KEDATANGAN PASUKAN GAJAH



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 6 —————

*“KEDATANGAN PASUKAN GAJAH”*

Ketika ‘Abrahah ash-Shabbah al-Habasyi’, wakil umum ‘an-Najasyi’ atas negeri Yaman melihat orang-orang Arab berbondong-bondong melakukan haji ke Ka’bah,
Dia membangun gereja amat megah & besar di kota Shan’a dan menamakannya ‘Al-Qulais’. Tujuannya, agar orang-orang Arab mengalihkan haji mereka ke sana.

Niat buruk ini didengar oleh seorang dari Bani Kinanah. Dia mengendap-endap malam hari menerobos masuk ke gereja tersebut, Lalu melumurinya kotoran. Meledaklah amarah Abrahah & serta merta mengerahkan pasukan besar 60.000 personil menuju Ka’bah.

Dia menunggangi gajah paling besar bernama ‘Mahmud’. Dalam pasukannya terdapat 9 atau 13 ekor gajah lainnya. Dia berjalan hingga sampai di ‘al-Mughammas’, Di tempat ini pasukan bersiap-siap untuk menginvasi Makkah.

Abrahah mengutus seorang lelaki Habasyah bernama ‘Al-Aswad bin Mafshuud’ untuk menyelidiki keadaan Makkah. Dalam perjalanannya menuju Makkah tersebut Al-Aswad berhasil merampas harta benda milik kaum Quraisy dan lainnya termasuk di dalamnya dua ratus unta milik Abdul Muththalib bin Hasyim.

Saat itu Abdul Muththalib adalah pembesar Quraisy. Demi melihat hal itu suku Quraisy bersama Kinanah dan Hudzeil serta suku-suku yang ada disekitar tanah haram marah dan bertekad melawan pasukan Abrahah. Namun akhirnya mereka sadar bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk menghadapinya.

Lalu Abrahah mengutus ‘Hanathah Al-Himyari’ ke kota Makkah, ia berpesan kepada utusannya itu:

“Tanyalah siapa yang berkuasa di kota itu!
Lalu katakan kepadanya bahwa baginda raja menitahkan:
“Kami kemari bukanlah untuk memerangi kalian, tetapi hanya untuk menghancurkan ‘rumah’ itu!
Jika kalian tidak merintangi maksud kami, maka kami pun tidak berkeinginan menumpahkan darah kalian.”

“Jika pemimpin mereka itu tidak bermaksud melawan, bawalah ia ke hadapanku!”, begitu pesan Abrahah.

Ketika tiba di Makkah, Hanathah menanyakan siapakah pembesar suku Quraisy.
Orang-orang berkata: “Dialah Abdul Muththalib bin Hasyim!” ,
Ia pun datang menemuinya dan menyampaikan pesan Abrahah tadi.

“Demi Allah, kami tidak berkeinginan melawan, Kami tahu diri bahwa kami tidak sanggup melawannya. Rumah ini adalah Baitullah Al-Haram. Rumah suci yang dibangun oleh Khalilullah Ibrahim alaihis salam.
Jika DIA membelanya, maka itu adalah rumah-NYA dan kehormatan-NYA.
Jika dibiarkan-NYA,
maka demi ALLAH kami tidak ada kuasa untuk melindunginya.”,
Kata Abdul Muththalib

Hanathah menimpali:
“Kalau begitu, marilah ikut bersamaku menemui baginda raja. Karena saya telah diperintahkan untuk membawa Anda!”

Abdul Muththalib pun berangkat,
Bersama beberapa orang putranya.
Sesampainya di perkemahan pasukan,
Abdul Muththalib menanyakan perihal ‘Dzu Nafar’, Dzu Nafar ini adalah teman lamanya. Ia pun menemuinya dalam kurungan.

“Wahai Dzu Nafar,
apakah engkau dapat memberikan solusi atas musibah yang menimpa kami?”, kata Abdul Muththalib.

“Bagaimana mungkin seorang tawanan raja yang tidak jelas nasibnya entah besok pagi atau besok sore dihukum mati dapat memberikan solusinya?
Saya tidak bisa memberikan solusi apapun atas musibah yang menimpa kalian”, jawab Dzu Nafar.

“Tetapi saya punya teman bernama Anis yang bertugas mengurus gajah.
Saya pesankan kepadanya agar memperhatikan kesulitanmu itu, dan saya coba menghubunginya supaya ia dapat membawamu menemui raja Abrahah, engkau dapat mengajukan maksud engkau di hadapannya. Barangkali temanku itu dapat memberi rekomendasi bagimu.”,
sambung Dzu Nafar.

“Itu sudah cukup bagiku!”, sambut Abdul Muththalib.

Dzu Nafar berpesan kepada Anis: “Temanku ini, Abdul Muththalib, adalah seorang pemuka Quraisy, pemimpin kafilah perniagaan di Makkah, ia sangat dermawan, sering memberi makan orang-orang yang tinggal di lembah dan memberi makan hewan-hewan ternak di puncak-puncak gunung. Baginda raja telah merampas dua ratus ekor unta miliknya, mintalah izin untuknya agar dapat menemui baginda raja, bantulah ia semampumu.”

“Baik saya coba lakukan”,
jawab Anis.

Anis pun melobbi Abrahah, ia berkata: “Wahai baginda raja,
seorang pemuka Quraisy berdiri di depan pintu meminta izin bertemu dengan baginda, Ia adalah seorang pemimpin kafilah perniagaan di kota Makkah. Ia sangat dermawan, sering memberi makan orang-orang yang tinggal di lembah dan memberi makan hewan-hewan ternak di puncak-puncak bukit. Berilah ia izin agar ia dapat mengajukan keperluannya kepada baginda raja.”

Abrahah pun memberinya izin.

Abdul Muththalib adalah seorang pria yang tampan dan bertubuh tinggi besar. Begitu melihat Abdul Muththalib, Abrahah langsung menghormati dan memuliakannya. Ia tidak membiarkan Abdul Muththalib duduk di bawah, namun ia juga tidak mau orang-orang Habasyah melihatnya duduk bersama Abdul Muththalib di singgasana. Akhirnya ia duduk bersamanya di bawah.

Ia berkata kepada penerjemahnya:

“Katakan padanya: Apa keperluan Anda?”

Abdul Muththalib menjawab:
“Keperluanku adalah agar engkau mengembalikan dua ratus unta milikku yang engkau rampas.”

Mendengar jawaban Abdul Muththalib, Abrahah terheran ia berkata kepada penerjemahnya:

“Katakan padanya: Aku takjub saat pertama melihatmu, hingga aku membebaskanmu berbicara. Lalu apakah engkau berbicara kepadaku tentang dua ratus ekor unta yang kurampas darimu, dan membiarkan rumah yang merupakan tempat ibadahmu dan nenek moyangmu, padahal engkau tahu bahwa aku datang kemari untuk menghancurkannya! Mengapa engkau tidak berbicara tentang itu kepadaku?”

“Saya hanyalah pemilik unta-unta itu.
Sementara ‘rumah’ itu ada pemiliknya yang akan menjaganya.”, kata Abdul Muththalib.

“Siapakah yang dapat mencegahku!”,
tantang Abrahah.

“Itu urusanmu!”, jawab Abdul Muththalib.

Abrahah mengembalikan unta-unta yang dirampasnya itu kepada Abdul Muththalib.

Setelah itu Abdul Muththalib pulang menemui kaum Quraisy dan menceritakan hal itu kepada mereka. Ia memerintahkan mereka supaya mengosongkan Makkah dan mencari tempat berlindung di puncak-puncak bukit, atau di lembah-lembah agar tidak menjadi korban keganasan tentara Abrahah.

Kemudian Abdul Muththalib disertai beberapa orang Quraisy meraih rantai pintu Ka’bah dan berdoa kepada ALLAH, memohon pertolongan kepada-NYA dari kezhaliman Abrahah dan tentaranya.

Sambil memegang rantai pintu Ka’bah ia berdoa: “Jika tiada seorang hamba yang bermaksud menghadangnya Maka hadanglah tentara yang ingin menyerbu rumah-MU. Salib dan kekuatan mereka takkan dapat melumpuhkan kekuatan-MU. Namun jika ENGKAU membiarkan mereka dan membiarkan kiblat kami maka urusannya terserah pada-MU.”

Kemudian Abdul Muththalib melepas rantai pintu Ka’bah dan pergi bersama orang-orang Quraisy yang menyertainya berlindung ke puncak-puncak bukit.

Di sana mereka mengawasi apa aksi yang akan dilakukan Abrahah dan tentaranya di Makkah.

Saat Abrahah dan pasukanya baru saja sampai di ‘Wadi Mahsir’ (Lembah Mahsir) di antara Muzdalifah & Mina,
Tiba-tiba gajahnya berhenti & duduk.
Gajahnya tak mau berdiri bila diarahkan ke Ka’bah, tetapi bila ke arah selatan, utara, atau timur, ia maju & berlari kecil, Sedangkan bila mereka alihkan ke arah Ka’bah lagi, ‘Gajah tersebut duduk’.

Saat itu,
ALLAH mengirimkan ke atas mereka burung-burung berbondong-bondong sembari melempari mereka dengan batu yang terbuat dari tanah yang terbakar.
ALLAH menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Burung tersebut semisal ‘khathathif’ (burung layang-layang) dan ‘balasan’ (pohon murbey).

Setiap burung melempar tiga buah batu; Sebuah di paruhnya, Dan dua buah di kedua kakinya sebesar kerikil. Tidaklah lemparan batu tersebut mengenai seseorang melainkan akan menjadikan anggota-anggota badannya hancur berkeping-keping & binasa. Tidak semua dari mereka terkena lemparan tersebut; Ada yang melarikan diri tapi mereka saling berdesakan satu sama lain sehingga banyak yang jatuh di jalan-jalan lantas mereka binasa terkapar di setiap tempat.

Sedangkan Abrahah, ALLAH kirimkan kepadanya satu ‘penyakit yang membuat sendi jari-jemari tangannya tanggal & berjatuhan satu persatu’. Sebelum mencapai Shan’a, Dia tak ubahnya seperti ‘seekor anak burung yang dadanya terbelah hingga jantungnya terlihat’, untuk kemudian dia ‘roboh tak bernyawa’.

Adapun kondisi kaum Quraisy,
Berpencar-pencar ke celah-celah bukit & bertahan di puncak-puncaknya karena takut atas keselamatan mereka dan dipermalukan oleh tentara bergajah tersebut. Manakala pasukan telah mengalami kejadian tragis & mematikan tersebut, Mereka turun gunung & kembali ke rumah masing-masing dengan rasa penuh aman.

Bersambung In Syaa Allah…

📜 “FOOTNOTES:” 📜

🗡 PENYERANGAN KA’BAH

Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharram, 50 hari atau 55 hari (menurut pendapat mayoritas) sebelum kelahiran Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dalam kalender masehi bertepatan dengan penghujung bulan Februari atau permulaan bulan Maret tahun 571 M.

Peristiwa tragis tersebut terjadi dalam kondisi di mana berita dapat sampai ke seluruh penjuru dunia yang ketika itu sudah maju. Sampai ke negeri Habasyah yang saat itu memiliki hubungan erat dengan Romawi. Di sisi lain, Orang-orang Persia masih memantau perkembangan dan menunggu apa yang akan terjadi terhadap orang-orang Romawi & sekutunya. Ketika mendengar peristiwa tersebut, Orang-orang Persia ini berangkat menuju Yaman. Persia & Romawi saat itu merupakan negara maju dan berperadaban (super power).

Peristiwa tersebut juga mengundang perhatian dunia & memberi isyarat kepada mereka akan kemuliaan Baitullah. Baitullah dipilih ALLAH sebagai tempat suci. Jadi, bila ada seseorang berasal dari Makkah mengaku sebagai pengemban ‘risalah’ kenabian, Maka hal inilah tujuan utama dari terjadinya peristiwa tersebut dan penjelasan terhadap hikmah terselubung di balik pertolongan ALLAH terhadap kaum musyirikin melawan kaum Mukminin dengan cara yang melampaui ukuran yang ada pada dunia yang bernuansa kausalitas ini.

👥 ANAK ABDUL MUTHTHALIB

Abdul Muththalib dikaruniai 10 orang putra:
1. Al-Harits
2. Az-Zubair
3. Abu Thalib
4. Abdullah
5. Hamzah
6. Abu Lahab
7. Al-Ghaidaq
8. Al-Muqawwam
9. Shaffar
10. Al-Abbas

Dan putrinya berjumlah 6 orang:
1. Ummul Hakim (al-Baidha’ / si putih)
2. Barrah
3. Atikah
4. Shaffiyah
5. Arwa
6. Umaimah

🏝 AL-MUGHAMMAS

Tempat tersebut hingga sekarang masih dikenal, Terletak di sebelah timur Haram Makkah, Yang dikelilingi dari arah timur oleh gunung yang bernama ‘Kabkab’, Dan ujung Al-Mughammas dari selatan berbatasan dengan akhir Arafah, Berjarak sekitar 20 km dari kota Makkah. [Muhammad Hasan Syarab, ‘Al-Ma’alim Al-Atsirah fi As-Sunnah wa As-Sirah, hal. 277.]

Ibnu Ishaq berkata: “Ketika ALLAH mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul-NYA, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala menyebut peristiwa itu sebagai sebuah nikmat dan karunia yang dicurahkanNya kepada bangsa Quraisy. ALLAH telah meluluh lantahkan Abrahah dan bala tentaranya. Dengan itu ALLAH memelihara kekuasaan dan kelangsungan bangsa Quraisy.

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana RABB-mu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah DIA telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia, dan DIA mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” [QS. Al-Fiil ayat 1-5]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Terjemah Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply