Categories
Artikel

Semua itu diawali dengan Tauhid

🌹 *Semua itu diawali dengan Tauhid …*

Tauhid adalah konsekwensi dari kalimat :

لا إله إلا الله.

Begitu tingginya nilai Tauhid dalam Islam, sehingga tidak bernilai keislaman seseorang yang rusak tauhidnya.

Al-Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله menggambarkan kemuliaan kedudukan tauhid dalam perkataannya,

فالتوحيد أول ما يدخل به في الإسلام، وآخر ما يخرج به من الدنيا.
كما قال النبي صلي الله عليه وسلم: «من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة) (1)؛ فهو أول واجب وآخر واجب، فالتوحيد أول الأمر وآخره.”

“التوحيد أول دعوة الرسل، وأول منازل الطريق، وأول مقام يقوم فيه السالك إلى الله تعالى.”

“Tauhid adalah awal pertama yang memasukkan (seseorang) kepada Islam, dan yang paling akhir yang mengeluarkannya dari dunia. Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: Barangsiapa yang akhir ucapannya لا إله إلا الله maka dia masuk surga. [HR Ahmad dishohihkan Al-Albany dalam Al-Irwa’ (687) dan shohih Al-Jami’.]

Dan Tauhid itu menjadi awal kewajiban dan juga akhir kewajiban. Sehingga Tauhid itu menjadi awal perintah dan juga akhirnya.

Tauhid menjadi awal dakwahnya para Rasul, dan awal kedudukan di jalan itu dan juga awal keberadaan orang yang berdiri untuk menempuh jalan menuju Allah.

[Madarijus Salikin 3/443]

فأعظم أسباب شرح الصدر: التوحيد، وعلى حسب كماله وقوته وزيادته يكون انشراح صدر صاحبه.
قال الله تعالى: {أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ} [الزمر: 22]”.

“Seutama-utama sebab yang menjadikan lapangnya dada adalah Tauhid, dan setiap kali menjadi sempurna, dan kuatnya serta bertambahnya maka menjadi bertambah pula kelapangan dada para pelakunya.

Allah berfirman, Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? ” [QS. Az-Zumar: 22]

[Zadul Ma’ad: 2/22)]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Di repost oleh Para Pencinta Sunnah

Categories
Artikel

Hijroh itu menjadikan lapangnya kehidupan

🔥 *Hijroh itu menjadikan lapangnya kehidupan …*

Allah berfirman,

وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. An-Nisa’: 100]

Firman Allah,

وَمَن یُهَاجِرۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یَجِدۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُرَ ٰ⁠غَمࣰا كَثِیرࣰا وَسَعَةࣰۚ

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.

Ayat ini menganjurkan untuk berhijrah dan memberikan semangat untuk memisahkan diri dari orang-orang musyrik, bahwa ke mana pun orang mukmin pergi, niscaya ia dapat menemui tempat berlindung dan penghidupan yang menaunginya.

Makna :
مراغما

ialah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. (menurut Ibnu Abbas)

Atau: tempat hijrah yang banyak. (menurut Mujahid)
Yaitu tempat untuk menyingkir dari hal-hal yang tidak disukai.

Atau tempat hijrah yang luas.
Yakni benteng-benteng perlindungan. (menurut Sufyan bin Uyainah)

Makna lahiriah مراغما, hanya Allah yang lebih mengetahui,
ialah tempat yang kokoh untuk menyelamatkan diri dan membuat musuh-musuh tidak dapat berkutik.

Firman Allah:

وسعة

…dan rezeki yang banyak.

Yaitu rezeki yang berlimpah.
niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.
Yang menyelamatkannya dari kesesatan menuju jalan hidayah, dan menyelamatkannya dari kemiskinan kepada kecukupan.(Qotadah)

Firman Allah :

وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا

Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.

Dengan kata lain, barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan niat untuk berhijrah, lalu di tengah jalan ia meninggal dunia, maka ia telah memperoleh pahalanya di sisi Allah, yaitu pahala orang yang berhijrah.

Dari Umar ibnul Khattab yang mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda:
Sesungguhnya semua amal perbuatan itu berdasarkan niat masing-masing, dan sesungguhnya masing-masing orang itu hanya mendapatkan apa yang diniatkannya.
Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia, niscaya dia memperolehnya, atau kepada wanita, niscaya ia menikahinya.
Maka hijrah seseorang itu hanyalah kepada apa yang diniatkannya sejak semula.(HR Bukhoey, Muslim)

Hadis ini umum pengertiannya menyangkut masalah hijrah dan semua amal perbuatan.

Hadis lainnya ialah yang disebut di dalam kitab Sahihain, menceritakan seorang lelaki (dari kaum Bani Israil) yang membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian melengkapi pembunuhannya dengan orang yang keseratus, yaitu seorang ahli ibadah (karena ketika ia bertanya tentang jalan tobat, maka si ahli ibadah mengatakan bahwa pintu tobat telah tertutup baginya).
Kemudian ia bertanya kepada seorang yang alim, “Apakah masih ada tobat bagiku?”
Orang alim menjawab, “Tiada yang menghalang-halangi antara kamu dan tobat,” hal ini diungkapkannya dengan nada balik bertanya.
Kemudian orang alim itu menyarankan agar ia berpindah tempat dari negerinya menuju negeri lain yang di negeri tersebut penduduknya menyembah Allah.
Ketika lelaki itu berangkat meninggalkan negerinya untuk berhijrah ke negeri lain tersebut, di tengah jalan kematian menimpanya.
Maka berselisih pendapatlah malaikat rahmat dan malaikat azab.
Para malaikat rahmat mengatakan bahwa lelaki ini datang untuk bertobat, sedangkan para malaikat azab mengatakan bahwa ia masih belum sampai ke negeri yang dituju.
Akhirnya mereka diperintahkan untuk mengukur jarak di antara kedua tempat tersebut, mana yang lebih dekat dari lelaki itu, maka ia termasuk penghuninya.
Maka Allah memerintahkan kepada bumi yang menuju ke negeri yang saleh agar mendekat, dan memerintahkan kepada bumi yang jahat (penduduknya) agar menjauh dari jenazah lelaki itu.
Akhirnya para malaikat menjumpai bahwa jenazah lelaki itu lebih dekat satu jengkal ke negeri yang menjadi tujuan hijrahnya, kemudian ia dibawa oleh malaikat rahmat.
Menurut riwayat yang lain, ketika maut datang menjemputnya, ia sempat membalikkan badannya ke arah negeri yang menjadi tujuan hijrahnya.

📚 Diringkas dari Tafsir Ibnu Katsir oleh Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Di repost oleh Para Pencinta Sunnah

Categories
Artikel

Hari Raya seorang Muslim

🌹 *Hari Raya seorang Muslim…*

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

[ للمؤمن خمسة أعياد:
كل يوم يمر على المؤمن
ولا يكتب عليه ذنب فهو يوم عيد،
اليوم الذي يخرج فيه من الدنيا بالإيمان
فهو يوم عيد،
واليوم الذي يجاوز فيه الصراط
ويأمن أهوال يوم القيامة فهو يوم عيد،
واليوم الذي يدخل فيه الجنة فهو يوم عيد،
واليوم الذي ينظر فيه إلى ربه فهو يوم عيد ]

“Orang yang beriman memiliki 5 hari Ied :

1⃣ Setiap hari yang berlalu melewati seorang mukmin dan tidak dicatat baginya perbuatan dosa, maka ini adalah hari Ied.

2⃣ Hari dimana seorang mukmin meninggalkan dunia dengan keimanan, maka ini adalah hari Ied.

3⃣ Hari yang seorang mukmin bisa melewati titian _shirath_ dan selamat dari ujian hari kiamat yang mengerikan, maka ini adalah hari Ied.

4⃣ Hari yang mana seorang mukmin masuk ke dalam surga, maka ini adalah hari Ied.

5⃣ Dan hari yang mana seorang mukmin bisa memandang wajah Rabb-nya, maka inilah hari Ied.

[Farhatul ‘Ied, karya Badr ‘Abdul Hamīd Hamesa]