Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

MENYAMPAIKAN AL-HAQ

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 25 —————

*MENYAMPAIKAN AL-HAQ (bagian 3)*

Kaum Quraisy bangkit menentang karena mereka memahami arti dari Uluhiyah yang diemban oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah mendekati paman beliau, Abu Thalib. Mereka meminta agar Abu Thalib menjadi mediator yang menghentikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari menghina dan mencemooh tuhan-tuhan mereka dan menganggap nenek moyang mereka sesat.

Az-Zuhri dan Ibnu Ishak berkata,
“Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaumnya masuk Islam dan mengumumkannya dengan terang-terangan seperti perintah ALLAH, mereka menghadapinya dengan santai-santai saja, tetapi tatkala tuhan mereka mulai disinggung dan dicemooh, maka mereka memberikan respons.”

Al-‘Utaqi berkata, “Itu terjadi pada tahun ke-4, setelah tuhan mereka mulai disinggung dan dicemooh, mereka kemudian mempermasalahkannya dan melakukan pembelaan. Mereka sepakat untuk memusuhi beliau dan melawannya, kecuali bagi yang diberikan hidayah untuk masuk Islam. Jumlah mereka yang muslim itu sedikit serta bergerak dengan sembunyi-sembunyi.”

Paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tampil melakukan pembelaan terhadap beliau, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bebas melakukan dakwah tanpa ada yang merintanginya.

Namun, setelah mereka melihat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bebas melakukan dakwahnya yang menurut mereka berorientasi penghinaan dan pelecehan terhadap tuhan mereka, sementara Abu Thalib membelanya dengan maksimal, maka mereka akhirnya menemui Abu Thalib.

Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah menghina tuhan-tuhan kami. Dia mencemooh agama kami. Dia menganggap kami tidak berakal dan menganggap nenek moyang kami sesat. Oleh karena itu, kami mohon agar kamu menghentikannya atau membiarkan kami menghadapinya sesuai dengan kebijakan kami. Karena kamu juga berada pada pihak kami, tidak mengikuti ajarannya, maka biarkanlah kami membebaskan kamu dari perbedaannya.”

Abu Thalib menjawab permintaan mereka dengan baik dan kata-kata yang lembut, hingga akhirnya mereka meninggalkan Abu Thalib. [1]

📜 HIKMAH (PELAJARAN) 📜

[A]
Pada awalnya, Quraisy tidak menghiraukan dakwah yang diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mulai mempermasalahkan tentang tuhan-tuhan mereka dan berbicara mengenai keesaan ALLAH, serta hal-hal lainnya yang bertentangan dengan kebiasaan mereka, mulai terjadi perseteruan.

Mereka mulai mengetahui hakikat dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka baru menyadari bahwa agama itu intinya adalah tauhid sebelum yang lainnya, yaitu hati dan semua anggota tubuhnya diberikan dan diarahkan hanya kepada ALLAH dan tidak ada sekutu bagi-NYA.

Mereka mengenal hakikat agama itu,
maka kemudian mereka tampil untuk menentangnya. Sangat disayangkan karena masih ada dewasa ini, sebagian umat Islam yang belum mengerti tentang hakikat agama Islam. Mereka mengikrarkan kalimat La Ilaha Illallah pagi dan petang, tetapi mereka tetap berkeliling di kuburan, melakukan istighatsah (meminta tolong) kepada yang dianggap wali, berdoa kepada selain ALLAH, atau berharap dan takut kepada selain ALLAH, yang perkataannya bertentangan dengan perbuatannya. Seandainya dikatakan kepada mereka bahwa kuffar Quraisy lebih memahami tentang makna La Ilaha Illallah daripada mereka, maka mereka pastilah marah.

In Syaa Allah bersambung minggu depan…….

Footnote:

[1] As-Syami, Subulul Huda Wa Ar-Rasyad, 2/437.

Sumber Buku:
– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid [Penerbit Darus Sunnah, Jakarta]

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

DAKWAH JAHRIYYAH

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 22 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 3)”*

*📜 HIKMAH (PELAJARAN)*

[A]
Dakwah rahasia ataupun terang-terangan, semuanya berpegang pada ‘1 tujuan yaitu untuk menyatukan umat manusia dengan kalimat tauhid’, yakni hati tidak tergantung kecuali hanya kepada ALLAH, seseorang tidak akan mendapatkan manfaat hanya dengan kehebatan kabilahnya taupun keluarganya.

Semua ini adalah bentuk pengarahan manusia untuk hanya mengesakan ALLAH, beribadah hanya untuk ALLAH, dan itu adalah masalah yang prinsip karena masuk ke dalam area akidah yang maksudnya adalah menetapkan hak ubudiyah hanya milik ALLAH, Tak ada yang disembah kecuali ALLAH, Tak ada yang ditaati kecuali ALLAH, Dan tidak ada sekutu bagi-NYA.

‘Masalah yang paling asasi dan paling pertama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dakwahkan adalah masalah akidah & itulah inti ajaran Rasul-Rasul sebelumnya’ [Dalilnya QS. Al-Anbiya: 25].

Begitulah semestinya yang menjadi misi setiap da’i yang mengajak kepada kebenaran. Karena ‘apabila akidah benar, maka amalan setelah itu pun akan benar. Dan jika akidah tidak benar, maka segala amalan tidak ada artinya’ [Dalilnya QS. Al-Furqan: 23).

[B]
‘Memulai dari kerabat dekat’ walaupun pada hakikatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah milik umat,
adalah untuk menunjukkan tingkat tanggung jawab setiap individu,
yang mesti dimulai dari keluarga & kerabat dekat, karena ‘seseorang akan bertanggung jawab tentang keluarganya, anak-anaknya dan istrinya, orang tuanya dan kerabat dekatnya.’
Setiap yang mengingat firman ALLAH, “Dan berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu”, dia akan megetahui bahwa seorang dituntut memberikan perhatian yang lebih besar terhadap keluarganya dalam berdakwah. Akan tetapi justru beberapa orang malah mengabaikan keluarganya & sibuk berdakwah mengajak selain mereka. Cara seperti ini sebenarnya adalah mengabaikan prioritas tanggung jawab yang harus disandingkan antara kerabat dekat dan manusia secara keseluruhan.

[C]
Firman ALLAH, “Dan lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”, yang dimaksud dengan As-Shad’u adalah ketegaran dalam prinsip yang benar dan jelas, kamu bisa berkata: Inshada’a Al-Jabalu Aw Al-Jidaru (Pecah gunung atau tembok itu), di dalam kata As-Shad’u terdapat makna kekuatan, keuletan, dan kejelasan. Begitulah semestinya seorang muslim tatkala mengajak kepada kebenaran, dia tampil penuh percaya diri, suaranya lantang dan bukan kecil karena malu-malu.

Sebagian anak muda kaum muslim terkadang kurang bangga dengan agamanya, dia malu menyebut nama ALLAH ketika berada dalam majlis, bahkan malu bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia melakukan basa-basi yang berlebihan dengan mengorbankan agama, dia khawatir mendapat cap agamawan, sok alim, (kolot, fanatik) atau bahkan terbelakang karena beragama. Dia hanya taat apabila sendirian, tetapi di depan orang banyak, sangat lemah. Apabila berada di sebuah majlis dan adzan telah dikumandangkan, dia malu mengajak untuk shalat.

Ibnul Qayyim rahimahullah setelah membagi manusia ke dalam 4 macam berkata, “Seorang yang dekat dengan ALLAH, baik ketika sendirian ataupun bersama orang banyak, maka itulah ‘orang yang jujur dan cinta ALLAH’.

Seorang yang kelihatan shalih bila bersama orang banyak dan kehilangan keshalihan tatkala sendirian,
maka itu adalah ‘orang yang sakit’.

Dan siapa yang kehilangan keshalihan,
baik ketika sendirian ataupun dengan orang banyak, maka itulah ‘orang yang telah mati dan terabaikan’.

Namun, bagi orang yang hilang keshalihan ketika bersama orang lain dan menemukan keshalihan itu ketika sendirian, Maka orang tersebut adalah ‘orang jujur yang lemah’ ”.[Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, hal. 43]

[D]
Mengapa sikap dan permusuhan Abu Lahab begitu sengit sejak awal kelahiran dakwah?
Sikap Abu Lahab yang berlebihan serta permusuhan yang kental dari awal menunjukkan bahwa dakwah itu bukanlah dakwah golongan atau kabilah, tetapi merupakan agama baru yang berasal dari ALLAH untuk seluruh makhluk manusia dan jin.

[E]
Ucapan Abu Lahab yang berbunyi,
“Tabban laka ali hadza jama’-tana?” (celakalah kamu wahai Muhammad, apakah hanya karena ini kamu kumpulkan kami?),
mengandung pelajaran yang penting bagi yang bergelut dalam ladang dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar,
yaitu dia pasti ‘akan mendapatkan kata yang serupa dengan kata itu’.

Oleh karena itu, apabila kamu mengajak kepada kebaikan dan melarang dari yang mungkar, atau sedang memberikan nasihat, atau sedang berbicara tentang agama dan menemukan adanya rintangan, maka jangan merasa bersedih karena rintangan seperti itu, bahkan yang lebih tajam darinya telah dikatakan kepara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Aib dan kekurangan bukanlah dalam kepribadian sang da’i, tetapi kesalahan ada pada orang yang melontarkan kata-kata pedas itu dalam menghadapi dakwah.

[F]
Ada bukti kemukjizatan Al-Qur’an dalam surat Al-Masad.
Abu Lahab pada waktu ayat itu diturunkan masih dalam keadaan hidup, walaupun demikian Al-Qur’an memutuskan bahwa dia tidak akan datang suatu saat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk menyatakan, “Saya telah beriman kepadamu wahai Muhammad”. Keputusan seperti itu terhadap manusia yang masih hidup tidak mungkin berasal dari seorang manusia, karena bisa saja Abu Lahab datang suatu saat dengan berkata, “Muhammad telah memutuskan bahwa saya tidak akan beriman, dan ini saya datang kepadanya menyatakan keimanan saya”.

Kemudian ‘siapa yang memberitahukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa Abu Lahab akan mati dalam kekafiran?’

Sementara sangat banyak penduduk Makkah yang telah menyiksa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Walaupun demikian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak menghakimi mereka dengan api neraka karena setelah itu, banyak yang datang dan menyatakan keislaman. Sekali lagi pertanyaannya adalah, “Siapa yang memberitahukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa Abu Lahab tidak akan seperti mereka?”

Pengadilan seperti itu bahwa Abu Lahab akan masuk neraka tidak mungkin berasal dari seorang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, melainkan dari Dzat Yang Maha Mengetahui alam gaib. ‘Pada ayat ini, terdapat bukti kemukjizatan Al-Qur’an yang paling besar dan bantahan yang tajam terhadap yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam’.

[G]
Dalam firman ALLAH [QS. Al-Hijir: 95] terdapat pelajaran yang mulia, karena bagi yang memiliki kekuasaan bisa saja berkata, “Saya akan menjagamu, tidak akan ada orang yang bisa menyentuhmu, saya jaga kamu dari gangguan orang kepadamu”, tetapi bagaimanapun kekuatannya dia tidak mungkin berkata, “Saya jaga kamu dari setiap yang memperolok-olok kamu”, karena arti memperolok-olok termasuk di antaranya yaitu lirikan mata, gerakan tangan, perkataan dengan suara tertentu atau dengan tertawa, atau dengan komentar yang hanya orang tertentu yang bisa memahaminya, kemudian siapa yang mampu mengantisipasi itu semua?

Akan tetapi, ALLAH Ta’ala berfirman,
“Kamilah yang mencukupkan kamu dari segala yang memperolok-olokmu”, dengan kata lampau yang telah terjadi dan telah terbukti. Selain itu, ayat tersebut memakai kata Kafainaaka (mencukupkanmu), tidak memakai kata Namna’u (Kami akan/sedang menghalangi) karena olok-olok tersebut telah terjadi, karena ALLAH mencukupi Nabi-NYA. Kemudian ada isyarat lembut dari ayat ini yaitu Sesungguhnya Yang mampu mencukupkan Rasul-NYA dari segala macam bentuk olokan, maka Dia akan lebih mampu untuk mencukupkan Rasul-NYA dari gangguan yang berbentuk fisik dan nyata.

Dalam firman ALLAH Ta’ala: “dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)”.[QS. Al-Hijir: 97-98]

Ayat ini menunjukkan bahwa hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terasa sempit dan tertekan dengan kata-kata mereka yang pedas itu dalam menantang agama, dan ALLAH memberikan jalan keluar dengan firmannya, “Kami telah mengetahui bahwa hatimu terasa sempit karena kata-kata mereka, maka senantiasalah bertasbih kepada ALLAH dan jadilah orang yang banyak bersujud, dan sembahlah ALLAH hingga maut datang menjemputmu”.[QS. Al-Hijir: 97-99]

Oleh karena itu, ‘apabila hatimu terasa sempit maka bertasbihlah’, dan ini juga merupakan terapi bagi setiap yang merasakan kegundahan hati dalam menghadapi problematika kehidupan ini.

Sungguh banyak manusia yang tertekan karena kata-kata yang diajukan kepadanya, atau bahkan dari kata-kata yang dikatakannya sendiri, dan pada saat itu ‘solusi yang menjadi terapinya adalah bertasbih kepada ALLAH dan menyembah ALLAH hingga datang ajal menjemput’. Hal ini dikarenakan terapi yang dipakai dalam mengobati kesedihan hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga terapi dalam mengobati setiap manusia yang merasakan himpitan dada karena masalah yang dihadapinya.

In Syaa Allah bersambung minggu depan…………..

Sumber Buku:

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

Di Atas Bukit Shafa

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 21 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 2)”*

– Di Atas Bukit Shafa –

Setalah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yakin dengan janji pamannya, Abu Thalib, yang akan melindunginya dalam tugasnya menyampaikan Wahyu Rabbnya, suatu hari beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdiri di atas bukit Shafa seraya berteriak,

“Ya shabahah!”
(seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi & biasa digunakan untuk perang).

Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengajak mereka untuk bertauhid (kepada ALLAH), beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.

Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan satu sisi dari kisah ini, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat’ [QS. Asy-Syu’ara: 214], Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam naik ke atas bukit Shafa, lalu menyeru,
‘Wahai Bani Fihr!
Wahai Bani ‘Adi!’
Seruan ini diarahkan kepada marga-marga Quraisy. Kemudian tak berapa lama, mereka pun berkumpul.

Karena begitu pentingnya panggilan itu, seseorang yang tidak bisa keluar memenuhinya,mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi? Maka, tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisy pun berkumpul juga. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berbicara,
‘Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?’

Mereka menjawab,
‘Ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran’.

Abu Lahab menanggapi,
‘Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?’

Maka ketika itu turunlah ayat:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab …” [QS. Al-Masad ayat 1] [1]

Imam Muslim meriwayatkan satu sisi lain dari kisah tersebut, yaitu riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Tatkala ayat : ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat’ [Asy-Syu’ara: 214] turun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendakwahi mereka, sesekali bersifat umum, dan sesekali yang lain bersifat khusus.
Beliau berkata, ‘Wahai kaum Quraisy!Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.
Wahai Bani Ka’b! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.
Wahai Fathimah binti Muhammad!Selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Demi ALLAH! Sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu pun (untuk menyelamatkan kalian) dari azab ALLAH, Hanya saja kalian memiliki ikatan kerabat (denganku) yang senantiasa akan aku sambung”. [2]

Teriakan yang keras ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah yang optimal, di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut adalah bentuk efektifitas semua hubungan antara dirinya dan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudidayakan oleh orang-orang Arab akan meleleh di dalam panasnya peringatan yang datang dari ALLAH tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdakwah secara rahasia selama 3 tahun, kemudian diturunkan kepadanya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), “ [QS. Al-Hijir: 94-95].

Oleh karena itu, beliau mengumumkan dakwahnya dan pada saat itu, kaumnya pula yang memulai perlawanan dan permusuhan secara terang-terangan, dan rintangan serta tantangan semakin bertambah atasnya dan umat Islam. [3]

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengumpulkan Bani Abdul Muththalib hingga terkumpul dalam jumlah yang banyak, mereka semuanya memakan daging jadz’ah [4] dan meminum faraq [5]
Dia berkata, ‘Beliau membuat makanan dan mereka memakannya hingga kenyang’.
Dia berkata, “Makanan itu seperti belum pernah dimakan”,
kemudian beliau meminta bejana kecil dan mereka minum hingga kenyang.
Namun, minuman itu seperti belum pernah diminum.

Beliau berkata, “Wahai Bani Abdul Muththalib, sesungguhnya saya diutus kepada kalian secara khusus dan kepada umat manusia secara umum,
dan kalian telah menyaksikan salah satu dari tanda-tanda kenabian saya,
maka siapakah di antara kalian yang bersedia membai’at saya untuk menjadi saudara dan sahabat saya?”

Ali berkata, “Tidak seorang pun yang bangkit dari duduknya’,
Ali berkata, ‘Akhirnya saya berdiri dan berjalan kepadanya, sementara saya adalah anak yang paling muda di antara mereka’,
Beliau berkata, ‘Duduk kembali wahai Ali’, pertanyaan itu diulangi sampai tiga kali dan setiap dia meminta untuk dibai’at, saya selalu berdiri dan menuju kepadanya dan dia pun selalu mengatakan, ‘duduklah’. Hingga pada saat yang ketiga kalinya, beliau meletakkan tangannya di atas tangan saya’. [6]

In Syaa Allah bersambung minggu depan………….

Sumber Buku:
– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

[1]
Shahih Al-Bukhari, 2/702,734. Shahih Muslim, 1/114.

[2]
Shahih Muslim, ibid ; Shahih Al-Bukhari, 1/385, 2/702; Misykah Al-Mashabih, 2/460.

[3]
Ibnul Qayyim, Zad Al-Ma’ad, 1/86.

[4]
Jadza’ah adalah domba atau kambing yang berusia 1 tahun atau lebih. Adapun menurut istilah rinciannya lihat buku Al-Qamus Al-Fikihi Lugatan Waistilahan. Sa’di Abu Jaib, hal.59.

[5]
Timbangan makanan sebanyak 16 belas liter atau 12 mud atau tiga sha’ menurut orang Hijaz. Lihat Ibnu Atsir, An-Nihayah fi garibi Al-Hadits, 3/347, menunjukkan sebuah wadah besar yang cukup untuk diminum orang banyak.

[6]
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnad, lihat Al-Banna, Al-Fathu Ar-Rabbani Litattrtibi Musnad Imam Ahmad, 20/224.
Al-Banna berkata, “Diriwayatkan oleh Al-Haitsami dengan panjang lebar”.
Al-Haitsami berkata, ‘diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan lafaznya, dan Ahmad dengan ringkas, dan At-Tabrani dalam kitab Al-Ausath juga dengan ringkas, dan perawi yang dipakai Ahmad dan salah satu dari dua sanad Al-Bazzar adalah perawi yang kredibel, selain Syuraik, namun dia tetap tepercaya (tsiqah) Bulugu Al-Amani Min Asrari Al-Fathi Ar-Rabbani, 20/224. Lihat As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah, karya As-Shuyani hal.72, dia berkata: ‘Sanadnya kuat’.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

Perintah Pertama untuk Menampakkan Dakwah

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 20 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 1)”*

– Perintah Pertama untuk Menampakkan Dakwah –

Sehubungan dengan hal ini, ayat pertama yang turun adalah: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”. [QS. Asy-Syu’ara ayat 214]

Sebelumnya terdapat alur cerita yang menyinggung kisah Nabi Musa ‘alaihis sallam dari permulaan kenabian hingga hijrah bersama Bani Israil,
lolosnya mereka dari kejaran Fir’aun dan kaumnya dan serta tenggelamnya Fir’aun bersama kaumnya. Kisah ini mengandung semua tahapan yang dilalui oleh Nabi Musa ‘alaihis sallam dalam dakwahnya terhadap Fir’aun dan kaumnya agar menyembah ALLAH.

Seakan-akan rincian ini dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa untuk berdakwah kepada ALLAH secara terang-terangan, agar di hadapan beliau dan sahabatnya terdapat contoh atas pendustaan & penindasan yang akan mereka alami nantinya manakala mereka melakukan dakwah secara terang-terangan. Demikian pula, agar mereka mengetahui resiko dari hal itu semenjak awal memulai dakwah mereka tersebut.

Surat tersebut (Asy-Syu’ara) juga berbicara mengenai nasib yang dialami oleh para pendusta para Rasul, di antaranya kaum Nabi Nuh ‘alaihis sallam, kaum Ad & Tsamud, kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam, kaum Nabi Luth ‘alaihis sallam serta kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis sallam (di samping yang berkaitan dengan perihal Fir’aun dan kaumnya). Semua itu dimaksudkan agar mereka yang akan melakukan pendustaan menyadari apa yang akan terjadi terhadap mereka & siksaan ALLAH yang akan mereka alami bila terus melakukan pendustaan.

Sebaliknya agar kaum Mukminin mengetahui bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.

– Berdakwah di Kalangan Kaum Kerabat –

Setelah turunnya ayat tersebut,
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengundang para kerabat terdekatnya Bani Hasyim. Mereka pun datang disertai oleh beberapa orang dari Bani Al-Muththalib bin Abdi Manaf yang berjumlah sekitar 45 orang. Namun tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan berbicara, Tiba-tiba Abu Lahab memotongnya seraya berkata, “Mereka itu adalah paman-pamanmu & para sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah menganut agama baru. Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab. Aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jika engkau bersikeras melakukan apa yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah ketimbang bila seluruh marga Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih jelek dari apa yang engkau bawa ini”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya diam dan tidak berbicara pada pertemuan itu.

Sekali waktu, Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengundang mereka lagi, lantas berbicara, “Alhamdulillah, aku memuji-NYA,
meminta pertolongan,
beriman serta bertawakal kepada-NYA. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang haq) melainkan ALLAH semata Yang tiada sekutu bagi-NYA”.

Selanjutnya beliau berkata,
“Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi ALLAH yang tiada Tuhan (yang haq) selain-NYA!Sesungguhnya aku adalah utusan ALLAH yang datang kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia secara umum.
Demi ALLAH! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang kekal”.

Kemudian Abu Thalib berkomentar,
“Alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasihatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu. Mereka yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka, namun aku adalah orang yang paling cepat merespek apa yang engkau inginkan. Oleh karena itu, teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu.
Demi ALLAH! Aku akan senantiasa melindungi dan membelamu, hanya saja diriku tidak memberikan cukup keberanian kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muththalib”.

Ketika itu Abu Lahab berkata, “Demi ALLAH! Ini benar-benar merupakan aib yang besar. Ayo cegahlah dia sebelum orang lain yang turun tangan mencegahnya!”.

Abu Thalib menjawab, “Demi ALLAH!
Sungguh selama kami masih hidup,
kami akan membelanya”.

In Syaa Allah bersambung minggu depan………

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

DAKWAH SIRRIYYAH

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 19 —————

*“DAKWAH SIRRIYYAH”*

Kota Makkah merupakan pusat agama bangsa Arab. Di sana terdapat para pengabdi Ka’bah, pengurus berhala, dan patung-patung yang dianggap suci. Lebih sulit dan sukar melakukan perubahan di Makkah.

Karenanya, dakwah butuh tekad baja yang tak mudah goyah oleh musibah & bencana. Maka, adalah bijak memulai dakwah sirri (sembunyi-sembunyi) agar penduduk Makkah tidak dikagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing emosi mereka.

Merupakan hal yang wajar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pertama-tama menawarkan Islam kepada orang-orang yang hubungannya dekat dengan beliau, keluarga, dan sahabat-sahabat karib. Mereka semua didakwahi untuk memeluk Islam. Beliau juga mendakwahi orang yang bersifat baik yang sudah saling kenal dengan beliau.

Beliau mengenal mereka sebagai orang-orang yang mencintai ALLAH & kebaikan, sedang mereka mengenal beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai kejujuran & keshalihan. Hasilnya banyak di antara mereka (yang tidak sedikit digerayangi keraguan akan keagungan, kebesaran jiwa Rasulullah serta kebenaran berita yang dibawanya) merespons baik dakwah beliau.

Dalam sejarah Islam, mereka dikenal dengan ‘As-Sabiqun Al Awwallun’ (orang-orang yang paling dahulu & pertama masuk Islam). Di barisan depan terdaftar istri Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid; Disusul maula (mantan budak) beliau, Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi; [1], Keponakan beliau, Ali bin Abi Thalib (saat itu masih kanak-kanak hidup di bawah asuhan beliau); Serta sahabat karib beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Abu Bakar sangat giat mengajak orang kepada Islam. Beliau adalah sosok laki-laki yang lembut, disenangi, luwes, berbudi luhur, dan suka berbuat baik. Para tokoh kaumnya selalu mengunjunginya & sudah tidak asing dengan kepribadiannya karena keintelekan, kesuksesan dalam berbisnis & pergaulan yang luwes. Beliau terus berdakwah pada orang-orang kaumnya yang dia percayai & selalu berinteraksi & bermajelis dengannya.

Berkat itu, maka masuk Islamlah Utsman bin Affan Al-Umawi, Az-Zubair bin Al-Awwam Al-Asadi, Abdurrahman bin Auf Az-Zuhri, Sa’ad bin Abi Waqqash Az-Zuhri, dan Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi. Kedelapan orang inilah merupakan gelombang pertama dan garda Islam.

Di antara orang-orang pertama lainnya yang masuk Islam adalah,
Bilal bin Rabah Al-Habasyi, kemudian diikuti oleh amin (kepercayaan) umat ini, Abu Ubaidah [2], nama beliau adalah Amir bin Al-Jarrah berasal dari suku Bani Al-Harits bin Fihr. Menyusul dari suku Makhzum, Abu Salamah bin Abdul Asad dan Al-Arqam bin Abil Arqam, Utsman bin Mazh’un (dan kedua saudaranya; Qudamah & Abdullah), Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib bin Abdu Manaf, Sa’id bin Zaid Al-Adawi & istrinya; Fathimah binti Al-Khaththab Al-Adawiyah (saudari Umar bin Al-Khaththab), Khabbab bin Al-Arat, Abdullah bin Mas’ud Al-Huzali serta banyak lagi selain mereka. Mereka itulah yang dinamakan ‘As-Sabiqun Al-Awwallun’.

Mereka tediri dari semua marga Quraisy yang ada, bahkan Ibnu Hisyam menjumlahnya lebih dari 40 orang. Namun, dalam penyebutan sebagian dari nama-nama tersebut masih perlu diteliti kembali.

‘Ibnu Ishaq berkata’, “…. Kemudian banyak orang yang masuk Islam secara berbondong-bondong, baik laki-laki maupun wanita sampai akhirnya tersiarlah gaung “Islam” di seantero Makkah & menjadi perbincangan banyak orang.

‘Perintah Mendirikan Shalat’, termasuk wahyu pertama yang turun. Ibnu Hajar berkata, “Sebelum Isra’ terjadi, beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdasarkan riwayat yang qath’i (pasti) pernah melakukan shalat, demikian pula para sahabat beliau. Akan tetapi yang diperselisihkan, apakah ada shalat lain yang telah diwajibkan sebelum (diwajibkannya) shalat lima waktu ataukah tidak?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang telah diwajibkan itu adalah shalat sebelum terbit & terbenamnya matahari. ‘Demikian penuturan Ibnu Hajar’.

Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam & para sahabat pergi ke lereng-lereng perbukitan dan menjalankan shalat di sana secara sembunyi-sembunyi jauh dari pandangan kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali waktu melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan Ali melakukan shalat, lantas menegur keduanya namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang serius, dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat).

Meskipun dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi & individu. Namun akhirnya sampai juga ke telinga kaum Quraisy. Hanya saja mereka belum mempermasalahkannya karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak pernah menyinggung agama mereka ataupun tuhan-tuhan mereka.

Tiga tahun berlalu, sementara dakwah masih berjalan secara sembunyi-sembunyi & individu. Terbentuklah kelompok kaum Mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwwah (persaudaraan) dan ta’awun (solidaritas) serta penyampaian risalah & pemantapan posisinya. Kemudian turunlah wahyu yang menugaskan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar menyampaikan dakwah kepada kaumnya secara terang-terangan (Jahriyyah), dan menentang kebatilan mereka serta menyerang berhala-berhala mereka.

In Syaa Allah bersambung minggu depan………

📝 “FOOTNOTES:”

👤 WARAQAH BIN NAUFAL

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya”.[HR. Al-Hakim dalam kitab Al Mustadrak, 2/609, Adz-Dzahabi setuju & menshahihkannya. Lihat Al-Albani, Shahih Al-Jami’ no. 7197. Dan lihat Silsilah Hadits Shahih, nomor 405, dia berkata, ‘Hadits Shahih’]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal”.
Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap Wahyu & niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba. [Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wan-Nihayah, 3/9]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu & berjanji untuk membela Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya”. [Ibnul Qayyim, Zaad Al-Ma’ad, 3/21]

Syaikh Muhammad bin Utsaimin berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal”.(Syaikh Muhammad bin Utsaimin, Syarah Akidah Al-Wasithiyyah, 2/280)

Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya.

Wallahu A’lam.

(Nukilan yang panjang tentang perbedaan pendapat sekitar keislaman Waraqah, yaitu disebutkan alasan & hasil kajian masing-masing adalah Sulaiman Al-Audah dalam kitabnya Assirah An-Nabawiyah dalam 2 kitab shahih dan Ibnu Ishak studi perbandingan tentang periode Makkah, hal. 269-282)

📜 HIKMAH (PELAJARAN) 📜

[A]
ALLAH tidak membebani seseorang, kecuali sesuai kemampuannya, maka apabila ada perintah untuk melakukan amaliah dakwah, lakukanlah sesuai dengan kemampuan dan sejalan dengan manhaj yang benar.

[B]
Tidak tergesa-gesa untuk memetik hasil, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menahan diri, menanti masa berdakwah secara terbuka tiba, yang akan mampu memberikan hasil yang lebih cepat, menunggu waktu yang tepat.

[C]
Seorang da’i mesti mengetahui bahwa setiap manusia memiliki sisi fitrah & kebaikan, Itu dipahami berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Setiap anak manusia yang dilahirkan, lahir dalam keadaan fitrah”.
[Shahih Al-Bukhari, Fathu Al-Bari, 3/254, no. 1385]

Namun fitrah itu tertutupi oleh dosa & noda dan untuk bisa sampai kepada fitrah itu, perlu menanti dengan kesabaran.

[D]
Kita saksikan yang pertama kali menjadi sasaran dakwah adalah seorang wanita, yaitu Khadijah radhiyallahu anha. Dia menerima & masuk Islam. Ini berarti bahwa manusia yang paling pertama masuk Islam adalah wanita. Jadi, wanita mulia karena ia adalah manusia yang pertama diajak, yang pertama menerima, dan yang pertama menolong. Kemudian dimuliakan dengan keberadaanya sebagai manusia pertama yang bertemu ALLAH karena agama ini. Semua itu sangat cukup untuk menjadi bukti bahwa agama Islam sangat menjunjung tinggi harkat & martabat wanita, dan sebagai bantahan atas yang berpendapat bahwa Islam menzhalimi wanita dengan diskriminasi gender.

[E]
Keseriusan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam berdakwah. Dari ‘tangannya telah masuk Islam lima orang yang tergolong 10 sahabat yang diberi kabar gembira sebagai ahli surga’. Dia sendiri tapi gesit dalam mengajak ke jalan dakwah. Dialah ‘manusia pertama yang mengajak ke jalan dakwah dari umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam’. Hal yang menunjukkan bahwa satu jiwa bisa berbuat banyak, itulah yang dikenal dengan ‘dakwah fardiyah’ (dakwah personal) yang bahkan dilalaikan oleh banyak manusia. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

[1]
Dia sebelumnya pernah ditawan & dijadikan budak, lalu dibeli oleh Khadijah dan dihibahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Suatu ketika, ayah dan pamannya mengunjunginya untuk membawanya pulang kepada kaum & keluarga besarnya, namun dia lebih memilih Rasulullah ketimbang keduanya. Beliau pun mengangkatnya sebagai anak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di kalangan bangsa Arab. Karena itu, dia sering disebut sebagai Zaid bin Muhammad. Hingga akhirnya Islam datang dan menghapus tradisi tersebut. Dia meninggal sebagai syahid pada perang Mu’tah, yang saat itu berstatus sebagai panglima laskar, yaitu pada bulan Jumadal Ula tahun 8 Hijriyah.

[2]
Untuk mengetahui julukan beliau ini,
lihat Shahih Al-Bukhari, tentang Manaqib Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, 1/530)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

WAHYU MENGALAMI MASA VAKUM

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————EPISODE 18————–

*⛔🍃 “WAHYU MENGALAMI MASA VAKUM”*

Pada saat wahyu mengalami masa vakum tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dirundung kesedihan yang mendalam serta diselimuti oleh kebingungan & kepanikan.

Dalam kitab “At-Ta’bir”, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebagai berikut:
“Berdasarkan informasi yang sampai kepada kami, wahyu pun mengalami masa vakum sehingga membuat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedih dan berulang berlari kencang agar dapat terjerembab dari puncak-puncak gunung, namun setiap beliau mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau adalah benar-benar utusan ALLAH !’

Spirit ini dapat menenangkan dan menstabilkan kembali jiwa beliau lalu beliau pulang. Namun manakala masa vakum masih berlanjut beliau pun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya. Dan ketika dia mencapai puncak gunung, maka malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya”. [1]

‘Ibnu Hajar Berkata’, “Adanya masa vakum itu bertujuan untuk menghilangkan ketakutan yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan membuatnya penasaran untuk mengalaminya kembali”. [2]

Ketika hal itu benar-benar terjadi pada beliau, dan beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril ‘alaihis sallam untuk kedua kalinya.

Imam-Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menceritakan tentang masa vakum itu,
Beliau bertutur, “Ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit, ternyata malaikat yang telah mendatangiku ketika di gua Hira’, sekarang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun terkejut karenanya hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku pulang kepada keluargaku sembari berkata, ‘Selimuti aku! Selimuti aku!’ Lantas mereka menyelimutiku, maka ALLAH menurunkan Firman-NYA, “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”. [QS. Al-Muddatstsir: 1-5]

Setelah itu Wahyu turun secara berkesinambungan dan teratur. [3]

Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan,
“Aku tinggal di gua Hira’ selama sebulan. Lalu tatkala aku sudah selesai melakukan itu, maka aku turun gunung. Dan ketika aku berada di sebuah lembah, ada suara yang memanggilku…”
(Kemudian diketengahkan teks hadits sebagaimana yang telah disebutkan di atas).

Inti darinya, bahwa ayat tersebut turun setelah beliau menjalani bulan Ramadhan secara penuh di sana. Dengan demikian, berarti masa vakum antara dua Wahyu tersebut berlangsung selama sepuluh hari, sebab beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak lagi menjalani Ramadhan berikutnya di sana setelah turunnya wahyu pertama.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, di mana datang setelah masa kenabian yang berjarak rentang masa vakum turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis ‘taklif’ (tugas syariat) beserta penjelasan konsekuensinya.

Permulaan ayat-ayat tersebut (surat Al-Muddatstsir) berbicara tentang panggilan langit nan agung (melalui suara Dzat Yang Mahabesar dan Mahatinggi) yang menyeru Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar melakukan urusan yang mulia ini dan agar meninggalkan tidur, berselimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang, dan menempuh jalan penuh ranjau. Hal ini tergambar dalam firman-NYA, “Hai orang yang berselimut, bangunlah! Lalu berilah peringatan”. [QS. Al-Muddatstsir: 2]

Seakan-akan dikatakan (kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam),
“Sesungguhnya orang yang hanya hidup untuk kepentingan dirinya saja,
bisa saja hidup tenang dan nyaman sedangkan engkau yang memikul beban yang besar ini,

Bagaimana mungkin engkau tidur?

Bagaimana mungkin engkau istirahat?

Bagaimana mungkin engkau menikmati permadani yang hangat?

Hidup yang tenang dan kesenangan yang membuaikan?

Bangkitlah untuk melakukan urusan maha penting yang sedang menunggumu dan beban berat yang dipersiapkan untukmu!

Bangkitlah untuk berjuang, bergiat-giat, bekerja keras dan berletih-letih!

Bangkitlah!
Karena waktu tidur & istirahat sudah berlalu, dan sejak hari ini, tidak akan kembali lagi.

Yang ada hanyalah mata yang bergadang terus menerus, jihad yang panjang dan melelahkan.

Bangkitlah!
Persiapkan diri menyambut urusan ini dan bersiagalah!”

Maka bangkitlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan dakwah dan terus melakukannya setelah datangnya perintah itu selama lebih dari 20 tahun, tanpa sempat beristirahat maupun menikmati hidup untuk kepentingan dirinya maupun keluarganya.

Bangkit & tetap bangkit menegakkan dakwah kepada ALLAH, mengembankan di pundaknya beban yang amat berat dan sarat, namun beliau tidak merasa berat dan terbebani.

Beban amanah yang sangat besar di muka bumi ini, beban umat manusia secara keseluruhan, beban akidah secara keseluruhan dan beban perjuangan dan jihad di medan-medan yang berbeda. Beliau hidup menghadapi pertempuran terus menerus yang tiada henti selama lebih dari 20 tahun. Selama tenggang waktu ini, tidak satu pun hal yang dapat membuatnya lengah, yaitu sejak beliau mendengar panggilan langit nan agung, yang beliau terima darinya tugas yang mendebarkan. Semoga ALLAH membalas jasa beliau terhadap manusia secara keseluruhan dengan sebaik-baik imbalan. [4]

In Syaa Allah bersambung minggu depan……

*📝 “FOOTNOTES:”*

*📜 HIKMAH (PELAJARAN)*

[A]
Maksud dengan adanya kevakuman Wahyu terhadap diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah agar rasa takutnya hilang dan agar kerinduan untuk bertemu kembali lahir. Setelah rasa takutnya hilang dan hatinya mulai tenteram, hakikat kebenaran telah disadarinya dan kesiapan untuk menghadapi wahyu telah tegar, maka datanglah Jibril membawa wahyu berikutnya. [5]

[B]
Termasuk bagian dari hikmah, kevakuman wahyu adalah hak ALLAH yang DIA turunkan kapan saja yang DIA kehendaki, Sementara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memiliki hak memajukan ataupun memundurkan.

[C]
Kita harus ingat bahwa perintah untuk berdakwah datang mengawali semua perintah secara keseluruhan, lalu kenapa manusia lalai darinya & mengalihkan perhatian kepada perintah yang lain. Seharusnya semua amalan itu diindahkan. Apabila ada orang yang dikatakan kepadanya, “Bangkitlah dan serukanlah kebenaran”.
Mestinya tidak kaget yang mengakibatkan bangkit dengan terperangah seakan ada sesuatu yang membahayakan karena cobalah renungkan, “Apakah ada yang lebih berbahaya daripada seorang mati dalam kondisi kafir?”,
Mengapakah kita tidak menyadari makna ini, padahal ini dalam Al-Qur’an!? [Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

[1] Shahih Al-Bukhari, kitab At-Ta’bir, bab Awwalu Ma Budi’a bihi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam min al-Wahyi’ ar-Ru’ya ash-Shadiqah, 2/10340.

[2] Fath Al-Bari, op.cit., 1/27.

[3] Shahih Al-Bukhari, op.cit., Kitab At-Tafsir, bab Warrujjza Fahjur, 2/733.

[4] Fi Zhilalil Qur’an, tafsir dua surat, yaitu surat al-Muzzammil dan al-Muddatstsir, Juz 29, hal. 168-171 dan 182.

[5] Ibnu Hajar, Fathu Al-Bari, 1/27.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

JIBRIL ‘alaihis sallam TURUN MEMBAWA WAHYU

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 17 —————

“JIBRIL ‘alaihis sallam TURUN MEMBAWA WAHYU” 🌌

Tatkala usia beliau genap 40 tahun (yang merupakan puncak kematangan, ada pula yang menyatakan bahwa di usia inilah para rasul diutus), Tanda-tanda nubuwwah (kenabian) nampak dan bersinar, di antaranya; Adanya sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepada beliau, beliau juga tidak bermimpi kecuali sangat jelas, sejelas Fajar shubuh yang menyingsing.

Hal ini berlangsung hingga 6 bulan (sementara masa kenabian selama 23 tahun) sehingga ru’ya shadiqah (mimpi yang benar) merupakan bagian dari 46 tanda kenabian. Ketika pengasingan dirinya (uzlah) di gua Hira’ memasuki tahun ketiga, tepatnya di bulan Ramadhan, ALLAH menghendaki rahmat-NYA terlimpahkan kepada segenap penduduk bumi, lalu dimuliakanlah beliau dengan mengangkatnya sebagai nabi, lalu Jibril turun kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an.

Setelah memperhatikan & mengamati beberapa bukti penguat dan dalil-dalil, kita dapat menentukan terjadinya peristiwa tersebut secara tepat, yaitu pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, di malam hari, bertepatan dengan 10 Agustus 610 M. Tepatnya beliau saat itu sudah berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut Kalender Hijriah dan sekitar usia 39 tahun, 3 bulan, 20 hari berdasarkan kalender Masehi.

‘Aisyah radhiyallahu anha berkata’, “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah berupa ar-ru’ya ash-sahlihah (mimpi yang benar) dalam tidur. Beliau tidak bermimpi melainkan sangat jelas, sejelas Fajar shubuh yang menyingsing, kemudian beliau mulai suka menyendiri dan beliau melakukannya di gua Hira’; di mana beliau beribadah di dalamnya selama beberapa malam. Selanjutnya kembali ke keluarganya & mengambil perbekalan untuk itu, kemudian kembali lagi kepada istrinya, Khadijah, dan mengambil perbekalan yang sama. Hingga akhirnya, pada suatu hari, datanglah kebenaran kepadanya saat beliau berada di gua Hira’ tersebut.

Seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata, ‘Bacalah!’
(beliau berkata) lalu aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’
Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam bertutur lagi, ‘Kemudian dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, ‘Bacalah!’

Aku tetap menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’

Lalu untuk kedua kalinya, dia memegang dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga kemudian melepaskanku seraya berkata lagi, ‘Bacalah!’

Aku tetap menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca!’

Kemudian dia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, sembari berkata, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu-lah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qolam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’ [QS. Al-Alaq: 1-5]

Setelah itu Rasulullah pulang dengan merekam bacaan tersebut dalam kondisi gemetar, lantas menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid, sembari berucap, ‘Selimuti aku! Selimuti aku!’

Beliau pun diselimuti hingga rasa takutnya hilang. Beliau bertanya kepada Khadijah, ‘Ada apa denganku ini?’

Lantas beliau menuturkan kisahnya (dan berkata), ‘Aku amat khawatir terhadap diriku!’

Khadijah berkata, ‘Sekali-kali tidak akan demikian!
Demi ALLAH!
DIA tidak akan menghinakanmu selamanya!
Sungguh engkau adalah penyambung tali kerabat, pemikul beban orang lain yang mendapatkan kesusahan, pemberi orang yang papa, penjamu tamu serta pendukung setiap upaya penegakan kebenaran’.

Kemudian Khadijah berangkat bersama beliau menemui ‘Waraqah bin Naufal bin Asan bin Abdul Uzza’, sepupu Khadijah.

Dia adalah seorang penganut agama Nasrani pada masa Jahiliyah dan mampu menukil beberapa tulisan dari Injil dengan tulisan Ibrani sebanyak yang mampu ditulisnya (atas kehendak ALLAH). Dia juga seorang yang sudah tua renta dan buta. Maka berkatalah Khadijah kepadanya, ‘Wahai sepupuku!
Dengarkanlah (cerita) dari keponakanmu ini!’

Waraqah berkata, ‘Wahai keponakanku! Apa yang engkau lihat?’

Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam membeberkan pengalaman yang sudah dilihatnya. Waraqah berkata kepadanya, ‘Itu adalah makhluk kepercayaan ALLAH (Jibril) yang telah ALLAH utus kepada Nabi Musa!
Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu!
Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!’

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’

Dia menjawab,
‘Ya, tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa ini melainkan akan dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada saat itu niscaya aku akan membelamu dengan segenap jiwaragaku’.

Kemudian tak berapa lama dari itu,
Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus (mengalami masa vakum)”. [Shahih Al-Bukhari, I/2,3. Al-Bukhari juga mengeluarkannya dii dalam kitab At-Tafsir dan Kitab Ta’bir Ar-Ru’ya namun lafazhnya sedikit berbeda)

In Syaa Allah bersambung ahad besok

📝 “FOOTNOTES:” 📝

IBNU HAJAR Berkata, ‘Al-Baihaqi mengisahkan bahwa masa ru’ya (mimpi) berlangsung selama 6 bulan. Berdasarkan hal ini, maka permulaan kenabian dengan adanya ru’ya tersebut terjadi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awal, setelah genap berusia 40 tahun. Sedangkan wahyu dalam kondisi terjaga terjadi pada bulan Ramadhan’. [Fath Al-Bari, 1/27]

‘Dari Abi Qatadah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah ditanya tentang puasa pada hari Senin’, dia berkata, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan, dan hari saya mendapatkan wahyu”. [Shahih Muslim, 1/819]. Oleh karena itu, hari dimulai wahyu adalah hari senin.

📜 HIKMAH (PELAJARAN) 📜

[1]
Jibril memeluk dengan keras Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sampai 3 kali. Dari kejadian itu, Syuraih Al-Qadhi mengambil kesimpulan bahwa seorang tidak boleh memukul anak untuk belajar Al-Qur’an lebih dari 3 kali, sebagaimana Jibril hanya memeluk dengan keras yang menyebabkan tersesak hanya 3 kali.

[2]
Ilmu adalah simbol (inti) dari agama ini, wahyu dimulai dengan kata, “bacalah”, dengan demikian, setiap muslim dituntut untuk membaca dan menganalisa, untuk mengamalkan ‘taujih Rabbani’ (arahan ilahi) ini yang mengawali wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

[3]
Disandingkannya qira’at (perintah untuk membaca, belajar) dengan nama ALLAH memberikan isyarat bahwa ilmu harus dibarengi dengan keimanan & ilmu yang benar adalah yang bisa mengantarkan kepada keimanan.

[4]
Rasulullah datang menemui Khadijah radhiyallahu anha dalam kondisi tegang & takut, tetapi langkah awal yang dilakukan Khadijah bukan mengejar dengan pertanyaan dan meminta penjelasan secara rinci, tetapi langkah paling pertama yang dia lakukan adalah menenangkannya. Orang yang sedang kaget tidak pantas ditanyai sesuatu hingga hilang ketakutannya. Imam Malik berkata, “Orang yang ketakutan tidak sah jual belinya, Iqrar (pengakuan) dan lainnya”.

[5]
Seorang yang menghadapi masalah mestinya tidak dirahasiakan sendiri,
dan dianjurkan agar membicarakan kepada orang yang dia percayai untuk bisa memberikan masukan dan pandangan.

[6]
Akhlak yang mulia & budi pekerti yang baik adalah sarana untuk terhindar dari kejahatan & malapetaka,
siapa yang banyak kebaikannya,
maka kesudahannya akan berujung pada kebaikan dan akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

[7]
Perkataan Waraqah radhiyallahuanhu, “Tidak ada Nabi yang tidak dimusuhi oleh kaumnya”.

Dalam riwayat lain, Waraqah berkata, “Tidak ada orang yang membawa (ajaran) seperti yang kamu bawa, kecuali dia disakiti”.

Berdasarkan penjelasan di atas, suatu masalah penting yaitu seorang da’i kepada ALLAH Ta’ala pasti akan menghadapi musuh ketika melakukan amal dakwah.

ALLAH Ta’ala berfirman, “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong”. [QS. Al-Furqan ayat 31]

Syaikh Abdul Rahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Siapa saja yang komitmen dengan Islam dan mengajak kepadanya, maka dia telah menanggung beban amanah yang tinggi dan telah meniti misi seorang Rasul dalam berdakwah, dan dia telah memasuki area pertarungan antara manusia dengan syahwat dan hawa nafsu, dan keyakinan yang batil. Pada saat itu, orang tersebut pasti menghadapi rintangan. Oleh karena itu, hendaknya dia selalu bersabar & berupaya untuk mendapatkan pertolongan ALLAH”. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

DI GUA HIRA’

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 16 —————

*⛰ “ DI GUA HIRA’ ” ⛰*

Tatkala usia beliau sudah mendekati 40 tahun dan perenungannya terdahulu telah memperluas jurang pemikiran antara diri beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan kaumnya, beliau mulai suka mengasingkan diri. Karenanya, beliau biasa membawa roti gandum & bekal air menuju Gua Hira’ yang terletak di ‘Jabal Nur’, yaitu sejauh hampir 2 mil dari Makkah.

Gua ini merupakan gua yang sejuk,
panjangnya 4 hasta, lebarnya 1.75 hasta dengan ukuran dzira’ al-Hadid (hasta ukuran besi). Beliau tinggal di dalam gua tersebut bulan Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang mengunjunginya, menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir mengenai pemandangan alam di sekitarnya dan kekuasaan yang menciptakan sedemikian sempurna di balik itu.

Beliau tidak dapat tenang melihat kondisi kaumnya yang masih terbelenggu oleh keyakinan syirik yang usang & gambaran tentangnya yang demikian rapuh, akan tetapi beliau tidak memiliki jalan yang terang, manhaj yang jelas ataupun jalan yang harus dituju, yang berkenan di hatinya dan disetujuinya.

Pilihan mengasingkan diri (uzlah) yang diambil oleh beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam ini merupakan bagian dari tadbir (skenario) ALLAH terhadapnya.
Juga, agar terputusnya kontak dengan kesibukan-kesibukan duniawi, goncangan kehidupan dan ambisi-ambisi kecil manusia yang mengusik kehidupan menjadi sebagai suatu perubahan, untuk kemudian mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga siap mengemban amanah yang agung, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah.

Uzlah yang sudah diatur oleh ALLAH ini terjadi 3 tahun menjelang beliau diangkat sebagai rasul. Beliau menjalani uzlah selama sebulan dengan semangat hidup yang penuh kebebasan & merenungi keghaiban yang tersembungi di balik kehidupan tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengannya saat ALLAH memperkenankannya. [Kisah aslinya dapat dilihat pada Shahih Al-Bukhari, Jilid. 3; Sirah Ibnu Hisyam, op.cit., 1/235-236]

Ketika masa kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebentar lagi tiba, di kalangan bangsa-bangsa lain, telah tersebar berita bahwa ALLAH Ta’ala akan mengutus seorang Nabi pada zaman ini dan masa itu telah dekat. Mereka yang mempunyai kitab mengenal hal tersebut dari kitab mereka. Sementara yang tak berkitab, mereka mengenalnya dari tanda-tanda lain.

‘Ibnu Ishak berkata,’ “Para pendeta dari Yahudi (Al-Ahbar) dan para pendeta dari Nashrani (Ar-Ruhban) & dukun-dukun dari kalangan Arab, mereka semua telah ramai membicarakan Nabi terakhir menjelang kedatangannya. Adapun pada pendeta Yahudi dan Nashrani sumber berita mereka adalah berdasarkan pesan-pesan dari kitab mereka tentang ciri-ciri Nabi itu dan ciri-ciri zaman ketika nabi itu akan diutus. Adapun para dukun, maka sumber beritanya adalah para jin yang telah menguping dan merekalah yang memberitahukan kepada para dukun itu. Dukun wanita dan laki-laki selalu menyebut hal itu, tetapi bangsa Arab tidak menghiraukannya hingga ALLAH mengutus Nabi itu, dan apa yang mereka sebutkan itu ternyata benar terbukti. Maka pada saat itulah, bangsa Arab baru menyadarinya.”

Di antara yang selalu dibicarakan oleh kaum Yahudi & Nashrani mengenai Nabi adalah riwayat yang menjelaskan bahwa seorang Yahudi dari tetangga Bani Abdu Al-Asyhal di Madinah, dia bercerita kepada mereka tentang hari kebangkitan, perhitungan, timbangan, surga dan neraka. Warga Madinah mengingkarinya dan meminta tanda dan buktinya, hingga orang Yahudi itu berkata, “Akan datang seorang Nabi yang diutus dari sekitar wilayah ini”, sambil menunjuk ke arah Yaman dan Makkah.

Kisah Ibnu Al-Haiban yang telah datang dari Syam menuju Madinah beberapa tahun menjelang kenabian,
dia menjelaskan kepada orang Yahudi di Madinah tentang sebab kedatangannya yaitu karena memperkirakan akan datangnya seorang Nabi yang akan dia ikuti, ‘kemudian mengajak orang Yahudi untuk mengikutinya’.

Kisah Salman Al-Farisi yang datang dari Persia mencari agama yang benar, hingga pendeta memberikan petunjuk tentang tempat akan diutus & telah dekatnya masa itu.

‘Ibnu Katsir rahimahullah berkata,’
“Ulama berbeda pendapat tentang ibadah beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebelum kenabian apakah sesuai dengan syariat atau tidak, kalau sesuai, maka syariat itu bentuknya apa?
Ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Nuh ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam dan itulah yang lebih dekat dan lebih kuat. Ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Musa ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Isa ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan bahwa semua yang dia ketahui bahwa itu adalah pernah disyariatkan, maka dia ikuti & amalkan.”

‘Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata’, “Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam naik ke Gua Hira’ kemudian ber-takhannuts dan beribadah kepada ALLAH Azza wa Jalla sesuai dengan yang ALLAH berikan petunjuk kepadanya”.

In Syaa Allah bersambung minggu depan……

📝 “FOOTNOTES:”

📜 HIKMAH (PELAJARAN)

[1]
Pentingnya mengikuti kejadian yang sedang berlangsung dan mengaitkannya dengan nash-nash syar’i, kemudian mengambil pelajaran darinya dalam memprediksikan masalah yang akan datang, karena mereka yang memiliki pengetahuan dan mengikuti perkembangan berita, mereka itulah yang mengetahui dekatnya masa kedatangan Nabi akhir zaman. Sementara mereka yang tidak mengikuti perkembangan dan tidak peduli dengan fenomena kejadian, mereka itulah yang menganggap masa kenabian sebagai kejadian yang mengagetkan dan asing.

[2]
Bahwa apa yang kita rasakan sekarang ini, dari semakin banyaknya penganut agama Islam, semangat yang tinggi untuk mengenalnya & mengamalkan ajarannya adalah bukan sesuatu yang kebetulan. Sebagaimana Yahudi dan Nashrani serta para paranormal mengenal masa kenabian, kita juga menemukan orang yang menulis fenomena maraknya manusia dewasa ini untuk mengenal Islam bukanlah termasuk meraba-raba perkara ghaib, tetapi pengamatan dan penelitianlah yang mengantar mereka sampai kepada prediksi itu.

[3]
Pentingnya khalwat (menyendiri) dalam kehidupan seorang muslilm,
menyendiri, menginstropeksi diri, merenungi ketidakberdayaannya di hadapan kekuasaan ALLAH, dan ber-tafakkur tentang alam semesta ini, dengan berupaya mengambil 2 pelajaran utama dari penyendirian itu:

a) Mengenal kekurangan diri seperti ‘ujub (menyombongkan kebaikannya), kibir (merendahkan orang lain), dengki, riya dan lain-lain, kemudian beristighfar, bertaubat, dan kembali kepada ALLAH Ta’ala

b) Berdzikir kepada ALLAH Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-NYA, serta mengingat surga dan neraka serta hari akhirat, dan perjalanan akhir seorang manusia, dan hal-hal lainnya yang bisa mengantarkan kepada ketaatan, dan jauh dari kemaksiatan.

[4]
Yang dimaksud dengan khalwat (menyendiri) yang dianjurkan adalah bukan khalwat dengan cara-cara yang menyimpang, melainkan meluangkan waktu untuk beribadah kepada ALLAH, dan menjadikan ibadah ini sebagai sarana menambah ketaatan dan menghadapi rintangan-rintangan kehidupan dunia. Seperti bangkit di malam hari untuk shalat tahajjud, qiyamullail dan membaca Al-Qur’an. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “ALLAH Ta’ala turun setiap malam ke langit bumi pada waktu sepertiga malam terakhir kemudian berkata, “Siapa yang minta kepada-KU, maka akan AKU penuhi permintaannya, siapa yang memohon kepada-KU, maka akan AKU berikan permintaannya dan siapa yang beristighfar, maka AKU ampuni dosanya”. [Shahih Muslim, 1/521, hadits no. 758]

ALLAH Ta’ala berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu Perkataan yang berat”. [QS. Al-Muzzammil ayat 1-5]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

KEISTIMEWAAN SEBELUM KENABIAN

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 15 —————

*🌴 “KEISTIMEWAAN SEBELUM KENABIAN”*

Sesungguhnya dalam perkembangan hidupnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah mengoleksi sebaik-baik keistimewaan yang dimiliki oleh masyarakat kala itu. ‘Beliau adalah tipe ideal dari sisi kejernihan berpikir dan ketajaman pandangan’. Beliau memiliki porsi kecerdikan yang lebih, orisinilitas pemikiran dan ketepatan sarana dan tujuan. Diamnya yang panjang, beliau gunakan untuk merenung yang lama, memusatkan pikiran serta memantapkan kebenaran.

Dengan akalnya yang subur & fitrahnya yang suci, beliau memonitor lembaran kehidupan, urusan manusia & kondisi banyak kelompok. Karenanya, ‘Beliau tidak mengacuhkan segala bentuk khurafat & menjauhkan diri dari hal itu’.

Beliau berinteraksi dengan manusia secara ‘bashirah’ (penuh pertimbangan) terhadap urusannya dan urusan mereka. Mana urusan yang baik, beliau ikut berpartisipasi di dalamnya dan jika tidak, beliau lebih memilih untuk mengasingkan diri.

Beliau tidak pernah minum khamar,
tidak pernah makan daging yang dipersembahkan kepada berhala,
tidak pernah menghadiri hari-hari besar berhalaisme ataupun pesta-pestanya bahkan dari sejak masa kanak-kanaknya sudah menghindari sesembahan yang batil tersebut.
Lebih dari itu, tidak ada sesuatu pun yang paling dibencinya selain hal itu bahkan saking bencinya, beliau tidak dapat menahan diri bila mendengar sumpah dengan nama ‘Lata’ dan ‘Uzza’.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa berkat ‘takdir Ilahi’-lah, beliau diliputi penjagaan dari hal tersebut. Manakala hawa nafsu menggebu-gebu untuk mengintai sebagian kenikmatan duniawi dan rela mengikuti sebagian tradisi tak terpuji, ketika itulah ‘Inayah Rabbaniyyah’ menyusup dan menghalanginya dari melakukan hal-hal tersebut.

‘Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah’, dia berkata, “Ketika Ka’bah direnovasi, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan Abbas mengangkuti bebatuan, lalu Abbas berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

‘Gantungkan kainmu ke atas lehermu agar kamu tidak terluka oleh bebatuan’,

namun beliau tersungkur ke tanah karena kedua mata beliau menengadah ke langit, tak berapa lama kemudian beliau baru tersadar, sembari berkata, ‘Mana kainku, mana kainku!’ ,

Lalu beliau mengikat kembali kain tersebut dengan kencang”. [Shahih Al-Bukhari, bab Bunyanil Ka’bah, 1/540]

Dalam riwayat yang lain disebutkan,
“Maka setelah itu, aurat beliau tidak pernah lagi terlihat.”

DI kalangan kaumnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memilliki keistimewaan dalam tabiat yang baik, akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji. ‘Beliau merupakan orang yang paling utama dari sisi muru’ah (penjagaan kesucian & kehormatan diri)’,
paling baik akhlaknya,
paling agung dalam bertetangga,
paling agung sifat bijaknya,
paling jujur bicaranya,
paling lembut wataknya,
paling suci jiwanya,
paling dermawan dalam kebajikan,
paling baik dalam beramal,
paling menepati janji serta paling amanah sehingga beliau dijuluki oleh mereka sebagai ‘Al-Amin’.

Semua itu karena pada diri beliau terkoleksi kepribadian yang shalih & pekerti yang disenangi. Akhlak beliau adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ummul Mukminin, Khadijah radhiyallahu anha, “Engkau adalah orang yang memikul beban si lemah, memberi nafkah si papa (orang yang tidak memiliki apa-apa), menjamu para tamu dan selalu menolong dalam upaya penegakan segala bentuk kebenaran.” [Shahih Al-Bukhari]

In Syaa Allah berlanjut ahad besok

📝 “FOOTNOTES:” 📝

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam semenjak masa kecil hidup dalam akidah yang benar, tidak terpengaruh dengan akidah & moral jahiliyah, walaupun dikelilingi oleh agama dan budaya. Beliau selalu Lestari dalam keistimewaannya:

[1]
Beliau menghina patung-patung yang disembah oleh kaumnya itu. Beliau mengetahui bahwa patung-patung tersebut tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat.

[2]
Beliau sama sekali tidak pernah meminum khamar & tidak pernah mendekati kemaksiatan, dan tidak terlibat dalam permainan judi, atau permainan tidak berguna, walaupun beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam senantiasa bergaul bersama masyarakatnya, hidup dengan mereka, dan menemani mereka dalam aktivitas keseharian yang dibolehkan.

[3]
Ada ke-ma’shum-am yang menjaganya dari kesalahan-kesalahan moral.

[4]
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dikenal dengan kejujurannya, tidak pernah sekali kesempatan pun didapati beliau berbohong. Hal itu dibenarkan tatkala beliau naik ke bukit Shafa’ kemudian memanggil manusia, yaitu setelah mereka bertanya siapa yang memanggil dan mengetahui bahwa dia itu adalah Muhammad,
kemudian setelah mereka berkumpul,
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata,

“Bagaimanakah pandangan kalian kalau saya berkata bahwa pasukan berkuda akan muncul dari lereng gunung sana, apakah kalian mempercayai saya?”

Mereka semua berkata, “Kami belum pernah menemukan kamu berbohong”.

Dia berkata, “Saya adalah pemberi peringatan yang diutus kepada kalian sebelum datangnya hari pembalasan yang pedih”. [Shahih Al-Bukhari bersama Al-Fathu, 8/337 hadits no. 4471, kitab At-Tafsir, bab surat Tabbat Yada Abi Lahab]

Mereka di sini, di depan banyak manusia berkata, “Kami tidak pernah mendengar kamu berbohong, kamu dikenal sebagai orang yang terpercaya semenjak kecil”. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Sirah Nabawiyyah

MEMBANGUN KA’BAH

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 14 —————

*🕋 “MEMBANGUN KA’BAH” 🕋*

Pada saat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam berusia 35 tahun, kabilah quraisy membangun kembali Ka’bah karena kondisi fisiknya sebelum itu hanya berupa tumpukan-tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi 9 hasta sejak dari masa Nabi Ismail ‘alaihis sallam dan tidak memiliki atap sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri.

Karena merupakan peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan & merontokkan sendi-sendinya. 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, Makkah pernah dilanda banjir bandang, sampai masuk ke Masjidil Haram sehingga bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya & bersepakat untuk tidak membangunnya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mengambilnya dari dana mahar yang didapat secara zhalim, transaksi ribawi dan hasil tindak kezhaliman terhadap seseorang.

Semula mereka segan merobohkan bangunannya, hingga akhirnya diprakarsai oleh ‘Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi’. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya.

Mereka terus merobohkan hingga sampai ke pondasi pertama yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam. Mereka memulai membangun kembali, dengan cara membagi-bagi per bagian bangunan Ka’bah, masing-masing kabilah mendapat 1 bagian. Setiap kabilah mengumpulkan batu sesuai jatahnya, dan dimulailah pembangunan. Pimpinan proyeknya adalah arsitek asal Romawi bernama ‘Baqum’.

Tatkala pengerjaan sampai kepada peletakan ‘Hajar Aswad’, mereka bertikai tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkannya ke tempat semula. Bani Abdul Ad-Dar mendekatkan bejana berisi darah, kemudian mereka bersama Bani Adi Ka’ab bin Luai bersumpah untuk siap mati dan kondisi menegangkan itu berlangsung selama 4 atau 5 malam, bahkan semakin meruncing hingga hampir terjadi peperangan dahsyat di tanah al-Haram.

Untunglah ‘Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi’ menawarkan penyelesaian pertikaian dengan satu cara, yaitu menjadikan pemutus perkara tersebut kepada siapa yang paling pertama memasuki pintu masjid. Tawaran ini diterima oleh semua pihak, dan atas kehendak ALLAH Ta’ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lah orang yang pertama memasukinya.

Tatkala melihatnya, mereka saling menyeru, “Inilah Al-Amin (orang yang amanah)!”

Kami rela!

Inilah Muhammad!”

Dan ketika beliau mendekati mereka dan memberitahukan kepadanya tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengahnya, lalu meminta agar semua kepala kabilah yang bertikai memegangi ujung-ujung selendang tersebut dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi hingga manakala mereka telah mengangkatnya sampai ke tempatnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang membuat semua pihak rela.

Namun, Orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga meninggalkan pembangunan Ka’bah sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan ‘Hijr Ismail’ dan ‘Al-Hathim’ lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang memasukinya kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan 6 buah tiang.

Setelah proyek renovasi selesai, Ka’bah tersebut berubah jadi berbentuk kubus dengan tinggi +- 15 meter, panjang sisi yang berada di bagian Hajar Aswad adalah 10 meter & bagian depan yang berhadapan dengannya 10 meter.

Hajar Aswad sendiri dipasang di atas ketinggian 1,5 meter dari permukaan lantai dasar thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu depan yang sehadapan dengannya adalah 12 meter, sedangkan tinggi pintunya adalah 2 meter dari atas permukaan tanah. Dan dari bagian luarnya dikelilingi oleh tumpukan batu bangunan, tepatnya di bagian bawahnya, tinggi rata-ratanya adalah 0,25 meter dan lebar rata-ratanya 0,30 meter. Bagian terakhir ini dikenal dengan nama ‘Asy-Syadzirwan’ yang merupakan bagian dari pondasi asal Ka’bah akan tetapi orang-orang Quraisy membiarkannya.

Bersambung minggu depan In Syaa Allah……..

📝 “FOOTNOTES:”

‘KA’BAH Pada Waktu Itu’ (tidak diberi atap), kainnya ditutupkan di atasnya lalu terurai ke bawah, dan memiliki dua sudut. Rumah-rumah penduduk mengelilingi Ka’bah. Pada riwayat Bukhari dari Amr bin Dinar dan Ubaidillah bin Abi Yazid berkata,

“Pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Ka’bah tidak memiliki tembok yang mengelilinginya, hingga tibalah masa Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dan membangun sekelilingnya tembok penghalang,

Ubaidillah berkata, ‘Dinding Ka’bah pendek kemudian dibangun oleh Ibnu Az-Zubair’.” [Shahih Al-Bukhari dengan Fathu Al-Bari, 7/146. Hadits no. 3830]

Oleh karena itu, apabila hujan datang, maka selalu berhadapan dengan air deras yang mengalir dari gunung Makkah, karena tidak ada tembok di sekelilingnya yang bisa menghalaunya.

‘Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma Berkata’, “Tatkala Ka’bah dibangun, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pergi bersama Al-Abbas radhiyallahu anhu; Mereka berdua mengangkat batu, kemudian Al-Abbas berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ‘Letakkan sarung kamu di atas pundakmu agar batu tidak melukaimu, tetapi tiba-tiba dia terjatuh ke tanah dan matanya melihat ke langit, dan setelah tersadar dia berkata, ‘Sarungku, sarungku, kemudian Al-Abbas menutupkan kembali sarungnya’.’’ [Shahih Al-Bukhari bersama Al-Fathu, Kitab Manaqib Al-Anshar bab Bunyan Al-Ka’bah, 7/145]

📜 HIKMAH (PELAJARAN)

Ketika mereka membuat aturan untuk tidak menginfakkan harta haram hasil prostitusi, kezhaliman, dan riba, menunjukkan bahwa orang Arab memahami tentang kejinya memakan riba. Itulah sebabnya mereka tidak menerimanya dalam pembangunan Ka’bah, lalu komentar apa yang akan kita katakan terhadap fenomena ini kepada mereka sebelum datangnya cahaya Islam yang berupaya untuk tidak melibatkan harta yang haram dari transaksi riba dalam neraca kehidupan mereka. Sementara sekarang setelah datangnya cahaya Islam, setelah harta sudah melimpah ruah, ternyata transaksi riba semakin semarak dalam kehidupan masyarakat Islam dan telah menjadi masalah yang tidak diingkari lagi’. Bahkan sebagian umat Islam malah menjadi pemilik saham pada bank konvensional yang produk utamanya adalah transaksi riba.

Orang kafir Makkah sepakat tentang haramnya riba. Mereka mengantisipasi harta riba itu jangan sampai masuk ke dalam pembangunan Ka’bah. Sementara itu di antara umat Islam, ada yang memasukkan bagian dari makanan dan minumannya dari harta riba, biaya makan dan tempat tinggal anak-anak mereka dari harta riba. Kalau demikian masalahnya, lalu apa yang baru yang telah dibawakan oleh Islam kepada kita, kalau ternyata kita masih mengabaikan masalah yang pada zaman jahiliyah saja dihindari. Riba itu adalah perang orang Yahudi terhadap harta kita, hingga harta menjadi penyebab seorang lupa dengan aturan agamanya, menyebabkan urusan agama mereka ternodai dengan harta yang haram.[Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:
– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah