Categories
Al Qur'an

Bersabar bersama orang-orang yang selalu mengingat Allah …

Tadabbur Al-Qur’an surat Al-Kahfi

Hidup akan menjadi tenang dan tentram dipenuhi kebahagiaan jika bersama orang-orang yang selalu mengharapkan wajah Allah.
Walaupun bersabar bersama mereka itu berat dan tidak mudah, akan tetapi mereka yang sudah merasakan manisnya kehidupan di lingkungan mereka akan merasakan betah didalamnya.

Allah memerintahkan hambanya untuk bersabar bersama mereka,

(28). وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖوَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖوَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

(29). وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖفَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚإِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚوَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚبِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

(30). إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,
Bersabarlah kamu dan teguhlah bersama-sama orang-orang lemah yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hanya karena beribadah dan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah palingkan kedua matamu kepada mereka yang mengharapkan perhiasan dunia ini. Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari dzikir dan mengingat Alquran juga mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan melewati batas. Ayat ini turun untuk kumpulan petinggi Qurays yang meminta Nabi untuk membersihkan majlis dan sahabatnya dari orang-orang miskin, agar mereka dibuatkan tempat dan perkumpulan khusus untuk mereka.
Wahai Nabi katakanlah kepada orang musyrik yang meminta engkau untuk mengusir orang-orang miskin dari majlismu: “Kebenaran dalam Alquran itu datangnya dari Allah, bukan dari hawa nafsu ataupun manusia. Termasuk adanya penggantian (nasakh mansukh) itu juga dari Allah. Maka barangsiapa yang ingin beriman kepada Islam dan Alquran hendaklah ia beriman, dan itu adalah suatu kebenaran dan kebaikan. Barangsiapa yang ingin kafir atas agama ini silakan ia kafir”. Ini adalah ancaman dan janji untuk mereka. Sesungguhnya Kami telah sediakan neraka yang besar bagi orang orang zalim itu, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya dan mengerajakan amal shalih, bagi mereka balasan baik yang paling besar. Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala-pahala mereka, dan tidak pula menguranginya atas kebajikan yang mereka perbuat sebaik-baiknya. [Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar]

Allah menyuruh Nabi-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang yang lalai itu : “risalah yang aku bawa kepada kalian adalah kebenaran dari tuhan kalian. Maka barangsiapa diantara kalian yang mau mengimani dan mengamalkannya, maka segeralah dia melakukannya dan itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Dan barangsiapa ingin mengingkari, segeralah dia melakukannya, karena dia tidaklah menzhalimi kecuali dirinya sendiri. Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir api yang sangat panas yang panas apinya meliputi mereka. Jika orang-orang kafir itu meminta tolong di dalam api neraka dengan meminta air minum lantaran rasa haus yang mencekik, maka akan disodorkan kepada mereka air yang seperti minyak sangat panas yang akan membakar wajah-wajah mereka. Amat buruk minuman yang tidak mereka rasa haus mereka, bahkan menambah rasa kehausan mereka. Dan amat buruk neraka sebagai tempat tinggal dan beristirahat. Dalam ayat ini terkandung ancaman dan peringatan keras bagi orang yang berpaling dari kebenaran, dia tidak beriman kepada risalah Muhammad dan tidak mengamalkan tuntutannya.

Abu Umamah menceritakan, Rasulullah pernah keluar menemui ahli kisah yang sedang bercerita. Lalu beliau menghentikannya seraya bersabda: “Berkisahlah. Duduk pagi hari sampai matahari terbit lebih aku sukai daripada memerdekakan empat budak.” [HR Imam Ahmad]

Rasulullah صلى اللهرعليه وسلم bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, yang dengannya mereka tidak menghendaki kecuali wajah-Nya, melainkan ia akan diseru oleh seorang penyeru dari langit, ‘Bangunlah kalian dalam keadaan terampuni, dan berbagai keburukanmu telah diganti dengan kebaikan.” [HR Imam Ahmad] (Tafsir Ibnu Katsir)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan mengerajakan amal shalih, bagi mereka balasan baik yang paling besar. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala-pahala mereka, dan tidak pula menguranginya atas kebajikan yang mereka perbuat sebaik-baiknya.

Dan sebaik-baik tempat duduk adalah duduk bermajelis dengan ahli dzikr karena disana ada ketenangan dan ketentraman.
Rasulullah shallallahu صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

‘Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir (mengingat) Allah, melainkan mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan sakinah (ketenangan), dan mereka disebut oleh Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.’” [HR. Muslim, no. 2700]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Al Qur'an

Kapan diterimanya taubat …?

💧 *Kapan diterimanya taubat …?*

_*Tadabbur ayat Al-Qur’an*_

Allah berfirman,

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِینَ یَعۡمَلُونَ ٱلسُّوۤءَ بِجَهَـٰلَةࣲ ثُمَّ یَتُوبُونَ مِن قَرِیبࣲ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَیۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِیمًا حَكِیمࣰا.
وَلَیۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِینَ یَعۡمَلُونَ ٱلسَّیِّـَٔاتِ حَتَّىٰۤ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّی تُبۡتُ ٱلۡـَٔـٰنَ وَلَا ٱلَّذِینَ یَمُوتُونَ وَهُمۡ كُفَّارٌۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِیمࣰا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” [QS. An-Nisaa’: 17- 18]

Allah berfirman bahwa Ia menerima taubatnya orang yang melakukan perbuatan keji karena kebodohan, kemudian bertaubat walaupun Malaikat telah tampak untuk mencabut ruhnya sebelum sampai tenggorokan.

Mujahid dan lain-lain berkata: “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, baik keliru ataupun sengaja, berarti ia bodoh, hingga ia menghindari dosa ter-sebut.”

Abdurrazzaq berkata, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami dari Qatadah, ia berkata: “Para Sahabat Rasulullah telah sepakat bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka berarti ia jahil, baik sengaja atau tidak.”

ثُمَّ یَتُوبُونَ مِن قَرِیبࣲ

“Kemudian mereka bertobat dengan segera”

Qatadah dari as-Suddi berkata: “Yaitu selama dalam keadaan sehatnya.” Itulah yang diriwayatkan dari Ibnu `Abbas. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yaitu sebelum ruh sampai tenggorokan.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama (ruhnya) belum sampai tenggorokan.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata: “Hasan gharib”]

Sedangkan kapan saja seseorang mulai putus harapan hidup, Malaikat mulai datang menjemput, ruh mulai keluar ke tenggorokan, dada mulai terasa sesak dan mencapai tenggorokan, jiwapun mulai meluncur menuju leher, disaat itu taubat tidak lagi diterima dan tidak ada yang dapat meloloskan diri.

Untuk itu Allah berfirman:

وَلَیۡسَتِ ٱلتَّوۡبَةُ لِلَّذِینَ یَعۡمَلُونَ ٱلسَّیِّـَٔاتِ حَتَّىٰۤ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ إِنِّی تُبۡتُ ٱلۡـَٔـٰنَ

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan [yang] hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, [barulah] ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’”

Demikian pula Allah menetapkan, tidak akan menerima taubatnya penghuni bumi di saat matahari terbit dari barat dalam firman-Nya,

یَوۡمَ یَأۡتِی بَعۡضُ ءَایَـٰتِ رَبِّكَ لَا یَنفَعُ نَفۡسًا إِیمَـٰنُهَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِیۤ إِیمَـٰنِهَا خَیۡرࣰاۗ

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” [QS. Al-An’aam: 158]

Firman-Nya:

وَلَا ٱلَّذِینَ یَمُوتُونَ وَهُمۡ كُفَّارٌۚ

“Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.”

Yaitu, bahwa orang kafir jika mati dalam kekufuran dan kesyirikannya, maka penyesalan dan taubatnya tidak bermanfaat serta tidak diterima tebusan apapun darinya, sekalipun sepenuh bumi.

Ibnu `Abbas, Abul `Aliyah dan ar-Rabi’ bin Anas berkomentar tentang firman Allah:

وَلَا ٱلَّذِینَ یَمُوتُونَ وَهُمۡ كُفَّارٌۚ

“Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.”

Mereka berkata, “Ayat ini turun tentang pelaku syirik.”

[Dinukil secara ringkas dari tafsir Ibnu Katsir]

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Al Qur'an

Datangnya generasi yang lebih jelek…

Datangnya generasi yang lebih jelek…

Tadabbur ayat Al-Qur’an

Allah berfirman,

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَ ٰ⁠تِۖ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ غَیًّا.
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا یُظۡلَمُونَ شَیۡـࣰٔا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” [QS. Maryam 59-60]

Setelah Allah menceritakan tentang golongan orang-orang yang beruntung, yaitu para Nabi dan para pengikut mereka yang menegakkan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah, serta menunaikan fardhu-fardhu ketentuan Allah, lagi meningalkan berbagai ancaman-Nya; Dia menyebutkan bahwa:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ

“Akan datang sesudah mereka satu generasi,”

yaitu generasi (kurun) lain;

أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ

“Yang menyia nyiakan shalat,”

dan jika mereka menyia-nyiakannya, maka kewajiban-kewajiban lain pasti lebih diremehkan. Karena shalat adalah tiang agama dan sebaik-baik amal seorang hamba. Kemudian, mereka pasti akan menuruti kesenangan dan kelezatan dunia, serta senang dengan kehidupan dunia, mereka merasa tenteram di dalamnya. Mereka itu akan ditimpa “ghayya,” yaitu kerugian pada hari Kiamat.

Ka’ab al-Ahbar berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mendapatkan sifat orang-orang munafik di dalam Kitab Allah adalah mereka banyak minum kopi, meninggalkan shalat, banyak bermain, banyak tidur di waktu malam, lalai di waktu siang dan banyak meninggalkan jama’ah dalam shalat. Kemudian dia membaca ayat ini:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَات

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka meninggalkan masjid dan selalu mengunjungi tempat-tempat hiburan.”

Firman Allah:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا

“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih,”

yaitu, kecuali orang yang taubat dari meninggalkan shalat dan dari mengikuti syahwat. Karena Allah pasti menerima taubatnya, memperbaiki akibatnya dan menjadikannya sebagai pewaris Jannatun Na’iim.

Untuk itu, Dia berfirman:

فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا یُظۡلَمُونَ شَیۡـࣰٔا

“Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikit pun.”

Hal itu disebabkan karena taubat akan menghapuskan sesuatu sebelumnya. Di dalam hadits lain: “Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (Sunan Ibnu Majah di kitab az-Zuhud)

Untuk itu, orang-orang yang bertaubat dari pekerjaan yang diamalkannya tidak akan dikurangi sedikit pun dari amal mereka, tidak diterima apa yang mereka amalkan sebelum mereka bertaubat, atau dikurangi apa yang diamalkan sesudahnya. Karena, hal tersebut hilang binasa, lenyap terlupakan dan sia-sia dari kemuliaan Allah yang Mahamulia dan dari kelembutan Allah yang Maha lembut. (Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Imam Ibnu Katsir)

Diantara faedah ringkas ayat ini:

1. Akan datang generasi setelah generasinya para Nabi dan para Sahabat yang lebih jelek.

2. Diantara sifat jeleknya mereka ialah:
√ Menyia-nyiakan ibadah sholat
√ Mengikuti hawa nafsunya

3. Kesesatanlah yang menjadikan mereka terjerumus dalam kejelekan itu

4. Beruntungnya mereka yang segera bertaubat dari kesesatan dan kejelekannya.

5. Amal sholih menjadi penawar kebengkokan jalan yang sesat.

6. Generasi yang terbaik setelah berlalunya generasi para Nabi dan para sahabat adalah yang memiliki 2 sifat:
√ Segera bertaubat dari kesalahan dan kesesatan
√ Beramal sholih, yaitu beramal sesuai dengan petunjuk dan bimbingan Nabi صلى الله عليه وسلم.

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Al Qur'an Sirah Sahabat

PENULISAN AL-QUR’AN DAN PENGUMPULANYA

*🌙 SIRAH SHAHABAT*

*PENULISAN AL-QUR’AN DAN PENGUMPULANYA*

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

*Penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an melewati tiga jenjang.*

*🌍Tahap Pertama.*

Zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Pada jenjang ini penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan karena hafalan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum sangat kuat dan cepat di samping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya. Oleh karena itu siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghapal Al-Qur’an sangat banyak

🍀 Dalam kitab Shahih Bukhari dari Anas Ibn Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus tujuh puluh orang yang disebut Al-Qurra’. Mereka dihadang dan dibunuh oleh penduduk dua desa dari suku Bani Sulaim ; Ri’l dan Dzakwan di dekat sumur Ma’unah. Namun di kalangan para sahabat selain mereka masih banyak para penghapal Al-Qur’an, seperti Khulafaur Rasyidin, Abdullah Ibn Mas’ud, Salim bekas budak Abu Hudzaifah, Ubay Ibn Ka’ab, Mu’adz Ibn Jabal, Zaid Ibn Tsabit dan Abu Darda Radhiyallahu ‘anhum. [1]

*🌍Tahap Kedua*

Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu tahun dua belas Hijriyah. Penyebabnya adalah : Pada perang Yamamah banyak dari kalangan Al-Qurra’ yang terbunuh, di antaranya Salim bekas budak Abu Hudzaifah ; salah seorang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil pelajaran Al-Qur’an darinya.*

Maka Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an agar tidak hilang.

☑ Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu setelah selesainya perang Yamamah. Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, di samping Abu Bakar, berdiri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid : “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sekarang carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah!”, Zaid berkata : “Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar Radhiyallahu ‘anhuma. [2]

☑ Kaum muslimin saat itu seluruhnya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, mereka menganggap perbuatannya itu sebagai nilai positif dan keutamaan bagi Abu Bakar, sampai Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Qur’an adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar karena, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

*🌍Tahap Ketiga*

☑ Pada zaman Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu pada tahun dua puluh lima Hijriyah. Sebabnya adalah perbedaan kaum muslimin pada dialek bacaan Al-Qur’an sesuai dengan perbedaan mushaf-mushaf yang berada di tangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Hal itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka Utsman Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya kemudian bertengkar pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhirnya berpecah belah.

☑ Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman Radhiyallahu ‘anhu datang menghadap Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khawatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al-Qur’an, dia katakan : “Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti perpecahan kaum Yahudi dan Nasrani!” Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah Radhiyallahu ‘anhuma : “Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!”, Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut. [3]

☑ Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam Radhiyallahu ‘anhum untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : “Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!”, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya.

☑ Utsman Radhiyallahu ‘anhu melakukan hal ini setelah meminta pendapat kepada para sahabat Radhiyalahu ‘anhum yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan : “Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Qur’an selain harus meminta pendapat kami semuanya”, Utsman mengatakan : “Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan”. Kami menjawab : “Alangkah baiknya pendapatmu itu”. [4]

☑ Mush’ab Ibn Sa’ad mengatakan : “Aku melihat orang banyak ketika Utsman membakar mushaf-mushaf yang ada, merekapun keheranan melihatnya”, atau dia katakan : “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai positif bagi Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya. Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. [5]

✅ Perbedaan antara pengumpulan yang dilakukan Utsman dan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar Radhiyallahu anhuma adalah : Tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Abu Bakar adalah menuliskan dan mengumpulkan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf agar tidak tercecer dan tidak hilang tanpa membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf ; hal itu dikarenakan lebih terlihat pengaruh dari perbedaan dialek bacaan yang mengharuskannya membawa mereka untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur’an saja.

✅ Sedangkan tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Utsman Radhiyallahu ‘anhu adalah : Mengumpulkan dan menuliskan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan satu dialek bacaan dan membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur’an karena timbulnya pengaruh yang mengkhawatirkan pada perbedaan dialek bacaan Al-Qur’an.

✅ Hasil yang didapatkan dari pengumpulan ini terlihat dengan timbulnya kemaslahatan yang besar di tengah-tengah kaum muslimin, di antaranya : Persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama dan saling berkasih sayang. Kemudian mudharat yang besarpun bisa dihindari yang di antaranya adalah : Perpecahan umat, perbedaan keyakinan, tersebar luasnya kebencian dan permusuhan.

✅ Mushaf Al-Qur’an tetap seperti itu sampai sekarang dan disepakati oleh seluruh kaum muslimin serta diriwayatkan secara Mutawatir. Dipelajari oleh anak-anak dari orang dewasa, tidak bisa dipermainkan oleh tangan-tangan kotor para perusak dan tidak sampai tersentuh oleh hawa nafsu orang-orang yang menyeleweng.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Tuhan langit, Tuhan bumi dan Tuhan sekalian alam.

[Disalin dari kitab Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy]
________
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab Al-Jihad, Bab Al-Aunu Bil Madad, hadits nomor 3064
[2]. Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab At-Tafsir, Bab Qauluhu Ta’ala : Laqad jaa’akum Rasuulun Min Anfusikum Aziizun Alaihi Maa Anittum … al-ayat
[3]. Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab Fadhaailul Qur’an, Bab Jam’ul Qur’an, hadits nomor 4978
[4]. Diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Kitabnya Al-Fashl Lil Washl Al-Mudraj, jilid : 2 halaman 954, dalam sanadnya terdapat rawi bernama Muhammad Ibn Abban Al-Ju’fi (Al-Ilal karya Ad-Daruquthni, jilid 3, halaman 229-230), Ibn Ma’in mengatakan : “Dia dha’if (Al-Jarhu wat Ta’dil karya Ar-Razi, jilid 7 halam 200.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Mashaahif halaman 22
[5]. Diriwayatklvan oleh Abu Dawud dalam Kitab Al-Mashaahif, Hal. 12

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Al Qur'an Artikel

Mengapa manusia mengeluhkan sempitnya rumah mereka?

📌 هل تعلمون لماذا يشتكي الناس من ضيق البيوت؟!

📌 Tahukah kalian mengapa manusia mengeluhkan sempitnya rumah mereka?

🔴 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- قَالَ :

👈🏻«إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ.

🔴 Dari Abu Hurairah radhiyallahu Anhu beliau berkata : Sesungguhnya sebuah rumah benar benar akan terasa luas oleh penghuninya, didatangi malaikat, dijauhi setan dan banyak kebaikannya bila dibacakan Al Quran di dalamnya

‼ وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ».

‼Dan sesungguhnya sebuah rumah benar benar akan terasa sempit oleh penghuninya, dijauhi oleh malaikat, dan didatangi oleh setan, dan sedikit kebaikannya bila tidak dibacakan Al Quran di dalamnya.

صحيح سنن الدارميّ (٣٣٥٢)

═════ ¤❁✿❁¤ ═════

🔸قناة : خزانة الدرر والفوائد🔸

https://goo.gl/2LwHvv

Copas dari Ustadz Iyan Sopiyan

Categories
Al Qur'an

PELAJARAN DARI KISAH ASHABUL UKHDUD (PART 2)

*PELAJARAN DARI KISAH ASHABUL UKHDUD (PART 2)*

 

📌 Sekarang bagaimana nasib anak muda yang beriman itu…?

👉 Simak cerita selanjutnya…

▪Kemudian giliran anak tersebut yang didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama, Ia pun enggan. Kemudian anak itu diserahkan kepada pasukan raja.

▪Raja berkata, “Pergilah kalian ke gunung ini dan itu. Dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya (tanyalah dirinya), apabila ia kembali pada agamanya, bebaskan ia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.”

▪Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki. Lalu anak ini berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung lantas berguncang dan semua pasukan raja jatuh.

▪Anak itu kembali kepada raja. Ketika sampai, raja berkata, “Apa yang dilakukan teman-temanmu?” Ia menjawab, “Allah telah mencukupiku dari tindakan mereka.” Lalu anak ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian dengan sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya, bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkan ia.”

▪Mereka pun lantas pergi. Lalu anak ini berdoa sama seperti sebelumnya. Tiba-tiba sampan pun terbalik, pasukan raja tenggelam. Anak tersebut kembali mendatangi raja. Raja pun berkata, “Apa yang dilakukan teman-temanmu?” Ia menjawab dengan jawaban sebelumnya.

▪Ia berkata pada raja, *“Engkau tidak bisa membunuhku kecuali engkau memenuhi syaratku.”* Raja bertanya, “Apa syaratnya?” Anak itu menjawab, “Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku. Ambillah anak panah dari tempat panahku, ucapkanlah, *“Dengan nama Allah, Tuhan dari anak ini.” Lalu panahlah aku maka pasti engkau dapat membunuhku.”*

▪Rakyat pun dikumpulkan. Anak tersebut disalib, lalu raja tersebut mengambil anak panah si anak kemudian diletakkan di busurnya. Lalu mengucapkan, “Dengan nama Allah Tuhan anak ini.” Lalu dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipisnya, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut berkata, “Kami beriman pada Tuhan anak itu.”

▪Raja datang, lantas ada yang berkata, *“Apa yang selama ini engkau khawatirkan sepertinya benar-benar terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan anak tersebut.”*

🔥 Lalu raja tadi membuat parit di jalan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, *“Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.”* Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju ketika akan masuk di dalamnya. Bayinya lantas berkata, *“Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.”* (HR. Muslim)

*⏯ Simak Pelajaran-pelajaran berharga dari kisah ini insyaallah pada edisi berikutnya…*

🗂 Diadaptasi dari Buletin At-Tauhid

================

📢📢INFO TA’AWUN DI GROUP PARA PENCINTA SUNNAH/ PPS

Kami di group Para Pecinta Sunnah ingin mengajak semua member/anggota untuk berperan pada program ta’awun bagi saudara kita yang membutuhkan bantuan.

Bagi yang ingin berpartisipasi,
Sumbangan dana bisa langsung ditransfer ke:
➖➖➖➖➖➖➖➖
⬇ Donasi

Rekening PPS :
BNI SYARIAH
A/N : NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 009 (jk transfer dr bank lain)

Mohon setelah transfer konfirmasi via SMS/WA ke : Nurkholid Ashari
No HP : 081331946911

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

 

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Al Qur'an

PELAJARAN DARI KISAH ASHABUL UKHDUD (PART 1)

*PELAJARAN DARI KISAH ASHABUL UKHDUD (PART 1)*

 

▪Diantara kisah dalam Al Qur’an yang sangat layak kita ambil pelajarannya adalah kisah ashabul ukhdud, yaitu kisah dibakarnya orang-orang yang beriman di dalam parit. Kisah ini Allah abadikan di dalam Al Qur’an surat Al Buruj.

*🍃 Kisah selengkapnya*

▪Dari Shuhaib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan meminta agar dikirimkan anak yang mewarisi ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.

▪Di tengah perjalanan belajar, anak ini bertemu seorang rahib. Ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia begitu takjub pada apa yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika ia terlambat mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia mengadukannya pada rahib. Rahib berkata, “Jika engkau khawatir pada tukang sihir, maka katakan bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakan bahwa tukang sihir telah menahanku”

▪Suatu ketika tibalah ia di suatu tempat dan di sana ada seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang-orang banyak. Anak itu berkata, “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.” Ia mengambil sebuah batu seraya berkata, “Ya Allah, apabila pelajaran dari rahib lebih Engkau cintai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melintas.” Lalu ia melempar sesuatu kepada binatang tersebut dan binatang itu terbunuh. Lalu orang-orang dapat melintas.

▪Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib mengatakan, “Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Kamu sudah pada suatu tingkat yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar, janganlah menyebut namaku”

▪Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini sampai ke telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, “Ini semua jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku”. Anak itu berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman pada Allah, aku akan berdoa pada-Nya agar engkau bisa sembuh.” Ia pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.

▪Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk seperti biasanya. Raja bertanya padanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia menjawab, “Tuhanku”. Raja kaget, “Apa engkau punya Tuhan selain aku?” Ia menjawab, “Tuhanku dan Tuhanmu itu sama yaitu Allah.” Raja pun menindaknya. Ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan anak yang tadi.

▪Raja lalu berkata pada anak itu, “Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Anak itu menjawab, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.” Raja lalu menindaknya dan terus menyiksanya, sampai ditunjukkan pada rahib.

▪Raja berkata kepada rahib, “Kembalilah pada agamamu!” Rahib itu enggan. Lantas didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut.

▪Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan, ia diperintahkan hal yang sama dengan rahib, “Kembalilah pada ajaranmu!” Ia enggan. Lantas terjadilah hal yang sama padanya sebagaimana keadaan si rahib.

▪Kemudian giliran anak tersebut yang didatangkan…

*Apa yang akan terjadi dengan anak itu*❓

*Apakah raja mampu membunuhnya*❓

*Apakah anak muda itu akan selamat*❓

 

*⏯ Simak lanjutan kisahnya insyaallah…*

🗂 Diadaptasi dari Buletin At-Tauhid

 

================

📢📢INFO TA’AWUN DI GROUP PARA PENCINTA SUNNAH/ PPS

Kami di group Para Pecinta Sunnah ingin mengajak semua member/anggota untuk berperan pada program ta’awun bagi saudara kita yang membutuhkan bantuan.

Bagi yang ingin berpartisipasi,
Sumbangan dana bisa langsung ditransfer ke:
➖➖➖➖➖➖➖➖
⬇ Donasi

Rekening PPS :
BNI SYARIAH
A/N : NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 009 (jk transfer dr bank lain)

Mohon setelah transfer konfirmasi via SMS/WA ke : Nurkholid Ashari
No HP : 081331946911

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•