Categories
Kitab Syarah Mandzumah Ushul Fiqih Uncategorized

Agama ini datang untuk mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat

🍀 *Kaidah yang ke 1* 🍀

*👉🏼 Agama ini datang untuk mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat.*

Karena semua perintah Allah pasti mashlahatnya murni atau lebih besar dari mudlaratnya seperti sholat, zakat, puasa, haji, berbakti kepada orang tua dan sebagainya.

Demikian juga larangan Allah, pasti semuanya mengandung mudlarat yang murni atau lebih besar dari mashlahatnya seperti syirik, bid’ah, sihir, riba, zina, judi dan sebagainya.

⚉ Maka semua yang mashlahatnya murni atau lebih besar adalah perkara yang diperintahkan.

⚉ Dan semua yang mudlaratnya murni atau lebih besar adalah perkara yang dilarang.

⚉ Apabila mashlahat dan mudlaratnya sama besar, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak jatuh kepada yang dilarang.

Namun, terkadang sebagian orang memandang suatu mashlahat padahal sebetulnya tidak, seperti perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perayaan isra dan mi’raj dan sebagainya.

Karena tanpa perayaan tersebut mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdapat dilakukan dengan yang sesuai syariatnya seperti menuntut ilmu syariat dan mengamalkannya.

Di zaman khulafa rasyidin Islam semakin jaya tanpa perayaan tersebut, bahkan kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi orang-orang yang merayakan maulid.

Itu menunjukkan bahwa perayaan maulid tidak memberi mashlahat apapun untuk agama. Dan tidak memberi mudlarat apapun bila ditinggalkan, justeru perayaan tersebut memberi mudlarat terhadap agama dari sisi menambah nambah syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Azza wajalla.
.
.
Wallahu a’lam 🌴

📚 Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

[Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih”, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.]

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Sejarah Islam Uncategorized

KERAJAAN ISLAM TERAKHIR DI SPANYOL (PART 3)

*SERI SEJARAH ISLAM*

*KERAJAAN ISLAM TERAKHIR DI SPANYOL (PART 3)*

*Akhir dari Granada*

Tidak lama setelah menguasai Granada, Sultan Muhammad mendapat surat dari Raja Ferdinand untuk menyerahkan Granada ke wilayah kekuasaannya. Sang sultan pun terkejut dengan permintaan Raja Ferdinand, karena ia menyangka Raja Ferdinand akan memberikan wilayah Granada kepadanya dan membiarkannya menjadi raja di wilayah tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad sadar bahwa ia hanya dimanfaatkan sebagai pion oleh Ferdinand untuk melemahkan dan mempermudah jalan pasukan Kristen menaklukkan Granada. Muhammad berusaha untuk menggalang kekuatan dengan bersekutu bersama prajurit Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah untuk memerangi kekuatan Kristen Eropa. Namun bantuan yang diharapkan Muhammad tidaklah sesuai dengan harapannya. Turki Utsmani hanya mengirimkan sekelompok kecil angkatan laut yang tidak berpengaruh banyak terhadap kekuatan Kristen Eropa.

Pada tahun 1491, Granada dikepung oleh pasukan-pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dari menara istananya, Muhammad melihat pasukan Kristen dalam jumlah yang besar telah mengepung dan bersiap menyerang Granada. Muhammad pun dipaksa untuk menandatangani surat penyerahan Granada kepada pasukan sekutu Kristen. Peristiwa ini terjadi pada November 1491.

Pada tanggal 2 Januari 1492, pasukan Kristen memasuki Kota Granada. Pasukan-pasukan ini memasuki istana Alhambra, mereka memasang bendera-bendera dan simbol-simbol kerajaan Kristen Eropa di dinding-dinding istana sebagai tanda kemenangan, dan di menara tertinggi istana Alhambra mereka pancangkan bendera salib agar rakyat Granada mengetahui siapa penguasa mereka sekarang. Keadaan saat itu benar-benar mencekam, rakyat muslim Granada tidak berani keluar dari rumah-rumah mereka dan jalanan pun lengang dari hiruk pikuk manusia.

Setelah itu, Sultan Muhammad diasingkan. Beberapa saat perjalanan, di puncak gunung, ia menoleh kepada bekas wilayahnya sambil menitikkan air mata. Ibunya yang melihat keadaan itu tidak simpatik kepada putranya, bahkan ia memarahinya dengan mengatakan, “Jangan engkau menangis seperti perempuan, karena engkau tidak mampu mempertahankan Granada layaknya seorang laki-laki”.

Orang-orang Kristen menjanjikan toleransi dan kedamaian terhadap masyarakat Islam Granada, walaupun kemudian perjanjian itu mereka batalkan sendiri. Ribuan umat Islam terbunuh dan yang lainnya mengungsi menyeberang lautan menuju wilayah Afrika Utara.

Itulah akhir dari peradaban Islam di Spanyol yang telah berlangsung lebih dari tujuh abad lamanya. Cahaya Islam menghilang dari daratan tersebut dengan terusir dan tewasnya umat Islam di sana, kemudian diganti dengan pendatang-pendatang Kristen yang menempati wilayah tersebut.

Sumber: kisahmuslim.com

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Tauhid Uncategorized

TAUHID ULUHIYYAH [1]

*TAUHID ULUHIYYAH[1]*

Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada syirkun akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat. An-Nisaa: 48, 116][2]

Al-ilaah artinya al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata: “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, maupun Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Dia (Allah) tidak boleh disekutu-kan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.[3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijak-sana.” [Ali ‘Imran: 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, ‘Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan oleh kaum Musyrikin:

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya.” [An-Najm: 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…” [Yusuf: 39-40]

Tauhid Uluhiyyah merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ , dari Rasul yang pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu…’” [An-Nahl: 36]

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.’” [Al-Anbiyaa’: 25]

Semua Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ memulai dakwah mereka kepada kaumnya dengan tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereka beribadah dengan benar hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala saja.

Seluruh Rasul berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja.[4]

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” [Al-Mukminuun: 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:[5]

Bukti pertama: Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, serta tidak dapat menghidupkan dan mematikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) suatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Furqaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at…” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri adalah buatan manusia. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf: 191-192]

Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah (sesembahan) dan tempat meminta pertolongan.

Bukti kedua: Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, Yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi dari adzab-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan) sebagaimana mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah.

Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah saja).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, baribadahlah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 21-22]

Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya tauhid Uluhiyyah.

Allah memerintahkan kita untuk bertauhid Uluhiyyah, yaitu menyembah dan beribadah hanya kepada-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid Rububiyyah, yaitu penciptaan-Nya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, diturunkannya hujan, ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhan, dikeluarkannya buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka, sangat tidak pantas bagi kita jika menyekutukan Allah dengan selain-Nya; dari benda-benda ataupun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.

Maka, jalan fitrah untuk menetapkan tauhid Uluhiyyah adalah berdasarkan tauhid Rububiyyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemudharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara bertaqarrub kepada-Nya, cara-cara yang bisa membuat Allah ridha serta menguatkan hubungan antara dirinya dengan Rabb-nya. Maka, tauhid Rububiyyah adalah pintu gerbang dari tauhid Uluhiyyah. Karena itu Allah berhujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu adalah Allah, Rabb-mu; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka beribadahlah kepada-Nya …” [Al-An’aam: 102]

Dia berdalil dengan tauhid Rububiyyah-Nya atas hak-Nya untuk disembah. Tauhid Uluhiyyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzaariyaat: 56]

Arti لِيَعْبُدُوْنِ “Agar mereka menyembah-Ku,” adalah: “Mentauhidkan-Ku dalam ibadah.” Seorang hamba tidaklah menjadi Muwahhid hanya dengan mengakui tauhid Rububiyyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid Uluhiyyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tahuid Rububiyyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan mematikan.

Di antara kekhususan Ilahiyah adalah kesempurnaan-Nya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepada-Nya; pengagungan, penghormatan, rasa takut, do’a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara’ dan fitrah agar ditujukan khusus hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak kepada selain-Nya.[6]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
______
Footnote
[1]. Pembahasan ini merujuk pada kitab Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 21-23) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 36) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdilla al-Fauzan, dan Nuurut Tauhiid wa Zhulumaatusy Syirki (hal. 17-18) oleh Dr. Wahf bin ‘Ali bin Sa’id al-Qahthani.
[2]. Lihat Aqiidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid dan al-Ushuuluts Tsalaatsah beserta syarahnya.
[3]. Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 63), cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1420 H.
[4]. Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Shalih dan Syu’aib. Lihat Al-Qur-an pada surat al-A’raaf: 65, 73 dan 85.
[5]. Lihat Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 21-23).
[6]. Diringkas dari ‘Aqiidatut Tauhiid (hal.32-34) oleh Dr. Shalih al-Fauzan.

Sumber: almanhaj

Direpost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*LAPORAN KEGIATAN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

>> Kegiatan PPS 2018

1. Pengadaan Kalender Para Pencinta Sunnah, 300 Eksemplar (Sifat Sholat Nabi) ==> *terlaksana*

2. Baksos di Pacitan, periode ke-3, (bersama team relawan gabungan)

27-28 Januari 2018 di Desa Watu Karung, Ponggok, Sedeng, dan Ds Kedung Bendo, kab.Pacitan
==> *terlaksana*

3. In Syaa Allah : Pengadaan Buku MUI PUSAT tentang kesesatan Syiah, 1.000 eksemplar ==> *tahap percetakan*

=====
Bagi yang ingin berdonasi,
dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Uncategorized

PELANGGARAN-PELANGGARAN SEPUTAR PERNIKAHAN YANG WAJIB DIHINDARKAN ATAU DIHILANGKAN

*✍PELANGGARAN-PELANGGARAN SEPUTAR PERNIKAHAN YANG WAJIB DIHINDARKAN ATAU DIHILANGKAN*💞

_Oleh 📝Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas_

*1. Adanya Ikhtilath*
Ikhtilath adalah berbaurnya laki-laki dan wanita sehingga terjadi pandang-memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Padahal, laki-laki dan wanita diperintahkanuntuk menunduk-kan pandangan, berdasarkan firman Allah:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara ke-maluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” [An-Nuur : 30]
Begitu pun menyentuh dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah diharamkan dalam syari’at Islam, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِيْ لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِيْ ِلامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita. Sesungguhnya ucapanku kepada seratus wanita sama halnya dengan ucapanku kepada seorang wanita.”[1]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َلأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ.

“Sungguh, ditusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [2]

Menurut syari’at Islam, antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.
Syaikh Ibnu Baaz rahimahullaah berkata, “Di antara perkara munkar yang diadakan manusia pada zaman ini adalah meletakkan pelaminan pengantin di tengah-tengah kaum wanita dan menyandingkan suaminya di sisinya, dengan dihadiri wanita-wanita yang berdandan dan bersolek. Mungkin juga yang menghadiri adalah kerabat pengantin pria dan wanita dari kalangan laki-laki. Orang yang memiliki fitrah yang selamat dan kecemburuan terhadap agama akan mengetahui kerusakan yang besar dari perbuatan ini, dan memungkinkan kaum pria asing melihat para pemudi yang bersolek, serta akibat buruk yang dihasilkannya. Oleh karena itu, wajib mencegah hal itu dan menghapuskannya…”[3]

*2. Musik*
Kemungkaran lain dalam pernikahan adalah adanya musik, baik berupa alat musik, lagu atau nyanyian atau panggung hiburan. Parahnya lagi, ada yang sengaja mendatangkan para biduan dan biduanita ke pesta pernikahan untuk menghibur para tamu undangan. Musik dalam pandangan Islam hukumnya haram. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ، …
“Sungguh, akan ada di antara ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, danalat-alat musik.” [4]
Demikian juga lagu dan nyanyian, dalam syari’at Islam hukumnya haram. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌمُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” [Luqman : 6]
Ayat yang mulia ini ditafsirkan oleh Shahabat, Tabi’in dan ulama ahli tafsir dengan rincian sebagai berikut:

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Ayat ini turun tentang masalah nyanyian dan sejenisnya.” [5]
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata: “ Maksud dari لَهْوَ الْحَدِيثِ (percakapan kosong) adalah lagu dan nyanyian. Demi Allah yang tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia!” (Beliau mengulangi perkataannya tiga kali)[6]
Penafsiran yang sama dijelaskan juga oleh Jabir, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, ‘Amr bin Syu’aib dan ‘Ali bin Badzii. [7]
Hasan al-Bashri menafsirkan ayat ini dengan alat musik.‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata:

اَلْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ.

“Lagu dan nyanyian menimbulkan kemunafikan dalam hati.” [8]
Semua jenis alat musik diharamkan dalam Islam.
Hanya ada satu alat musik yang boleh dimainkan, yaitu rebana. Itu pun hanya boleh dilakukan pada tiga keadaan: ketika ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adh-ha, dan pesta pernikahan. Dengan syarat, alat musik ini hanya boleh dimainkan oleh gadis-gadis kecil yang belum baligh.
Pada hari pernikahan dianjurkan agar ditabuhkan rebana. Hal ini memiliki dua faedah, yaitu:
1. Publikasi pernikahan.
2. Menghibur kedua mempelai.
Hal ini berdasarkan hadits dari Muhammad bin Hathib, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ.

“Pembeda antara perkara yang halal dengan yang haram pada pesta pernikahan adalah tabuhan rebana dan nyanyian.” [9]
•Tentang Nasyid.
Di antara kemunkaran dalam pesta pernikahan adalah dipanggilnya “tim Nasyid” untuk memeriahkan pernikahan. Padahal para ulama telah menggariskan bahwa nyanyian dalam pesta pernikahan hanyalah boleh dilakukan oleh gadis-gadis kecil dan boleh juga dengan menggunakan kaset, apabila tidak ada gadis-gadis kecil yang menyanyi secara langsung.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa nasyid yang di-nyanyikan oleh para pemuda itu dimainkan dengan alat-alat musik, atau mereka menggunakan “acapela” sebagai ganti alat-alat musik dengan menggunakan ‘mulut’ mereka. Padahal alat-alat musik hukumnya haram.
Mengenai “acapela”, maka patutkah seorang muslim mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Yaitu dengan meniru suara gendang, bass, dan alat-alat musik lainnya. Bahkan, karena terlalu asyiknya hingga mereka menggoyang-goyangkan badan dan kaki mereka.
Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.
Para ulama senantiasa berpesan agar menjauhi nasyid dan mengakrabkan diri dengan membaca ayat-ayat Al-Qur-an.
Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullaah pernah ditanya, “Bolehkah laki-laki melantunkan nasyid Islami? Bagaimana jika diiringi dengan rebana? Dan bolehkah dilantunkan selain pada waktu hari ‘Ied dan pernikahan?”
Maka Syaikh menjawab, “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Nasyid-nasyid Islami adalah perkara bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang Sufi yang banyak memalingkan manusia dari Al-Qur-andan Al-Hadits. Terkecuali di tempat-tempat jihad yang dimaksudkan untuk membangkitkan keperwiraan dan semangat jihad fii sabilillaah. Namun jika diiringi rebana, maka ini adalah perkara yang jauh dari kebenaran.” [10]
Dengan demikian, nasyid-nasyid yang dibawakan oleh para pemuda, baik dengan alat-alat musik yang mereka mainkan maupun dengan mulut-mulut mereka yang menirukan alat-alat musik, adalah kemunkaran dalam pesta yang harus dihindari. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada pemuda agar senang membaca dan mendengarkan Al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullaah ditanya mengenai (hukum) nasyid.
Beliau ditanya, “Banyak ulasan dan komentar mengenai nasyid Islami. Sementara di sana ada yang memfatwakan bolehnya dan ada pula yang mengatakannya sebagai pengganti kaset-kaset lagu. Lalu apakah pendapat Syaikh tentang hal ini?”
Maka Syaikh menjawab, “Penyebutan nama (Islami) ini sama sekali tidak benar. Itu adalah penamaan yang baru. Di seluruh kitab para Salaf maupun pernyataan para ulama, tidak ada nama nasyid Islami. Yang ada, bahwa orang-orang Sufi menciptakan lagu-lagu yang dianggap sebagai agama, yang disebut dengan as-sima’. Karena zaman sekarang banyak golongan, partai dan jama’ah, maka setiap golongan, partai atau jama’ah memiliki nasyid sendiri-sendiri. Untuk menjaga ke-langsungannya mereka menamakannya nasyid Islami. Penamaan ini tidak benar dan tidak boleh mengambil nasyid-nasyid itu dan tidak boleh memasarkannya kepada manusia.” [11]
Kesimpulannya, bahwa nasyid pada hari pernikahan dibolehkan selama isi nasyid tersebut tidak keluar dari etika Islam. Juga dengan syarat nasyid tersebut hanya boleh dinyanyikan oleh gadis-gadis kecil dengan menggunakan duff (rebana), baik secara langsung maupun dengan kaset. Dan tidak boleh dibawakan oleh laki-laki dewasa, apalagi dengan menggunakan alat musik, baik langsung maupun dengan kaset.

*3. Meninggalkan Shalat Wajib*
Termasuk dalam kemungkaran pernikahan adalah kedua mempelai beserta keluarga meninggalkan shalat wajib yang lima waktu. Sangat disayangkan, sebagian besar kaum muslimin sengaja meninggalkan shalat wajib ketika mereka melakukan resepsi pernikahan. Padahal, bagaimana pun keadaannya seorang muslim tetap wajib mengerjakan shalat yang lima waktu. Banyaknya tamu, make-up yang menempel di wajah atau gaun pengantin yang dikenakan seharusnya tidak menghalangi dia untuk melakukan shalat.Menikah bukanlah satu alasan yang membolehkan pengantin wanita meninggalkan shalat, begitu pula pengantin pria tidak boleh meninggalkan shalat berjama’ah.
Meninggalkan shalat wajib adalah dosa besar yang paling besar! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [12]
Hendaklah seorang muslim memperhatikan kewajiban terhadap Rabb-nya pada hari yang paling istimewa baginya.

*4. Lukisan, gambar dan patung*
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah adanya lukisan-lukisan, gambar-gambar makhluk bernyawa, patung-patung, termasuk juga fotografi dengan tujuan untuk kenangan pernikahan.[13]
Apabila di dalam suatu rumah terdapat lukisan (gambar) makhluk bernyawa, patung, atau anjing, maka Malaikat rahmat tidak akan masuk ke rumahnya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدُخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتاً فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَ تَصَاوِيْرُ.

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” [14]
Juga sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتاً فِيْهِ تَمَاثِيْلُ أَوْ تَصَاوِيْرُ.

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung atau gambar-gambar (lukisan).” [15]

*5. Pelanggaran-pelanggaran Lainnya*
Membuat panggung-panggung hiburan seperti dangdut, wayang, ketoprak, gambus, marawis, dan sejenisnya yang tidak selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin, karena termasuk perbuatan menyia-nyiakan waktu dan hartanya untuk perbuatan maksiat. Contoh pelanggaran berikutnya yaitu menggelar pesta joget muda-mudi yang jelas merusak generasi muda Islam. Selain itu juga adanya “standing party”, yaitu makan atau minum sambil berdiri di pesta pernikahan. Makan dan minum sambil berdiri dilarang dalam Islam.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا.

“Dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qatadah berkata, “Kami bertanya kepada Anas radhiyallaahu ‘anhu, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Maka ia menjawab,
ذَلِكَ أَشَرٌّ أَوْ أَخْبَثُ.
‘Itu lebih jelek atau lebih buruk lagi!’” [16]

Pelanggaran lainnya yaitu makan dan minum dengan tangan kiri. Islam melarang makan dan minum dengan tangan kiri, karena syaitan makan dan minum dengan tangan kiri. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ.

“Apabila seseorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanannya. Dan apabila ia minum, maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” [17]

Pelanggaran lainnya adalah membaca syahadat bagi seorang muslim ketika ijab qabul pernikahan, atau pembacaan “shighat ta’liq” yaitu ta’liq talak (menggantungkan talak) oleh pengantin pria seusai akad nikah, atau membaca surat al-Fatihah ketika akad nikah [18], ratiban, atau melakukan kawin lari. Semua perbuatan ini tidak ada contoh dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah dilakukan oleh para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum.

Itulah sebagian pelanggaran yang sering dilakukan dan masih banyak lagi pelanggaran-pelanggaran lainnya.

*Sumber* :[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]_______

_Footnote_
*[1].* Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/357), Malik (II/749, no. 2), al-Humaidi (no. 341), at-Tirmidzi (no. 1597), an-Nasa-i dalam Sunannya (VII/149) juga dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 358), Ibnu Majah (no. 2874), Ibnu Hibban (no. 14—al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XXIV/186-187, no. 470-472), dari Umaimah bintu Ruqaiqah radhiyallaahu ‘anha. At-Tirmidzi ber-kata, “Hadits ini hasan shahih.” Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 529).
*[2].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani (XX/211-212, no. 486-487) dari Sahabat Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 5045) dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 226).
*[3].* Fataawaa al-Islaamiyyah (III/188).
*[4].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5590), Fat-hul Baari (X/51-52), al-Baihaqi (X/221), dari Shahabat Abu Malik al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu.
*[5].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 1265, lihat Shahiih Adabul Mufrad no. 955), Ibnu Jarir dalam Tafsiirnya (no. 28043) dan al-Baihaqi (X/221, 223).
*[6].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari (no. 28040) dan al-Hakim (II/411), ia berkata, “Sanadnya shahih.”
*[7].* Lihat Tafsiir Ibnu Jarir ath-Thabari dan Tafsiir Ibnu Katsir.
*[8].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Dzamul Malahi dan al-Baihaqi (X/223). Lihat Tahriim Aalaat ath-Tharb oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah.
*[9].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i (VI/127-128), at-Tirmidzi (no. 1088), Ibnu Majah (no. 1896), Ahmad (III/418 dan IV/259), al-Hakim (II/184) dan ia berkata, “Sanadnya shahih,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi.[10]. Dinukil dari al-Qaulul Mufiid fii Hukmil Anaasyid (hal. 40), cet. Maktabah al-Furqan.
*[11].* Majalah ad-Da’wah edisi 1632, 7 Dzul Hijjah 1418 H. Lihat Qaulul Mufiid fii Hukmil Anaasyid (hal. 37).
*[12].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no.82), dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.
*[13].* Lihat pembahasan tentang masalah ini dalam Aadabuz Zifaaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 185-196) oleh Syaikh al-Albani rahimahullaahdan Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah (IV/210-225) oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullaah.
*[14].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5949), Muslim (no. 2106) dan an-Nasa-i (VIII/213), dari Abu Thalhah radhiyallaahu ‘anhu.
*[15].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no.2112).
*[16].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no.2024 (113)). Tentang larangan minum sambil berdiri, bisa dilihat dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 175, 176, dan 177).
*[17].* Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no.2020 (105)) dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.
*[18].* Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata, “Membaca al-Fatihah tidakdisyari’atkan, bahkan ini adalah bid’ah.” (Lihat al-Bida’ wal Muhdatsaat wamaa Laa Asla Lahu, hal. 469)

*Barakallahu fiikum*👌

Categories
Uncategorized

DAHSYATNYA BERKUMPUL DI PADANG MAHSYAR (PART 2)

*DAHSYATNYA BERKUMPUL DI PADANG MAHSYAR (PART 2)*

*Syafa’at Nabi Muhammad*

Dalam keadaan yang demikian berat itulah manusia harus menunggu dalam waktu yang sangat lama, sehingga mereka pun ditimpa kegalauan yang luar biasa. Mereka saling bertanya siapakah yang bisa menyelamatkan dari kesusahan tersebut, menjadi perantara dan memohonkan kepada Allah untuk mempercepat urusan mereka (syafa’at).

Mereka pun bersepakat mendatangi Nabi Adam untuk meminta syafa’at darinya, namun beliau menolak dan menyatakan udzurnya, beliau berkata, “Sungguh pada hari itu Rabb-ku telah murka, yang ia belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Ia telah melarangku untuk mendatangi suatu pohon kemudian aku melanggarnya, nafsi nafsi nafsi!! (Aku mengkhawatirkan diriku sendiri), pergilah kepada yang lain, pergilah kalian kepada Nuh.”

Maka mereka pun mendatangi Nabi Nuh untuk meminta syafa’at darinya, namun beliau pun menolak dengan udzur bahwa beliau pernah mendoakan adzab bagi kaumnya, beliau khawatir akan murka Allah karenanya. Lantas beliau memerintahkan manusia untuk mendatangi nabi Ibrahim .

Maka mereka pun mendatanginya untuk meminta syafa’at. Namun beliau pun menolak dengan udzur bahwa beliau pernah tiga kali berucap dengan kekhilafan, beliau khawatir murka Allah karenanya. Lalu beliau memerintahkan mereka untuk mendatangi nabi Musa .

Maka mereka pun mendatanginya untuk meminta syafa’at. Beliau pun menolak dengan udzur bahwa beliau pernah membunuh suatu jiwa yang tidak Allah perintahkan untuk membunuhnya, beliau khawatir Allah murka karenanya. Lalu beliau memerintahkan mereka untuk mendatangi nabi Isa .

Lalu mereka pun mendatanginya untuk meminta syafa’at. Beliau pun menolak karena merasa khawatir atas murka Allah tanpa menyebutkan suatu dosa yang pernah beliau lakukan. Beliau pun memerintahkan mereka untuk mendatangi nabi Muhammad .

Akhirnya mereka pun mendatangi nabi Muhammad untuk meminta syafa’at. Maka beliau pun pergi ke bawah arsy Allah dan merunduk bersujud kepada-Nya, Allah lalu mengilhamkan kepada beliau puji-pujian yang indah kepada Allah yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh siapa pun sebelumnya. Maka pada saat itu dikatakan kepada beliau , “Wahai Muhammad angkatlah kepalamu, mintalah niscaya engkau akan diberi, berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan.”

Maka beliau memanjatkan permohonannya, “Wahai Rabb-Ku, selamatkanlah umatku, wahai Rabb-Ku selamatkanlah umatku.”

Allah pun berfirman “Wahai Muhammad masukkan ke dalam surga sebagian dari umatmu yang tidak perlu menjalani hisab (perhitungan amal) lewat pintu paling kanan dari pintu-pintu surga. Mereka pun dapat bersekutu dengan manusia lainnya pada pintu-pintu yang lain.” Rasulullah lalu menjelaskan, _“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh jarak di antara dua pintu dari pintu-pintu surga seperti jarak antara Mekah dan Himyar atau antara Mekah dan Bushra.”_ [HR. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah]

Syafaat inilah yang diistilahkan dengan asy-syafa’at al-‘uzhma (syafa’at terbesar), di mana setelah itu akan dimulai perhitungan (hisab) amalan manusia.

*⏯ Bersambung insyaallah…*

✍ Ustadz Abu Ahmad,
Sumber: buletin Al-ilmu

Di repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*LAPORAN KEGIATAN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

>> Kegiatan PPS 2018

1. Pengadaan Kalender Para Pencinta Sunnah, 300 Eksemplar (Sifat Sholat Nabi) ==> *terlaksana*

2. Baksos di Pacitan, periode ke-3, (bersama team relawan gabungan)

27-28 Januari 2018 di Desa Watu Karung, Ponggok, Sedeng, dan Ds Kedung Bendo, kab.Pacitan
==> *terlaksana*

3. In Syaa Allah : Pengadaan Buku MUI PUSAT tentang kesesatan Syiah, 1.000 eksemplar ==> *tahap percetakan*

=====
Bagi yang ingin berdonasi,
dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Uncategorized

DAHSYATNYA BERKUMPUL DI PADANG MAHSYAR (PART 1)

*DAHSYATNYA BERKUMPUL DI PADANG MAHSYAR (PART 1)*

Seluruh kaum muslimin pasti mengetahui ibadah wukuf di padang Arafah. Peristiwa yang terjadi setiap tahun pada tanggal 9 Dzul Hijjah ini adalah rukun terpenting dari ibadah haji. Ketika itu jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sana. Lelah, peluh dan panas adalah sesuatu yang jamak dirasa oleh jamaah haji pada saat itu.

Namun tahukah anda bahwa segala kesulitan yang dirasakan oleh para jamaah haji tersebut belumlah seberapa dibandingkan dengan kesengsaraan yang akan menimpa umat manusia tatkala mereka harus berkumpul di mahsyar menunggu keputusan Allah atas diri-diri mereka? Uraian berikut insyaallah dapat membantu anda untuk lebih memahami hal tersebut.

*Hari Kiamat Beribu Tahun Lamanya*

Telah disebutkan dalam Al-Qur`an bahwa satu hari kiamat sama dengan tempo seribu tahun di dunia. Allah berfirman (yang artinya), _“Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”_ [QS. Al-Hajj: 47]

Sedangkan pada ayat lain disebutkan bahwa hari kiamat setara dengan lima puluh ribu tahun. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), _“Para malaikat dan ruh naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”_ [QS. Al-Ma’arij: 4]

Shahabat Abdullah bin ‘Abbas menafsirkan bahwa ‘hari’ yang dimaksud adalah hari kiamat.

Para ulama mengkompromikan perbedaan rentang waktu yang disebutkan dalam dua ayat di atas bahwa hari kiamat akan dirasakan berbeda-beda oleh setiap manusia tergantung keadaannya masing-masing. Bagi orang-orang kafir maka hari kiamat akan terasa lama, sedangkan bagi orang-orang beriman justru terasa cepat. Ini didukung oleh hadits tentang firman Allah (yang artinya), _“Pada hari di saat manusia berdiri menghadap Rabb alam semesta.”_ [QS. Al Muthaffifin: 4]

Setelah membaca ayat tersebut Rasulullah bersabda,

يوم يقوم الناس لرب العالمين مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفِ سَنَةٍ فَيَهُوْنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ

_“Pada hari di saat manusia berdiri menghadap Rabb alam semesta yang lamanya setengah hari (ketika itu) setara dengan lima puluh ribu tahun. Namun bagi orang yang beriman akan terasa ringan, hanya seperti (jangka waktu antara) condongnya matahari hendak terbenam hingga terbenamnya.”_ [HR. Abu Ya’la danIbnu Hibban dari shahabat Abu Hurairah dengan sanad shahih]

*Matahari Didekatkan*

Lamanya penantian kala itu terasa semakin berat disebabkan matahari yang didekatkan di atas kepala-kepala manusia. Rasulullah bersabda,

تُدْنىَ الشَّمْسُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنَ الخَلْقِ ، حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ ميلٍ

_“Matahari akan didekatkan kepada manusia pada hari kiamat, hingga hanya berjarak satu mil dari mereka.”_ Sulaim bin ‘Amir , salah satu perawi hadits berkata, “Demi Allah sungguh aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil di sini, apakah satuan jarak perjalanan atau justru mil yang digunakan untuk bercelak”, yaitu stik kecil mendekati ukuran tusuk gigi yang biasa digunakan untuk menyapukan celak ke pelupuk mata.

Tentu tidak terbayang betapa menyengatnya panas yang dirasakan para manusia ketika itu, sampai-sampai tubuh-tubuh mereka tergenang oleh keringat mereka sendiri.

Rasulullah bersabda, dalam lanjutan hadits di atas, _“Maka keadaan manusia sesuai dengan kadar amalannya dalam banyak sedikitnya keringat. Di antara mereka ada yang terendam keringat sampai kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang terendam sampai kedua lututnya, di antara mereka ada yang terendam sampai pinggangnya, dan di antara mereka ada yang dikekang sepenuhnya oleh genangan keringat.”_ Rasulullah bersabda demikian sembari menunjuk ke mulut beliau. [HR. Muslim dari shahabat Miqdad bin Aswad]

*⏯ Bersambung insyaallah…*

✍ Ustadz Abu Ahmad,
Sumber: buletin Al-ilmu

Di repost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*LAPORAN KEGIATAN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

>> Kegiatan PPS 2018

1. Pengadaan Kalender Para Pencinta Sunnah, 300 Eksemplar (Sifat Sholat Nabi) ==> *terlaksana*

2. Baksos di Pacitan, periode ke-3, (bersama team relawan gabungan)

27-28 Januari 2018 di Desa Watu Karung, Ponggok, Sedeng, dan Ds Kedung Bendo, kab.Pacitan
==> *terlaksana*

3. In Syaa Allah : Pengadaan Buku MUI PUSAT tentang kesesatan Syiah, 1.000 eksemplar ==> *tahap percetakan*

=====
Bagi yang ingin berdonasi,
dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Uncategorized

TAUHID RUBUBIYYAH [1]

*TAUHID RUBUBIYYAH [1]*

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa, dan Yang mengatur segala sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“…Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah Rabb-mu, milik- Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [Faathir: 13]

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah yang menciptakan segala sesuatu.” [Az-Zumar: 62]

Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.” [Huud: 6]

Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan, Mahakuasa atas segala sesuatu, Pengatur adanya siang dan malam, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.

Allah menyatakan pula tentang keesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya atas segala alam semesta. Firman Allah Ta’ala:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Rabb (Penguasa) semesta alam.” [Al-Faatihah :2]

Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap Rububiyyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah pun mengakui keesaan dan sifat Rububiyyah-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

“Katakanlah, ‘Siapakah Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah , ‘Maka mengapa kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi dan tidak ada yang dapat dilindungi dari-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian) maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [Al-Mu’-minun: 86-89]

Firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pen-dengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan.’ Maka mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’ Maka, (yang demikian) itu adalah Allah Rabb-mu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka, bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” [Yunus: 31-32]

Juga firman-Nya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Mahamengetahui.’” [Az-Zukhruuf: 9]

Kaum musyrikin mengakui bahwasanya hanya Allah sajalah Pencipta segala sesuatu, Pemberi rizki, Pemilik langit dan bumi dan Pengatur alam semesta, namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, yang mereka bertawassul dengan berhala tersebut dan menjadikan mereka pemberi syafa’at, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat. [2]

Dengan perbuatan tersebut, maka mereka tetap dalam ke-adaan musyrik, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan tidaklah sebagian besar dari mereka beriman kepada Allah, melainkan (mereka) dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain ).” [Yusuf: 106]

Sebagian ulama Salaf berkata: “Jika kalian tanyakan pada mereka: ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi dan gunung-gunung?’ Mereka pasti menjawab: ‘Allah.’ Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.” [3]

Jadi, tauhid Rububiyyah ini diakui semua orang. Tidak ada ummat manapun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para Rasul yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Berkata rasul-rasul mereka, ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’…” [Ibrahim: 10]

Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakini keberadaan Allah. Sebagaimana perkataan Musa Alaihissallam kepadanya:

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, wahai Fir’aun, adalah seorang yang akan binasa.’” [Al-Israa:102]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan tentang Fir’aun dan kaumnya:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan ke-sombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya…” [An-Naml: 14]

Tauhid Rububiyyah ini tidak bermanfaat bagi seseorang yang mengimaninya, kecuali dia diberi petunjuk untuk beriman kepada dua macam tauhid lainnya, yaitu tauhid Uluhiyyah dan tauhid al-Asma’ wash Shifat. Karena Allah telah memberitakan kepada kita bahwa orang-orang musyrikin telah mengenal tauhid Rububiyyah yang dimiliki Allah, namun demikian tidak memberikan manfaat kepada mereka, sebab mereka tidak mengesakan-Nya dalam beribadah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Seandainya keimanan kepada tauhid Rububiyyah ini saja dapat menyelamatkan, tentunya orang-orang musyrik telah diselamatkan. Akan tetapi urusan yang amat penting dan menjadi penentu adalah keimanan kepada tauhid Uluhiyyah yang merupakan pembeda antara orang-orang musyrikin dan orang-orang yang mentauhidkan Allah Ta’ala.” [4]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Disadur dari Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 19-20), oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dan ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 16-18) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan.
[2]. Lihat QS. Yunus:18 dan az-Zumar: 3, 43-44.
[3]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, ‘Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah dan lainnya -رحمهم الله-. Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (II/541-542).
[4]. Madaarijus Saalikiin (I/355) oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Sumber: almanhaj

Direpost oleh Para Pencinta Sunnah

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*LAPORAN KEGIATAN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH 2018*

>> Kegiatan PPS 2018

1. Pengadaan Kalender Para Pencinta Sunnah, 300 Eksemplar (Sifat Sholat Nabi) ==> *terlaksana*

2. Baksos di Pacitan, periode ke-3, (bersama team relawan gabungan)

27-28 Januari 2018 di Desa Watu Karung, Ponggok, Sedeng, dan Ds Kedung Bendo, kab.Pacitan
==> *terlaksana*

3. In Syaa Allah : Pengadaan Buku MUI PUSAT tentang kesesatan Syiah, 1.000 eksemplar ==> *tahap percetakan*

=====
Bagi yang ingin berdonasi,
dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Uncategorized

KISAH NAJMUDDIN AYYUB MENCARI JODOH

┏🍃🌺━━━━━━━━━━━━━━┓
*SEMAAN (SEmoga MAnfaat tuk kawAN)*
┗━━━━━━━━━━━━━━🌺🍃┛

⛱🏡⛱🏡⛱🏡
*KISAH NAJMUDDIN AYYUB MENCARI JODOH*
🌴🌴🌴🌴🌴🌴

_*Semoga Allah mengkaruniakan kami dan anda sekalian dengan semisal isteri yang shalehah ini yang akan menggandeng tangan anda menuju ke dalam jannah*_

🏷 Najmuddin Ayyub (amir Tikrit) belum juga menikah dalam tempo yang lama.

>> Maka bertanyalah sang saudara Asaduddin Syirkuh kepadanya:
_“Wahai saudaraku, kenapa engkau belum juga menikah?”_

● Najmuddin menjawab:
_“Aku belum menemukan seorang pun yang cocok untukku.”_

>> _”Maukah aku pinangkan seorang wanita untukmu?”_
Tawar Asaduddin.

● _“Siapa?”_
Tandasnya.

>> _“Puteri Malik Syah, anak Sulthan Muhammad bin Malik Syah Suthan Bani Saljuk atau puteri menteri Malik,”_
Jawab asaduddin.

● _“Mereka semua tidak cocok untukku”_
Tegas Najmuddin kepadanya.

>> Ia pun terheran, lalu kembali bertanya kepadanya:
_*Lantas siapa yang cocok untukmu?*_

● Najmuddin menjawab:
_*“Aku menginginkan wanita shalehah yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan akan melahirkan seorang anak yang ia didik dengan baik hingga menjadi seorang pemuda dan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”*_

Ini merupakan mimpinya.
Asaduddin pun tak merasa heran dengan ucapan saudaranya tersebut.

>> Ia bertanya kepadanya:
_*Terus dari mana engkau akan mendapatkan wanita seperti ini?*_

● _*“Barang siapa yang mengikhlaskan niatnya hanya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadanya,”*_
jawab Najmuddin.

🏷✏ Suatu hari, Najmuddin duduk bersama salah seorang syaikh di masjid di kota Tikrit berbincang-bincang. Lalu datanglah seorang pemudi memanggil syaikh tersebut dari balik tabir sehingga ia memohon izin dari Najmuddin guna berbicara dengan sang pemudi.
Najmuddin mendengar pembicaraan sang syaikh dengan si pemudi.

°° Syaikh itu berkata kepada si pemudi:
_*Mengapa engkau menolak pemuda yang aku utus ke rumahmu untuk meminangmu?*_

○ Pemudi itu menjawab:
_*Wahai syaikh, ia adalah sebaik-baik pemuda yang memiliki ketampanan dan kedudukan, akan tetapi ia tidak cocok untukku.*_

°° _“Lalu apa yang kamu inginkan?”_
Tanya syaikh.

○ Ia menjawab:
_*”Tuanku asy-syaikh, aku menginginkan seorang pemuda yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan aku akan melahirkan seorang anak darinya yang akan menjadi seorang ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”*_

🌻 *Allahu Akbar*, satu ucapan yang persis dilontarkan oleh Najmuddin kepada saudaranya Asaduddin.
Ia menolak puteri Sulthan dan puteri menteri bersamaan dengan kedudukan dan kecantikan yang mereka miliki.

Demikian juga dengan sang pemudi, ia menolak pemuda yang memiliki kedudukan, ketampanan, dan harta.
Semua ini dilakukan demi apa?
Keduanya mengidamkan sosok yang dapat menggandeng tangannya menuju jannah dan melahirkan seorang ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.

● Bangkitlah Najmuddin seraya memanggil syaikh tersebut,
_*Wahai Syaikh aku ingin menikahi pemudi ini.*_

°° _“Tapi ia seorang wanita fakir dari kampung,”_
Jawab asy-syaikh.

● _*Wanita ini yang saya idamkan.*_
Tegas Najmuddin.

💍Maka menikahlah Najmuddin Ayyub dengan sang pemudi.

*Dan dengan perbuatan, barang siapa yang mengikhlaskan niat, pasti Allah akan berikan rezeki atas niatnya tersebut.*

🎒Maka Allah mengaruniakan seorang putera kepada Najmuddin yang akan menjadi sosok ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.
*Ketahuilah, ksatria itu adalah Shalahuddin al-Ayyubi.*

☝🏻 *_Inilah harta pusaka kita dan inilah yang harus dipelajari oleh anak-anak kita._*

Talkhis:
*Kitabush Shiyam min Syarhil Mumti’* karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaiminرحمه الله.

Di ambil dari Majmu’ah Thalibatul ‘ilmi

Alih bahasa: _*Syabab Forum Salafy*_

****************************

1 رزقنا الله واياكم بمثل هذه الزوجة الطيبة التي تاخذ بيدك الي الجنة

ﻟﻢ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﻳﻮﺏ ‏(ﺃﻣﻴﺮ ﺗﻜﺮﻳﺖ‏) ﻟﻔﺘﺮﺓ ﻃﻮﻳﻠﺔ
ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺃﺧﻮﻩ ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺷﻴﺮﺍﻛﻮﻩ ﻗﺎﺋﻠًﺎ : ﻳﺎﺃﺧﻲ ﻟﻤﺎ ﻻ ﺗﺘﺰﻭﺝ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ :
ﻻ ﺃﺟﺪ ﻣﻦ ﺗﺼﻠﺢ ﻟﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ :
ﺃﻻ

ﺃﺧﻄﺐ ﻟﻚ
ﻗﺎﻝ : ﻣﻦ
ﻗﺎﻝ : ﺍﺑﻨﺔ ﻣﻠﻚ ﺷﺎﻩ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﻠﻚ ﺷﺎﻩ
ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﺠﻮﻗﻲ ﺃﻭ ﺍﺑﻨﺔ ﻭﺯﻳﺮ ﺍﻟﻤﻠﻚ
ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻟﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ : ﺇﻧﻬﻢ ﻻ ﻳﺼﻠﺤﻮﻥ ﻟﻲ
ﻓﻴﺘﻌﺠﺐ ﻣﻨﻪ
ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻟﻪ : ﻭﻣﻦ ﻳﺼﻠﺢ ﻟﻚ
ﻓﻴﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ : ﺇﻧﻤﺎ ﺃﺭﻳﺪ ﺯﻭﺟﺔ ﺻﺎﻟﺤﺔ ﺗﺄﺧﺬ
ﺑﻴﺪﻱ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺃﻧﺠﺐ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻟﺪﺍ ﺗﺤﺴﻦ ﺗﺮﺑﻴﺘﻪ ﺣﺘﻲ
ﻳﺸﺐ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻓﺎﺭﺳًﺎ ﻭﻳﻌﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ
ﻫﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺣﻠﻤﻪ
ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﻛﻼﻡ ﺃﺧﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ: ﻭﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻟﻚ ﺑﻬﺬﻩ
ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ : ﻣﻦ ﺃﺧﻠﺺ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺭﺯﻗﻪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻻﻳﺎﻡ ﻛﺎﻥ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻳﺠﻠﺲ ﺇﻟﻲ ﺷﻴﺦ ﻣﻦ
ﺍﻟﺸﻴﻮﺥ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻓﻲ ﺗﻜﺮﻳﺖ ﻳﺘﺤﺪﺙ ﻣﻌﻪ
ﻓﺠﺎﺀﺕ ﻓﺘﺎﻩ ﺗﻨﺎﺩﻱ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﻦ ﻭﺭﺍﺀ ﺍﻟﺴﺘﺎﺭ ﻓﺎﺳﺘﺄﺫﻥ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﻦ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻴﻜﻠﻢ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ
ﻓﻴﺴﻤﻊ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻫﻮ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﺎ:
ﻟﻤﺎﺫﺍ ﺭﺩﺩﺕ ﺍﻟﻔﺘﻰ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺭﺳﻠﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺘﻜﻢ ﻟﻴﺨﻄﺒﻚ
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻧﻌﻢ ﺍﻟﻔﺘﻰ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
ﻭﺍﻟﻤﻜﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻻﻳﺼﻠﺢ ﻟﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻭﻣﺎﺫﺍ ﺗﺮﻳﺪﻳﻦ
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ : ﺳﻴﺪﻱ ﺍﻟﺸﻴﺦ ، ﺃﺭﻳﺪ ﻓﺘﻰً ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻴﺪﻱ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺠﻨﻪ
ﻭﺃﻧﺠﺐ ﻣﻨﻪ ﻭﻟﺪًﺍ ﻳﺼﺒﺢ ﻓﺎﺭﺳًﺎ ﻳﻌﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ
ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻧﻔﺲ ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻗﺎﻟﻬﺎ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻷﺧﻴﻪ
ﺃﺳﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺭﻓﺾ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﺑﻨﺖ ﺍﻟﻮﺯﻳﺮ ﺑﻤﺎ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﻜﺎﻧﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ ﺭﻓﻀﺖ ﺍﻟﻔﺘﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻧﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻝ
ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ. ﻛﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﻣﺎﺫﺍ
ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻳﺮﻳﺪ ﻣﻦ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻴﺪﻳﻪ ﺇﻟﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﻨﺠﺒﺎﻥ ﻓﺎﺭﺳﺎ
ﻳﻌﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ
ﻓﻘﺎﻡ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻧﺎﺩﻱ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﺗﺰﻭﺝ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺇﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﻓﻘﺮﺍﺀ ﺍﻟﺤﻲ
ﻓﻘﺎﻝ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ
ﻫﺬﻩ ﻣﻦ ﺃﺭﻳﺪﻫﺎ ﺗﺰﻭﺝ ﻧﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﻳﻮﺏ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﺎﺓ ﺳﺖ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺧﺎﺗﻮﻥ
ﻭﺑﺎﻟﻔﻌﻞ ﻣﻦ ﺃﺧﻠﺺ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺭﺯﻗﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﻴﺘﻪ. ﻓﺄﻧﺠﺐ ﻟﻨﺠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻟﺪًﺍ ﺃﺻﺒﺢ ﻓﺎﺭﺳًﺎ ﺃﻋﺎﺩ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﻘﺪﺱ ﺃﻻ ﻭﻫﻮ ﺻﻼﺡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻷﻳﻮﺑﻲ. ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺗﺮﺍﺛﻨﺎ ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﺐ ﺍﻥ ﻳﺪﺭﺱ ﻷﺑﻨﺎﺋﻨﺎ.

ﺗﻠﺨﻴﺺ: ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﺡ ﺍﻟﻤﻤﺘﻊ
ﻟﻠﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

مأخوذ من مجموعة طالبات العلم

sumber: http://forumsalafy.net/kisah-najmuddin-ayyub-mencari-jodoh/

>>>>>●□●<<<<<
_dibagikan ulang untuk *Para Pencinta Sunnah*_

Categories
Uncategorized

AKHLAQ DAN NASEHAT

*AKHLAQ DAN NASEHAT*

*Tidak Menunaikan Amanat Ilmiah dalam Tulisan*

Tidak menunaikan amanat ilmiah, mungkin kami pribadi atau kita sekalian pernah melakukan sebelumnya. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan menjadi pelajaran bagi yang lain. Tetapi yang pertama kali kami sampaikan bahwa kita harus ber-husnuzhon bahwa bisa jadi kesalahan yang dibuat ini dikarenakan tidak tahu bagaimana amanat ilmiah dalam menulis sebuah tulisan.

Berkembangnya tulis-menulis tidak lepas dari pengaruh kemajuan pengetahuan dan teknologi. Perkembangan percetakan, internet, jejaring sosial dan berbagai media menyebabkan manusia sangat memanfaatkannya baik untuk kepentingan dunia atau kepentingan dakwah sebagai tabungan di akherat. Sesuatu hal yang patut kita syukuri karena dahulu di zaman para ulama, buku sangat berharga sekali. Jika ingin memperbanyak, maka harus disalin dengan tulisan tangan, dengan teliti beserta konsekuensi kesalahan yang kecil dan beberapa coretan untuk memperbaiki. Sampai-sampai dahulu dikenal ungkapan jika meminjamkan buku adalah suatu hal yang sangat merugikan.

Bersamaan dengan nikmat Allah ini, maka terkadang kita terjerumus dalam penulisan yang kurang memperhatikan amanat ilmiah. Yang setelah dipikir dan direnungi sebabnya adalah perasaan ingin dianggap tinggi ilmunya dan mengharap pujian dari manusia.

Bentuk Tidak Amanah dalam Tulisan

1- Menulis berbagai referensi, tetapi tidak mengambil bahan tulisan dari referensi tersebut

Sebaiknya mencantumkan referensi atau maraji’ sesuai dengan buku atau kitab yang dibaca kemudian diambil dan dinukil ilmu dari sumber tersebut. Terkadang kita menulis berbagai macam referensi kitab-kitab dengan tujuan agar pembaca tahu bahwa kita telah banyak menelaah kitab, telah banyak membaca dan melakukan penelitian mendalam.Padahal kita sekedar melihat-lihat sekilas, bahkan yang parah kita tidak membacanya sama sekali.

Sekedar contoh yang kurang tepat, ketika membuat judul tulisan “Keutamaan Tauhid” kemudian mencantumkan sumber yang sangat banyak dan tidak semua sumber ini dibaca.

Referensi:

Kitabut Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Qoulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Al Utsaimin
At Tamhid lisyarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh
Qoulus Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy
Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh
Mulakhkhos Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih Sholih bin Fauzan bin ‘ Abdillah Al Fauzan
I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘ Abdillah Al Fauzan

2- Jika sumbernya adalah buku terjemahan maka cantumkan buku tersebut adalah terjemahan

Hal ini juga termasuk kurang menunaikan amanat ilmiah tulisan. Kemungkinan besar tujuannya sama yaitu agar dikira lebih berilmu dan berharap pujian manusia.

Contohnya dalam tulisan,

“Dalam kitab Qoulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Al-Utsaimin, dijelaskan demikian dan demikian”

“Kami menemukan penjelasan yang bagus dalam kitab Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh bahwa…”

Jika kita membaca buku terjemahannya, maka kita tuliskan kutipan judul buku terjemahan tersebut, halaman berapa, penerbit dan cetakan keberapa. Karena terjemahan terkadang kurang tepat sehingga jika ada yang ingin menelaah tulisan kita lebih mendalam, mereka terkadang terkecoh karena rujukan yang dipakai sebenarnya adalah buku terjemahan, bukan kitab asli dengan bahasa Arab.

3- Jika kita mengutip dari sebuah tulisan maka cantumkan sumber tulisan tersebut

Sama seperti penjelasan di atas, jika mengutip sebuah kutipan tidak dari sumber asli kitabnya, maka cantumkan sumber tulisan tersebut.

Contohnya, ada kutipan dari tulisan seorang ustadz misalnya dari majalah A.

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau ber

asal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thabari 21: 386, Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari, terbitan Dar Hijr)

Jika kita tidak mengecek ke kitab aslinya, maka sebaiknya kita cantumkan sumber kutipan kita, karena ini amanat ilmiah. Bisa jadi terjemahannya kurang tepat atau ada yang terlewatkan. Sebaiknya kita cantumkan,

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari 21: 386, Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr, dikutip dari tulisan ustadz fulan, dengan judul.., di majalah… terbitan… halaman sekian)

4- Hanya sekedar menambah atau merubah sedikit tetapi menisbatkan tulisan tersebut pada dirinya

Ini juga sesuatu yang kurang tepat, yaitu meng-copy paste sebuah tulisan kemudian menambah atau merubah sedikit dengan komentar kemudian menisbatkan tulisan itu sebagai hasil karyanya baik dengan terang-terangan atau bahasa kiasan.

Contohnya, di akhir atau di awal tulisan ditulis,

“Ditulis oleh fulan, di kota A, pukul sekian, bertepatan dengan…”

Atau dengan bahasa kiasan,

“Oleh: fulan, di kota A, pukul sekian, bertepatan dengan…”

“Diselesaikan di kota A, oleh fulan”

Bisa jadi maksud kata “oleh” yaitu mempublikasikan, tetapi maksudnya mengharapkan pembaca menyangka bahwa ia yang menulis. Sebaiknya kita sampaikan sumber tulisan dan penulisnya. Kemudian kita jelaskan apa bagian yang kita tambahkan.

Atau yang agak parah, sekedar meng-copy paste tanpa tambahan dari sebuah buku atau tulisan kemudian melakukan hal diatas.

5- Menaruh tulisan di situs atau blog miliknya tanpa izin penulis

Jika penulisnya mengatakan silakan menyebarkan dan meng-copy paste asal mencantumkan sumber, maka tidak mengapa tanpa izin langsung. Termasuk adab, yang kita meminta izin jika menggunakan hak orang lain.

Begitu juga jika itu adalah hak sebuah majalah yang diberikan oleh penulisnya. Di mana jika tulisan tersebut menyebar dengan mudahnya, maka akan merugikan majalah tersebut. Hal ini bukan maksudnya membatasi penyebaran ilmu, akan tetapi ada waktunya boleh disebarkan, misalnya ketika telah diterbitkan oleh majalah tersebut. Kami rasa tidak ada majalah Islam yang berniat dakwah kemudian membatasi tulisan tersebut. Wallahu a’lam

Harapan itu adalah Pujian manusia

“Masya Allah, tulisan yang bagus..”

“Keren, bisa menambah pengetahuan”

“Mantap sekali, pembahasan yang dalam”

Jika kita kurang beriman, mungkin inilah kata-kata dan ungkapan yang menjadi tujuan utama dan paling dinanti-nanti. Bagi yang ikhlas dan berusaha menggapainya, maka ia berharap komentar-komentar di atas adalah kabar gembira yang disegerakan dari Allah. Yaitu berniat beramal dengan keikhlasan awalnya, kemudian datanglah pujian-pujian manusia yang tidak kita harapkan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ditanya tentang seorang yang melakukan kebaikan kemudian dipuji oleh manusia, maka beliau bersabda,

تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

“Hal tersebut merupakan kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim no. 2642)

Kemudian kita jangan terbawa melangit oleh pujian tersebut. Kita harus sering-sering membaca doa ketika dipuji.

اللهم لا تؤاخذني بما يقولون, واغفرلي ما لا يعلمون (واجعلني خيرا مما يظنون)

Allahumma laa tuaa-khidzni bimaa yaquuluun, waghfirli maa laa ya’lamuun (waj’alni khoiron mimmaa yadhunnuun)

“Yaa Allah, janganlah Engkau siksa aku dengan sebab (pujian) yang mereka ucapkan, dan ampunilah aku dari (perbuatan dosa) yang tidak mereka ketahui (dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka)”(HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad no 585, dishahihkan oleh Syaikh Albani. Bagian akhir adalah tambahan riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman 4: 228)

– Yaa Allah, janganlah

Engkau siksa aku dengan sebab (pujian) yang mereka ucapkan, yaitu berupa ujub dan sombong atas karunia kemudian tidak bersyukur

– Ampunilah aku dari (perbuatan dosa) yang tidak mereka ketahui, yaitu banyak dosa-dosa yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi dan masih ditutupi oleh Allah, seandainya manusia tahu sedikit saja, mungkin kita tidak berani muncul dihadapan mereka.

– Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, yaitu lebih baik dari sangkaan mereka saat ini.

Asal Menjawab dan Memberi Fatwa

Yang kita khawatirkan adalah banyak komentar dan pujian yang menyematkan gelar ustadz kepada kita, padahal kita masih seorang penuntut ilmu.

“Jazakallahu khair atas ilmunya ustadz”

“Syukron ustadz”

“Sangat bermanfaat ustadz”

Hal ini tidak mengapa jika orang tersebut adalah ustadz yang memang sudah mumpuni ilmunya. Perlu kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memuji orang lain di hadapannya kecuali melihat ada mashlahat,

Abu Musa berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

أهْلَكْتُم أو قطعتم ظهرَ الرجل

”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu(HR. Bukhari no.78, Kitab Al Adab,no. 54 Bab Maa Yukrohu Minat Tamaduh; Muslim no. 53 Kitab Az Zuhd)

Kemudian karena seringnya dipanggil ustadz, akhirnya kita merasa gengsi jika tidak mampu menjawab suatu pertanyaan, dan akhirnya kita berfatwa tanpa ilmu. Semoga Allah melindungi kita dari hal seperti ini. Amin yaa mujibas saailin.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Editor: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: Muslim.or.id

Categories
Uncategorized

PANDUAN MENUNTUT ILMU

*PANDUAN MENUNTUT ILMU*

_Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du._

*Ilmu Yang Bermanfaat*

Ialah *ilmu yang diatas dalil-dalil yang shohih atau ilmu yang dibawah oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.* Dan tanda-tanda ilmu yang bermanfaat adalah:

ⓐ Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli terhadap kedudukan, benci terhadap pujian manusia, tidak menganggap dirinya suci, tidak sombong terhadap orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.

ⓑ Pemilik ilmu yang bermanfaat, apabila ilmunya bertambah, maka bertambah pula sikap tawadhunya, rasa takut, kehinaan, dan ketundukan di hadapan Allah.

ⓒ Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia.

ⓓ Pemilik ilmu yang bermanfaat tidak mengaku-ngaku memiliki ilmu dan tidak berbangga dengan ilmunya.

📈 *Tingkatan-Tingkatan Ilmu*

1- Mendengar pelajaran dengan baik.

2- Memahami pelajaran yang disampaikan dengan baik.

3- Komitmen untuk menghafal agar ilmu tidak hilang.

4- Menyampaikan atau menyebarkan ilmu dengan sabar.

*Cara Memperoleh Ilmu Yang Syar’i*

Yaitu dengan cara:

_■ Mengkaji dari kitab-kitab terpercaya._

_■ Mengkaji ilmu dari seorang guru yang terpercaya dalam ilmu dan agamanya._

🗒 *Kiat-Kiat Meraih Ilmu Syar’i*

ⓐ Wajib ikhlas dalam menuntut ilmu (Al-Bayyinah:5).

ⓑ Berdoa kepada Allah untuk diberi ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana doa dalam Al-Quran :

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

_*”Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”*_ [QS. Ta-Ha 20: Ayat 114]

🏷 Dan doa yang senangtiasa yang diucapkan oleh Rasulullah:

*اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

_*”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima.”*_ [HR. Ibnu Majah dan ahli hadits yang lain. Lihat kitab Shahih Ibnu Majah 1/152 dan Majma’uz Zawaaid 10/111]

ⓒ Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan rindu untuk mendapatkannya keutamaannya. Seorang ulama pernah berkata bahwa ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai).

ⓓ Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَ اللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

_*”Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.”*_ [QS. Al-Anfal 8: Ayat 29]

Imam Ibnul Qoyyim berkata *seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat.*

ⓔ Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu. Imam Mujahid berkata: Tidak akan mendapatkan ilmu orang yang malu dan orang yang sombong.

ⓕ Mendengarkan dengan baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh, atau guru.

ⓖ Diam ketika pelajaran disampaikan

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

_*”Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”*_ [Al-Araf:204].

💬 Bahkan Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: _*”Seorang murid tidak boleh mengangkat suara tanpa keperluan, tidak boleh tertawa, tidak boleh banyak berbicara tanpa kebutuhan, bahkan ia harus menghadapkan wajahnya kearah gurunya.”*_

ⓗ Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan. Kiat untuk memahami ilmu yang disampaikan yaitu:

• Mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru.
• Memperhatikan penjelasan guru dengan baik.
• Tidak banyak bertanya pada saat pelajaran disampaikan.
• Tidak mengambil aktivitas lain ketika pelajaran disampaikan.
• Mengulang pelajaran setelah kajian selesai.
• Bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
• Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan.
• Mengikat ilmu dengan tulisan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

*“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya.”* [Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026]

• Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
• Mendakwahkan ilmu dengan sabar.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ

_*”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”*_ [An-Nahl : 125]

🖇 _Seseorang yang ingin menyampaikan ilmu syar’i, maka ia harus terlebih dahulu untuk mengilmui hal tersebut. Syarat untuk mendakwahkan ilmu ada empat, yaitu:_

*1- Niat yang ikhlas.*
*2- Aqidahnya benar.*
*3- Manhajnya benar.*
*4- Beramal dengan benar.*

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: “MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA” Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas.