Categories
Artikel

Apabila bertemu dua mashlahat, didahulukan mashlahat yang lebih besar

*USHUL FIQIH*

*🍀 Kaidah yang ke 14 🍀*

Kitab: Syarah Mandzumah Ushul Fiqih
Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Apabila bertemu dua mashlahat, didahulukan mashlahat yang lebih besar.

Mashlahat adalah kebaikan bagi manusia dalam agama, dunia dan akherat. Dalam memandang mashlahat, kita wajib berpegang kepada syariat. Bukan hawa nafsu dan syahwat.

Terkadang kita dihadapkan kepada dua mashlahat yang harus dipilih salah satunya. Maka kita dahulukan yang lebih besar mashlahatnya.

⚉ Apabila bertabrakan antara yang wajib dan sunnah, maka kita dahulukan yang wajib karena yang wajib lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.

⚉ Apabila bertabrakan antara ibadah yang bersifat mutlak (tidak terikat) dengan ibadah muqoyyad (terikat), maka kita dahulukan ibadah muqoyyad. Contohnya ketika membaca Alquran terdengar adzan, maka kita dahulukan mendengar adzan.

⚉ Apabila bertabrakan antara fardlu ain dan fardlu kifayah, kita dahulukan fardlu ain.

⚉ Apabila bertabrakan antara dua amal, kita dahulukan yang manfaatnya menular. Seperti mendahulukan menuntut ilmu dari sholat tahajjud.

⚉ Apabila ayah dan ibu memanggil, maka kita dahulukan ibu karena lebih besar haknya.

dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Sahabat

BERPEDOMAN KEPADA SAHABAT, ADALAH JAMINAN KEMENANGAN

*🌙 SIRAH SHAHABAT*

*PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH TERHADAP SAHABAT NABI*

*✅BERPEDOMAN KEPADA SAHABAT, ADALAH JAMINAN KEMENANGAN*

Dalam hadits riwayat Muslim, no 2523 dari jalur Abu Zubair, dari Jabir, dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُبْعَثُ مِنْهُمُ الْبَعْثُ فَيَقُولُونَ انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ فِيكُمْ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُوجَدُ الرَّجُلُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ بِهِ ثُمَّ يُبْعَثُ الْبَعْثُ الثَّانِي فَيَقُولُونَ هَلْ فِيهِمْ مَنْ رَأَى أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُفْتَحُ لَهُمْ بِهِ ثُمَّ يُبْعَثُ الْبَعْثُ الثَّالِثُ فَيُقَالُ انْظُرُوا هَلْ تَرَوْنَ فِيهِمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَكُونُ الْبَعْثُ الرَّابِعُ فَيُقَالُ انْظُرُوا هَلْ تَرَوْنَ فِيهِمْ أَحَدًا رَأَى مَنْ رَأَى أَحَدًا رَأَى أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُوجَدُ الرَّجُلُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ بِهِ

“Akan datang suatu masa, yang saat itu ada satu pasukan dikirim (untuk berperang)”. Mereka mengatakan: “Coba lihat, adakah di antara kalian seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Ternyata ada satu orang sahabat Nabi. Maka karenanya, Allah memenangkan mereka. Kemudian dikirim pasukan kedua. Dikatakan kepada mereka: “Adakah di antara mereka yang pernah melihat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Maka karenanya, Allah memenangkan mereka. Lalu dikirim pasukan ketiga. Dikatakan: “Coba lihat, apakah ada di antara mereka yang pernah melihat seorang yang pernah melihat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Maka didapatkan satu orang. Maka Allah memenangkan mereka. Kemudian dikirim pasukan keempat. Dikatakan: “Coba lihat, apakah ada di antara mereka yang pernah melihat seorang yang pernah seseorang yang melihat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Maka didapatkan satu orang. Akhirnya Allah memenangkan mereka

Hadits ini menjelaskan kepada kita, betapa mulia kedudukan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka. Allah memberi jaminan kemenangan bagi para sahabat dan orang-orang yang mengikuti sahabat. Tentu saja, yang dimaksud dalam hadits bukan hanya sekadar melihat dengan mata kepala saja, namun maksudnya ialah mengikuti pedoman mereka. Sebagaimana yang telah disebutkan tentang definisi sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

*✅SIAPAKAH YANG DIMAKSUD SAHABAT NABI SHALLALLAHU ALAIAHI WA SALLAM ?*

Sahabat adalah, siapa saja yang melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bertemu dengan beliau walau hanya sesaat lalu beriman kepada beliau dan ia mati di atas keimanan.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (249) dari hadits Al ‘Ala` bin Abdirrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pekuburan. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

“Salam kesejahteraan atas kalian, wahai penghuni perkampungan kaum Mukminin. Dan aku Insya Allah akan menyusul kalian. Sungguh aku sangat merindukan untuk bertemu dengan saudara-saudara kita”. Para sahabatpun bertanya,”Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Kalian adalah para sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah mereka yang datang kemudian”.

Hadits ini menunjukkan, bahwa yang dimaksud sahabat ialah, orang yang bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta beriman kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yang datang sesudahnya ialah, saudara-saudara beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang yang bertemu dan beriman kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (ia) dinamakan sahabat, baik pertemuan itu dalam waktu yang lama maupun sebentar.

Adapun dalil yang menunjukan bahwa orang yang bertemu dan beriman kepada Rasulullah serta mati di atas keimanan disebut sebagai sahabat ialah, sebuah hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah (12/178) dari Zaid Ibnu Hibban, dari Abdullah bin Al ‘Ala’ bin ‘Amir, dari Watsilah bin Al Asqa’, dia berkata, Rasulullah n bersabda: “Kalian akan tetap berada dalam kebaikan selama di tengah-tengah kalian terdapat orang yang melihat dan menyertaiku. Demi Allah, kalian akan tetap berada dalam kebaikan, selama di tengah-tengah kalian terdapat seorang yang melihat orang yang melihatku, dan menyertai orang yang menyertaiku”.

Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Ya’qub bin Sufyan, di dalam At Tarikh (2/351), dari Adam, dari Baqiyah bin Al Walid, dari Muhammad bin Abdirrahman Al Yahshabi, bahwa ia mendengar Abdullah bin Basar berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَ طُوْبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلمَ ْيَرَنِي وَ طُوْبَى لَهُ وَ حُسْنَ مَآبٍ

“Sungguh beruntung orang yang melihatku, dan sungguh beruntung orang yang beriman kepadaku, sedangkan ia belum pernah melihatku. Sungguh baginya keberuntungan dan balasan yang baik”. [Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As Sunnah, 1527, dari Ya’qub].

Ibnu Faris, seorang pakar bahasa, ia menjelaskan di dalam Mu’jamu Maqayisil Lughah (III/335) dalam pasal Sha-ha-ba: “Menunjukkan penyertaan sesuatu dan kedekatannya dengan sahabat yang disertainya itu. Bentuk jamaknya adalah shuhab, sebagaimana kata raakib bentuk jamaknya rukab. Sama seperti kalimat ‘ashhaba fulan’, artinya menjadi tunduk. Dan kalimat “ashahbar rajulu”, artinya, jika anaknya telah berusia baligh. Dan segala sesuatu yang menyertai sesuatu, maka boleh dikatakan telah menjadi sahabatnya”.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan di dalam Majmu’ Fatawa (IV/464): “Shuhbah adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang yang menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jangka waktu yang lama maupun singkat. Akan tetapi, kedudukan setiap sahabat ditentukan oleh jangka waktu ia menyertai Rasulullah. Ada yang menyertai beliau setahun, sebulan, sehari, sesaat, atau melihat beliau sekilas lalu (ia) beriman kepada beliau. Derajat masing-masing ditentukan menurut jangka waktunya menyertai Rasulullah”.

Abu Hamid Al Ghazali berkata di dalam kitabnya, Al Mustashfa (1/165): “Siapakah sahabat itu? Sahabat ialah, siapa saja yang hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau pernah berjumpa dengan beliau sekali, atau pernah menyertai beliau dalam waktu sebentar maupun lama. Lalu berapa batasan waktunya? Predikat sahabat dinisbatkan kepada siapa saja yang menyertai Rasulullah. Cukuplah disebut sahabat, meski ia hanya menyertai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam waktu sebentar saja. Namun secara urf (kesepakatan umum) (ialah), mengkhususkannya bagi orang yang menyertai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam waktu lama”.

*✅LARANGAN MENCELA SAHABAT NABI*

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah mencela sahabatku! Janganlah mencela sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, meskipun kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka, tidak juga separuhnya”*[5].

Hadits ini secara jelas melarang kita mencela sahabat Nabi. Larangan dalam hadits di atas hukumnya adalah haram. Yakni haram hukumnya mencela sahabat Nabi. Termasuk di dalamnya, yaitu semua bentuk celaan dan sindiran negatif yang ditujukan kepada mereka, atau salah seorang dari mereka. Sebab, mencela sahabat Nabi, berarti telah menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al Fadha-il (19), dari jalur Waki`, dari Ja’far -yakni Ibnu Burqan- dari Maimun bin Mihran, ia berkata: “Ada tiga perkara yang harus dijauhi. (Yaitu): mencela sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meramal lewat bintang-bintang, dan mempersoalkan takdir”.

Imam Ahmad juga menulis surat kepada Abdus bin Malik tentang Ushul Sunnah. Beliau berkata di dalam suratnya: “Termasuk Ushul, (yaitu) barangsiapa melecehkan salah seorang sahabat Nabi, atau membencinya karena kesalahan yang dibuat, atau menyebutkan kejelekannya, maka ia termasuk mubtadi`, hingga ia mendoakan kebaikan dan rahmat bagi seluruh sahabat, dan hatinya tulus mencintai mereka”*[6].

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam kitab Al Fadha-il, dari jalur Waki`, dari Sufyan, dari Nusair bin Za’luq, ia berkata, Saya mendengar Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma berkata: “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh, kedudukan mereka sesaat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (itu) lebih baik daripada amal ibadah kalian sepanjang umurnya!”[7]

Bersambung

Footnote
[1]. HR Al Bukhari, 3651 dan Muslim, 2533.
[2]. HR Al Bukhari, 3650 dan Muslim, 2535.
[3]. HR Muslim, 2536.
[4]. Musnad Imam Ahmad, IV/126-127; Abu Dawud, 4607; At Tirmidzi, 2676; Ibnu Majah, 42; Ad Darimi, 95. Hadits ini shahih. Dinyatakan shahih oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Al Bazzar, Abu Nu’aim dan Ibnu Rajab ketika mensyarah hadits ini. Tambahan yang terdapat di akhir hadits “Sesungguhnya seorang mukmin ibarat unta yang jinak, apabila di arahkan kepada kebaikan ia pasti menurut” adalah tambahan yang mungkar.
[5]. HR Muslim, 2540.
[6]. Thabaqatul Hanabilah, I/345
[7]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al Fadha-il, 15 dan Al Baihaqi dalam Al I’tiqad dengan sanad shahih. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, 162

📚 Abu Ihsan Al Atsari

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

WAHYU MENGALAMI MASA VAKUM

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————EPISODE 18————–

*⛔🍃 “WAHYU MENGALAMI MASA VAKUM”*

Pada saat wahyu mengalami masa vakum tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dirundung kesedihan yang mendalam serta diselimuti oleh kebingungan & kepanikan.

Dalam kitab “At-Ta’bir”, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebagai berikut:
“Berdasarkan informasi yang sampai kepada kami, wahyu pun mengalami masa vakum sehingga membuat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedih dan berulang berlari kencang agar dapat terjerembab dari puncak-puncak gunung, namun setiap beliau mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau adalah benar-benar utusan ALLAH !’

Spirit ini dapat menenangkan dan menstabilkan kembali jiwa beliau lalu beliau pulang. Namun manakala masa vakum masih berlanjut beliau pun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya. Dan ketika dia mencapai puncak gunung, maka malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya”. [1]

‘Ibnu Hajar Berkata’, “Adanya masa vakum itu bertujuan untuk menghilangkan ketakutan yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan membuatnya penasaran untuk mengalaminya kembali”. [2]

Ketika hal itu benar-benar terjadi pada beliau, dan beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril ‘alaihis sallam untuk kedua kalinya.

Imam-Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menceritakan tentang masa vakum itu,
Beliau bertutur, “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit, ternyata malaikat yang telah mendatangiku ketika di gua Hira’, sekarang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun terkejut karenanya hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku pulang kepada keluargaku sembari berkata, ‘Selimuti aku! Selimuti aku!’ Lantas mereka menyelimutiku, maka ALLAH menurunkan Firman-NYA, “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”. [QS. Al-Muddatstsir: 1-5]

Setelah itu Wahyu turun secara berkesinambungan dan teratur. [3]

Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan,
“Aku tinggal di gua Hira’ selama sebulan. Lalu tatkala aku sudah selesai melakukan itu, maka aku turun gunung. Dan ketika aku berada di sebuah lembah, ada suara yang memanggilku…”
(Kemudian diketengahkan teks hadits sebagaimana yang telah disebutkan di atas).

Inti darinya, bahwa ayat tersebut turun setelah beliau menjalani bulan Ramadhan secara penuh di sana. Dengan demikian, berarti masa vakum antara dua Wahyu tersebut berlangsung selama sepuluh hari, sebab beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak lagi menjalani Ramadhan berikutnya di sana setelah turunnya wahyu pertama.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, di mana datang setelah masa kenabian yang berjarak rentang masa vakum turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis ‘taklif’ (tugas syariat) beserta penjelasan konsekuensinya.

Permulaan ayat-ayat tersebut (surat Al-Muddatstsir) berbicara tentang panggilan langit nan agung (melalui suara Dzat Yang Mahabesar dan Mahatinggi) yang menyeru Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar melakukan urusan yang mulia ini dan agar meninggalkan tidur, berselimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang, dan menempuh jalan penuh ranjau. Hal ini tergambar dalam firman-NYA, “Hai orang yang berselimut, bangunlah! Lalu berilah peringatan”. [QS. Al-Muddatstsir: 2]

Seakan-akan dikatakan (kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam),
“Sesungguhnya orang yang hanya hidup untuk kepentingan dirinya saja,
bisa saja hidup tenang dan nyaman sedangkan engkau yang memikul beban yang besar ini,

Bagaimana mungkin engkau tidur?

Bagaimana mungkin engkau istirahat?

Bagaimana mungkin engkau menikmati permadani yang hangat?

Hidup yang tenang dan kesenangan yang membuaikan?

Bangkitlah untuk melakukan urusan maha penting yang sedang menunggumu dan beban berat yang dipersiapkan untukmu!

Bangkitlah untuk berjuang, bergiat-giat, bekerja keras dan berletih-letih!

Bangkitlah!
Karena waktu tidur & istirahat sudah berlalu, dan sejak hari ini, tidak akan kembali lagi.

Yang ada hanyalah mata yang bergadang terus menerus, jihad yang panjang dan melelahkan.

Bangkitlah!
Persiapkan diri menyambut urusan ini dan bersiagalah!”

Maka bangkitlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan dakwah dan terus melakukannya setelah datangnya perintah itu selama lebih dari 20 tahun, tanpa sempat beristirahat maupun menikmati hidup untuk kepentingan dirinya maupun keluarganya.

Bangkit & tetap bangkit menegakkan dakwah kepada ALLAH, mengembankan di pundaknya beban yang amat berat dan sarat, namun beliau tidak merasa berat dan terbebani.

Beban amanah yang sangat besar di muka bumi ini, beban umat manusia secara keseluruhan, beban akidah secara keseluruhan dan beban perjuangan dan jihad di medan-medan yang berbeda. Beliau hidup menghadapi pertempuran terus menerus yang tiada henti selama lebih dari 20 tahun. Selama tenggang waktu ini, tidak satu pun hal yang dapat membuatnya lengah, yaitu sejak beliau mendengar panggilan langit nan agung, yang beliau terima darinya tugas yang mendebarkan. Semoga ALLAH membalas jasa beliau terhadap manusia secara keseluruhan dengan sebaik-baik imbalan. [4]

In Syaa Allah bersambung minggu depan……

*📝 “FOOTNOTES:”*

*📜 HIKMAH (PELAJARAN)*

[A]
Maksud dengan adanya kevakuman Wahyu terhadap diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah agar rasa takutnya hilang dan agar kerinduan untuk bertemu kembali lahir. Setelah rasa takutnya hilang dan hatinya mulai tenteram, hakikat kebenaran telah disadarinya dan kesiapan untuk menghadapi wahyu telah tegar, maka datanglah Jibril membawa wahyu berikutnya. [5]

[B]
Termasuk bagian dari hikmah, kevakuman wahyu adalah hak ALLAH yang DIA turunkan kapan saja yang DIA kehendaki, Sementara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memiliki hak memajukan ataupun memundurkan.

[C]
Kita harus ingat bahwa perintah untuk berdakwah datang mengawali semua perintah secara keseluruhan, lalu kenapa manusia lalai darinya & mengalihkan perhatian kepada perintah yang lain. Seharusnya semua amalan itu diindahkan. Apabila ada orang yang dikatakan kepadanya, “Bangkitlah dan serukanlah kebenaran”.
Mestinya tidak kaget yang mengakibatkan bangkit dengan terperangah seakan ada sesuatu yang membahayakan karena cobalah renungkan, “Apakah ada yang lebih berbahaya daripada seorang mati dalam kondisi kafir?”,
Mengapakah kita tidak menyadari makna ini, padahal ini dalam Al-Qur’an!? [Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

[1] Shahih Al-Bukhari, kitab At-Ta’bir, bab Awwalu Ma Budi’a bihi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam min al-Wahyi’ ar-Ru’ya ash-Shadiqah, 2/10340.

[2] Fath Al-Bari, op.cit., 1/27.

[3] Shahih Al-Bukhari, op.cit., Kitab At-Tafsir, bab Warrujjza Fahjur, 2/733.

[4] Fi Zhilalil Qur’an, tafsir dua surat, yaitu surat al-Muzzammil dan al-Muddatstsir, Juz 29, hal. 168-171 dan 182.

[5] Ibnu Hajar, Fathu Al-Bari, 1/27.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

JIBRIL ‘alaihis sallam TURUN MEMBAWA WAHYU

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 17 —————

“JIBRIL ‘alaihis sallam TURUN MEMBAWA WAHYU” 🌌

Tatkala usia beliau genap 40 tahun (yang merupakan puncak kematangan, ada pula yang menyatakan bahwa di usia inilah para rasul diutus), Tanda-tanda nubuwwah (kenabian) nampak dan bersinar, di antaranya; Adanya sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepada beliau, beliau juga tidak bermimpi kecuali sangat jelas, sejelas Fajar shubuh yang menyingsing.

Hal ini berlangsung hingga 6 bulan (sementara masa kenabian selama 23 tahun) sehingga ru’ya shadiqah (mimpi yang benar) merupakan bagian dari 46 tanda kenabian. Ketika pengasingan dirinya (uzlah) di gua Hira’ memasuki tahun ketiga, tepatnya di bulan Ramadhan, ALLAH menghendaki rahmat-NYA terlimpahkan kepada segenap penduduk bumi, lalu dimuliakanlah beliau dengan mengangkatnya sebagai nabi, lalu Jibril turun kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an.

Setelah memperhatikan & mengamati beberapa bukti penguat dan dalil-dalil, kita dapat menentukan terjadinya peristiwa tersebut secara tepat, yaitu pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, di malam hari, bertepatan dengan 10 Agustus 610 M. Tepatnya beliau saat itu sudah berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut Kalender Hijriah dan sekitar usia 39 tahun, 3 bulan, 20 hari berdasarkan kalender Masehi.

‘Aisyah radhiyallahu anha berkata’, “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah berupa ar-ru’ya ash-sahlihah (mimpi yang benar) dalam tidur. Beliau tidak bermimpi melainkan sangat jelas, sejelas Fajar shubuh yang menyingsing, kemudian beliau mulai suka menyendiri dan beliau melakukannya di gua Hira’; di mana beliau beribadah di dalamnya selama beberapa malam. Selanjutnya kembali ke keluarganya & mengambil perbekalan untuk itu, kemudian kembali lagi kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil perbekalan yang sama. Hingga akhirnya, pada suatu hari, datanglah kebenaran kepadanya saat beliau berada di gua Hira’ tersebut.

Seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata, ‘Bacalah!’
(beliau berkata) lalu aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’
Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam bertutur lagi, ‘Kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, ‘Bacalah!’

Aku tetap menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’

Lalu untuk kedua kalinya, dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga kemudian melepaskanku seraya berkata lagi, ‘Bacalah!’

Aku tetap menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’

Kemudian dia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, sembari berkata, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qolam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’ [QS. Al-Alaq: 1-5]

Setelah itu Rasulullah pulang dengan merekam bacaan tersebut dalam kondisi gemetar, lantas menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid, sembari berucap, ‘Selimuti aku! Selimuti aku!’

Beliau pun diselimuti hingga rasa takutnya hilang. Beliau bertanya kepada Khadijah, ‘Ada apa denganku ini?’

Lantas beliau menuturkan kisahnya (dan berkata), ‘Aku amat khawatir terhadap diriku!’

Khadijah berkata, ‘Sekali-kali tidak akan demikian!
Demi ALLAH!
DIA tidak akan menghinakanmu selamanya!
Sungguh engkau adalah penyambung tali kerabat, pemikul beban orang lain yang mendapatkan kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu serta pendukung setiap upaya penegakan kebenaran’.

Kemudian Khadijah berangkat bersama beliau menemui ‘Waraqah bin Naufal bin Asan bin Abdul Uzza’, sepupu Khadijah.

Dia adalah seorang penganut agama Nasrani pada masa Jahiliyah dan mampu menukil beberapa tulisan dari Injil dengan tulisan Ibrani sebanyak yang mampu ditulisnya (atas kehendak ALLAH). Dia juga seorang yang sudah tua renta dan buta. Maka berkatalah Khadijah kepadanya, ‘Wahai sepupuku!
Dengarkanlah (cerita) dari keponakanmu ini!’

Waraqah berkata, ‘Wahai keponakanku! Apa yang engkau lihat?’

Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam membeberkan pengalaman yang sudah dilihatnya. Waraqah berkata kepadanya, ‘Itu adalah makhluk kepercayaan ALLAH (Jibril) yang telah ALLAH utus kepada Nabi Musa!
Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu!
Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!’

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’

Dia menjawab,
‘Ya, tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa ini melainkan akan dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada saat itu niscaya aku akan membelamu dengan segenap jiwaragaku’.

Kemudian tak berapa lama dari itu,
Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus (mengalami masa vakum)”. [Shahih Al-Bukhari, I/2,3. Al-Bukhari juga mengeluarkannya dii dalam kitab At-Tafsir dan Kitab Ta’bir Ar-Ru’ya namun lafazhnya sedikit berbeda)

In Syaa Allah bersambung ahad besok

📝 “FOOTNOTES:” 📝

IBNU HAJAR Berkata, ‘Al-Baihaqi mengisahkan bahwa masa ru’ya (mimpi) berlangsung selama 6 bulan. Berdasarkan hal ini, maka permulaan kenabian dengan adanya ru’ya tersebut terjadi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awal, setelah genap berusia 40 tahun. Sedangkan wahyu dalam kondisi terjaga terjadi pada bulan Ramadhan’. [Fath Al-Bari, 1/27]

‘Dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah ditanya tentang puasa pada hari Senin’, dia berkata, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan, dan hari saya mendapatkan wahyu”. [Shahih Muslim, 1/819]. Oleh karena itu, hari dimulai wahyu adalah hari senin.

📜 HIKMAH (PELAJARAN) 📜

[1]
Jibril memeluk dengan keras Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sampai 3 kali. Dari kejadian itu, Syuraih Al-Qadhi mengambil kesimpulan bahwa seorang tidak boleh memukul anak untuk belajar Al-Qur’an lebih dari 3 kali, sebagaimana Jibril hanya memeluk dengan keras yang menyebabkan tersesak hanya 3 kali.

[2]
Ilmu adalah simbol (inti) dari agama ini, wahyu dimulai dengan kata, “bacalah”, dengan demikian, setiap muslim dituntut untuk membaca dan menganalisa, untuk mengamalkan ‘taujih Rabbani’ (arahan ilahi) ini yang mengawali wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

[3]
Disandingkannya qira’at (perintah untuk membaca, belajar) dengan nama ALLAH memberikan isyarat bahwa ilmu harus dibarengi dengan keimanan & ilmu yang benar adalah yang bisa mengantarkan kepada keimanan.

[4]
Rasulullah datang menemui Khadijah radhiyallahu anha dalam kondisi tegang & takut, tetapi langkah awal yang dilakukan Khadijah bukan mengejar dengan pertanyaan dan meminta penjelasan secara rinci, tetapi langkah paling pertama yang dia lakukan adalah menenangkannya. Orang yang sedang kaget tidak pantas ditanyai sesuatu hingga hilang ketakutannya. Imam Malik berkata, “Orang yang ketakutan tidak sah jual belinya, Iqrar (pengakuan) dan lainnya”.

[5]
Seorang yang menghadapi masalah mestinya tidak dirahasiakan sendiri,
dan dianjurkan agar membicarakan kepada orang yang dia percayai untuk bisa memberikan masukan dan pandangan.

[6]
Akhlak yang mulia & budi pekerti yang baik adalah sarana untuk terhindar dari kejahatan & malapetaka,
siapa yang banyak kebaikannya,
maka kesudahannya akan berujung pada kebaikan dan akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

[7]
Perkataan Waraqah radhiyallahuanhu, “Tidak ada Nabi yang tidak dimusuhi oleh kaumnya”.

Dalam riwayat lain, Waraqah berkata, “Tidak ada orang yang membawa (ajaran) seperti yang kamu bawa, kecuali dia disakiti”.

Berdasarkan penjelasan di atas, suatu masalah penting yaitu seorang da’i kepada ALLAH Ta’ala pasti akan menghadapi musuh ketika melakukan amal dakwah.

ALLAH Ta’ala berfirman, “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong”. [QS. Al-Furqan ayat 31]

Syaikh Abdul Rahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Siapa saja yang komitmen dengan Islam dan mengajak kepadanya, maka dia telah menanggung beban amanah yang tinggi dan telah meniti misi seorang Rasul dalam berdakwah, dan dia telah memasuki area pertarungan antara manusia dengan syahwat dan hawa nafsu, dan keyakinan yang batil. Pada saat itu, orang tersebut pasti menghadapi rintangan. Oleh karena itu, hendaknya dia selalu bersabar & berupaya untuk mendapatkan pertolongan ALLAH”. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Syarah Mandzumah Ushul Fiqih Ushul Fiqih

Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada perintah dari beliau, maka hukumnya tidak wajib

*USHUL FIQIH*

*🍀 Kaidah yang ke 13 🍀*

Kitab: Syarah Mandzumah Ushul Fiqih
Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada perintah dari beliau, maka hukumnya tidak wajib.

Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak semuanya sama hukumnya. Namun terbagi menjadi 6 macam:

1. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersifat tabiat manusiawi. Seperti selera makan, gaya berjalan dsb. Maka kita tidak diwajibkan untuk mengikutinya. Kecuali bila disana ada nilai ibadahnya seperti tidur di atas wudlu, tidur di atas rusuk yang kanan dll, maka ini disunnahkan.

2. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berasal adat istiadat.
Contohnya bentuk pakaian dsb. Maka yang sunnah adalah mengikuti adat istiadat setempat selama tidak menyalahi syariat.

3. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mempraktekan perintah Allah.
Hukumnya sesuai perintah tersebut. jika perintah tersebut wajib, maka perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu pun wajib. Contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap seluruh kepala ketika berwudlu, mempraktekkan perintah Allah untuk mengusap kepala.

4. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersifat ta’abbudiy.
Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat ba’da ‘ashar dua rokaat dan lain sebagainya.

5. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang khusus untuk beliau tanpa umatnya. Contohnya menikah lebih dari empat istri dan sebagainya.

6. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang masih diragukan apakah termasuk ibadah atau adat, seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan rambut sebahu. Para ulama berbeda pendapat apakah itu sunnah atau tidak. jumhur berpendapat tidak sunnah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

DI GUA HIRA’

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 16 —————

*⛰ “ DI GUA HIRA’ ” ⛰*

Tatkala usia beliau sudah mendekati 40 tahun dan perenungannya terdahulu telah memperluas jurang pemikiran antara diri beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan kaumnya, beliau mulai suka mengasingkan diri. Karenanya, beliau biasa membawa roti gandum & bekal air menuju Gua Hira’ yang terletak di ‘Jabal Nur’, yaitu sejauh hampir 2 mil dari Makkah.

Gua ini merupakan gua yang sejuk,
panjangnya 4 hasta, lebarnya 1.75 hasta dengan ukuran dzira’ al-Hadid (hasta ukuran besi). Beliau tinggal di dalam gua tersebut bulan Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang mengunjunginya, menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir mengenai pemandangan alam di sekitarnya dan kekuasaan yang menciptakan sedemikian sempurna di balik itu.

Beliau tidak dapat tenang melihat kondisi kaumnya yang masih terbelenggu oleh keyakinan syirik yang usang & gambaran tentangnya yang demikian rapuh, akan tetapi beliau tidak memiliki jalan yang terang, manhaj yang jelas ataupun jalan yang harus dituju, yang berkenan di hatinya dan disetujuinya.

Pilihan mengasingkan diri (uzlah) yang diambil oleh beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam ini merupakan bagian dari tadbir (skenario) ALLAH terhadapnya.
Juga, agar terputusnya kontak dengan kesibukan-kesibukan duniawi, goncangan kehidupan dan ambisi-ambisi kecil manusia yang mengusik kehidupan menjadi sebagai suatu perubahan, untuk kemudian mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga siap mengemban amanah yang agung, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah.

Uzlah yang sudah diatur oleh ALLAH ini terjadi 3 tahun menjelang beliau diangkat sebagai rasul. Beliau menjalani uzlah selama sebulan dengan semangat hidup yang penuh kebebasan & merenungi keghaiban yang tersembungi di balik kehidupan tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengannya saat ALLAH memperkenankannya. [Kisah aslinya dapat dilihat pada Shahih Al-Bukhari, Jilid. 3; Sirah Ibnu Hisyam, op.cit., 1/235-236]

Ketika masa kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebentar lagi tiba, di kalangan bangsa-bangsa lain, telah tersebar berita bahwa ALLAH Ta’ala akan mengutus seorang Nabi pada zaman ini dan masa itu telah dekat. Mereka yang mempunyai kitab mengenal hal tersebut dari kitab mereka. Sementara yang tak berkitab, mereka mengenalnya dari tanda-tanda lain.

‘Ibnu Ishak berkata,’ “Para pendeta dari Yahudi (Al-Ahbar) dan para pendeta dari Nashrani (Ar-Ruhban) & dukun-dukun dari kalangan Arab, mereka semua telah ramai membicarakan Nabi terakhir menjelang kedatangannya. Adapun pada pendeta Yahudi dan Nashrani sumber berita mereka adalah berdasarkan pesan-pesan dari kitab mereka tentang ciri-ciri Nabi itu dan ciri-ciri zaman ketika nabi itu akan diutus. Adapun para dukun, maka sumber beritanya adalah para jin yang telah menguping dan merekalah yang memberitahukan kepada para dukun itu. Dukun wanita dan laki-laki selalu menyebut hal itu, tetapi bangsa Arab tidak menghiraukannya hingga ALLAH mengutus Nabi itu, dan apa yang mereka sebutkan itu ternyata benar terbukti. Maka pada saat itulah, bangsa Arab baru menyadarinya.”

Di antara yang selalu dibicarakan oleh kaum Yahudi & Nashrani mengenai Nabi adalah riwayat yang menjelaskan bahwa seorang Yahudi dari tetangga Bani Abdu Al-Asyhal di Madinah, dia bercerita kepada mereka tentang hari kebangkitan, perhitungan, timbangan, surga dan neraka. Warga Madinah mengingkarinya dan meminta tanda dan buktinya, hingga orang Yahudi itu berkata, “Akan datang seorang Nabi yang diutus dari sekitar wilayah ini”, sambil menunjuk ke arah Yaman dan Makkah.

Kisah Ibnu Al-Haiban yang telah datang dari Syam menuju Madinah beberapa tahun menjelang kenabian,
dia menjelaskan kepada orang Yahudi di Madinah tentang sebab kedatangannya yaitu karena memperkirakan akan datangnya seorang Nabi yang akan dia ikuti, ‘kemudian mengajak orang Yahudi untuk mengikutinya’.

Kisah Salman Al-Farisi yang datang dari Persia mencari agama yang benar, hingga pendeta memberikan petunjuk tentang tempat akan diutus & telah dekatnya masa itu.

‘Ibnu Katsir rahimahullah berkata,’
“Ulama berbeda pendapat tentang ibadah beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebelum kenabian apakah sesuai dengan syariat atau tidak, kalau sesuai, maka syariat itu bentuknya apa?
Ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Nuh ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam dan itulah yang lebih dekat dan lebih kuat. Ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Musa ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Isa ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan bahwa semua yang dia ketahui bahwa itu adalah pernah disyariatkan, maka dia ikuti & amalkan.”

‘Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata’, “Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam naik ke Gua Hira’ kemudian ber-takhannuts dan beribadah kepada ALLAH Azza wa Jalla sesuai dengan yang ALLAH berikan petunjuk kepadanya”.

In Syaa Allah bersambung minggu depan……

📝 “FOOTNOTES:”

📜 HIKMAH (PELAJARAN)

[1]
Pentingnya mengikuti kejadian yang sedang berlangsung dan mengaitkannya dengan nash-nash syar’i, kemudian mengambil pelajaran darinya dalam memprediksikan masalah yang akan datang, karena mereka yang memiliki pengetahuan dan mengikuti perkembangan berita, mereka itulah yang mengetahui dekatnya masa kedatangan Nabi akhir zaman. Sementara mereka yang tidak mengikuti perkembangan dan tidak peduli dengan fenomena kejadian, mereka itulah yang menganggap masa kenabian sebagai kejadian yang mengagetkan dan asing.

[2]
Bahwa apa yang kita rasakan sekarang ini, dari semakin banyaknya penganut agama Islam, semangat yang tinggi untuk mengenalnya & mengamalkan ajarannya adalah bukan sesuatu yang kebetulan. Sebagaimana Yahudi dan Nashrani serta para paranormal mengenal masa kenabian, kita juga menemukan orang yang menulis fenomena maraknya manusia dewasa ini untuk mengenal Islam bukanlah termasuk meraba-raba perkara ghaib, tetapi pengamatan dan penelitianlah yang mengantar mereka sampai kepada prediksi itu.

[3]
Pentingnya khalwat (menyendiri) dalam kehidupan seorang muslilm,
menyendiri, menginstropeksi diri, merenungi ketidakberdayaannya di hadapan kekuasaan ALLAH, dan ber-tafakkur tentang alam semesta ini, dengan berupaya mengambil 2 pelajaran utama dari penyendirian itu:

a) Mengenal kekurangan diri seperti ‘ujub (menyombongkan kebaikannya), kibir (merendahkan orang lain), dengki, riya dan lain-lain, kemudian beristighfar, bertaubat, dan kembali kepada ALLAH Ta’ala

b) Berdzikir kepada ALLAH Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-NYA, serta mengingat surga dan neraka serta hari akhirat, dan perjalanan akhir seorang manusia, dan hal-hal lainnya yang bisa mengantarkan kepada ketaatan, dan jauh dari kemaksiatan.

[4]
Yang dimaksud dengan khalwat (menyendiri) yang dianjurkan adalah bukan khalwat dengan cara-cara yang menyimpang, melainkan meluangkan waktu untuk beribadah kepada ALLAH, dan menjadikan ibadah ini sebagai sarana menambah ketaatan dan menghadapi rintangan-rintangan kehidupan dunia. Seperti bangkit di malam hari untuk shalat tahajjud, qiyamullail dan membaca Al-Qur’an. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “ALLAH Ta’ala turun setiap malam ke langit bumi pada waktu sepertiga malam terakhir kemudian berkata, “Siapa yang minta kepada-KU, maka akan AKU penuhi permintaannya, siapa yang memohon kepada-KU, maka akan AKU berikan permintaannya dan siapa yang beristighfar, maka AKU ampuni dosanya”. [Shahih Muslim, 1/521, hadits no. 758]

ALLAH Ta’ala berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu Perkataan yang berat”. [QS. Al-Muzzammil ayat 1-5]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Apabila disebutkan keutamaan suatu amal dalam sebuah dalil tanpa ada perintah, maka hukumnya sunnah bukan wajib

*USHUL FIQIH*

*🍀 Kaidah yang ke 12 🍀*

Kitab: Syarah Mandzumah Ushul Fiqih
Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Apabila disebutkan keutamaan suatu amal dalam sebuah dalil tanpa ada perintah, maka hukumnya sunnah bukan wajib.

Contohnya hadits:

السواك مطهرة للفم مرضاة للرب

“Bersiwak itu mensucikan mulut dan mendatangkan keridlaan Rabb.” (HR Ahmad)

contohnya juga hadits:

من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة

“Barang siapa yang menghilangkan salah satu kesusahan mukmin, maka Allah akan hilangkan salah satu kesusahannya di hari kiamat.” (HR Muslim).

Contohnya juga hadits:

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر

“Barang siapa yang berpuasa Ramadlan lalu diikuti enam hari syawal, maka seakan akan berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).

Diantara contohnya juga puasa tiga hari setiap bulan, puasa senin kamis dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

KEISTIMEWAAN SEBELUM KENABIAN

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 15 —————

*🌴 “KEISTIMEWAAN SEBELUM KENABIAN”*

Sesungguhnya dalam perkembangan hidupnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah mengoleksi sebaik-baik keistimewaan yang dimiliki oleh masyarakat kala itu. ‘Beliau adalah tipe ideal dari sisi kejernihan berpikir dan ketajaman pandangan’. Beliau memiliki porsi kecerdikan yang lebih, orisinilitas pemikiran dan ketepatan sarana dan tujuan. Diamnya yang panjang, beliau gunakan untuk merenung yang lama, memusatkan pikiran serta memantapkan kebenaran.

Dengan akalnya yang subur & fitrahnya yang suci, beliau memonitor lembaran kehidupan, urusan manusia & kondisi banyak kelompok. Karenanya, ‘Beliau tidak mengacuhkan segala bentuk khurafat & menjauhkan diri dari hal itu’.

Beliau berinteraksi dengan manusia secara ‘bashirah’ (penuh pertimbangan) terhadap urusannya dan urusan mereka. Mana urusan yang baik, beliau ikut berpartisipasi di dalamnya dan jika tidak, beliau lebih memilih untuk mengasingkan diri.

Beliau tidak pernah minum khamar,
tidak pernah makan daging yang dipersembahkan kepada berhala,
tidak pernah menghadiri hari-hari besar berhalaisme ataupun pesta-pestanya bahkan dari sejak masa kanak-kanaknya sudah menghindari sesembahan yang batil tersebut.
Lebih dari itu, tidak ada sesuatu pun yang paling dibencinya selain hal itu bahkan saking bencinya, beliau tidak dapat menahan diri bila mendengar sumpah dengan nama ‘Lata’ dan ‘Uzza’.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa berkat ‘takdir Ilahi’-lah, beliau diliputi penjagaan dari hal tersebut. Manakala hawa nafsu menggebu-gebu untuk mengintai sebagian kenikmatan duniawi dan rela mengikuti sebagian tradisi tak terpuji, ketika itulah ‘Inayah Rabbaniyyah’ menyusup dan menghalanginya dari melakukan hal-hal tersebut.

‘Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah’, dia berkata, “Ketika Ka’bah direnovasi, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan Abbas mengangkuti bebatuan, lalu Abbas berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

‘Gantungkan kainmu ke atas lehermu agar kamu tidak terluka oleh bebatuan’,

namun beliau tersungkur ke tanah karena kedua mata beliau menengadah ke langit, tak berapa lama kemudian beliau baru tersadar, sembari berkata, ‘Mana kainku, mana kainku!’ ,

Lalu beliau mengikat kembali kain tersebut dengan kencang”. [Shahih Al-Bukhari, bab Bunyanil Ka’bah, 1/540]

Dalam riwayat yang lain disebutkan,
“Maka setelah itu, aurat beliau tidak pernah lagi terlihat.”

DI kalangan kaumnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memilliki keistimewaan dalam tabiat yang baik, akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji. ‘Beliau merupakan orang yang paling utama dari sisi muru’ah (penjagaan kesucian & kehormatan diri)’,
paling baik akhlaknya,
paling agung dalam bertetangga,
paling agung sifat bijaknya,
paling jujur bicaranya,
paling lembut wataknya,
paling suci jiwanya,
paling dermawan dalam kebajikan,
paling baik dalam beramal,
paling menepati janji serta paling amanah sehingga beliau dijuluki oleh mereka sebagai ‘Al-Amin’.

Semua itu karena pada diri beliau terkoleksi kepribadian yang shalih & pekerti yang disenangi. Akhlak beliau adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ummul Mukminin, Khadijah radhiyallahu anha, “Engkau adalah orang yang memikul beban si lemah, memberi nafkah si papa (orang yang tidak memiliki apa-apa), menjamu para tamu dan selalu menolong dalam upaya penegakan segala bentuk kebenaran.” [Shahih Al-Bukhari]

In Syaa Allah berlanjut ahad besok

📝 “FOOTNOTES:” 📝

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam semenjak masa kecil hidup dalam akidah yang benar, tidak terpengaruh dengan akidah & moral jahiliyah, walaupun dikelilingi oleh agama dan budaya. Beliau selalu Lestari dalam keistimewaannya:

[1]
Beliau menghina patung-patung yang disembah oleh kaumnya itu. Beliau mengetahui bahwa patung-patung tersebut tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat.

[2]
Beliau sama sekali tidak pernah meminum khamar & tidak pernah mendekati kemaksiatan, dan tidak terlibat dalam permainan judi, atau permainan tidak berguna, walaupun beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa bergaul bersama masyarakatnya, hidup dengan mereka, dan menemani mereka dalam aktivitas keseharian yang dibolehkan.

[3]
Ada ke-ma’shum-am yang menjaganya dari kesalahan-kesalahan moral.

[4]
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dikenal dengan kejujurannya, tidak pernah sekali kesempatan pun didapati beliau berbohong. Hal itu dibenarkan tatkala beliau naik ke bukit Shafa’ kemudian memanggil manusia, yaitu setelah mereka bertanya siapa yang memanggil dan mengetahui bahwa dia itu adalah Muhammad,
kemudian setelah mereka berkumpul,
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata,

“Bagaimanakah pandangan kalian kalau saya berkata bahwa pasukan berkuda akan muncul dari lereng gunung sana, apakah kalian mempercayai saya?”

Mereka semua berkata, “Kami belum pernah menemukan kamu berbohong”.

Dia berkata, “Saya adalah pemberi peringatan yang diutus kepada kalian sebelum datangnya hari pembalasan yang pedih”. [Shahih Al-Bukhari bersama Al-Fathu, 8/337 hadits no. 4471, kitab At-Tafsir, bab surat Tabbat Yada Abi Lahab]

Mereka di sini, di depan banyak manusia berkata, “Kami tidak pernah mendengar kamu berbohong, kamu dikenal sebagai orang yang terpercaya semenjak kecil”. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Perintah Allah dan Rasul-Nya hendaknya dilaksanakan sesegera mungkin, tidak boleh ditunda-tunda

*USHUL FIQIH*

*🍀 Kaidah yang ke 11 🍀*

Kitab: Syarah Mandzumah Ushul Fiqih
Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Perintah Allah dan Rasul-Nya hendaknya dilaksanakan sesegera mungkin, tidak boleh ditunda-tunda.

Dalilnya adalah hadits kisah perdamaian hudaibiyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam marah kepada para shahabat karena mereka menunda-nunda perintah beliau untuk tahallul dan menyembelih hewan kurban.

Secara kebiasaanpun, apabila kita diperintah oleh atasan lalu kita laksanakan dengan segera, maka kita dianggap menghormati atasan.

Bila orang tua menyuruh anaknya pergi membeli sesuatu, lalu anak tersebut menunda-nunda perintahnya. Kemudian orang tuanya marah, maka hal seperti ini dibenarkan.

Maka tidak dibenarkan menunda- nunda haji bagi orang yang mampu tanpa udzur syar’iy dan sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Syarah Mandzumah Ushul Fiqih Ushul Fiqih

Perintah dan larangan dalam urusan ibadah pada asalnya wajib dan haram. Sedangkan dalam masalah adab pada asalnya sunnah dan makruh

*USHUL FIQIH*

*🍀 Kaidah yang ke 10 🍀*

Kitab: Syarah Mandzumah Ushul Fiqih
Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Perintah dan larangan dalam urusan ibadah pada asalnya wajib dan haram. Sedangkan dalam masalah adab pada asalnya sunnah dan makruh.

Perintah dan larangan yang ada dalam Al Qur’an dan hadits tidak lepas dari dua masalah:

Pertama: Masalah ibadah.

Contohnya perintah mengusap kepala dalam wudlu, perintah meluruskan shaff dalam sholat, perintah menggunakan sutrah, larangan mencukur janggut, larangan menyerupai wanita dsb.

Maka dalam masalah ini, perintah pada asalnya wajib dan larangan pada asalnya haram. Tidak boleh dipalingkan kepada sunnah atau makruh kecuali dengan dalil.

Kedua: Masalah adab.

Contohnya perintah memulai yang kanan dalam berpakaian, memakai sendal dan sebagainya. Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing.

Maka perintah dalam masalah adab pada asalnya sunnah. Dan larangan pada asalnya makruh. Tidak boleh dipalingkan kepada wajib atau haram kecuali dengan dalil.

Contoh yang haram karena ada dalil adalah larangan makan dan minum dengan tangan kiri. Hukumnya haram karena menyerupai setan.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah