Al-Qowāidul Arba (Halaqah 7, Penjelasan)



0 Comment

■ *SILSILAH Al-Qowāidul Arba*
■ *Halaqah 7 | Penjelasan*

 

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Ilmiyyah Al-Qowāidul Arba’, beliau rahimahullah mengatakan :

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلا مَعَ التَّوْحِيدِ

“Apabila engkau wahai pembaca – pendengar mengetahui bahwasanya Allāh menciptakan dirimu untuk beribadah kepada-Nya MAKA KETAHUILAH bahwasanya ibadah tidak dinamakan ibadah kecuali dengan Tauhid”.

Seseorang tidak dinamakan beribadah kepada Allāh, kecuali apabila dia mentauhidkan Allāh meng-Esa-kan Allāh didalam ibadah tersebut.

Apabila seseorang mengaku beribadah kepada Allāh tetapi dia tidak meng-Esa-kan Allāh dalam ibadah tersebut, artinya selain dia beribadah kepada Allāh juga menyerahkan sebagian kepada selain Allah ajja wa Jalla maka ini TIDAK DINAMAKAN dengan ibadah.

Oleh karena itu beliau mengatakan :

“ibadah dinamakan ibadah apabila kita ber Tauhid, hanya meng-Esa-kan Allāh didalam beribadah ”

Kemudian beliau mengatakan :

كَمَا أَنَّ الصَّلاةَ لا تُسَمَّى صَلَاةً إِلا مَعَ الطَّهَارَةِ.

” sebagaimana shalat, tidak dinamakan shalat kecuali apabila ada thaharah / bersuci “.

Apabila seseorang, misalnya melakukan shalat, ruku sujud berdiri tetapi dia tidak melakukan thaharah, apakah ini dinamakan shalat?
Secara dhahir orang menyangkal bahwasanya dia shalat, tetapi karena tidak melakukan thaharah – tidak bersuci, melakukan shalat tersebut dalam keadaan tidak suci maka ini tidak dinamakan shalat

 

لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
“Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menerima shalat salah seorang dari kalian apabila dia berhadas sampai dia berwudhu “.

Berthaharah adalah termasuk syarat sah nya shalat, orang yang shalat tanpa ber thaharah maka tidak dinamakan – melakukan shalat.

Ini adalah perumpamaan yang beliau bawakan untuk kita supaya kita mudah untuk memahami ucapan beliau.

Demikian pula ibadah, apabila seseorang tidak ber tauhid didalam ibadah tersebut maka ini tidak dinamakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana shalat apabila tidak ber thaharah / tidak bersuci maka tidak dinamakan shalat.

Kemudian beliau mengatakan :

فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ

“Maka apabila kesyirikan masuk didalam sebuah ibadah, ibadah tersebut akan menjadi menjadi rusak ”

كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَاَرِةِ

” sebagaimana hadats kecil maupun besar apabila masuk didalam thaharah maka akan merusak thaharah tersebut”

Orang yang dalam keadaan suci apabila ada hadats baik yang kecil maupun besar maka kesucian dia menjadi rusak. Syirik apabila masuk didalam ibadah seseorang ibadah tersebut akan menjadi rusak, akan menjadi gugur ,

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

” Tidaklah orang-orang musyirikin mereka memakmurkan masjid² Allāh dalam keadaan mereka bersaksi bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kafir merekalah orang-orang yang gugur dan terhapus Amalan-amalan mereka dan mereka akan kekal didalam neraka ”

Orang-orang musyirikin quraisy yang ada di zaman Nabi ﷺ, mereka mengaku bahwasanya mereka memakmurkan masjidil Haram, memakmurkan Ka’bah, menghormati orang-orang yang datang kesana memberikan minum kepada Jamaah Haji yang datang kesana. Ini adalah pengakuan orang-orang musyirikin. Allāh mengatakan tidaklah orang-orang musyirikin mereka yang memakmurkan masjid² Allāh sedangkan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri bahwasanya mereka orang-orang yang kufur.

Allāh mengabarkan bahwasanya Amalan-amalan yang mereka lakukan adalah Amalan-amalan yang batal yg terhapus

أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

” mereka adalah orang-orang yang batal Amalan-amalan dan mereka kekal di dalam neraka”.

Kenapa batal?
Padahal mereka melakukan amalan yang besar, memberikan penghormatan orang-orang yang datang untuk beribadah kesana, karena ibadah haji ini sudah ada semenj

ak zaman dahulu, bahkan sebelum datangnya Islam yg dibawa oleh Rasūlullāh ﷺ . Ibadah Haji ini termasuk dalam peninggalan dari Nabi Ibrahim alaihi wa sallam yang merupakan nenek moyang dari orang-orang quraisy itu sendiri, meskipun sudah dirubah caranya oleh orang-orang quraisy, jadi mereka mengaku memakmurkan masjid ² Allāh akan tetapi mereka adalah orang-orang yang kufur sehingga Allāh batalkan Amalan-amalan mereka, menunjukkan bahwasanya kesyirikan – kekufuran ini bisa membatalkan amalan sebagaimana hadats ini bisa membatalkan thaharah seseorang.

 

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Abdullāh Roy
———————
_Materi Halaqah Silsilah Ilmiah Abdullah Roy_

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Leave a Reply