DAKWAH JAHRIYYAH



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 22 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 3)”*

*📜 HIKMAH (PELAJARAN)*

[A]
Dakwah rahasia ataupun terang-terangan, semuanya berpegang pada ‘1 tujuan yaitu untuk menyatukan umat manusia dengan kalimat tauhid’, yakni hati tidak tergantung kecuali hanya kepada ALLAH, seseorang tidak akan mendapatkan manfaat hanya dengan kehebatan kabilahnya taupun keluarganya.

Semua ini adalah bentuk pengarahan manusia untuk hanya mengesakan ALLAH, beribadah hanya untuk ALLAH, dan itu adalah masalah yang prinsip karena masuk ke dalam area akidah yang maksudnya adalah menetapkan hak ubudiyah hanya milik ALLAH, Tak ada yang disembah kecuali ALLAH, Tak ada yang ditaati kecuali ALLAH, Dan tidak ada sekutu bagi-NYA.

‘Masalah yang paling asasi dan paling pertama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dakwahkan adalah masalah akidah & itulah inti ajaran Rasul-Rasul sebelumnya’ [Dalilnya QS. Al-Anbiya: 25].

Begitulah semestinya yang menjadi misi setiap da’i yang mengajak kepada kebenaran. Karena ‘apabila akidah benar, maka amalan setelah itu pun akan benar. Dan jika akidah tidak benar, maka segala amalan tidak ada artinya’ [Dalilnya QS. Al-Furqan: 23).

[B]
‘Memulai dari kerabat dekat’ walaupun pada hakikatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah milik umat,
adalah untuk menunjukkan tingkat tanggung jawab setiap individu,
yang mesti dimulai dari keluarga & kerabat dekat, karena ‘seseorang akan bertanggung jawab tentang keluarganya, anak-anaknya dan istrinya, orang tuanya dan kerabat dekatnya.’
Setiap yang mengingat firman ALLAH, “Dan berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu”, dia akan megetahui bahwa seorang dituntut memberikan perhatian yang lebih besar terhadap keluarganya dalam berdakwah. Akan tetapi justru beberapa orang malah mengabaikan keluarganya & sibuk berdakwah mengajak selain mereka. Cara seperti ini sebenarnya adalah mengabaikan prioritas tanggung jawab yang harus disandingkan antara kerabat dekat dan manusia secara keseluruhan.

[C]
Firman ALLAH, “Dan lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”, yang dimaksud dengan As-Shad’u adalah ketegaran dalam prinsip yang benar dan jelas, kamu bisa berkata: Inshada’a Al-Jabalu Aw Al-Jidaru (Pecah gunung atau tembok itu), di dalam kata As-Shad’u terdapat makna kekuatan, keuletan, dan kejelasan. Begitulah semestinya seorang muslim tatkala mengajak kepada kebenaran, dia tampil penuh percaya diri, suaranya lantang dan bukan kecil karena malu-malu.

Sebagian anak muda kaum muslim terkadang kurang bangga dengan agamanya, dia malu menyebut nama ALLAH ketika berada dalam majlis, bahkan malu bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia melakukan basa-basi yang berlebihan dengan mengorbankan agama, dia khawatir mendapat cap agamawan, sok alim, (kolot, fanatik) atau bahkan terbelakang karena beragama. Dia hanya taat apabila sendirian, tetapi di depan orang banyak, sangat lemah. Apabila berada di sebuah majlis dan adzan telah dikumandangkan, dia malu mengajak untuk shalat.

Ibnul Qayyim rahimahullah setelah membagi manusia ke dalam 4 macam berkata, “Seorang yang dekat dengan ALLAH, baik ketika sendirian ataupun bersama orang banyak, maka itulah ‘orang yang jujur dan cinta ALLAH’.

Seorang yang kelihatan shalih bila bersama orang banyak dan kehilangan keshalihan tatkala sendirian,
maka itu adalah ‘orang yang sakit’.

Dan siapa yang kehilangan keshalihan,
baik ketika sendirian ataupun dengan orang banyak, maka itulah ‘orang yang telah mati dan terabaikan’.

Namun, bagi orang yang hilang keshalihan ketika bersama orang lain dan menemukan keshalihan itu ketika sendirian, Maka orang tersebut adalah ‘orang jujur yang lemah’ ”.[Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, hal. 43]

[D]
Mengapa sikap dan permusuhan Abu Lahab begitu sengit sejak awal kelahiran dakwah?
Sikap Abu Lahab yang berlebihan serta permusuhan yang kental dari awal menunjukkan bahwa dakwah itu bukanlah dakwah golongan atau kabilah, tetapi merupakan agama baru yang berasal dari ALLAH untuk seluruh makhluk manusia dan jin.

[E]
Ucapan Abu Lahab yang berbunyi,
“Tabban laka ali hadza jama’-tana?” (celakalah kamu wahai Muhammad, apakah hanya karena ini kamu kumpulkan kami?),
mengandung pelajaran yang penting bagi yang bergelut dalam ladang dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar,
yaitu dia pasti ‘akan mendapatkan kata yang serupa dengan kata itu’.

Oleh karena itu, apabila kamu mengajak kepada kebaikan dan melarang dari yang mungkar, atau sedang memberikan nasihat, atau sedang berbicara tentang agama dan menemukan adanya rintangan, maka jangan merasa bersedih karena rintangan seperti itu, bahkan yang lebih tajam darinya telah dikatakan kepara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Aib dan kekurangan bukanlah dalam kepribadian sang da’i, tetapi kesalahan ada pada orang yang melontarkan kata-kata pedas itu dalam menghadapi dakwah.

[F]
Ada bukti kemukjizatan Al-Qur’an dalam surat Al-Masad.
Abu Lahab pada waktu ayat itu diturunkan masih dalam keadaan hidup, walaupun demikian Al-Qur’an memutuskan bahwa dia tidak akan datang suatu saat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk menyatakan, “Saya telah beriman kepadamu wahai Muhammad”. Keputusan seperti itu terhadap manusia yang masih hidup tidak mungkin berasal dari seorang manusia, karena bisa saja Abu Lahab datang suatu saat dengan berkata, “Muhammad telah memutuskan bahwa saya tidak akan beriman, dan ini saya datang kepadanya menyatakan keimanan saya”.

Kemudian ‘siapa yang memberitahukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa Abu Lahab akan mati dalam kekafiran?’

Sementara sangat banyak penduduk Makkah yang telah menyiksa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Walaupun demikian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak menghakimi mereka dengan api neraka karena setelah itu, banyak yang datang dan menyatakan keislaman. Sekali lagi pertanyaannya adalah, “Siapa yang memberitahukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa Abu Lahab tidak akan seperti mereka?”

Pengadilan seperti itu bahwa Abu Lahab akan masuk neraka tidak mungkin berasal dari seorang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, melainkan dari Dzat Yang Maha Mengetahui alam gaib. ‘Pada ayat ini, terdapat bukti kemukjizatan Al-Qur’an yang paling besar dan bantahan yang tajam terhadap yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam’.

[G]
Dalam firman ALLAH [QS. Al-Hijir: 95] terdapat pelajaran yang mulia, karena bagi yang memiliki kekuasaan bisa saja berkata, “Saya akan menjagamu, tidak akan ada orang yang bisa menyentuhmu, saya jaga kamu dari gangguan orang kepadamu”, tetapi bagaimanapun kekuatannya dia tidak mungkin berkata, “Saya jaga kamu dari setiap yang memperolok-olok kamu”, karena arti memperolok-olok termasuk di antaranya yaitu lirikan mata, gerakan tangan, perkataan dengan suara tertentu atau dengan tertawa, atau dengan komentar yang hanya orang tertentu yang bisa memahaminya, kemudian siapa yang mampu mengantisipasi itu semua?

Akan tetapi, ALLAH Ta’ala berfirman,
“Kamilah yang mencukupkan kamu dari segala yang memperolok-olokmu”, dengan kata lampau yang telah terjadi dan telah terbukti. Selain itu, ayat tersebut memakai kata Kafainaaka (mencukupkanmu), tidak memakai kata Namna’u (Kami akan/sedang menghalangi) karena olok-olok tersebut telah terjadi, karena ALLAH mencukupi Nabi-NYA. Kemudian ada isyarat lembut dari ayat ini yaitu Sesungguhnya Yang mampu mencukupkan Rasul-NYA dari segala macam bentuk olokan, maka Dia akan lebih mampu untuk mencukupkan Rasul-NYA dari gangguan yang berbentuk fisik dan nyata.

Dalam firman ALLAH Ta’ala: “dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)”.[QS. Al-Hijir: 97-98]

Ayat ini menunjukkan bahwa hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terasa sempit dan tertekan dengan kata-kata mereka yang pedas itu dalam menantang agama, dan ALLAH memberikan jalan keluar dengan firmannya, “Kami telah mengetahui bahwa hatimu terasa sempit karena kata-kata mereka, maka senantiasalah bertasbih kepada ALLAH dan jadilah orang yang banyak bersujud, dan sembahlah ALLAH hingga maut datang menjemputmu”.[QS. Al-Hijir: 97-99]

Oleh karena itu, ‘apabila hatimu terasa sempit maka bertasbihlah’, dan ini juga merupakan terapi bagi setiap yang merasakan kegundahan hati dalam menghadapi problematika kehidupan ini.

Sungguh banyak manusia yang tertekan karena kata-kata yang diajukan kepadanya, atau bahkan dari kata-kata yang dikatakannya sendiri, dan pada saat itu ‘solusi yang menjadi terapinya adalah bertasbih kepada ALLAH dan menyembah ALLAH hingga datang ajal menjemput’. Hal ini dikarenakan terapi yang dipakai dalam mengobati kesedihan hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga terapi dalam mengobati setiap manusia yang merasakan himpitan dada karena masalah yang dihadapinya.

In Syaa Allah bersambung minggu depan…………..

Sumber Buku:

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply