DI GUA HIRA’



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 16 —————

*⛰ “ DI GUA HIRA’ ” ⛰*

Tatkala usia beliau sudah mendekati 40 tahun dan perenungannya terdahulu telah memperluas jurang pemikiran antara diri beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan kaumnya, beliau mulai suka mengasingkan diri. Karenanya, beliau biasa membawa roti gandum & bekal air menuju Gua Hira’ yang terletak di ‘Jabal Nur’, yaitu sejauh hampir 2 mil dari Makkah.

Gua ini merupakan gua yang sejuk,
panjangnya 4 hasta, lebarnya 1.75 hasta dengan ukuran dzira’ al-Hadid (hasta ukuran besi). Beliau tinggal di dalam gua tersebut bulan Ramadhan, memberi makan orang-orang miskin yang mengunjunginya, menghabiskan waktunya dalam beribadah dan berfikir mengenai pemandangan alam di sekitarnya dan kekuasaan yang menciptakan sedemikian sempurna di balik itu.

Beliau tidak dapat tenang melihat kondisi kaumnya yang masih terbelenggu oleh keyakinan syirik yang usang & gambaran tentangnya yang demikian rapuh, akan tetapi beliau tidak memiliki jalan yang terang, manhaj yang jelas ataupun jalan yang harus dituju, yang berkenan di hatinya dan disetujuinya.

Pilihan mengasingkan diri (uzlah) yang diambil oleh beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam ini merupakan bagian dari tadbir (skenario) ALLAH terhadapnya.
Juga, agar terputusnya kontak dengan kesibukan-kesibukan duniawi, goncangan kehidupan dan ambisi-ambisi kecil manusia yang mengusik kehidupan menjadi sebagai suatu perubahan, untuk kemudian mempersiapkan diri menghadapi urusan besar yang sudah menantinya sehingga siap mengemban amanah yang agung, merubah wajah bumi dan meluruskan garis sejarah.

Uzlah yang sudah diatur oleh ALLAH ini terjadi 3 tahun menjelang beliau diangkat sebagai rasul. Beliau menjalani uzlah selama sebulan dengan semangat hidup yang penuh kebebasan & merenungi keghaiban yang tersembungi di balik kehidupan tersebut hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengannya saat ALLAH memperkenankannya. [Kisah aslinya dapat dilihat pada Shahih Al-Bukhari, Jilid. 3; Sirah Ibnu Hisyam, op.cit., 1/235-236]

Ketika masa kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebentar lagi tiba, di kalangan bangsa-bangsa lain, telah tersebar berita bahwa ALLAH Ta’ala akan mengutus seorang Nabi pada zaman ini dan masa itu telah dekat. Mereka yang mempunyai kitab mengenal hal tersebut dari kitab mereka. Sementara yang tak berkitab, mereka mengenalnya dari tanda-tanda lain.

‘Ibnu Ishak berkata,’ “Para pendeta dari Yahudi (Al-Ahbar) dan para pendeta dari Nashrani (Ar-Ruhban) & dukun-dukun dari kalangan Arab, mereka semua telah ramai membicarakan Nabi terakhir menjelang kedatangannya. Adapun pada pendeta Yahudi dan Nashrani sumber berita mereka adalah berdasarkan pesan-pesan dari kitab mereka tentang ciri-ciri Nabi itu dan ciri-ciri zaman ketika nabi itu akan diutus. Adapun para dukun, maka sumber beritanya adalah para jin yang telah menguping dan merekalah yang memberitahukan kepada para dukun itu. Dukun wanita dan laki-laki selalu menyebut hal itu, tetapi bangsa Arab tidak menghiraukannya hingga ALLAH mengutus Nabi itu, dan apa yang mereka sebutkan itu ternyata benar terbukti. Maka pada saat itulah, bangsa Arab baru menyadarinya.”

Di antara yang selalu dibicarakan oleh kaum Yahudi & Nashrani mengenai Nabi adalah riwayat yang menjelaskan bahwa seorang Yahudi dari tetangga Bani Abdu Al-Asyhal di Madinah, dia bercerita kepada mereka tentang hari kebangkitan, perhitungan, timbangan, surga dan neraka. Warga Madinah mengingkarinya dan meminta tanda dan buktinya, hingga orang Yahudi itu berkata, “Akan datang seorang Nabi yang diutus dari sekitar wilayah ini”, sambil menunjuk ke arah Yaman dan Makkah.

Kisah Ibnu Al-Haiban yang telah datang dari Syam menuju Madinah beberapa tahun menjelang kenabian,
dia menjelaskan kepada orang Yahudi di Madinah tentang sebab kedatangannya yaitu karena memperkirakan akan datangnya seorang Nabi yang akan dia ikuti, ‘kemudian mengajak orang Yahudi untuk mengikutinya’.

Kisah Salman Al-Farisi yang datang dari Persia mencari agama yang benar, hingga pendeta memberikan petunjuk tentang tempat akan diutus & telah dekatnya masa itu.

‘Ibnu Katsir rahimahullah berkata,’
“Ulama berbeda pendapat tentang ibadah beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebelum kenabian apakah sesuai dengan syariat atau tidak, kalau sesuai, maka syariat itu bentuknya apa?
Ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Nuh ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam dan itulah yang lebih dekat dan lebih kuat. Ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Musa ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan sesuai dengan syariat Nabi Isa ‘alaihis sallam, ada yang mengatakan bahwa semua yang dia ketahui bahwa itu adalah pernah disyariatkan, maka dia ikuti & amalkan.”

‘Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata’, “Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam naik ke Gua Hira’ kemudian ber-takhannuts dan beribadah kepada ALLAH Azza wa Jalla sesuai dengan yang ALLAH berikan petunjuk kepadanya”.

In Syaa Allah bersambung minggu depan……

📝 “FOOTNOTES:”

📜 HIKMAH (PELAJARAN)

[1]
Pentingnya mengikuti kejadian yang sedang berlangsung dan mengaitkannya dengan nash-nash syar’i, kemudian mengambil pelajaran darinya dalam memprediksikan masalah yang akan datang, karena mereka yang memiliki pengetahuan dan mengikuti perkembangan berita, mereka itulah yang mengetahui dekatnya masa kedatangan Nabi akhir zaman. Sementara mereka yang tidak mengikuti perkembangan dan tidak peduli dengan fenomena kejadian, mereka itulah yang menganggap masa kenabian sebagai kejadian yang mengagetkan dan asing.

[2]
Bahwa apa yang kita rasakan sekarang ini, dari semakin banyaknya penganut agama Islam, semangat yang tinggi untuk mengenalnya & mengamalkan ajarannya adalah bukan sesuatu yang kebetulan. Sebagaimana Yahudi dan Nashrani serta para paranormal mengenal masa kenabian, kita juga menemukan orang yang menulis fenomena maraknya manusia dewasa ini untuk mengenal Islam bukanlah termasuk meraba-raba perkara ghaib, tetapi pengamatan dan penelitianlah yang mengantar mereka sampai kepada prediksi itu.

[3]
Pentingnya khalwat (menyendiri) dalam kehidupan seorang muslilm,
menyendiri, menginstropeksi diri, merenungi ketidakberdayaannya di hadapan kekuasaan ALLAH, dan ber-tafakkur tentang alam semesta ini, dengan berupaya mengambil 2 pelajaran utama dari penyendirian itu:

a) Mengenal kekurangan diri seperti ‘ujub (menyombongkan kebaikannya), kibir (merendahkan orang lain), dengki, riya dan lain-lain, kemudian beristighfar, bertaubat, dan kembali kepada ALLAH Ta’ala

b) Berdzikir kepada ALLAH Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-NYA, serta mengingat surga dan neraka serta hari akhirat, dan perjalanan akhir seorang manusia, dan hal-hal lainnya yang bisa mengantarkan kepada ketaatan, dan jauh dari kemaksiatan.

[4]
Yang dimaksud dengan khalwat (menyendiri) yang dianjurkan adalah bukan khalwat dengan cara-cara yang menyimpang, melainkan meluangkan waktu untuk beribadah kepada ALLAH, dan menjadikan ibadah ini sebagai sarana menambah ketaatan dan menghadapi rintangan-rintangan kehidupan dunia. Seperti bangkit di malam hari untuk shalat tahajjud, qiyamullail dan membaca Al-Qur’an. [Fikih Sirah Nabawiyah]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “ALLAH Ta’ala turun setiap malam ke langit bumi pada waktu sepertiga malam terakhir kemudian berkata, “Siapa yang minta kepada-KU, maka akan AKU penuhi permintaannya, siapa yang memohon kepada-KU, maka akan AKU berikan permintaannya dan siapa yang beristighfar, maka AKU ampuni dosanya”. [Shahih Muslim, 1/521, hadits no. 758]

ALLAH Ta’ala berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu Perkataan yang berat”. [QS. Al-Muzzammil ayat 1-5]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply