Categories
Artikel

Dugaan kuat itu dapat digunakan dalam masalah ibadah

*KAIDAH USHUL FIQH*

🍀 Kaidah yang ke 21 🍀

Kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Dugaan kuat itu dapat digunakan dalam masalah ibadah.

Dugaan ada yang lemah dan ada yang kuat. Dugaan lemah tidak diterima dalam masalah apapun, demikian pula semua perkara yang meragukan.

Adapun dugaan kuat, maka boleh menggunakannya dalam masalah ibadah. Dalilnya, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا شك أحدكم في صلاته فايتحر الصواب ثم ليبن عليه

“Apabila salah seorang dari kamu merasa ragu dalam sholatnya, hendaklah ia mencari yang benar, lalu membangun sholat di atasnya.”
(HR Bukhari dan Muslim).

Dalam al qur’an, Allah menyuruh membawa saksi dalam masalah perzinahan, pencurian dan sebagainya. Dan itu bersifat dugaan kuat. Karena saksi ada kemungkinan berdusta. Namun kuat dugaan jujurnya karena melihat ketaqwaannya.

⚉ Apabila seseorang berbuka puasa dengan dugaan kuat waktu berbuka telah masuk, lalu nyata kepadanya bahwa waktunya buka belum masuk, maka puasanya sah dan ia menahan diri kembali sampai benar-benar masuk waktu.

⚉ Bila ada orang sholat shubuh dengan dugaan kuatnya bahwa waktu shubuh telah masuk, maka sah sholatnya.

⚉ Bila ada orang memberi zakat kepada orang yang ia duga kuat berhak mendapatkannya. Lalu nyata setelah itu bahwa ia tidak berhak, maka sah zakatnya.

Dan sebagainya..

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

DAKWAH JAHRIYYAH

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 22 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 3)”*

*📜 HIKMAH (PELAJARAN)*

[A]
Dakwah rahasia ataupun terang-terangan, semuanya berpegang pada ‘1 tujuan yaitu untuk menyatukan umat manusia dengan kalimat tauhid’, yakni hati tidak tergantung kecuali hanya kepada ALLAH, seseorang tidak akan mendapatkan manfaat hanya dengan kehebatan kabilahnya taupun keluarganya.

Semua ini adalah bentuk pengarahan manusia untuk hanya mengesakan ALLAH, beribadah hanya untuk ALLAH, dan itu adalah masalah yang prinsip karena masuk ke dalam area akidah yang maksudnya adalah menetapkan hak ubudiyah hanya milik ALLAH, Tak ada yang disembah kecuali ALLAH, Tak ada yang ditaati kecuali ALLAH, Dan tidak ada sekutu bagi-NYA.

‘Masalah yang paling asasi dan paling pertama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dakwahkan adalah masalah akidah & itulah inti ajaran Rasul-Rasul sebelumnya’ [Dalilnya QS. Al-Anbiya: 25].

Begitulah semestinya yang menjadi misi setiap da’i yang mengajak kepada kebenaran. Karena ‘apabila akidah benar, maka amalan setelah itu pun akan benar. Dan jika akidah tidak benar, maka segala amalan tidak ada artinya’ [Dalilnya QS. Al-Furqan: 23).

[B]
‘Memulai dari kerabat dekat’ walaupun pada hakikatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah milik umat,
adalah untuk menunjukkan tingkat tanggung jawab setiap individu,
yang mesti dimulai dari keluarga & kerabat dekat, karena ‘seseorang akan bertanggung jawab tentang keluarganya, anak-anaknya dan istrinya, orang tuanya dan kerabat dekatnya.’
Setiap yang mengingat firman ALLAH, “Dan berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu”, dia akan megetahui bahwa seorang dituntut memberikan perhatian yang lebih besar terhadap keluarganya dalam berdakwah. Akan tetapi justru beberapa orang malah mengabaikan keluarganya & sibuk berdakwah mengajak selain mereka. Cara seperti ini sebenarnya adalah mengabaikan prioritas tanggung jawab yang harus disandingkan antara kerabat dekat dan manusia secara keseluruhan.

[C]
Firman ALLAH, “Dan lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”, yang dimaksud dengan As-Shad’u adalah ketegaran dalam prinsip yang benar dan jelas, kamu bisa berkata: Inshada’a Al-Jabalu Aw Al-Jidaru (Pecah gunung atau tembok itu), di dalam kata As-Shad’u terdapat makna kekuatan, keuletan, dan kejelasan. Begitulah semestinya seorang muslim tatkala mengajak kepada kebenaran, dia tampil penuh percaya diri, suaranya lantang dan bukan kecil karena malu-malu.

Sebagian anak muda kaum muslim terkadang kurang bangga dengan agamanya, dia malu menyebut nama ALLAH ketika berada dalam majlis, bahkan malu bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia melakukan basa-basi yang berlebihan dengan mengorbankan agama, dia khawatir mendapat cap agamawan, sok alim, (kolot, fanatik) atau bahkan terbelakang karena beragama. Dia hanya taat apabila sendirian, tetapi di depan orang banyak, sangat lemah. Apabila berada di sebuah majlis dan adzan telah dikumandangkan, dia malu mengajak untuk shalat.

Ibnul Qayyim rahimahullah setelah membagi manusia ke dalam 4 macam berkata, “Seorang yang dekat dengan ALLAH, baik ketika sendirian ataupun bersama orang banyak, maka itulah ‘orang yang jujur dan cinta ALLAH’.

Seorang yang kelihatan shalih bila bersama orang banyak dan kehilangan keshalihan tatkala sendirian,
maka itu adalah ‘orang yang sakit’.

Dan siapa yang kehilangan keshalihan,
baik ketika sendirian ataupun dengan orang banyak, maka itulah ‘orang yang telah mati dan terabaikan’.

Namun, bagi orang yang hilang keshalihan ketika bersama orang lain dan menemukan keshalihan itu ketika sendirian, Maka orang tersebut adalah ‘orang jujur yang lemah’ ”.[Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, hal. 43]

[D]
Mengapa sikap dan permusuhan Abu Lahab begitu sengit sejak awal kelahiran dakwah?
Sikap Abu Lahab yang berlebihan serta permusuhan yang kental dari awal menunjukkan bahwa dakwah itu bukanlah dakwah golongan atau kabilah, tetapi merupakan agama baru yang berasal dari ALLAH untuk seluruh makhluk manusia dan jin.

[E]
Ucapan Abu Lahab yang berbunyi,
“Tabban laka ali hadza jama’-tana?” (celakalah kamu wahai Muhammad, apakah hanya karena ini kamu kumpulkan kami?),
mengandung pelajaran yang penting bagi yang bergelut dalam ladang dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar,
yaitu dia pasti ‘akan mendapatkan kata yang serupa dengan kata itu’.

Oleh karena itu, apabila kamu mengajak kepada kebaikan dan melarang dari yang mungkar, atau sedang memberikan nasihat, atau sedang berbicara tentang agama dan menemukan adanya rintangan, maka jangan merasa bersedih karena rintangan seperti itu, bahkan yang lebih tajam darinya telah dikatakan kepara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Aib dan kekurangan bukanlah dalam kepribadian sang da’i, tetapi kesalahan ada pada orang yang melontarkan kata-kata pedas itu dalam menghadapi dakwah.

[F]
Ada bukti kemukjizatan Al-Qur’an dalam surat Al-Masad.
Abu Lahab pada waktu ayat itu diturunkan masih dalam keadaan hidup, walaupun demikian Al-Qur’an memutuskan bahwa dia tidak akan datang suatu saat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk menyatakan, “Saya telah beriman kepadamu wahai Muhammad”. Keputusan seperti itu terhadap manusia yang masih hidup tidak mungkin berasal dari seorang manusia, karena bisa saja Abu Lahab datang suatu saat dengan berkata, “Muhammad telah memutuskan bahwa saya tidak akan beriman, dan ini saya datang kepadanya menyatakan keimanan saya”.

Kemudian ‘siapa yang memberitahukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa Abu Lahab akan mati dalam kekafiran?’

Sementara sangat banyak penduduk Makkah yang telah menyiksa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Walaupun demikian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak menghakimi mereka dengan api neraka karena setelah itu, banyak yang datang dan menyatakan keislaman. Sekali lagi pertanyaannya adalah, “Siapa yang memberitahukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa Abu Lahab tidak akan seperti mereka?”

Pengadilan seperti itu bahwa Abu Lahab akan masuk neraka tidak mungkin berasal dari seorang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, melainkan dari Dzat Yang Maha Mengetahui alam gaib. ‘Pada ayat ini, terdapat bukti kemukjizatan Al-Qur’an yang paling besar dan bantahan yang tajam terhadap yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam’.

[G]
Dalam firman ALLAH [QS. Al-Hijir: 95] terdapat pelajaran yang mulia, karena bagi yang memiliki kekuasaan bisa saja berkata, “Saya akan menjagamu, tidak akan ada orang yang bisa menyentuhmu, saya jaga kamu dari gangguan orang kepadamu”, tetapi bagaimanapun kekuatannya dia tidak mungkin berkata, “Saya jaga kamu dari setiap yang memperolok-olok kamu”, karena arti memperolok-olok termasuk di antaranya yaitu lirikan mata, gerakan tangan, perkataan dengan suara tertentu atau dengan tertawa, atau dengan komentar yang hanya orang tertentu yang bisa memahaminya, kemudian siapa yang mampu mengantisipasi itu semua?

Akan tetapi, ALLAH Ta’ala berfirman,
“Kamilah yang mencukupkan kamu dari segala yang memperolok-olokmu”, dengan kata lampau yang telah terjadi dan telah terbukti. Selain itu, ayat tersebut memakai kata Kafainaaka (mencukupkanmu), tidak memakai kata Namna’u (Kami akan/sedang menghalangi) karena olok-olok tersebut telah terjadi, karena ALLAH mencukupi Nabi-NYA. Kemudian ada isyarat lembut dari ayat ini yaitu Sesungguhnya Yang mampu mencukupkan Rasul-NYA dari segala macam bentuk olokan, maka Dia akan lebih mampu untuk mencukupkan Rasul-NYA dari gangguan yang berbentuk fisik dan nyata.

Dalam firman ALLAH Ta’ala: “dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)”.[QS. Al-Hijir: 97-98]

Ayat ini menunjukkan bahwa hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terasa sempit dan tertekan dengan kata-kata mereka yang pedas itu dalam menantang agama, dan ALLAH memberikan jalan keluar dengan firmannya, “Kami telah mengetahui bahwa hatimu terasa sempit karena kata-kata mereka, maka senantiasalah bertasbih kepada ALLAH dan jadilah orang yang banyak bersujud, dan sembahlah ALLAH hingga maut datang menjemputmu”.[QS. Al-Hijir: 97-99]

Oleh karena itu, ‘apabila hatimu terasa sempit maka bertasbihlah’, dan ini juga merupakan terapi bagi setiap yang merasakan kegundahan hati dalam menghadapi problematika kehidupan ini.

Sungguh banyak manusia yang tertekan karena kata-kata yang diajukan kepadanya, atau bahkan dari kata-kata yang dikatakannya sendiri, dan pada saat itu ‘solusi yang menjadi terapinya adalah bertasbih kepada ALLAH dan menyembah ALLAH hingga datang ajal menjemput’. Hal ini dikarenakan terapi yang dipakai dalam mengobati kesedihan hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga terapi dalam mengobati setiap manusia yang merasakan himpitan dada karena masalah yang dihadapinya.

In Syaa Allah bersambung minggu depan…………..

Sumber Buku:

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Seluruh hukum tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya

*KAIDAH USHUL FIQH*

🍀 Kaidah yang ke 20 🍀

Kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Seluruh hukum tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi syarat-syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya.

Allah Ta’ala berfirman:

فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak mempersekutukan ibadah Rabbnya dengan sesuatupun.” [QS. Al Kahfi:110]

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa syarat orang yang ingin bertemu dengan Allah pada hari kiamat dan melihat wajah-Nya adalah beramal shalih.
Dan hilang penghalangnya yaitu kesyirikan.

Demikian pula semua ibadah seperti sholat, zakat, puasa, haji dan sebagainya tidak sempurna sampai terpenuhi syarat dan rukunnya dan tidak melakukan pembatal-pembatal yang menghilangkan ke-absahannya.

Dalam memvonis individu misalnya, tidak boleh kita vonis ia kafir atau fasiq misalnya kecuali apabila terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalangnya.

Apabila syarat-syaratnya terpenuhi tapi masih ada penghalang ke-absahannya, maka tidak sah.
Seperti orang yang mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH” telah terpenuhi syarat masuk surga. Namun bila ia melakukan pembatal-pembatal “LAA ILAAHA ILLALLAH“, syarat tersebut tidak bermanfaat di sisi Allah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Sahabat

Biografi ABU BAKAR ASH SHIDDIQ Radhiallahu’anhu – Khalifah islam pertama

*🌙 SIRAH SHAHABAT*

*Biografi ABU BAKAR ASH SHIDDIQ Radhiallahu’anhu – Khalifah islam pertama*

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu’anhu adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk. beliau termasuk di antara mereka yang paling awal memeluk Islam. Setelah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar menjadi khalifah Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 M. Lahir dengan nama Abdullah bin ‘Utsman.

*Nama*

Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.

*Kun-yah*

Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar

*Laqb (Julukan)*

Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق). Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,

اللهم إن هذا عتيقك من الموت ، فهبه لي

“Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku”

Dan ada beberapa pendapat lain.
Sedangkan julukan Ash Shiddiq di dapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:

إن كان قال فقد صدق

“Jika ia berkata demikian, maka itu benar”

Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:

وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” [QS. Az Zumar: 33]

Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiyallahu’anhu.

Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu’alaihi Wa sallam telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أُحداً وأبو بكر وعمر وعثمان ، فرجف بهم فقال : اثبت أُحد ، فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi Wa sallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)”

*Kelahiran*

Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.

*Ciri Fisik*

Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

*Jasa-jasa*

Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama. Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais. Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad. Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras dari pada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

لما توفى النبي صلى الله عليه وسلمواستُخلف أبو بكر وكفر من كفر من العرب قال عمر : يا أبا بكر كيف تقاتل الناس وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أمِرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ؟ قال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة ، فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عناقا كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها . قال عمر : فو الله ما هو إلا أن رأيت أن قد شرح الله صدر أبي بكر للقتال فعرفت أنه الحق

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’. Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran‘”

Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata:

نصر الله الإسلام بأبي بكر يوم الردّة ، وبأحمد يوم الفتنة

“Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (khalqul Qur’an)”

Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu. Musailamah Al Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau. Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.Di masa pemerintahan beliau, Al Qur’an dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya. Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata:

والله لا أشيم سيفا سله الله على عدوه حتى يكون الله هو يشيمه

“Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya” [HR. Ahmad dan lainnya]

Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: ‘Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Uhud:

شِـمْ سيفك ولا تفجعنا بنفسك . وارجع إلى المدينة ، فو الله لئن فُجعنا بك لا يكون للإسلام نظام أبدا

‘Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya‘. Lalu Abu Bakar Radhiallahu’anhu pun kembali dan mengutus pasukan. Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa arab

*Keutamaan*

Tidak ada lelaki yang memiliki keutaman sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anh

✅1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dari golongan umat beliau

Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata:

كنا نخيّر بين الناس في زمن النبي صلى الله عليه وسلم ، فنخيّر أبا بكر ، ثم عمر بن الخطاب ، ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهم

“Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin AffanRadhiallahu’anhu” [HR. Bukhari]

Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu, ia berkata:

كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر . وقال : إني كان بيني وبين ابن الخطاب شيء ، فأسرعت إليه ثم ندمت فسألته أن يغفر لي فأبى عليّ ، فأقبلت إليك فقال : يغفر الله لك يا أبا بكر – ثلاثا – ثم إن عمر ندم فأتى منزل أبي بكر فسأل: أثَـمّ أبو بكر ؟ فقالوا : لا ، فأتى إلى النبي فجعل وجه النبي صلى الله عليه وسلم يتمعّر ، حتى أشفق أبو بكر فجثا على ركبتيه فقال : يا رسول الله والله أنا كنت أظلم – مرتين – فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إن الله بعثني إليكم فقلتم : كذبت ، وقال أبو بكر : صَدَق ، وواساني بنفسه وماله ، فهل أنتم تاركو لي صاحبي – مرتين – فما أوذي بعدها

“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu berkata: ‘“Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar‘. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sementara wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?‘ sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” [HR. Bukhari]

Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.

✅2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di gua ketika dikejar kaum Quraisy

Allah Ta’ala berfirman,

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

“Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”” [QS. At Taubah: 40]

As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata ‘janganlah kamu bersedih’ namun tidak berkata ‘janganlah kamu takut’ karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan”.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata kepadanya:

نظرت إلى أقدام المشركين على رؤوسنا ونحن في الغار فقلت : يا رسول الله لو أن أحدهم نظر إلى قدميه أبصرنا تحت قدميه . فقال : يا أبا بكر ما ظنك باثنين الله ثالثهما

“Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah’”

Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.

Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar Radhiallahu’anhu pun berkata:

والله لليلة من أبي بكر خير من آل عمر ، وليوم من أبي بكر خير من آل عمر ، لقد خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم لينطلق إلى الغار ومعه أبو بكر ، فجعل يمشي ساعة بين يديه وساعة خلفه ، حتى فطن له رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا أبا بكر مالك تمشي ساعة بين يدي وساعة خلفي ؟ فقال : يا رسول الله أذكر الطلب فأمشي خلفك ، ثم أذكر الرصد فأمشي بين يديك . فقال :يا أبا بكر لو كان شيء أحببت أن يكون بك دوني ؟ قال : نعم والذي بعثك بالحق ما كانت لتكون من مُلمّة إلا أن تكون بي دونك ، فلما انتهيا إلى الغار قال أبو بكر : مكانك يا رسول الله حتى استبرئ الجحرة ، فدخل واستبرأ ، قم قال : انزل يا رسول الله ، فنزل . فقال عمر : والذي نفسي بيده لتلك الليلة خير من آل عمر

“Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan’. Rasulullah lalu berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu’. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar’‘” [HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah]

✅3. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)

✅4. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama

Kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meneladani khulafa ar rasyidin, sebagaimana sabda beliau:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ

“Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” [HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya]

✅5. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash

Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata:

لما مَرِضَ النبيّ صلى الله عليه وسلم مرَضَهُ الذي ماتَ فيه أَتاهُ بلالٌ يُؤْذِنهُ بالصلاةِ فقال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصَلّ . قلتُ : إنّ أبا بكرٍ رجلٌ أَسِيفٌ [ وفي رواية : رجل رقيق ] إن يَقُمْ مَقامَكَ يبكي فلا يقدِرُ عَلَى القِراءَةِ . قال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ . فقلتُ مثلَهُ : فقال في الثالثةِ – أَوِ الرابعةِ – : إِنّكنّ صَواحبُ يوسفَ ! مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ ، فصلّى

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”

Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

أفلا نرضى لدنيانا من رضيه رسول الله صلى الله عليه وسلم لديننا

“Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه : ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر ، فقالت : أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك ؟ قال : إن لم تجديني فأتي أبا بكر

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” [HR. Bukhari-Muslim]

✅6. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر

“Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” [HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih]

✅7. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti (ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat) di masa Nabi Muhammad.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’.

Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

بعثني أبو بكر الصديق في الحجة التي أمره عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل حجة الوداع في رهط يؤذنون في الناس يوم النحر : لا يحج بعد العام مشرك ، ولا يطوف بالبيت عريان

“Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di ka’bah dengan telanjang”

Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Tabuk.

In Syaa Allah akan berlanjut minggu depan…..

Sumber : muslim.or.id

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

Di Atas Bukit Shafa

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 21 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 2)”*

– Di Atas Bukit Shafa –

Setalah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yakin dengan janji pamannya, Abu Thalib, yang akan melindunginya dalam tugasnya menyampaikan Wahyu Rabbnya, suatu hari beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdiri di atas bukit Shafa seraya berteriak,

“Ya shabahah!”
(seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi & biasa digunakan untuk perang).

Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengajak mereka untuk bertauhid (kepada ALLAH), beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.

Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan satu sisi dari kisah ini, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat’ [QS. Asy-Syu’ara: 214], Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam naik ke atas bukit Shafa, lalu menyeru,
‘Wahai Bani Fihr!
Wahai Bani ‘Adi!’
Seruan ini diarahkan kepada marga-marga Quraisy. Kemudian tak berapa lama, mereka pun berkumpul.

Karena begitu pentingnya panggilan itu, seseorang yang tidak bisa keluar memenuhinya,mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi? Maka, tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisy pun berkumpul juga. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berbicara,
‘Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?’

Mereka menjawab,
‘Ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran’.

Abu Lahab menanggapi,
‘Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?’

Maka ketika itu turunlah ayat:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab …” [QS. Al-Masad ayat 1] [1]

Imam Muslim meriwayatkan satu sisi lain dari kisah tersebut, yaitu riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Tatkala ayat : ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat’ [Asy-Syu’ara: 214] turun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendakwahi mereka, sesekali bersifat umum, dan sesekali yang lain bersifat khusus.
Beliau berkata, ‘Wahai kaum Quraisy!Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.
Wahai Bani Ka’b! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.
Wahai Fathimah binti Muhammad!Selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Demi ALLAH! Sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu pun (untuk menyelamatkan kalian) dari azab ALLAH, Hanya saja kalian memiliki ikatan kerabat (denganku) yang senantiasa akan aku sambung”. [2]

Teriakan yang keras ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah yang optimal, di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut adalah bentuk efektifitas semua hubungan antara dirinya dan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudidayakan oleh orang-orang Arab akan meleleh di dalam panasnya peringatan yang datang dari ALLAH tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdakwah secara rahasia selama 3 tahun, kemudian diturunkan kepadanya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), “ [QS. Al-Hijir: 94-95].

Oleh karena itu, beliau mengumumkan dakwahnya dan pada saat itu, kaumnya pula yang memulai perlawanan dan permusuhan secara terang-terangan, dan rintangan serta tantangan semakin bertambah atasnya dan umat Islam. [3]

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengumpulkan Bani Abdul Muththalib hingga terkumpul dalam jumlah yang banyak, mereka semuanya memakan daging jadz’ah [4] dan meminum faraq [5]
Dia berkata, ‘Beliau membuat makanan dan mereka memakannya hingga kenyang’.
Dia berkata, “Makanan itu seperti belum pernah dimakan”,
kemudian beliau meminta bejana kecil dan mereka minum hingga kenyang.
Namun, minuman itu seperti belum pernah diminum.

Beliau berkata, “Wahai Bani Abdul Muththalib, sesungguhnya saya diutus kepada kalian secara khusus dan kepada umat manusia secara umum,
dan kalian telah menyaksikan salah satu dari tanda-tanda kenabian saya,
maka siapakah di antara kalian yang bersedia membai’at saya untuk menjadi saudara dan sahabat saya?”

Ali berkata, “Tidak seorang pun yang bangkit dari duduknya’,
Ali berkata, ‘Akhirnya saya berdiri dan berjalan kepadanya, sementara saya adalah anak yang paling muda di antara mereka’,
Beliau berkata, ‘Duduk kembali wahai Ali’, pertanyaan itu diulangi sampai tiga kali dan setiap dia meminta untuk dibai’at, saya selalu berdiri dan menuju kepadanya dan dia pun selalu mengatakan, ‘duduklah’. Hingga pada saat yang ketiga kalinya, beliau meletakkan tangannya di atas tangan saya’. [6]

In Syaa Allah bersambung minggu depan………….

Sumber Buku:
– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

[1]
Shahih Al-Bukhari, 2/702,734. Shahih Muslim, 1/114.

[2]
Shahih Muslim, ibid ; Shahih Al-Bukhari, 1/385, 2/702; Misykah Al-Mashabih, 2/460.

[3]
Ibnul Qayyim, Zad Al-Ma’ad, 1/86.

[4]
Jadza’ah adalah domba atau kambing yang berusia 1 tahun atau lebih. Adapun menurut istilah rinciannya lihat buku Al-Qamus Al-Fikihi Lugatan Waistilahan. Sa’di Abu Jaib, hal.59.

[5]
Timbangan makanan sebanyak 16 belas liter atau 12 mud atau tiga sha’ menurut orang Hijaz. Lihat Ibnu Atsir, An-Nihayah fi garibi Al-Hadits, 3/347, menunjukkan sebuah wadah besar yang cukup untuk diminum orang banyak.

[6]
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnad, lihat Al-Banna, Al-Fathu Ar-Rabbani Litattrtibi Musnad Imam Ahmad, 20/224.
Al-Banna berkata, “Diriwayatkan oleh Al-Haitsami dengan panjang lebar”.
Al-Haitsami berkata, ‘diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan lafaznya, dan Ahmad dengan ringkas, dan At-Tabrani dalam kitab Al-Ausath juga dengan ringkas, dan perawi yang dipakai Ahmad dan salah satu dari dua sanad Al-Bazzar adalah perawi yang kredibel, selain Syuraik, namun dia tetap tepercaya (tsiqah) Bulugu Al-Amani Min Asrari Al-Fathi Ar-Rabbani, 20/224. Lihat As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah, karya As-Shuyani hal.72, dia berkata: ‘Sanadnya kuat’.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Semua yang mendahului sebab suatu hukum tidak sah. Dan sah apabila mendahului syaratnya

*KAIDAH USHUL FIQH*

🍀 Kaidah yang ke 19 🍀

👉🏼 Semua yang mendahului sebab suatu hukum tidak sah. Dan sah apabila mendahului syaratnya.

Setiap hukum memiliki sebab dan syarat.

⚉ Contohnya zakat, sebab wajibnya adalah sampai nishob dan syarat wajibnya adalah telah berlalu haul (setahun).

Apabila ada orang yang berzakat sebelum sampai nishobnya, maka zakatnya tidak sah. Karena mendahului sebab. Adapun bila ia telah sampai nishob dan hendak mengeluarkan zakat sebelum berlalu haul maka boleh dan sah.

⚉ Contoh lain: syarat membayar fidyah ketika haji dan umroh adalah melakukan pelanggaran yang mewajibkan fidyah, seperti mencukur kepala. Dan sebab mencukur kepala karena adanya gangguan di kepala seperti banyak kutu misalnya.

Gangguan di kepala = sebab
Mencukur rambut = syarat membayar fidyah.

Apabila kita membayar fidyah sebelum adanya gangguan maka tidak sah.
Namun apabila telah ada gangguan lalu kita membayar fidyah sebelum mencukur kepala maka sah.

⚉ Bila kita bersumpah untuk tidak memasuki suatu kota, kemudian setelah itu ia memandang adanya mashlahat besar untuk memasuki kota tersebut. Lalu ia membatalkan sumpah dan membayar kafarat sumpah. Berarti, Sumpah adalah sebab adanya pembatalan. Pembatalan adalah syarat membayar kafarat.

Apabila ada orang membayar kafarat sebelum adanya sumpah maka tidak sah. Apabila ia telah bersumpah lalu ia berniat membatalkan sumpahnya. Ia membayar kafarat dahulu sebelum pembatalan maka sah. Dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Hukum itu mengikuti ILLAT-nya. Bila ILLAT ada maka hukum-pun ada, dan bila tidak ada maka hukum tidak ada

*KAIDAH USHUL FIQH*

🍀 Kaidah yang ke 18 🍀

👉🏼 Hukum itu mengikuti ILLAT-nya. Bila ILLAT ada maka hukum-pun ada, dan bila tidak ada maka hukum tidak ada.

Hukum dalam Islam tidak lepas dari lima: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Setiap hukum Islam selalu mengandung ILLAT.
ILLAT adalah sifat yang tampak dan tetap seperti ILLAT arak adalah memabukkan.

Hukum dilihat dari ILLAT-nya ada dua macam:
1. Hukum diketahui ILLAT-nya.
2. Hukum yang tidak diketahui ILLAT-nya.

Hukum yang diketahui ILLAT-nya ada dua macam:
1️⃣ ILLAT yang disebutkan oleh Nash. contohnya hadits tentang kucing:

إنها ليست بنجس إنما هي من الطوافين عليكم

“Sesungguhnya kucing itu tidak najis, ia selalu berkeliling di antara kalian.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadits tersebut Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan alasan ketidak najisan kucing yaitu suka berkeliling sehingga sulit dihindari.

2️⃣ ILLAT yang diketahui dengan cara istinbath.
ILLAT jenis ini ada yang menjadi ijma ulama seperti ILLAT arak adalah memabukkan. Dan ada yang masih diperselisihkan, seperti ILLAT emas dan perak ada yang mengatakan karena ditimbang. Ada yang mengatakan ILLAT-nya adalah “tsaman” (harga) dan inilah yang kuat.

Memahami ILLAT suatu hukum sangat penting dan memudahkan kita untuk mengqiyaskan dengan perkara lain yang sama ILLAT-nya.
Seperti diqiyaskan kepada kucing semua binatang yang sulit untuk kita hindari.

Contoh lainnya adalah uang diqiyaskan kepada emas karena ILLAT-nya sama-sama harga. Sehingga dalam zakat sama dengan emas dan juga terjadi padanya riba.

Apabila ILLAT-nya hilang, maka hilang pula hukumnya. Contohnya bila arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya, dan tidak lagi memabukkan menjadi halal hukumnya karena ILLAT memabukkan itu telah hilang, dan sebagainya.

Adapun hukum yang tidak diketahui ILLAT-nya, seperti mengapa sholat shubuh dua roka’at, mengapa sholat dimulai dengan takbirotul ihrom dan lain sebagainya.
maka seperti ini disebut dengan ibadah mahdhoh yang tak bisa diqiyaskan karena tidak diketahui ILLAT-nya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

PERKATAAN ULAMA BERKAITAN DENGAN ORANG YANG MENCELA SAHABAT ATAU BERKOMENTAR MIRING TERHADAP SALAH SEORANG SAHABAT

*🌙 SIRAH SHAHABAT*

*PERKATAAN ULAMA BERKAITAN DENGAN ORANG YANG MENCELA SAHABAT ATAU BERKOMENTAR MIRING TERHADAP SALAH SEORANG SAHABAT*

Imam Al Bukhari menulis sebuah bab dalam Shahih-nya berjudul “Bab : Larangan Mencela Orang Yang Sudah Mati”, kemudian beliau meriwayatkan sebuah hadits dari jalur Adam, dari Syu’bah, dari Al A’masy, dari Mujahid, dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha , ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencela orang yang sudah mati. Karena mereka telah menyelesaikan amal perbuatan mereka”[12].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabatku. Karena sesungguhnya, meskipun kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka, tidak juga separuhnya”.

Di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari hadits Al Bara` bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

“Tidaklah mencintai kaum Anshar, kecuali seorang mukmin. Dan tidaklah membenci mereka, kecuali seorang munafik. Barangsiapa mencintai mereka, niscaya Allah mencintainya. Barangsiapa membenci mereka, niscaya Allah membencinya”*[13].

Ibnu Asakir menyebutkan, ketika dihadapkan kepada Umar, seorang Arab Badui menyerang sahabat Anshar dengan kata-kata, beliau berkata: “Sekiranya dia bukan sahabat Nabi, niscaya cukuplah aku yang menyelesaikannya. Akan tetapi, ia masih termasuk sahabat Nabi”* [14].

Imam Al Lalikai meriwayatkan dari jalur Hambal bin Ishaq, dari Muhammad bin Ash Shalt, dari Qeis bin Ar Rabi`, dari Wa’il dari Al Bahi, ia berkata: “Pernah terjadi pertengkaran antara Ubaidullah bin Umar dengan Al Miqdam, lalu Ubaidullah mencela Al Miqdam, maka Umar berkata: “Tolong, ambilkan besi tajam, agar kupotong lisannya, sehingga tidak seorangpun sesudahnya yang berani mencela salah seorang sahabat Nabi”*[15].

Al Lalikai juga meriwayatkan dari jalur Sufyan bin Uyainah, dari Khalaf bin Hausyab, dari Sa’id bin Abdirrahman bin Abza, ia berkata: Aku bertanya kepada ayahku, ”Seandainya aku membawa seseorang yang mencaci Abu Bakar, apa kira-kira yang engkau lakukan?”
Beliau menjawab,”Akan kupenggal lehernya!”
aku bertanya lagi: “Bagaimana jika mencaci Umar?”
Jawab ayahku,”Juga akan kupenggal lehernya!”[16].

Ibnu Baththah menyebutkan, bahwa Sufyan Ats Tsauri berkata: “Janganlah engkau mencela Salafush Shalih, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat”.

Imam Al Lalikai meriwayatkan dari jalur Ma’n bin Isa, ia berkata: Saya mendengar Malik bin Anas berkata, ”Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka ia tidak berhak mendapat harta fa’i, sebab Allah berfirman: (Juga) bagi para fuqara Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) -QS Al Hasyr ayat 8-, mereka adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhijrah bersama Beliau. Kemudian Allah berfirman: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) –Al Hasyr : 9-, mereka adalah kaum Anshar. Kemudian Allah berfirman : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.* –Al Hasyr:10. Itulah ketiga golongan yang berhak menerima fa’i. Barangsiapa mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia tidak termasuk salah satu dari tiga golongan tersebut, dan ia tidak berhak menerima fa’i” [17].

Al Khallal meriwayatkan dalam kitab As Sunnah, dari jalur Abu Bakar Al Marwadzi, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Abdullah (yakni Imam Ahmad) tentang hukum orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah Radhiyallahu anhum. Beliau berkata, ’Menurut saya, ia bukan orang Islam.’ Saya juga mendengar Abu Abdillah berkata, ’Imam Malik mengatakan, siapa saja yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia tidak mendapat bagian apapun dalam Islam.

Al Khallal juga meriwayatkan dari jalur Abdul Malik bin Abdul Hamid, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdillah berkata, ’Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka aku khawatir ia jatuh ke dalam kekufuran, seperti halnya kaum Rafidhah,’ kemudian beliau berkata, Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka dikhawatirkan ia keluar dari agama.

Al Khallal juga meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang orang yang mencela salah seorang sahabat Nabi, (dan) beliau menjawab,’Menurut saya, dia bukan orang Islam’.”

Al Khallal juga meriwayatkan dari jalur Harb bin Ismail Al Kirmani, dari Musa bin Harun bin Ziyad, bahwa ia mendengar Al Faryabi ditanya oleh seorang lelaki tentang hukum orang yang mencaci Abu Bakar. Beliau (Al Faryabi, Red) menjawab: “Kafir!” Tanyanya lagi: “Bolehkah jenazahnya dishalatkan?” Jawab beliau, ”Tidak!” Aku bertanya kepadanya: “Bukankah ia telah mengucapkan La Ilaha illallah?” Beliau menjawab, ”Janganlah kalian sentuh jenazahnya dengan tangan kalian, angkatlah jenazahnya dengan kayu, lalu kuburkan dalam lubang kuburnya.”

Imam Ahmad berkata dalam sebuah risalah yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Ja’far bin Ya’qub Al Ishthakhri: “Seorangpun tidak boleh menyebutkan keburukan para sahabat, dan janganlah mencela seorangpun dari sahabat karena aib atau kekurangannya. Barangsiapa melakukan hal itu, maka wajib bagi penguasa menjatuhkan hukuman dan sanksi atasnya. Kesalahannya itu tidak boleh dimaafkan. Pelakunya harus dihukum dan diminta bertaubat. Jika ia bertaubat, maka diterimalah taubatnya. Jika tetap bertahan, maka hukuman kembali dijatuhkan atasnya, dan dipenjara seumur hidup hingga mati atau bertaubat”.

Beliau (Imam Ahmad) berkata di awal risalahnya ini: “Itulah madzab ahli ilmu, ahli atsar dan ahlu sunnah yang teguh memegangnya, di kenal dengannya, yang masalah ini telah diikuti semenjak zaman sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang ini. Saya telah bertemu dengan para ulama dari Hijaz, Syam dan daerah lainnya berada di atas madzhab tersebut” [18].

Al Qadhi` Iyadh berkata dalam Syarah Shahih Muslim [19]: “Mencela sahabat Nabi dan merendahkan mereka, atau salah seorang dari mereka, (itu) termasuk perbuatan dosa besar yang diharamkan. Nabi telah melaknat orang yang melakukannya”.

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha-i, ia berkata: “Mencaci Abu Bakar dan Umar termasuk dosa besar”.

Demikian pula dinyatakan oleh Abu Ishaq As Sab’i. Dan disebutkan pula hal itu oleh Ibnu Hajar Al Haitsami dalam kitab Az Zawajir, ia berkata: “Dosa besar yang ke empat ratus enam puluh empat dan empat ratus enam puluh lima ialah membenci kaum Anshar, mencaci salah seorang sahabat Nabi –radhiyallahu` anhum [20].

Dari uraian di atas jelaslah, betapa besar dosa mencela sahabat Nabi atau salah seorang dari mereka. Karena Rasulullah Shallallah Alaihi Wassalam telah melarang mencela orang yang sudah mati dan melarang mencela sahabat beliau. ‘Aisyah Radhiyallahu anha juga mengabarkan, bahwa mereka telah diperintahkan untuk memohon ampunan bagi sahabat Nabi, akan tetapi, mereka justru malah mencela sahabat.*[21]

Begitulah kenyataannya, mereka benar-benar mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mencela sahabat Nabi itu sebenarnya meniru perbuatan seorang zindiq bernama Abdullah bin Saba’. Oleh sebab itu, mereka merupakan orang yang paling mirip dengan kaum Nasrani yang mencela kaum Hawariyun, pengikut setia Nabi Isa Alaihissallam.

Imam Al Ajurri meriwayatkan dari jalur Ahmad bin Abdullah bin Yunus, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Az Zuhri, ia berkata: “Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dengan kaum Nasrani selain pengikut Saba’iyah”. Ahmad bin Yunus berkata, ”Mereka adalah kaum Syi’ah Rafidhah.” [22]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dalam kitab Ash Sharimul Maslul: “Sejumlah ulama dari kalangan sahabat-sahabat kami (yakni ulama madzhab Hambali) menegaskan kekafiran kaum Khawarij yang meyakini harus berlepas diri dari Ali dan Utsman, dan juga menegaskan kekafiran Rafidhah yang meyakini wajib mencaci seluruh sahabat, dan menegaskan kekafiran orang-orang yang mengkafirkan sahabat, mengatakan mereka fasik atau mencaci mereka”.

Abu Bakar Abdul Aziz berkata di dalam kitab Al Muqni’: “Adapun jika ia termasuk penganut paham Rafidhah yang mencaci sahabat, maka hukumnya kafir dan tidak boleh dinikahkan (dengan wanita Ahlus Sunnah Wal Jama’ah). Sedangkan pendapat ulama lainnya, dan inilah pendapat yang didukung oleh Al Qadhi Abu Ya’la, bahwa jika ia benar-benar mencaci sahabat dan menjatuhkan martabat agama dan keshalihan mereka, maka ia kafir karena perbuatan tersebut. Namun jika ia mencacinya tanpa menjatuhkan martabat -misalnya mencaci ayah salah seorang dari mereka, atau mencacinya dengan maksud membuat marah, atau tujuan lainnya- maka ia tidaklah kafir karena hal itu”.

Itulah sikap yang harus dimiliki setiap muslim terhadap para sahabat yang mulia. Sebagaimana dimaklumi, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mengatakan jika sahabat itu ma’shum dari dosa besar ataupun dosa kecil. Boleh jadi mereka melakukan dosa tersebut, akan tetapi mereka tetap yang paling utama, paling baik dan mempunyai kelebihan sebagai sahabat Nabi. Itulah sebabnya mereka mendapat ampunan atas kesalahan yang mereka perbuat. Bahkan mereka mendapat ampunan atas dosa dan kesalahan, yang barangkali, bila dilakukan oleh selain mereka, belum tentu diampuni. Setiap muslim wajib meyakini hal ini dan mempertahankannya. Sebab ini merupakan bagian dari ajaran agama yang diturunkan Allah.

Sebagai penutup tulisan ini, berkut adalah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab Ash Sharimul Maslul: “Dalam masalah ini, kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih dan ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta (di kalangan) seluruh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka semua sepakat, bahwa kita wajib memuji para sahabat, memohon ampunan bagi mereka, memohon curahan rahmat bagi mereka, mendoakan mereka (dengan mengucapkan radhiyallahu`anhu), mencintai dan loyal kepada mereka, serta meyakini adanya sanksi yang berat atas orang yang berpandangan buruk tentang mereka”. Wallahul musta’an.

📚 Abu Ihsan Al Atsari

_______
Footnote:
[12]. HR Al Bukhari, 1393.
[13]. HR Al Bukhari, 3783 dan Muslim, 75.
[14]. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, 59/206 dan Al Ishabah I/11, lalu ia menyebutkan sanadnya sendiri, kemudian berkata: “Perawi hadits ini tsiqah”.
[15]. Al Lalikai, 2376.
[16]. Al Lalikai, 2378.
[17]. Al Lalikai, 2400.
[18]. Thabaqatul Hanabilah, I/24.
[19]. Syarah Shahih Muslim, VII/580.
[20]. Beliau telah menulis sebuah kitab yang sarat faidah dalam masalah ini, berjudul Ash Shawaiqul Muhriqah ‘Ala Ahli Rafdh Wad Dhalal Waz Zanadiqah.
[21]. Muslim, 3022.
[20]. Al Ajurri dalam kitab Asy Syari’at, 2028 dan 2030, sanadnya shahih

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

Perintah Pertama untuk Menampakkan Dakwah

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 20 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 1)”*

– Perintah Pertama untuk Menampakkan Dakwah –

Sehubungan dengan hal ini, ayat pertama yang turun adalah: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”. [QS. Asy-Syu’ara ayat 214]

Sebelumnya terdapat alur cerita yang menyinggung kisah Nabi Musa ‘alaihis sallam dari permulaan kenabian hingga hijrah bersama Bani Israil,
lolosnya mereka dari kejaran Fir’aun dan kaumnya dan serta tenggelamnya Fir’aun bersama kaumnya. Kisah ini mengandung semua tahapan yang dilalui oleh Nabi Musa ‘alaihis sallam dalam dakwahnya terhadap Fir’aun dan kaumnya agar menyembah ALLAH.

Seakan-akan rincian ini dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa untuk berdakwah kepada ALLAH secara terang-terangan, agar di hadapan beliau dan sahabatnya terdapat contoh atas pendustaan & penindasan yang akan mereka alami nantinya manakala mereka melakukan dakwah secara terang-terangan. Demikian pula, agar mereka mengetahui resiko dari hal itu semenjak awal memulai dakwah mereka tersebut.

Surat tersebut (Asy-Syu’ara) juga berbicara mengenai nasib yang dialami oleh para pendusta para Rasul, di antaranya kaum Nabi Nuh ‘alaihis sallam, kaum Ad & Tsamud, kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam, kaum Nabi Luth ‘alaihis sallam serta kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis sallam (di samping yang berkaitan dengan perihal Fir’aun dan kaumnya). Semua itu dimaksudkan agar mereka yang akan melakukan pendustaan menyadari apa yang akan terjadi terhadap mereka & siksaan ALLAH yang akan mereka alami bila terus melakukan pendustaan.

Sebaliknya agar kaum Mukminin mengetahui bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.

– Berdakwah di Kalangan Kaum Kerabat –

Setelah turunnya ayat tersebut,
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengundang para kerabat terdekatnya Bani Hasyim. Mereka pun datang disertai oleh beberapa orang dari Bani Al-Muththalib bin Abdi Manaf yang berjumlah sekitar 45 orang. Namun tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan berbicara, Tiba-tiba Abu Lahab memotongnya seraya berkata, “Mereka itu adalah paman-pamanmu & para sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah menganut agama baru. Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab. Aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jika engkau bersikeras melakukan apa yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah ketimbang bila seluruh marga Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih jelek dari apa yang engkau bawa ini”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya diam dan tidak berbicara pada pertemuan itu.

Sekali waktu, Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengundang mereka lagi, lantas berbicara, “Alhamdulillah, aku memuji-NYA,
meminta pertolongan,
beriman serta bertawakal kepada-NYA. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang haq) melainkan ALLAH semata Yang tiada sekutu bagi-NYA”.

Selanjutnya beliau berkata,
“Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi ALLAH yang tiada Tuhan (yang haq) selain-NYA!Sesungguhnya aku adalah utusan ALLAH yang datang kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia secara umum.
Demi ALLAH! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang kekal”.

Kemudian Abu Thalib berkomentar,
“Alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasihatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu. Mereka yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka, namun aku adalah orang yang paling cepat merespek apa yang engkau inginkan. Oleh karena itu, teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu.
Demi ALLAH! Aku akan senantiasa melindungi dan membelamu, hanya saja diriku tidak memberikan cukup keberanian kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muththalib”.

Ketika itu Abu Lahab berkata, “Demi ALLAH! Ini benar-benar merupakan aib yang besar. Ayo cegahlah dia sebelum orang lain yang turun tangan mencegahnya!”.

Abu Thalib menjawab, “Demi ALLAH!
Sungguh selama kami masih hidup,
kami akan membelanya”.

In Syaa Allah bersambung minggu depan………

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

*USHUL FIQIH*

*🍀 Kaidah yang ke 17 🍀*

Kitab: Syarah Mandzumah Ushul Fiqih
Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

👉🏼 Apabila bertemu pembolehan dengan pelarangan, maka didahulukan pelarangan.

Dalil kaidah ini adalah ayat tentang arak yang menyebutkan bahwa pada arak terdapat dosa dan manfaat, maka Allah haramkan.

Apabila bercampur ada daging yang halal dan daging yang haram, dan kita tidak mengetahui mana yang halal, maka wajib ditinggalkan semua.

Puasa hari sabtu terdapat dalil yang mengharamkan dan dalil yang membolehkan, maka kita dahulukan dalil yang mengharamkan.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah