Di Atas Bukit Shafa



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 21 —————

*“DAKWAH JAHRIYYAH (bagian 2)”*

– Di Atas Bukit Shafa –

Setalah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yakin dengan janji pamannya, Abu Thalib, yang akan melindunginya dalam tugasnya menyampaikan Wahyu Rabbnya, suatu hari beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdiri di atas bukit Shafa seraya berteriak,

“Ya shabahah!”
(seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi & biasa digunakan untuk perang).

Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengajak mereka untuk bertauhid (kepada ALLAH), beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.

Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan satu sisi dari kisah ini, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat’ [QS. Asy-Syu’ara: 214], Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam naik ke atas bukit Shafa, lalu menyeru,
‘Wahai Bani Fihr!
Wahai Bani ‘Adi!’
Seruan ini diarahkan kepada marga-marga Quraisy. Kemudian tak berapa lama, mereka pun berkumpul.

Karena begitu pentingnya panggilan itu, seseorang yang tidak bisa keluar memenuhinya,mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi? Maka, tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisy pun berkumpul juga. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam berbicara,
‘Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?’

Mereka menjawab,
‘Ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran’.

Abu Lahab menanggapi,
‘Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?’

Maka ketika itu turunlah ayat:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab …” [QS. Al-Masad ayat 1] [1]

Imam Muslim meriwayatkan satu sisi lain dari kisah tersebut, yaitu riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Tatkala ayat : ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat’ [Asy-Syu’ara: 214] turun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendakwahi mereka, sesekali bersifat umum, dan sesekali yang lain bersifat khusus.
Beliau berkata, ‘Wahai kaum Quraisy!Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.
Wahai Bani Ka’b! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka.
Wahai Fathimah binti Muhammad!Selamatkanlah dirimu dari api neraka.
Demi ALLAH! Sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu pun (untuk menyelamatkan kalian) dari azab ALLAH, Hanya saja kalian memiliki ikatan kerabat (denganku) yang senantiasa akan aku sambung”. [2]

Teriakan yang keras ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah yang optimal, di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut adalah bentuk efektifitas semua hubungan antara dirinya dan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudidayakan oleh orang-orang Arab akan meleleh di dalam panasnya peringatan yang datang dari ALLAH tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berdakwah secara rahasia selama 3 tahun, kemudian diturunkan kepadanya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), “ [QS. Al-Hijir: 94-95].

Oleh karena itu, beliau mengumumkan dakwahnya dan pada saat itu, kaumnya pula yang memulai perlawanan dan permusuhan secara terang-terangan, dan rintangan serta tantangan semakin bertambah atasnya dan umat Islam. [3]

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengumpulkan Bani Abdul Muththalib hingga terkumpul dalam jumlah yang banyak, mereka semuanya memakan daging jadz’ah [4] dan meminum faraq [5]
Dia berkata, ‘Beliau membuat makanan dan mereka memakannya hingga kenyang’.
Dia berkata, “Makanan itu seperti belum pernah dimakan”,
kemudian beliau meminta bejana kecil dan mereka minum hingga kenyang.
Namun, minuman itu seperti belum pernah diminum.

Beliau berkata, “Wahai Bani Abdul Muththalib, sesungguhnya saya diutus kepada kalian secara khusus dan kepada umat manusia secara umum,
dan kalian telah menyaksikan salah satu dari tanda-tanda kenabian saya,
maka siapakah di antara kalian yang bersedia membai’at saya untuk menjadi saudara dan sahabat saya?”

Ali berkata, “Tidak seorang pun yang bangkit dari duduknya’,
Ali berkata, ‘Akhirnya saya berdiri dan berjalan kepadanya, sementara saya adalah anak yang paling muda di antara mereka’,
Beliau berkata, ‘Duduk kembali wahai Ali’, pertanyaan itu diulangi sampai tiga kali dan setiap dia meminta untuk dibai’at, saya selalu berdiri dan menuju kepadanya dan dia pun selalu mengatakan, ‘duduklah’. Hingga pada saat yang ketiga kalinya, beliau meletakkan tangannya di atas tangan saya’. [6]

In Syaa Allah bersambung minggu depan………….

Sumber Buku:
– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

[1]
Shahih Al-Bukhari, 2/702,734. Shahih Muslim, 1/114.

[2]
Shahih Muslim, ibid ; Shahih Al-Bukhari, 1/385, 2/702; Misykah Al-Mashabih, 2/460.

[3]
Ibnul Qayyim, Zad Al-Ma’ad, 1/86.

[4]
Jadza’ah adalah domba atau kambing yang berusia 1 tahun atau lebih. Adapun menurut istilah rinciannya lihat buku Al-Qamus Al-Fikihi Lugatan Waistilahan. Sa’di Abu Jaib, hal.59.

[5]
Timbangan makanan sebanyak 16 belas liter atau 12 mud atau tiga sha’ menurut orang Hijaz. Lihat Ibnu Atsir, An-Nihayah fi garibi Al-Hadits, 3/347, menunjukkan sebuah wadah besar yang cukup untuk diminum orang banyak.

[6]
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnad, lihat Al-Banna, Al-Fathu Ar-Rabbani Litattrtibi Musnad Imam Ahmad, 20/224.
Al-Banna berkata, “Diriwayatkan oleh Al-Haitsami dengan panjang lebar”.
Al-Haitsami berkata, ‘diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan lafaznya, dan Ahmad dengan ringkas, dan At-Tabrani dalam kitab Al-Ausath juga dengan ringkas, dan perawi yang dipakai Ahmad dan salah satu dari dua sanad Al-Bazzar adalah perawi yang kredibel, selain Syuraik, namun dia tetap tepercaya (tsiqah) Bulugu Al-Amani Min Asrari Al-Fathi Ar-Rabbani, 20/224. Lihat As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah, karya As-Shuyani hal.72, dia berkata: ‘Sanadnya kuat’.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *