ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU, oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz



0 Comment

*RESUME KAJIAN*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kajian Islamiyah

Tema : “ADAB DAN AKHLAK PENUNTUT ILMU”
Tanggal : 21 Rajab 1439 H / 8 April 2018, 09.00 – selesai
Pemateri: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz
Tempat : Masjid At Thoyyibah Tembalang – Semarang

Setelah memuji Allah ﷻ dan bersholawat untuk Nabi ﷺ, serta membaca khutbatul hajah, beliau mengingatkan akan kebesaran nikmat-nikmat Allah ﷻ, terutama nikmat hidayah Islam dan sunnah, yakni berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah sesuai pemahaman salafusholih. Karena banyak orang yang diberikan hidayah Islam, namun tidak mengikuti sunnah.

Beliau juga mengingatkan kebesaran nikmat Allah ﷻ, atas hidayah untuk selalu menuntut ilmu syar’i. Karena menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Rasulullah ﷺ bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” [HR Ibnu Majah]

Dalam hadits lainnya, Rasulullah ﷺ

ِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.” [HR Muslim]

*Akhlak Penuntut Ilmu*

Dalam mencari ilmu, setiap muslim harus memperhatikan akhlak-akhlak penuntut ilmu, diantaranya :

*1. Ikhlas Karena Allah*

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

“Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang (berniat) hijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu.” [HR Bukhari & Muslim]

Allah juga menyebutkan wajibnya ikhlas dalam setiap ibadah. Allah berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” [QS. Al-Bayyinah 5]

Dan akhlak merupakan satu amalan yang paling berat timbangannya setelah tauhid.

Dalam satu hadits

عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: (ما من شيء أثقل في الميزان من حسن الخلق)

Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda : tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya (di hari qiyamat) dibandingkan akhlak yang mulia. [HR Tirmidzi]

Dalam hadits lainnya, disebutkan:

ٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” [HR Ahmad]

Oleh karena itu, Allah memuji Rasulullah dalam ayatNya, Allah berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
[QS. Al-Qalam 4]

*2. Istima’ (Dengarkan)*

*3. Inshat (Diam)*

Allah berfirman :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-A’raf 204]

*4. Al Fahmu (memahami)*

Intinya ilmu adalah paham. Maka Nabi bersabda

من يريد الله به خيرا يفقه في الدين

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkan dirinnya perkara agama.” [HR. Muslim]

Sebagaimana doa Nabi untuk Ibnu Abbas :

اللهم فقه فى الدين

“Ya Allah, pahamkanlah dirinya perkara agama.”

Maka seorang penuntut ilmu boleh berdoa dengan lafadz :

اللهم فقهني فى الدين

“Ya Allah, pahamkanlah diriku tentang perkara agama.”

*5. Dicatat (Ikat ilmu dengan tulisan)*

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda :

قيد العلم بالكتاب

“Ikat Ilmu itu dengan tulisan.”

Dari riwayat lainnya disebutkan,

حدثنايحيى عن عبيد الله بن الأخنس عن الوليد بن عبد الله بن أبي مغيث عن يوسف بن ماهك عن عبد الله بن عمرو قالكنت أكتب كل شيء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم أريد حفظه فنهتني قريش وقالوا أتكتب كل شيء تسمعه ورسول الله صلى الله عليه وسلم بشر يتكلم في الغضب والرضا فأمسكت عن الكتاب فذكرت ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم فأومأ بأصبعه إلى فيه فقال اكتب فوالذي نفسي بيده ما يخرج منه إلا حق

*6. Mengamalkan ilmu yang dipelajari*

Di dalam Al Qur’an, Allah selalu mengaitkan iman dan amal sholih.

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ رضي الله عنه قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الخَفِيَّ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallāhu ‘anhu ia berkata:

Aku pernah mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allāh mencintai seorang hamba yang bertaqwa, yang merasa cukup, dan yang rajin beribadah secara diam-diam.”
[HR Muslim]

Allah juga menjelaskan tentang sikap para nabi dan orang-orang sholih. Allah berfirman :

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” [QS. Al-Anbiya’ 90]

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda :

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه؛ رواه الترمذي، وهو صحيح

Dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” [HR Tirmidzi]

Rasulullah bersabda :

إن لكل أمة فتنة، والفتنة أمتي الما

“Sesungguhnya setiap umat ada fitnah, dan fitnah umatku adalah fitnah harta.” [HR. Muslim]

*7. Mendakwahkan ilmu yang dipelajari.*

Adapun yang pertama kali didakwahi adalah keluarganya. Sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
[QS. At-Tahrim 6]

Dan yang pertama kali harus dijelaskan adalah dakwah tauhid dan lawan tauhid (kesyirikan) dengan tafshil (terperinci).

Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
[QS. Luqman 13]

Oleh karena itu, dakwah kepada keluarga lebih utama dibandingkan dakwah kepada orang lain. Dan dakwah harus disampaikan dengan lemah lembut. Sebagaimana kaidah dalam uslub dakwah :

الأصل دعوة الى الله الرفق ولين

Hukum asal dakwah kepada Allah adalah lemah lembut.

*Adab-adab seorang penuntut ilmu :*

Pentingnya adab menuntut ilmu, Ibnu qoyyim berkata dalam kitab Madarijus Salikin :

الأداب عنوان من سعادة المرإ
Adab adalah tanda kebahagiaan seseorang.

_Maka seorang penuntut ilmu, harus memperhatikan adab-adab berikut :_

*1.Adab kepada Allah*

Adab kepada Allah adalah dengan mentauhidkan Allah, yakni wajib meyakini bahwa Allah yang menciptakan, yang mengatur, yang memberi rizki, dll. Dan ini juga diyakini oleh orang-orang musyrikin. Selain itu, wajib menyembah (beribadah) hanya kepada Allah. Dan hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat.

Selain itu, wajib menetapkan semua nama dan sifat-sifat Allah. Allah berfirman :

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” [QS. Al-Baqarah 163]

Diantara ketiga tauhid, yakni tauhid rububiyah (mengesakan Allah pada perbuatan Allah), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan tauhid Asma’ wa sifat (mengesakan serta menetapkan nama dan sifat-sifat Allah), tauhid uluhiyah adalah tauhid yang terpenting, karena pada tauhid ini berkaitan dengan perbuatan seorang hamba kepada Allah.

Sebagian kaum muslimin zaman ini, tidak memiliki adab kepada Allah karena mereka menyekutukan Allah. Diantaranya mereka beribadah kepada para wali, seperti ziarah kubur wali songo dengan maksud mengharapkan barokah dari para wali tersebut.
Dan hal ini harus dijelaskan kepada umat, dikarenakan dengan melakukan kesyirikan maka semua amalan umat Islam akan terhapus. Allah berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” [QS. Az-Zumar 65]

Kesyirikan tidak bisa diterima oleh agama dan logika, karena orang-orang yang diseru selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat sedikitpun kepada yang menyerunya .
Allah berfirman :

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [QS. Fatir 13]

Oleh karenanya, setiap nabi dan rasul yang Allah utus, selalu mendakwahkan tauhid kepada umatnya. Allah berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”,” [QS. An-Nahl 36]

*2. Adab kepada Rasulullah ﷺ*

Adab ini berkaitan dengan konsekuensi cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, diantaranya :

_🏷 Menaati setiap apa yang diperintahkan Nabi ﷺ_
(طاعته فيما أمر)

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An-Nisa’ 59]

_🏷 Membenarkan apa saja yang Nabi ﷺ sampaikan_

(تصديقه فيما أخبر)

_🏷 Menjauhi apa saja yang Nabi ﷺ larang_

(واجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ)

Perintah Nabi ﷺ yang terbesar adalah tauhid, adapun larangan Nabiﷺ yang terbesar adalah kesyirikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لعن الله اليهود وانصارى، اتخذو قبور الأنبياءهم مسجدا

“Allah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani, dikarenakan mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”

_🏷 Wajib beribadah hanya dengan syariat yang telah Nabi ﷺ ajarkan_

(وأَلا يُعْبَدَ اللهُ إِلا بِمَا شَرَعَ)

Setiap mukmin wajib beribadah dengan apa yang telah Nabi ajarkan, dikarenakan Islam telah sempurna.
Allah berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [QS. Al-Ma’idah 3]

Karenanya, kewajiban seorang muslim hanyalah untuk mengikuti Nabi ﷺ, bukan mengada-adakan perkara yang baru dalam agama. Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan :

ما بقي شيء يقرب من الجنة و يباعد من النار إلا و قد بين لكم ”
قال الألباني في ” السلسلة الصحيحة ” 4 / 416 :
أخرجه الطبراني في ” المعجم الكبير

“Tidak ada sesuatupun yang bisa mendekatkan diri menuju surga dan menjauhkan dari api neraka, kecuali telah aku jelaskan.” [Berkata Syaikh Albani dalam silsilah hadits Ashahihah, hadits ini dikeluarkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir.]

*3. Adab kepada sesama makhluk.*

Diantara adab kepada sesama makhluk adalah :

_🏷 Adab kepada orang tua._

Allah selalu mengaitkan perintah untuk meninggalkan kesyirikan dengan perintah berbakti kepada orang tua. Allah berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” [QS. An-Nisa’ 36]

Allah juga berfirman dalam ayat lainnya :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” [QS. Al-Isra’ 23]

Berbuat baik kepada orang tua termasuk amalan yang paling utama. Sementara durhaka kepada orang tua dapat menyebabkan dirinya masuk ke dalam neraka. Dalam sebuah hadits :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَة: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ، ‏وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

أخرجه أحمد (2/134 ، رقم 6180) ، والنسائي فى الكبرى (2/42 ، رقم 2343) ،

“Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat; anak yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian. Dan tiga golongan mereka tidak akan masuk surga; anak yang durhaka kepada orang tua, pecandu khamer, dan orang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya.” [HR Ahmad, Nasai]

_🏷 Adab kepada diri sendiri._

Diantara adab seorang penuntut ilmu kepada diri sendiri, adalah :

📎 Wajib mengetahui bahwa menuntut ilmu adalah ibadah, yang hukumnya adalah *Fardhu ‘Ain*

Nabi ﷺ bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi.” [HR Ibnu Majah]

📎 Wajib mengetahui hakikat penyucian jiwanya (tazkiyatun nafs). Oleh karenanya, semakin seorang bertambah ilmunya maka hendaknya ia semakin tawadhu’, dekat dengan orang lain, memperhatikan orang yang lemah, menolong orang-orang yang susah.

Diantara tugas para Rasul, disamping mengajarkan Al Quran dan sunnah, adalah membersihkan jiwa.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Ali Imran 164]

📎 Wajib mengikuti manhaj salaf dengan pemahaman para sahabat
Allah berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa’ 115]

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku, sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bid’ahBahkan dan setaip bid’ah adalah sesat.” [HR Abu Daud, Tirmidzi]

———————
الفاقر الى من علم ربي

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply