inilah sebenarnya makna firman “dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,”(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 3)
4. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid dan melarang kemusyrikan].
5. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
6. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid
7. Masalah yang sangat penting adalah: bahwa ibadah kepada Allah ﷻ tidak akan terealisasi dengan benar kecuali pengingkaran terhadap thaghut. Ini adalah maksud dari Firman Allah ﷻ pada surah Al-baqarah ayat 256 yang artinya “Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar-benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat.” (QS. Al Baqarah: 256).
8. Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah ﷻ
9. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
10. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah pada surah Al isra’ ayat 22 hingga ayat 39.
11. Satu ayat yang terdapat dalam surat An–Nisa’, disebutkan di dalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dalam ayat 36.
12. Perlu diingat wasiat Rasulullah ﷺ di saat akhir hayat beliau.
13. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.
14. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.
15. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat (Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah  menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shaleh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat. )
16. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahat.
17. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
18. Rasulullah ﷺ merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
19. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
20. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
21. Kerendahan hati Rasulullah ﷺ , sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.

pernah diboncengkan Nabi Muhammad ﷺ di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku: “wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda: “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: “ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang? Beliau menjawab: “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah.” (HR. Bukhari, Muslim).

 

Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:

1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah ﷻ

2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah ﷺ dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.

3. Barangsiapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah ﷻ Inilah sebenarnya makna firman “dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,”(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 3)

4. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid dan melarang kemusyrikan].

5. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.

6. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid

7. Masalah yang sangat penting adalah: bahwa ibadah kepada Allah ﷻ tidak akan terealisasi dengan benar kecuali pengingkaran terhadap thaghut. Ini adalah maksud dari Firman Allah ﷻ pada surah Al-baqarah ayat 256 yang artinya “Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar-benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat.” (QS. Al Baqarah: 256).

8. Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah ﷻ

9. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.

10. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah pada surah Al isra’ ayat 22 hingga ayat 39.

11. Satu ayat yang terdapat dalam surat An–Nisa’, disebutkan di dalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dalam ayat 36.

12. Perlu diingat wasiat Rasulullah ﷺ di saat akhir hayat beliau.

13. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.

14. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.

15. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat (Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah  menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shaleh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat. )

16. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahat.

17. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.

18. Rasulullah ﷺ merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.

19. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.

20. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.

21. Kerendahan hati Rasulullah ﷺ , sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.

 

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

PENGGALIAN SUMUR ZAMZAM

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 5 —————

💧 “PENGGALIAN SUMUR ZAMZAM”

Sepeninggal Nabi Ismail alaihis salam dan kedua anaknya (Nabit & Qaidar),
Urusan Makkah diambil alih oleh kakek mereka Madhdhadh bin Amr Al-Jurhumi. Demikian kepemimpinan kota Makkah terus berada di tangan suku Jurhum. Semua putra Nabi Ismail alaihis salam menempati kedudukan terhormat di hati mereka, ‘Namun mereka tidak memiliki kedudukan apa pun dalam pemerintahan’.

Semakin hari keadaan anak cucu Nabi Ismail alaihis salam tetap redup tak menentu hingga suku Jurhum semakin melemah menjelang munculnya “Nabuchadnezzar”. Di lain pihak, bintang politik Adnan bersinar di Makkah sejak masa itu. Hal ini ditandai dengan serangan Nabuchadnezzar terhadap bangsa Arab di ‘Dzat Irq’ (serang menjadi salah satu Miqat Haji).

Pada peristiwa ini, Yang memimpin bangsa Arab bukan lagi dari suku Jurhum tetap malah Adnan sendiri.

Keadaan suku Jurhum semakin memburuk dan sulit hidup. Menyebabkan mereka menzhalimi orang-orang yang datang ke kota Makkah & merampas harta milik administrasi Ka’bah. Hal ini menimbulkan kemarahan Bani Adnan.

Ketika Khuza’ah melintasi ‘Marr azh-Zhahran’ dan menyaksikan Bani Adnan meninggalkan suku Jurhum, Dia tak menyia-menyiakan kesempatan tersebut, Atas bantuan beberapa marga dari Bani Adnan yaitu Bani Bakr bin Abdu Manaf bin Kinanah, Mereka memerangi suku Jurhum, Akibatnya mereka terusir dari Makkah, Untuk kemudian menguasai pemerintahan Makkah pada pertengahan abad ke II M.

Tatkala orang-orang Jurhum mengungsi keluar Makkah, ‘Mereka menyumbat sumur Zamzam dan menghilangkan jejak posisinya’ serta mengubur beberapa benda di dalamnya.

Ibnu Ishaq berkata, “Amr bin al-Harits bin Madhdhadh al-Jurhumi (bukan Madhdhadh al-Jurhumi tertua yang sebelumnya pernah disinggung pada kisah Nabi Ismail alaihis salam) keluar dengan membawa pintalan Ka’bah dan Hajar Aswad lalu mengubur keduanya di sumur Zamzam, Kemudian dia dan orang-orang Jurhum yang ikut bersamanya berangkat menuju Yaman. Mereka sangat sedih sekali karena harus meninggalkan kenangan di Makkkah dan kekuasaan yang pernah mereka pegang di sana.”

Abdul Muththalib bermimpi diperintahkan untuk menggali Zamzam dan dijelaskan di mana letaknya, Lantas dia melakukan penggalian (sesuai dengan mimpi tersebut) dan menemukan benda-benda terpendam yang dulu sempat dikubur oleh suku Jurhum.

Benda-benda tersebut berupa pedang-pedang, tameng-tameng besi (baju besi) dan dua pangkal pelana terbuat dari emas. Kemudian dia menempa pedang-pedang tersebut untuk membuat pintu Ka’bah, Sedangkan dua pangkal pelana ditempat menjadi lempengan-lempengan emas lalu ditempel di pintu tersebut. Dia juga memberi minum jamaah haji dengan air Zamzam.

Ketika sumur Zamzam mulai kelihatan, Orang-orang Quraisy mempermasalahkannya.

“Izinkan kami bergabung!”, Kata orang-orang Quraisy.

“Aku tidak akan melakukannya sebab ini merupakan sesuatu yang khusus diberikan kepadaku.”, Kata Abdul Muththalib.

Mereka tidak tinggal diam dan menggelar permasalahannya ke sidang pengadilan yang dipimpin oleh dukun wanita dari Bani Sa’ad, di pinggiran negeri Syam.

Namun dalam perjalanan mereka ke sana, Bekal air habis, Lalu ALLAH menurunkan hujan untuk Abdul Muththalib sementara tidak setetes pun tercurah untuk mereka. Mereka akhirnya mengetahui bahwa urusan Zamzam telah dikhususkan untuk Abdul Muththalib sehingga mereka memutuskan pulang.

Saat itulah Abdul Muththalib bernadzar bahwa jika ALLAH mengaruniakan kepadanya sepuluh orang anak dan mereka sudah menginjak usia baligh, ‘Dia akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah’.

“Ikhwah fillah,”
‘Semenjak sumur Zamzam ditemukan dan akhirnya diurus oleh Abdul Muththalib, Maka tanggung jawab dan kedudukannya semakin besar di Makkah.

Apakah dia dikaruniai sepuluh orang anak?’

‘Nantikan di Episode selanjutnya ya..

Insyaa ALLAH kita sekeluarga diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin yaa Robbal Alamin..’

📜 “FOOTNOTES:” 📜

MIMPI ABDUL MUTHTHALIB

Ketika Abdul Muththalib sedang tidur di Hijr Ismail, dia mendengar suara yang menyuruhnya menggali tanah.

“Galilah thayyibah (yang baik)!”

“Yang baik yang mana?”, tanyanya.

Esoknya, ketika tidur di tempat yang sama, dia mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali barrah (yang baik)?”

Dia bertanya, “Benda yang baik yang mana?”, Lalu dia pergi.

Keesokan harinya, ketika tidur di tempat yang sama di Hijr Ismail,
dia mendengar lagi suara yang sama,
menyuruhnya menggali ‘madhmunah’ (sesuatu yang berharga).

Dia bertanya, ”Benda yang baik yang mana?”

Akhirnya pada hari yang keempat dikatakan kepadanya: “Galilah Zamzam!”

Dia bertanya, ”Apa itu Zamzam?”

Dia mendapat jawaban: “Air yang tidak kering dan tidak meluap, yang dengannya engkau memberi minum para haji. Dia terletak di antara tahi binatang dan darah. Berada di patukan gagak yang hitam, berada di sarang semut”.

Sesaat Abdul Muththalib bingung dengan tempatnya tersebut, sampai akhirnya ada kejelasan dengan melihat kejadian yang diisyaratkan kepadanya. Kemudian iapun bergegas menggalinya.

Orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau kerjakan, hai Abdul Muththalib?”

Dia menjawab, ”Aku diperintahkan menggali Zamzam”,

Sampai akhirnya ia beserta anaknya, Harits mendapatkan apa yang diisyaratkan dalam mimpinya, menggali kembali sumur Zamzam yang telah lama dikubur dengan sengaja oleh suku Jurhum, tatkala mereka terusir dari kota Makkah. [1]

*QUSHAY BIN KILAB*

Mengenai identitas Qushay, Diceritakan bahwa ayahnya meninggal dunia saat di masih dalam momongan ibunya, Kemudian ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki dari Bani Azarah yaitu “Rabi’ah bin Haram”, Lalu ibunya dibawa ke negeri asalnya di pinggiran kota Syam. Ketika Qushay beranjak dewasa, Dia kembali ke kota Makkah yang kala itu diperintah oleh “Hulail bin Habasyiah” dari suku Khuza’ah, Lalu dia mengajukan pinangan kepada Hulail untuk menikahi putrinya, “Hubbe”, maka gayung pun bersambut dan dia pun menikahkannya dengan putrinya tersebut. Ketika Hulail meninggal dunia, Terjadi perang antara Khuza’ah dan Quraisy yang berakhir dengan berkuasanya Qushay atas urusan kota Makkah dan Ka’bah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air Zamzam,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

“Sesungguhnya air Zamzam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.” [HR. Muslim no.4520]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air Zamzam sesuai keinginan ketika meminumnya.” (Maksudnya do’a apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah do’a yang mustajab). [HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. (Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no.1165)]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

[1] Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 2/244-245

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Sirah Nabawiyyah

BANGSA ARAB DI MASA JAHILIYAH

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 3 —————

*“BANGSA ARAB DI MASA JAHILIYAH”*

Mayoritas Bangsa Arab masih mengikuti dakwah Nabi Ismail alaihis salam ketika beliau mengajak mereka menganut agama yang dibawa ayahnya, Nabi Ibrahim alaihis salam. Mereka menyembah ALLAH dan menauhidkan-NYA, menganut din-NYA hingga lama kelamaan mereka lupa beberapa hal yang pernah diingatkan kepada mereka. Masih tersisa pada mereka ajaran tauhid dan syiar dari din Nabi Ibrahim alaihis salam, Hingga muncullah “Amr bin Luhay”, pemimpin Bani Khuza’ah.

Amr bin Luhay tumbuh dengan perilaku agung & perbuatan ma’ruf, bersedekah, antusiasme tinggi dalam urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya, tunduk terhadapnya, dan menganggap dirinya ulama besar serta wali yang dimuliakan.

Ia bepergian ke kawasan Syam lalu melihat penduduknya menyembah berhala-berhala. ‘Dia merespons positif hal tersebut dan mengiranya suatu kebenaran’. Maka ketika pulang dia membawa “berhala Hubal” dan meletakannya di dalam Ka’bah. Lalu mengajak penduduk Makkah berbuat syirik terhadap ALLAH dan mereka pun menyambut ajakannya tersebut. Selang berapa lama, penduduk Hijaz mengikuti cara penduduk Makkah karena mereka adalah para pengelola Baitullah dan pemilik al-Masjid al-Haram.

Kesyirikan merajalela & berhala-berhala pun banyak bertebaran di setiap tempat di Hijaz. Tiba musim haji, dia menyerahkan berhala-berhala kepada berbagai kabilah [Lihat Shahih al-Bukhari, 1/222]. Hingga setiap kabilah memillikinya bahkan di setiap rumah.

Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala-berhala menjadi fenomena terbesar dari kepercayaan dan keyakinan orang-orang Jahiliyah, yang mengklaim bahwa mereka masih menganut agama Nabi Ibrahim alaihis salam.

Bangsa Arab Jahiliyah juga suka mengundi nasib dengan ‘al-Azlam’ (anak panah tak berbulu). Mereka mengundi nasib untuk menentukan aktivitas apa saja yang akan dilakukan, seperti bepergian, menikah, atau lain-lainnya.

Mereka juga percaya informasi yang disampaikan oleh ‘dukun (kahin)’,
‘tukang ramal (arraf)’, dan ‘ahli nujum (munajjimun/astrolog)’.

Pada mereka juga terdapat kepercayaan ‘ath-Thiyarah’, yaitu merasa pesimis terhadap sesuatu. Asal muasal keyakinan ini adalah dari kebiasaan mereka yang mendatangi seekor burung/kijang lalu membuatnya kabur. Jika burung/kijang ke arah kanan, Maka mereka jadi bepergian (dianggap pertanda baik). Namun jika burung/kijang itu ke arah kiri, Maka mereka tidak berani bepergian dan pesimis.

Bangsa Arab Jahiliyah masih dalam kondisi kehidupan demikian, Tetapi ajaran Nabi Ibrahim alaihis salam masih tersisa pada mereka & belum ditinggalkan semuanya, Seperti pengagungan terhadap Baitullah (Ka’bah), berthawaf, haji, umrah, wukuf di Arafah & Muzdalifah, serta mempersembahkan kurban berupa unta sembelihan.

Kaum Jahiliyah juga dikenal suka beristri banyak (poligami) tanpa batasan tertentu. Mereka mengawini dua bersaudara sekaligus, juga mengawini istri bapak-bapak mereka bila telah ditalak atau ditinggal (baca Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 22-23).

Perbuatan zina sudah marak pada setiap lapisan masyarakat. Hanya saja masih ada sekelompok laki-laki dan wanita yang keagungan jiwanya menolak keterjerumusan dalam perbuatan nista tersebut.

Di antara mereka ada yang mengubur hidup-hidup anak-anak wanita mereka karena takut, malu dan enggan menafkahinya, Lantaran takut menjadi fakir dan melarat (baca Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 151).

Sedangkan hubungan seorang laki-laki dengan saudaranya, anak-anak paman dan kerabatnya demikian rapat dan kuat. ‘Hidup dan mati mereka siap dikorbankan demi fanatisme terhadap suku’. Semangat bersatu telah terbiasa dijalankan antar sesama suku.

Singkat kata, Kondisi sosial mereka berada dalam sangkar kelemahan dan kebutaan. Kebodohan mencapai puncaknya dan khurafat merajalela sementara kehidupan manusia tak ubahnya seperti binatang ternak. Wanita diperjual-belikan bahkan terkadang diperlakukan bak benda mati. Hubungan antar umat sangat lemah, Sementara pemerintahan yang perhatian utamanya hanyalah untuk mengisi Gudang kekayaan mereka yang diambil dari rakyat atau menggiring mereka berperang melawan musuh-musuh yang mengancam kekuasaan mereka.

“Ikhwah fillah,”
‘Melihat keterpurukan akhlak Bangsa Arab pada masa Jahiliyah tersebut,
Dapatkah kita bayangkan betapa sangat sulitnya perjuangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan betapa sangat luasnya kesabaran beliau dalam mendakwahkan kebenaran Islam kepada mereka?’

‘Nantikan di Episode selanjutnya ya..

Insyaa ALLAH kita semua sekeluarga diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin..’

TO BE CONTINUED……………….

📜 “FOOTNOTES:”📜

*🗣 “AMR BIN LUHAY” 🗣*

Dialah yang pertama kali membawa perbuatan syirik dengan kegiatan penyembahan, pengagungan, dan pengharapan kepada selain ALLAH Ta’ala (menyekutukan-NYA), Yaitu kepada benda mati yakni berhala (berupa patung-patung), kepada penduduk Makkah pada awalnya. Hingga akhirnya tersebar di Tanah Hijaz.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda kepada Aktsam bin al-Jaun Radhiyallahu anhu, Wahai Aktsam, aku melihat ‘Amr bin Luhay bin Qama’ah bin Khindaf menarik-narik isi perutnya di dalam neraka. Aku belum pernah melihat ada seseorang yang mirip dengan orang lain dibanding engkau dengan dia dan dia dengan engkau”.
Aktsam berkata, ‘Ya Rasulullah, aku khawatir jika keserupaan itu akan membahayakanku.’
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidak, sesungguhnya engkau orang Mu’min, sedangkan dia orang kafir. Sesungguhnya dia adalah orang pertama yang merubah agama Nabi Isma’il, orang pertama yang mengadakan persembahan kepada berhala berupa bahîrah, sa’ibah dan Hamiy.” [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Maktabah al-Ma’arif lin Nasyr, 1415 H/1995 M. IV/242-244, no. 1678]

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan,
dari az-Zuhri, dari Urwah,
sesungguhnya Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda “Aku melihat neraka jahannam sebagiannya saling membakar pada sebagian yang lain (apinya berkobar-kobar), dan aku melihat ‘Amr (bin Luhay al-Khuza’i) menarik-narik isi perutnya di dalam neraka. Dan dia adalah orang pertama yang memberikan persembahan berupa saa’ibah kepada berhala” [HR. Bukhari no. 4624 dalam Fathul Bari VIII/283]

ALLAH Ta’ala berfirman:
“ALLAH tidak pernah mensyari’atkan adanya bahirah, sa’ibah, washilah dan ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat dusta atas nama ALLAH, dan kebanyakan mereka tidak berakal.” [QS. Al-Ma’idah; 103]

*⚱ “KONDISI MORAL” ⚱*

Kita tidak dapat memungkiri bahwa pada Masyarakat Jahiliyah terdapat kehidupan nista dan hal-hal yang tidak dapat diterima akal sehat serta ditolak hati nurani. Namun demikian, mereka juga memiliki akhlak mulia, terpuji, dan amat menawan serta membuat terkesima & takjub. Di antaranya adalah:

1. ‘Kemurahan Hati’

Mereka berlomba-lomba memiliki sifat ini & berbangga dengannya. Seorang terkadang kedatangan tamu yang merintih kelaparan. Saat itu ia tak memiliki apa-apa selain ‘Unta betina yang menjadi gantungan hidupnya & keluarganya’. Karna terobsesi oleh getaran kemurahan hati membuatnya bergegas menyuguhkan sesuatu, dengan menyembelih satu-satunya unta miliknya untuk tamunya tersebut.

2. ‘Menepati Janji’

Janji dalam tradisi mereka laksana agama yang dipegang teguh, Bahkan untuk merealisasikannya mereka tidak segan membunuh anak-anak mereka dan menghancurkan tempat tinggal mereka.

3. ‘Harga Diri yang Tinggi & Sifat Pantang Menerima Pelecehan & Kezhaliman’

Implikasi sifat ini, tumbuhnya keberanian yang amat berlebihan, cemburu buta, dan emosi cepat meluap. Mereka tidak bisa bersabar jika dihina, dilecehkan. Mereka tak segan-segan menghunus pedang, serta mengobarkan peperangan yang panjang. Mereka tidak peduli bila nyawa menjadi taruhan demi mempertahankan sifat tersebut.

4. ‘Tekad yang Pantang Surut’

Bila sudah bertekad melakukan sesuatu yang dianggap suatu kemuliaan & kebanggaan, Maka tak ada satu pun yang dapat menyurutkan tekad mereka tersebut, Bahkan mereka nekat menerjang bahaya.

5. ‘Meredam Kemarahan, Sabar, dan Amat Berhati-hati’

Mereka menyanjung sifat-sifat semacam ini, Hanya saja keberadaannya seakan terselimuti oleh amat berlebihannya sifat pemberani & langkah cepat untuk berperang.

6. ‘Gaya Hidup Lugu dan Polos ala Badui dan belum Terkontaminasi oleh Peradaban dan Pengaruhnya’

Implikasi dari gaya hidup semacam ini adalah, Timbulnya sifat jujur, amanah serta anti menipu dan khianat.

Tertanamnya beberapa akhlak yang amat berharga ini, di samping letak geografis Jazirah Arab bagi dunia luar adalah sebagai sebab utama terpilihnya mereka untuk mengemban risalah yang bersifat umum dan memimpin umat manusia dan masyarakat dunia.

Sebab, meskipun sebagian akhlak di atas dapat membawa kepada kejahatan dan peristiwa tragis,
Namun esensi akhlak ini adalah akhlak yang amat berharga, Dan akan menciptakan keuntungan bagi umat manusia secara umum setelah adanya sedikit koreksi dan perbaikan atasnya. ‘Hal inilah yang dilakukan oleh Islam ketika datang’.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

ABDUL MUTHTHALIB

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 4 —————

*👑 “ABDUL MUTHTHALIB” 👑*

Tanggung jawab pengurusan ‘siqayah’ dan ‘rifadah’ sepeninggal Hasyim diserahkan kepada saudaranya yaitu “Al-Muththalib bin Abdu Manaf”.

Ketika ‘Syaibah’ menginjak usia 7 tahun/8 tahun lebih, Al-Muththalib, pamannya mendengar berita tentang dirinya, lantas pergi mencarinya.

Ketika bertemu dan melihat Syaibah, berlinanglah air mata Al-Muththalib,
Lalu anak tersebut dipeluk erat-erat dan dinaikkan ke atas tunggangannya untuk dibonceng namun keponakannya ini menolak hingga diizinkan dahulu oleh ibunya.

Al-Muththalib kemudian memintanya agar merelakan keponakannya tersebut pergi bersamanya, tetapi ibunya menolak.

“Sesungguhnya dia akan berangkat menuju tahta ayahnya (Hasyim), menuju tanah Haram.” Kata Al-Muththalib.

Barulah kemudian ibunya mengizinkan anaknya dibawa.

Al-Muththalib membawa Syaibah ke Makkah dengan memboncengnya di atas unta. Melihat hal itu, masyarakat Makkah berteriak, “Inilah Abdul (budak) Muththalib!” l(maksudnya mereka mengira yang dibawa Al-Muththalib adalah budaknya).

Al-Muththalib memotong sembari berkata, “Celakalah kalian! Dia ini anak saudaraku, Hasyim.”

Abdul Muththalib akhirnya tinggal bersama pamannya hingga dewasa.

Selanjutnya Al-Muththalib meninggal di Rodman, Sebuah Kawasan di Yaman dan kekuasaannya kemudian beralih kepada keponakannya, Abdul Muththalib. Dia ‘menggariskan kebijakan terhadap kaumnya persis seperti yang digariskan oleh nenek-nenek moyangnya’ terdahulu, Akan tetapi ‘dia mendapatkan kedudukan dan martabat di hati kaumnya yang belum pernah dicapai oleh nenek-nenek moyangnya terdahulu’, dia dicintai oleh mereka dan wibawanya di hati mereka semakin besar.

Ketika Al-Muththalib meninggal dunia, “Naufal” merampas kekuasaan keponakannya tersebut. Karena itu, dia meminta pertolongan ke para pemuka Quraisy untuk membantunya melawan sang paman. Namun mereka menolak sembari berkata, “Kami tidak akan mencampuri urusanmu dengan pamanmu itu.”

Akhirnya Abdul Muththalib menulis untaian syair kepada paman-paman dari pihak ibunya, Bani An-Najjar, guna memohon bantuan mereka.
Pamannya, “Abu Sa’ad bin Adi” bersama 80 orang pasukan penunggang kuda kemudian menuju Makkah dan singgah di ‘Al-Abthah’, sebuah tempat di Makkah. Dia disambut oleh Abdul Muththalib,

“Silahkan mampir ke rumah dahulu, wahai paman!”, Kata Abdul Muththalib,

“Demi ALLAH aku tidak akan mampir hingga bertemu dengan Naufal,”
Kata pamannya.

Lantas dia mendatanginya & mencegatnya yang ketika itu sedang duduk-duduk di dekat Hijr Ismail bersama para sesepuh Quraisy.

Abu Sa’ad langsung menghunus pedangnya seraya mengancam,
“Demi Rabb rumah ini (Ka’bah)!
Jika engkau tidak mengembalikan kekuasaan keponakanku maka aku akan menancapkan pedang ini ke tubuhmu.”

“Aku serahkan kembali kepadanya!”,
Kata Naufal.

Ucapannya ini disaksikan oleh para sesepuh Quraisy tersebut. Kemudian barulah dia mampir ke rumah Abdul Muththalib & tinggal selama tiga hari. Selama di sana, dia melakukan umrah (ala kaum Quraisy dahulu sebelum kedatangan Islam) kemudian pulang ke Madinah.

Menyikapi kejadian yang dialaminya tersebut, Naufal akhirnya bersekutu dengan Bani Abdi Syamas bin Abdi Manaf untuk menandingi Bani Hasyim. Suku Khuza’ah tergerak juga untuk membela Abdul Muththalib setelah melihat pembelaan dari Bani An-Najjar terhadapnya.

Mereka berkata (kepada Bani An-Najjar), “Kami juga melahirkannya (yakni, keturunan kami juga) seperti kalian, Namun kami justru lebih berhak untuk membelanya”. Hal ini lantaran ibu dari Abdi Manaf merupakan salah satu keturunan mereka.

Mereka lalu memasuki ‘Darun Nadwah’ dan bersekutu dengan Bani Hasyim untuk melawan Bani Abdi Syams dan Naufal.

“Ikhwah fillah,” ‘Ada dua momentum peristiwa besar yang terjadi pada saat masa kepemimpinan Abdul Muththalib di Makkah, yang dimana peristiwa tersebut berkaitan dengan Baitullah’

‘Nantikan di Episode selanjutnya..
Insyaa Allah kita sekeluarga diberi rizki umur dalam keberkahan. Aamiin..’

TO BE CONTINUED……

“FOOTNOTES:”

*AL-FAYYADH*

Al-Muththalib bin Abdu Manaf
Dia adalah seorang bangsawan yang disegani dan memiliki kharisma di kalangan kaumnya. Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan ‘Al-Fayyadh’ karena kedermawanannya. Sebab makna kata ‘Al-Fayyadh’ adalah orang yang dermawan, murah hati.

*SYAIBAH*

Nama Syaibah diberikan karena ada uban (rambut putih) di kepalanya sejak kecil. Dia besar di Madinah dan sangat mirip dengan kakeknya, Qushay bin Kilab.

*DARUN NADWAH*

Di antara peninggalan Qushay bin Kilab adalah ‘Darun Nadwah’ yang didirikannya di samping utara Masjid Ka’bah (Masjidil Haram), dan menjadikan pintunya mengarah ke masjid. Darun Nadwah merupakan tempat berkumpul orang-orang Quraisy yang di dalamnya dibahas rincian tugas-tugas mereka. Ia merupakan tempat yang meninggikan martabat Quraisy karena dapat menjamin kata sepakat di antara mereka & menyelesaikan sengketa dengan baik. Darun Nadwah dikepalai langsung oleh Qushay bin Kilab.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah