Categories
Artikel

Azab yang tiba-tiba bagi yang dzalim

💫 *Azab yang tiba-tiba bagi yang dzalim …*

Allah berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ.

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” [QS. Ibrohim: 42]

Yakni janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari penyiksaan terhadap orang-orang zalim ketika kamu melihat mereka dalam kesehatan, keamanan, dan kenikmatan.

إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ

(Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka)
Yakni menunda balasan atas kezaliman mereka, sehingga mereka tidak disiksa saat ini juga.

لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصٰرُ

(sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak)
Yakni pandangan orang-orang yang ada di padang mahsyar mengarah ke atas karena mereka melihat kengerian di hari itu, mata mereka terbuka dan tidak bergerak akibat besarnya kebingungan dan ketakjuban mereka. [Tafsir Al-Muyassar]

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,
Janganlah kamu mempunyai dugaan bahwa Allah melupakan orang-orang yang zalim dan membiarkan mereka tanpa menghukum mereka karena perbuatannya, hanya karena Allah menangguhkan ajal kebinasaan mereka. Bahkan Allah menghitung-hitung semua perbuatan zalim yang mereka lakukan dengan perhitungan yang sangat terperinci.

{إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأبْصَارُ}

Sesungguhnya Allah memberi tangguh mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [QS. Ibrahim: 42]

Yaitu karena kedahsyatan dan kengerian serta huru-hara yang terjadi di hari kiamat.
Kemudian Allah menceritakan perihal kebangkitan mereka dari kuburnya masing-masing serta ketergesa-gesaan mereka dalam menuju Padang Mahsyar. [Tafsir Ibnu Katsir]

Faedah lain dari ayat ini, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama. Disebutkan dalam sejarah bahwa orang musyrik Mekah selalu menghalang-halangi dan menentang Nabi Muhammad dan para sahabat dalam melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah diperintahkan Tuhan kepada mereka. Semakin hari halangan dan rintangan itu semakin bertambah, bahkan sampai kepada penganiayaan dan pemboikotan. Banyak para sahabat yang dianiaya. Mereka tidak mau mengadakan hubungan jual-beli, hubungan persaudaraan dan hubungan tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Demikian beratnya siksaan dan penganiayaan itu hampir-hampir Nabi dan para sahabat putus asa, serasa apa yang ditugaskan Allah kepadanya tidak akan terlaksanakan. Dalam pada itu orang-orang musyrik kelihatannya seakan-akan diberi hati oleh Allah dengan memberikan kekuasaan dan kekayaan harta. Tindakan mereka semakin hari semakin merajalela.
Dalam keadaan yang demikian Allah memperingatkan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan ayat yang menyatakan: “Wahai Muhammad, janganlah kamu menyangka Allah lengah dan tidak memperhatikan tindakan dan perbuatan orang-orang musyrik Mekah yang zalim itu. Tindakan dan perbuatan mereka itu adalah tindakan dan perbuatan yang menganiaya diri mereka sendiri. Allah pasti mencatat segala perbuatan mereka. Tidak ada satu pun yang luput dari catatannya. Semua tindakan dan perbuatan mereka itu akan diberi balasan dengan balasan yang setimpal. Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang menyala-nyala di akhirat nanti.”
Dengan turunnya ayat ini tenteramlah hati Nabi dan para sahabat. Semangat juang mereka bertambah. Mereka meningkatkan usaha mengembangkan agama Allah. Semakin berat tekanan dan penganiayaan yang dilakukan kaum musyrikin, makin bertambah pula usaha mereka menyiarkan agama Islam, karena sangat percaya bahwa Allah pasti akan menepati janji-Nya.
Zahirnya ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tetapi yang dimaksud ialah seluruh umat Nabi Muhammad, termasuk umatnya yang hidup pada masa kini. Karena itu hendaknya janganlah kaum muslimin terpengaruh oleh kehidupan orang-orang yang zalim yang penuh kemewahan dan kesenangan, seakan-akan mereka umat yang disenangi Allah. Semuanya itu hanyalah merupakan cobaan Tuhan, dan sifatnya sementara sampai kepada waktu yang ditentukan, yaitu hari yang penuh dengan huru-hara dan kesengsaraan, di suatu hari di mana mata manusia membelalak ketakutan menghadapi balasan yang akan diberikan Allah.

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Dahsyatnya doa Nabi Dzun Nun عليه السلام

🌹 *Dahsyatnya doa Nabi Dzun Nun عليه السلام…*

Allah berfirman tatkala mengisahkan Nabi Dzun Nun, yaitu Nabi Yunus عليه السلام,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. [QS. Al-Anbiya : 87]

Berkata Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,
Yakni ingatlah hamba dan rasul Kami Dzunnun, yaitu Yunus bin Mata dengan menyebutkan kebaikannya dan memujinya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengutusnya kepada penduduk Neinawa dan mengajak mereka beriman, namun ternyata mereka tidak beriman, maka Beliau mengancam mereka dengan azab yang akan turun setelah berlalu tiga hari. Ketika azab datang, dan mereka menyaksikannya dengan mata kepala, maka mereka keluar ke gurun membawa anak-anak dan hewan ternak mereka, lalu mereka bersama-sama berdoa kepada Allah dengan merendahkan diri kepada-Nya dan bertobat, maka Allah angkat azab itu dari mereka sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” [QS. Yunus: 98]
dan firman-Nya, “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.—Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” [QS. Ash Shaffaat: 147-148]
Kaum Yunus akhirnya beriman, akan tetapi Yunus pergi meninggalkan kaumnya karena marah kepada mereka padahal Allah belum mengizinkan, Beliau pergi bersama beberapa orang menaiki perahu dan ketika itu datang ombak yang besar, mereka pun khawatir akan tenggelam, maka mereka melakukan undian untuk melempar salah seorang di antara mereka ke laut agar beban perahu semakin ringan, ternyata hasil undian tertuju kepada Yunus, lalu mereka enggan melemparnya, maka mereka mengulangi lagi, dan ternyata tertuju kepada Yunus lagi, namun mereka tetap enggan melemparnya, maka dilakukan undian sekali lagi dan ternyata hasil undian tetap jatuh kepada Yunus, maka Yunus berdiri dan melepas pakaiannya lalu melemparkan dirinya ke laut, dan Allah telah mengirimkan ikan besar, maka ikan itu datang menelan Yunus. Allah mewahyukan kepada ikan itu agar tidak memakan dagingnya dan tidak meremukkan tulangnya karena Yunus bukanlah rezeki untuknya, perutnya hanyalah sebagai penjara baginya. Ada yang berpendapat, bahwa Beliau tinggal dalam perut ikan selama 40 hari. Ketika Beliau mendengar ucapan tasbih dari batu kerikil di tempatnya itu, maka Beliau mengucapkan, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” Beliau mengakui keberhakan Allah untuk diibadahi dan menyucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan serta mengakui kezaliman dirinya, maka Allah mengabulkan doanya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,—Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.— Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.— Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu.” [Terj. Ash Shaaffaat: 143-146]

Yang dimaksud dengan keadaan yang sangat gelap ialah di dalam perut ikan, di dalam laut dan di malam hari.
Karena meninggalkan kaumku tanpa izin-Mu. [Tafsir Al-Wajiz, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili]

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, bahwa Yazid Ar-Raqqasyi pernah mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik —yang menurut keyakinanku Anas tiada lain menerimanya dari Rasulullah ﷺ—menceritakan kisah berikut, “Bahwa Yunus ‘alaihis salam ketika mulai memanjatkan doa berikut di dalam perut ikan, yaitu, “Ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.’” Maka doanya itu naik sampai di bawah ‘Arasy, maka para malaikat bertanya, “Wahai Tuhanku, ada suara lemah yang telah dikenal bersumber dari negeri yang terasing.” Allah berfirman, “Tidakkah kalian ketahui suara itu?”
Mereka bertanya, “Tidak, wahai Tuhanku, siapakah dia?”
Allah berfirman, “Dia adalah hamba-Ku Yunus.” Mereka berkata, “Hamba-Mu Yunus yang sampai sekarang masih tetap dilaporkan ke hadapan-Mu amalnya yang diterima dan doanya diperkenankan.” Mereka berkata pula, “Wahai Tuhan kami, tidakkah Engkau merahmatinya berkat amal yang dikerjakannya di saat dia senang, karenanya Engkau selamatkan dia di saat mendapat cobaan?”
Allah berfirman, “Baiklah,” maka Allah memerintahkan kepada ikan besar itu agar memuntahkannya ke daerah yang tandus. [Tafsir Ibnu Katsir]

Kedahsyatan doa dan dzikir Dzun Nun ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم,

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

(Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” [HR. Tirmidzi no. 3505, dishohihkan Al-Albany]

Begitu mudahnya Allah mengeluarkan hambanya dari kesulitan yang dahsyat seperti yang dialami Nabi Yunus عليه السلام yaitu di 3 kegelapan:
1. Kegelapan perut ikan
2. Kegelapan ditengah samudera yang dalam
3. Kegelapan ditengah malam tanpa cahaya.

Karena beliau orang yang banyak berdzikir dan menyempurnakan kepasrahan dan ketawakkalan kepada Allah sebagai perwujudan tauhid, sehingga Allah pun memberiksn balasan yang sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya.

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Orang tuamu selalu mengharapkan darimu

Hanya ini yang ditunggu mereka darimu.

*📝 لا تترك الدعـاءَ لوالديك*

عــن أبـي هـريرة – رضي الله عنه – قال :

قال رَسُولُ الله ﷺ :

*إنَّ الرجلَ لترفعُ درجتُه في الجنةِ فيقولُ : أنَّىٰ ليَ هذا ؟ فيقالُ : باستغفارِ ولدكِ لَكَ .*

📚 صحـحه الألباني
صحيـح الجامع (1617) .

✍🏼 قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله :

*ولا يزال الولد الصالح يستغفر لأبيه،*
*حتى يُغفر له، ثم ترفع درجته في الجنة.*

📚 شرح الوصية الصغرى(صـ131) .

*📝 Jangan kalian tinggalkan mendoakan kedua orang tuamu …!*

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata:

Bersabda Rasululloh صلى الله عليه وسلم :

*Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga lalu dia bertanya-tanya: Darimana ini aku mendapatkannya..? Maka dijawab: ini karena istighfar anakmu untukmu.*

📚 Dishohihkan Al-Albany dalam shohih Al-Jamie’ (1617)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله :

*Terus menerus anak yang Sholih memintakan ampunan untuk orang tuanya, sehingga diapun diampuni, kemudian ditinggikan derajatnya di surga.*

[Syarh Al-Washiyyah As-Sughro (h. 131)]

🍃 Dialih bahasakan Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Al-Quran vs Nyanyian

*Al-Quran vs Nyanyian*

Berkata Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah:

“Sungguh nyanyian dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan dan mengamalkan isi al-Quran. Ingatlah, al-Quran dan nyanyian selamanya tidaklah mungkin bersatu dalam satu hati karena keduanya itu saling bertolak belakang. Al-Quran melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu, Al-Quran memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan diri dan menjauhi berbagai bentuk syahwat yang menggoda jiwa. Al-Quran memerintahkan untuk menjauhi sebab-sebab seseorang melenceng dari kebenaran dan melarang mengikuti langkah-langkah setan. Sedangkan nyanyian memerintahkan pada hal-hal yang kontra (berlawanan) dengan hal-hal tadi.”

[Sumber: Ighatsatul Lahfan, juz 1, hlm. 248-249]

Categories
Artikel

Ciri-ciri manusia yang berakal

🔥 *Ciri-ciri manusia yang berakal…*

Wasiat para Salaf.

Berkata Imam Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban رحمه الله :

الواجب على العاقل لزوم السلامة بترك التجسس عن عيوب الناس، مع الاشتغال بإصلاح عيوب نفسه، فإن من اشتغل بعيوبه عن عيوب غيره أراح بدنه، ولم يتعب قلبه، فكلما اطلع على عيب لنفسه هان عليه ما يرى مثله من أخيه، وإنَّ مَن اشتغل بعيوب الناس عن عيوب نفسه عمي قلبُه، وتعب بدنُه، وتعذَّر عليه ترك عيوب نفسه،

“Wajib bagi orang yang berakal untuk senantiasa menetapi (mencari) keselamatan dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus (mencari-cari aib orang lain), hendaklah ia senantiasa sibuk memperbaiki aibnya sendiri.
Karena sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan aibnya sendiri dan melupakan aib orang lain, maka hatinya akan menjadi tenteram dan tidak akan merasa lelah.
Maka setiap kali dia melihat aib yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa ringan tatkala melihat aib yang serupa ada pada saudaranya.
Sementara orang yang senantiasa sibuk dengan mencari aib orang lain dan melupakan aibnya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”

وإن من أعجز الناس من عاب الناس بما فيهم، وأعجز منه مَنْ عابهم بما فيه، ومن عاب الناس عابوه،

Dan sesungguhnya manusia yang paling lemah ialah manusia yang suka mencela manusia lainnya dengan aib yang ada pada mereka.
Dan yang lebih lemah lagi diantara mereka ialah manusia yang mencela aib yang ada padanya.
Dan siapa yang mencela manusia, mereka pun akan mencelanya.

ولقد أحسن الذي يقول:
إذا أنت عبت الناس عابوا وأكثروا *** عليك وأبدوا منك ما كان يستر

Betapa baiknya ucapan ini:
Kalau kamu mencela manusia, maka mereka akan mencelamu dan lebih banyak lagi # wajib atasmu untuk memulai dari dirimu apa yang menjadi rahasiamu

التجسس من شعب النفاق، كما أن حُسْن الظن من شعب الإيمان،

Memata-matai itu bagian dari kemunafikan, sebagaimana husnudz-dzan itu bagian itu bagian dari keimanan

والعاقل يحسن الظن بإخوانه، وينفرد بغمومه وأحزانه،

Orang yang berakal itu selalu husnudz-dzan terhadap saudaranya, dan membersihkan dari dari kegundahan dan kegelisahan.

كما أن الجاهل يسيء الظن بإخوانه، ولا يفكر في جناياته وأشجانه.

Sebagaiman orang yang jahil itu selalu su’udz-dzan terhadap saudara-saudaranya, dan tidak berfikir atas pelanggaran dan kriminalnya.

[Raudhatul ‘Uqala Wa Nuzhatul Fudhola’ hal.131]

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Tanda cinta dunia

Indahnya nasehat para Salaf

قال الحسن البصري :

ومن علامة حب الدنيا أن يكون دائم البطنة قليل الفطنة ،
همه بطنه وفرجه ، فهو يقول في النهار متى يدخل الليل حتى أنام.
ويقول في الليل متى أصبح من الليل حتى ألهو وألعب وأجالس الناس في اللغو وأسأل عن حالهم.

📚 فيض القدير

Berkata Imam Hasan Al-Bashry رحمه البه , Diantara tanda cinta dunia itu terus menerus berurusan dengan perut sedikit berfikirnya.
Pikirannya hanya menuju perut dan kemaluannya.
Dia berkata saat berada di siang hari, kapan masuknya malam sehingga aku bisa tidur Dan berkata saat berada di malam hari kapan datangnya pagi sehingga aku bisa bersantai dan bermain dan duduk dengan manusia dalam kelalaian serta aku bisa bertanya tentang keberadaan mereka.

[Faidul Qodir]

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Macam – macam sihir

Serial kitab tauhid
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Bab 25

Bab 25
Macam – macam sihir

Imam Ahmad meriwayatkan,

Telah dituturkan kepada kami oleh Muhammad bin Ja’far, dari ‘Auf, dari Hayyan bin al-‘Ala’, dari Qathan bin Qabishah, dari bapaknya (Qabishah) bahwa ia telah mendengar Nabi bersabda, “Iyafah Tharq dan thiyarah adalah termasuk jibt.

‘Auf menafsiri hadits ini dengan mengatakan, Iyafah: meramal nasib dengan menerbangkan burung; dan tharq: meramal nasib dengan membuat garis di atas tanah. Adapun jibt, tafsirannya menurut Al-Hasan, “Ialah suara setan.” (Hadits tersebut isnad-nya jayyid. Dan diriwayatkan pula dari Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan hanya menyebutkan lafazh hadits dari Qabishah, tanpa menyebutkan tafsirannya.)

Ibnu Abbas menuturkan, Rasulullah bersabda, Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum, sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. Semakin bertambah (ilmu yang dia pelajari) semakin bertambah pula (dosanya). (Hadits riwayat Abu Dawud dan isnad-nya shahih.)

An-Nasa’i meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Barangsiapa yang membuat suatu buhulan, lalu meniup padanya (sebagaimana yang dilakukan tukang sihir), maka dia telah melakukan sihir; dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik; sedang barangsiapa yang menggantungkan diri pada sesuatu benda (jimat), maka dirinya dijadikan Allah bersandar kepada benda itu.

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda, Maukah kamu aku beritahu apakah ‘adh-h itu? Ialah perbuatan mengadu domba, yaitu banyak membicarakan keburukan dan menghasut di antara orang-orang. (Hadits riwayat Muslim).

Dari Ibnu ‘Umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah terdapat pa yang disebut sihir. (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Kandungan bab ini :

1. Di antara macam sihir (jibt): ‘Iyafah, tharq dan thiyarah.
2. Pengertian ‘iyafah dan tharq.
3. Ilmu nujum termasuk salah satu jenis sihir.
4. Membuat buhulan dengan ditiupkan kepadanya termasuk sihir.
5. Perbuatan mengadu domba juga termasuk sihir. 6. Dan termasuk sihir pula ungkapan susunan kata yang indah, [yang membuat kebatilan seolah-olah menjadi kebenaran, dan kebenaran seolaholah menjadi kebatilan].

Categories
Artikel

Manusia yang paling berakal

Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS. ‘Ali ‘Imran: 190-191]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”, Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.

Kemudian Allah menyebutkan sifat Ulul Albab (orang-orang yang berakal) dengan firmanNya:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring

Maksudnya, mereka tidak putus-putusnya mengingat Rabb mereka dalam segala situasi dan kondisi, baik hati atau dengan lisan mereka. [Tafsir Ibnu Katsir]

Akal adalah modal paling berharga yang dimiliki manusia. Dengan akal manusia terbedakan dari binatang. Namun tidak semua manusia menggunakan modal ini dengan baik.
Islam sebagai agama fitrah yang lurus, menghargai akal, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an, baik yang tersurat maupun tersirat memerintahkan umatnya untuk berpikir dengan memperhatikan apa saja yang ada di dunia ini, bahkan di dalam diri manusia itu sendiri.
Sebagaimana firman Allah:

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” [QS. Adz-Dzariyat : 21]

Allah berfirman,

ٱلَّذِینَ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَیَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat. [QS. Az-Zumar 18]

Sufyan bin Uyainah mengatakan:

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ , إِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي إِذَا رَأَى الْخَيْرَ اتَّبَعَهُ ، وَإِذَا رَأَى الشَّرَّ اجْتَنَبَهُ ” .

“Orang yang berakal bukanlah orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan. Tiada lain orang yang berakal adalah seseorang yang apabila melihat kebaikan, ia pun mengikutinya. Dan apabila melihat keburukan, ia pun menjauhinya.”
[Hilyatul Auliya karya Abu Nuaim, 8/339]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Manfaat suatu amalan hanya dengan Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم

Semuanya harus mengikuti Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم, jika ingin diterima dan sah.

قَال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه،:

” لا يَنْفَعُ قَوْلٌ إِلا بِعَمَلٍ ،
وَلا عَمَلٌ إِلا بِقَوْلٍ ،
وَلا قَوْلٌ وَعَمَلٌ إِلا بِنَيَّةٍ ،
وَلا نِيَّةٌ إِلا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ ” .

📚الشريعة للآجوري رقم 261

Berkata Abdullah bin mas’ud رضي الله عنه,

Tidak akan bermanfaat suatu ucapan kecuali disertai perbuatan,
Tidak akan bermanfaat suatu ucapan dan perbuatan kecuali disertai dengan niat,
Dan tidak akan bermanfaat suatu ucapan, perbuatan dan niat jika tidak sesuai dengan sunnah (Nabi)

[Asy-Syari’ah, Imam Al-Ajury nomer, 261]

قال الحسن البصري :

لا يصح القول إلا بعمل ،
ولا يصح قول وعمل إلا بنية ،
ولا يصح قول وعمل ونية إلا بالسنة .

📚 شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي

Berkata Imam Hasan Al-Bashry رحمه الله,

Tidak akan sah suatu ucapan kecuali disertai perbuatan,
Tidak akan sah suatu ucapan dan perbuatan kecuali disertai dengan niat,
Dan tidak akan sah suatu ucapan, perbuatan dan niat jika tidak mengikuti sunnah (Nabi)

[Syarh Usul I’tiqod Ahlis Sunnah, Imam Al-Lalikai]

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Semuanya harus dengan keyakinan yang pasti

Mutiara para Salaf,

قال الحسن البصري رحمه الله :

Berkata Imam Hasan Al-Bashry رحمه الله,

ما طُلِبَت الجنةُ إلا باليقينِ،
ولا هُرِبَ من النارِ إلا باليقينِ،
ولا أديت الفرائض إلا باليقين ،
ولا صُبِرَ على الحقِّ إلا باليقينِ

📚اليقين لابن أبي الدنيا.
فتح الباري، ابن رجب، (1/14-15

Tidak akan diperoleh syurga melainkan dengan yakin,
tidak akan dijauhi neraka melainkan dengan yakin,
Tidak akan mungkin bisa ditunaikan kewajiban-kewajiban itu melainkan dengan yakin,
dan tidak akan ada kesabaran diatas kebenaran melainkan dengan yakin.

[Al-Yakin, Ibnu Abid Dunya.
Fathul Bary, Ibnu Rojab, 14/1-15]

🍃 Dialih bahasakan Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc