Categories
Tauhid

Syafa’at

Bab 17

Syafa’at

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَاَنْذِرْ بِهِ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْ يُّحْشَرُوْۤا اِلٰى رَبِّهِمْ لَـيْسَ لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ وَلِيٌّ وَّلَا شَفِيْعٌ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
“Peringatkanlah dengannya (Al-Qur’an) itu orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya (pada hari Kiamat), tidak ada bagi mereka pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah, agar mereka bertakwa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 51)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ لِّـلّٰـهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا ۗ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“Katakanlah, Pertolongan (Syafa’at) itu hanya milik Allah semuanya. Dia memiliki kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 44)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ
“Katakanlah (Muhammad), Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 22)

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ لَهٗ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا مَاذَا ۙ قَالَ رَبُّكُمْ ۗ قَالُوا الْحَـقَّ ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ
“Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab, (Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 23)

Abul ‘Abbas mengatakan, Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain Diri-Nya sendiri, dengan menyatakan bahwa tak seorang pun selain Allah mempunyai kekuasaan, atau sebagainya, atau pembantu Allah. Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan Allah bahwa syafa’at ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah untuk memperolehnya, sebagaimana firmanNya,

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (Al-Anbiya’: 28)

Syafa’at yang diperkirakan oleh kaum musyrikin inilah yang tidak ada pada hari Kiamat, sebagaimana dinyatakan demikian oleh Al-Qur’an.

Dan diberitakan oleh Nabi bahwa beliau pada hari Kiamat akan datang bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala puji kepadaNya. Beliau tidak langsung dengan memberi syafa’at lebih dahulu. Setelah itu barulah dikatakan kepada beliau,

“Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya akan didengar yang kamu katakan, mintalah niscaya akan diberikan apa yang kamu minta, dan berilah syafa’at niscaya akan diterima syafa’at yang kamu berikan itu.”(H.R. Bukhori dan Muslim)

Abu Hurairah telah bertanya kepada beliau, “Siapakah oreng paling beruntung dengan syafa’at engkau?” beliau menjawab, “Ialah orang yang mengucapkan ‘La Ilaha Illallah’ dengan ikhlas dari dalam hatinya.” (H.R. Imam ahmad dan Bukhori)

Syafa’at yang ditetapkan ini adalah syafa’at untuk Ahlul Ikhlas wat-Tauhid (orang yang mentauhidkan Allah dan memurnikan ibadah kepada Nya.), dengan seizin Allah dan bukan untuk mereka yang berbuat syirik kepadaNya. Dan pada hakekatnya, bahwa Allah-lah yang melimpahkan karuniaNya kepada Ahlul Ikhlash wat-Tauhid dengan memberikan maghfirah kepada mereka melalui doa orang yang diizinkan Allah untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan orang itu dan menerimakan kepadanya Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan terpuji).

Jadi syafa’at yang dinyatakan tidak ada oleh Al-Qur’an, adalah apabila ada sesuatu syirik di dalamnya. Untuk itu Al-Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayat bahwa syafa’at adalah dengan izin dari Allah; dan Nabi sudah menjelaskan bahwa syafa’at hanyalah untuk Ahlut-Tauhid wal-Ikhlash.

Kandungan Bab ini

1. Tafsiran ayat ini tersebut di atas.

2. Syafa’at yang dinyatakan tidak ada, adalah syafa’at yang terdapat di dalamnya unsur syirik.

3. Syafa’at yang ditetapkan, adalah syafa’at untuk Ahlut Tauhid wal-Ikhlash dengan izin dari Allah.

4. Disebutkan tentang syafa’at kubra, yaitu Al-Maqam Al-Mahmud.

5. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika hendak memberi syafa’at, bahwa beliau tidak langsung memberi syafa’at terlebih dahulu, akan tetapi bersujud dan menghaturkan segala puji kepada Allah. Maka apabila telah diizinkan Allah, barulah beliau memberi syafa’at.

6. Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa’at beliau?

7. Syafa’at tidak diberikan kepada orang yang berbuat syirik kepada Allah.

8. Keterangan tentang hakikat syafa’at.

Semoga bermanfaat

Categories
Tauhid

Keadaan Para Malaikat, Sebagai Makhluk Allah Yang Paling Perkasa, Dan Rasa Takut Mereka Ketika Turun Wahyu Dari Allah

Bab 16

Keadaan Para Malaikat, Sebagai Makhluk Allah Yang Paling Perkasa, Dan Rasa Takut Mereka Ketika Turun Wahyu Dari Allah

Bab ini menjelaskan bukti lain yang menunjukkan kebatilan syirik dan hanya Allah yang berhak diibadahi dengan segala macam ibadah. Karena apabila para malaikat, sebagai makhluk yang amat perkasa dan paling kuat, bersimpuh sujud di hadirat Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar tatkala mendengar firman-Nya, maka tiada yang berhak dengan ibadah, puja dan puji, sanjungan dan pengagungan kecuali Allah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ لَهٗ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا مَاذَا ۙ قَالَ رَبُّكُمْ ۗ قَالُوا الْحَـقَّ ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ
“Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab, (Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 23)

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda,

Apabila Allah telah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan).

Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang difiirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ketika itulah, (setan-setan) penyadap berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan (Sufyan bin ‘Uyainah bin Maimun Al-Hilali, salah seorang periwayat hadits ini) dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya-maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada dibawahnya dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadangkala setan penyadap berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadangkala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; lalu dengan satu kalimat yang didengarnyalah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan, “Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)”, sehingga dipercayalah tukang sihir dan tukang ramal tersebut karena satu kalimat telah didengar dari langit.

An-Nawas bin Sim’an menuturkan bahwa Rasulullah bersabda,
Apabila Allah Ta’ala hendak mewahyukan perintah-Nya maka Diarmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena takut kepada Allah. Lalu, apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu, Allah memfirrmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Dia memfirmankan yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan Jibril itu. Demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah kepadanya.
Hadits ini riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah; dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa Ash-Shifat.

Kandungan Bab Ini

1. Tafsir ayat tersebut di atas. (Ayat ini menerangkan keadaan para malaikat, yang mereka itu adalah makhluk Allah yang paling kuat dan amat perkasa yang disembah oleh orang-orang musyrik. Apabila demikian keadaan mereka dan rasa takut mereka kepada Allah tatkala Allah berfirman, lalu bagaimana patut mereka itu dijadikan sesembahan selain Allah; apalagi makhluk selain mereka, tentu lebih tidak patut lagi.)

2. Ayat ini mengandung suatu argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, khususnya yang berkaitan dengan orang-orang shalih. Dan ayat inilah yang dikatakan memutuskan akar-akar pohon syirik dari jantungnya.

3. Tafsiran firman Allah, “Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Firman Allah ini menunjukkan, bahwa Kalamullah bukanlah makhluk (ciptaan) karena mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?”; menunjukkan pula bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya dan Maha Besar yang kebesaranNya tak dapat dijangkau oleh pikiran mereka.)

4. Sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang dirmankan Allah.

5. Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan, “Dia memfirmankan yang benar.”

6. Disebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.

7. Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh malaikah penghuni langit, karena mereka bertanya kepadanya.

8. Seluruh malaikat penghuni langit jatuh pingsan tatkala mendengar firman Allah.

9. Langit pun bergetar keras karena rman Allah itu.

10. Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyi itu ke tujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.

11. Disebutkan pula dalam hadits bahwa setan-setan menyadap berita wahyu tersebut.

12. Cara mereka, sebagian naik di atas sebagian yang lain.

13. Peluncuran syihab (meteor) untuk menembak jatuh setan-setan penyadap berita.

14. Kadangkala setan penyadap berita itu terkena syihab sebelum sempat menyampaikan kalimat yang didengarnya, dan kadangkala sudah sempat menyampaikan ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihab.

15. Ramalan tukang ramal adakalanya benar.

16. Dengan kalimat yang didengarnya tersebut, ia melakukan seratus macam kebohongan.

17. Kebohongannya tidaklah dipercayai kecuali karena kalimat yang diterimanya dari langit [melalui setan penyadap berita].

18. Manusia mempunyai kecenderungan untuk menerima sesuatu yang bathil; bagaimana mereka bisa berdasarkan hanya kepada satu kebenaran saja yang diucapkan tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya. 19. Satu kalimat kebenaran tersebut beredar luas dari mulut ke mulut dan diingatnya. Lalu dijadikan sebagai bukti apa yang dikatakan tukang ramal adalah benar.

20. Menetapkan kebenaran sifat-sifat Allah [sebagaimana yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas], berbeda dengan paham Asy’ariyah yang mengingkarinya.

21. Bergetarnya langit dan pingsannya para malaikat adalah karena rasa takut mereka kepada Allah.

22. Para malaikat pun bersimpuh sujud kepada Allah.

Semoga bermanfaat
_________________________

Categories
Tauhid

Tiada Seorang Pun Yang Berhak Disembah Selain Allah

Bab 15

Tiada Seorang Pun Yang Berhak Disembah Selain Allah

Firman Allah,

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (Al-A’raf: 191 -192)

Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmul dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (Fathir: 13 -14).

Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas, katanya, Pada waktu peperangan Uhud, Nabi terluka di bagian kepala dan gigi taringnya. Maka beliau bersabda, “Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka?”. Lalu turunlah ayat, Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128)

Dan menurut riwayat lain, beliau mendo’akan semoga Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr dan Al-Harits bin Hisyam dijauhkan dari rahmat Allah. Maka turunlah ayat: Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128)

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah, ia berkata, Ketika diturunkan kepada Rasulullah ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu’ara: 214) Berdirilah beliau dan bersabda, “Wahai segenap kaum Quraisy, tebuslah diri kamu sekalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya). Sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib! Sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai Shayah bibi Rasulullah! Sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Dan wahai Fathimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan dari hartaku. Sedikitpun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah.”

Kandungan Bab Ini

1. Tafsiran kedua ayat tersebut di atas. (Kedua ayat tersebut menunjukkan kebatilah syirik mulai dari dasarnya, karena makhluk yang lemah ini, yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, tak dapat dijadikan sebagai sandaran sama sekali, dan menunjukkan pula bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia.)
2. Kisah perang Uhud.
3. Rasulullah, pemimpin para Rasul, dalam shalat Shubuh telah melakukan qunut sedang para sahabat yang berada di belakang beliau mengucapkan “amin.”
4. Orang-orang yang beliau doakan semoga Allah menjauhkan mereka dari rahmat-Nya adalah orang-orang kafir.
5. Orang-orang kafir itu telah berbuat hal-hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang kafir, antara lain: melukai Nabi dan berambisi sekali untuk membunuh beliau serta mereka merusak tubuh para korban yang terbunuh, padahal korban-korban yang terbunuh adalah anak famili mereka sendiri.
6. Tentang perbuatan mereka itu, Allah telah menurunkan firman-Nya kepada beliau, Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128)
7. Allah berrman, Atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka. (Ali Imran: 128) Kemudian Allah pun menerima taubat mereka dengan masuknya mereka ke dalam Islam dan menjadi orang-orang yang beriman.
8. Melakukan qunut nazilah, yaitu qunut yang dilakukan ketika berada dalam keadaan mara bahaya.
9. Menyebutkan nama-nama beserta nama-nama orang tua mereka yang didoakan terlaknat di dalam shalat, tidak membatalkan shalat.
10. Boleh melaknat terhadap orang kar tertentu dalam qunut.
11. Kisah Rasulullah tatkala diturunkan kepada beliau ayat, Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.
12. Kesungguhan Rasulullah dalam hal ini, sehingga beliau melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya dituduh gila; demikian halnya apabila dilakukan oleh seorang muslim pada masa sekarang ini.
13. Rasulullah memperingatkan keluarga yang paling jauh kemudian yang terdekat, dengan bersabda, sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah”, sampai beliau bersabda kepada puterinya sendiri, “Wahai Fathimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan dari hartaku. Sedikitpun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah.” Apabila beliau telah memaklumatkan secara terang-terangan -padahal beliau adalah pemimpin para rasul-bahwa beliau sedikitpun tidak berguna bagi diri puterinya sendiri, wanita termulia sealam ini; dan orang pun mengimani bahwa beliau tidak mengatakan kecuali yang haq, kemudian dia memperhatikan apa yang terjadi pada diri kaum khawash (ialah orang-orang tertentu yang ditokohkan dalam masalah agama dan merasa bahwa dirinya patut diikuti, disegani dan diminta berkah doanya.) dewasa ini, akan tampak bagi dirinya bahwa tauhid sudah ditinggalkan dan tuntunan agama menjadi asing.

Semoga bermanfaat

Categories
Tauhid

Termasuk Syirik: Istighatsah Atau Do’a Kepada Selain Allah

Serial kitab Tauhid
Syaikh Muhammad bin abdul wahhab at tamimi

Bab 14

Termasuk Syirik: Istighatsah Atau Do’a Kepada Selain Allah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَ لَا يَضُرُّكَ ۚ فَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah sebab jika engkau lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”
(QS. Yunus 10: Ayat 106)

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗۤ اِلَّا هُوَ ۚ وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآ دَّ لِفَضْلِهٖ ۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Yunus 10: Ayat 107)

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

اِنَّمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْثَانًا وَّتَخْلُقُوْنَ اِفْكًا ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَا يَمْلِكُوْنَ لَـكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللّٰهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala, dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 17)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗۤ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَآئِهِمْ غٰفِلُوْنَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 5)

Allah Jallaa Jalaaluh berfirman:

وَاِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوْا لَهُمْ اَعْدَآءً وَّ كَانُوْا بِعِبَادَتِهِمْ كٰفِرِيْنَ
“Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka, dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.”
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 6)

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ الْاَرْضِ ۗ ءَاِلٰـهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ
“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di Bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 62)

Ath-Thabrani, dengan menyebutkan sanadnya, meriwayatkan bahwa, pernah terjadi pada zaman Nabi ada seorang munafik yang selalu mengganggu orang-orang mu’min, maka berkatalah salah seorang di antara mereka, “Marilah kita bersama-sama istighatsah kepada Rasulullah supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini.” Ketika itu, bersabdalah Nabi, Sesungguhnya tidak boleh istighatsah kepadaku, tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja.

Kandungan Bab Ini

1. Istighatsah, pengertiannya lebih khusus dari pada doa. ( Istighatsah adalah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.)

2. Tafsiran ayat pertama. ( Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah, karena selainNya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.)

3. Memohon kepada selain Allah adalah syirik akbar.

4. Bahwa orang yang paling shalih sekalipun, kalau dia melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka dia termasuk golongan orang yang zhalim (musyrikin).

5. Tafsiran ayat kedua. ( Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti do’a, istighatsah dan sebagainya. Karena hanya Allah Yang Maha Kuasa, jika dia menimpakan sesuatu bahaya kepada seseorang, maka tiada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya. Tiada seorang pun yang mampu menghalangi kehendak Allah.)

6. Memohon kepada selain Allah tidak mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu sendiri perbuatan kafir.

7. Tafsiran ayat ketiga. (Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya kepada Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepada-Nya seharusnya kita meminta rizki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rizki.)

8. Sebagaimana Surga tidak dapat diminta kecuali Allah, demikian halnya dengan rizki, tidak patut diminta kecuali dari-Nya.

9. Tafsiran ayat keempat. (Ayat keempat menunjukkan bahwa do’a (permohonan) adalah ibadah, karena itu barangsiapa menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.)

10. Tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.

11. Sesembahan selain Allah itu tidak merasa dan tidak tahu bahwa ada orang yang memohon kepadanya.

12. Permohonan itulah yang menyebabkan sesembahan selain Allah membenci dan memusuhi orang yang memohon kepadanya (pada hari Kiamat).

13. Permohonan ini disebut sebagai ibadah kepada sesembahan selain Allah.

14. Dan sesembahan selain Allah itu nanti pada hari Kiamat akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.

15. Permohonan inilah yang menyebabkannya menjadi orang yang paling sesat.

16. Tafsiran ayat kelima. (Ayat kelima menunjukkan bahwa istighatsah kepada selain Allah -karena tiada yang kuasa kecuali Dia-adalah bathil dan termasuk syirik.)

17. Hal yang mengherankan, bahwa para pemuja berhala mengakui bahwa tiada yang dapat memperkenankan permohonan orang yang berbeda dalam kesulitan selain Allah. Untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepada-Nya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untuk-Nya.

18. Hadits di atas menunjukkan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Al-Musthafa, untuk melindungi benteng tauhid, dan sikap ta’abbud (sopan santun) beliau kepada Allah.

_____________________

Categories
Artikel Manhaj Tauhid

MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag. 25

*MANHAJ/JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT Bag. 25*

بسم الله الرحمن الرحيم

“URGENSI TAUHID”

(Sambungan poin ke 3-6 dari bab ini)

3). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabatnya agar memulai dakwah kepada umat manusia dengan tauhid

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman sebagai da’i, beliau berpesan (kepadanya),

فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله” وفي رواية “أن يوحدوا الله”

“Hendaknya yang pertama kali engkau serukan mereka adalah bersaksi, “Sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah”, Dalam riwayat lain disebutkan, “Agar mereka mengesakan Allah (saja dalam ibadah)”, [Muttafaq ‘alaih]

4). Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Maknanya, tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kalimat syahadat ini bisa memasukkan orang kafir ke dalam agama Islam, karena ia adalah kunci Surga

Orang yang mengikrarkannya akan masuk Surga selama ia tidak merusaknya dengan sesuatu yang bisa membatalkannya, misalnya syirik atau kalimat kufur.

5). Orang-orang kafir Quraisy pernah menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kekuasaan, harta benda, isteri dan hal lain dari kesenangan dunia, tetapi dengan syarat beliau meninggalkan dakwah kepada tauhid dan tak lagi menyerang berhala-berhala (mereka)

Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihu wasallam tidak menerima semua tawaran itu dan tetap terus melanjutkan dakwahnya

Maka tak mengherankan, dengan sikap tegas itu, beliau bersama segenap sahabatnya menghadapi banyak gangguan dan siksaan dalam perjuangan dakwah, sampai datang pertolongan Allah dengan kemenangan dakwah tauhid

Setelah berlalu masa tiga belas tahun, kota Makkah ditaklukkan, berhala-berhala dihancurkan. Ketika itulah beliau membaca ayat,

جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا” (سورة الإسراء)

“(Dan katakanlah) yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [QS. Al-Israa; 81]

6). Tauhid adalah tugas setiap muslim dalam hidupnya. Seorang muslim memulai hidupnya dengan tauhid. Meninggalkan hidup ini pula dengan tauhid

Tugasnya di dalam hidup adalah berdakwah dan menegakkan tauhid. Tauhid mempersatukan orang-orang beriman, menghimpun mereka dalam satu wadah kalimat tauhid.

Kita memohon kepada Allah, semoga menjadikan kalimat tauhid sebagai akhir dari ucapan kita di dunia, serta mempersatukan umat Islam dalam satu wadah kalimat tauhid. Aamiin.

[Manhajul Firqotun Naajiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

✍ Al-Ust Abu Zubair hafizhahullah

Repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Tauhid Uncategorized

TAUHID ULUHIYYAH [1]

*TAUHID ULUHIYYAH[1]*

Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada syirkun akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat. An-Nisaa: 48, 116][2]

Al-ilaah artinya al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata: “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, maupun Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Dia (Allah) tidak boleh disekutu-kan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.[3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijak-sana.” [Ali ‘Imran: 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, ‘Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan oleh kaum Musyrikin:

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya.” [An-Najm: 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…” [Yusuf: 39-40]

Tauhid Uluhiyyah merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ , dari Rasul yang pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu…’” [An-Nahl: 36]

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.’” [Al-Anbiyaa’: 25]

Semua Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ memulai dakwah mereka kepada kaumnya dengan tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereka beribadah dengan benar hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala saja.

Seluruh Rasul berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja.[4]

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” [Al-Mukminuun: 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:[5]

Bukti pertama: Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, serta tidak dapat menghidupkan dan mematikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) suatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Furqaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at…” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri adalah buatan manusia. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf: 191-192]

Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah (sesembahan) dan tempat meminta pertolongan.

Bukti kedua: Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, Yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi dari adzab-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan) sebagaimana mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah.

Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah saja).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, baribadahlah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 21-22]

Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya tauhid Uluhiyyah.

Allah memerintahkan kita untuk bertauhid Uluhiyyah, yaitu menyembah dan beribadah hanya kepada-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid Rububiyyah, yaitu penciptaan-Nya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, diturunkannya hujan, ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhan, dikeluarkannya buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka, sangat tidak pantas bagi kita jika menyekutukan Allah dengan selain-Nya; dari benda-benda ataupun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.

Maka, jalan fitrah untuk menetapkan tauhid Uluhiyyah adalah berdasarkan tauhid Rububiyyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemudharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara bertaqarrub kepada-Nya, cara-cara yang bisa membuat Allah ridha serta menguatkan hubungan antara dirinya dengan Rabb-nya. Maka, tauhid Rububiyyah adalah pintu gerbang dari tauhid Uluhiyyah. Karena itu Allah berhujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu adalah Allah, Rabb-mu; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka beribadahlah kepada-Nya …” [Al-An’aam: 102]

Dia berdalil dengan tauhid Rububiyyah-Nya atas hak-Nya untuk disembah. Tauhid Uluhiyyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzaariyaat: 56]

Arti لِيَعْبُدُوْنِ “Agar mereka menyembah-Ku,” adalah: “Mentauhidkan-Ku dalam ibadah.” Seorang hamba tidaklah menjadi Muwahhid hanya dengan mengakui tauhid Rububiyyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid Uluhiyyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tahuid Rububiyyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan mematikan.

Di antara kekhususan Ilahiyah adalah kesempurnaan-Nya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepada-Nya; pengagungan, penghormatan, rasa takut, do’a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara’ dan fitrah agar ditujukan khusus hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak kepada selain-Nya.[6]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
______
Footnote
[1]. Pembahasan ini merujuk pada kitab Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 21-23) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 36) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdilla al-Fauzan, dan Nuurut Tauhiid wa Zhulumaatusy Syirki (hal. 17-18) oleh Dr. Wahf bin ‘Ali bin Sa’id al-Qahthani.
[2]. Lihat Aqiidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid dan al-Ushuuluts Tsalaatsah beserta syarahnya.
[3]. Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 63), cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1420 H.
[4]. Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Shalih dan Syu’aib. Lihat Al-Qur-an pada surat al-A’raaf: 65, 73 dan 85.
[5]. Lihat Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 21-23).
[6]. Diringkas dari ‘Aqiidatut Tauhiid (hal.32-34) oleh Dr. Shalih al-Fauzan.

Sumber: almanhaj

Direpost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*LAPORAN KEGIATAN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

>> Kegiatan PPS 2018

1. Pengadaan Kalender Para Pencinta Sunnah, 300 Eksemplar (Sifat Sholat Nabi) ==> *terlaksana*

2. Baksos di Pacitan, periode ke-3, (bersama team relawan gabungan)

27-28 Januari 2018 di Desa Watu Karung, Ponggok, Sedeng, dan Ds Kedung Bendo, kab.Pacitan
==> *terlaksana*

3. In Syaa Allah : Pengadaan Buku MUI PUSAT tentang kesesatan Syiah, 1.000 eksemplar ==> *tahap percetakan*

=====
Bagi yang ingin berdonasi,
dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah