KEISTIMEWAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS



0 Comment

*🌙 SIRAH SHAHABAT*

*KEISTIMEWAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS _(lanjutan artikel 2 minggu lalu)_*

Oleh: Ustadz Emha Ayatullah

✅5 . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjamin ketangguhan iman beliau. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَيْنَمَا رَاعٍ فِي غَنَمِهِ عَدَا عَلَيْهِ الذِّئْبُ، فَأَخَذَ مِنْهَا شَاةً فَطَلَبَهُ الرَّاعِي، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الذِّئْبُ فَقَالَ : مَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ، يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي؟ وَبَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً قَدْ حَمَلَ عَلَيْهَا، فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ فَكَلَّمَتْهُ، فَقَالَتْ : إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا وَلَكِنِّي خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ. قَالَ النَّاسُ : سُبْحَانَ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنِّي أُومِنُ بِذَلِكَ، وَأَبُوبَكْرٍ، وَعُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ

Ketika suatu hari seorang penggembala (dari Bani Israil) sedang bersama kambing gembalaannya, tiba-tiba seekor serigala datang memangsa seekor kambing, kemudian si penggembala berhasil merebutnya kembali, maka serigala tersebut menoleh sambil mengatakan, ‘Punya siapakah kambing-kambing itu nanti pada hari Sabu’, hari ketika tidak ada yang menggembalakan selainku?’ (Kisah lain) ketika seseorang sedang menuntun seekor sapi yang telah ia pikulkan beban berat diatas punggungnya, maka sapi tersebut menoleh dan memprotesnya, ‘Aku tidak diciptakan untuk pekerjaan ini, aku hanya diciptakan untuk membajak tanah. Maka orang-orang (yang mendengar kisah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran-heran sambil mengatakan), ‘Subhânallâh, beliaupun bersabda,’Adapun aku, Abu Bakar dan Umar, maka kami percaya dengan kisah ini.’[HR. al-Bukhâri, no. 3663 dan Muslim, no. 2388]

Sebagaimana diketahui pula bahwa beliau Radhiyallahu anhu tidak pernah ragu sedikitpun dalam membela da’wah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sejak awal perjalanan da’wah tersebut. Beliau Radhiyallahu anhu bahkan menjadi orang yang pertama-tama menyatakan keislamannya. ‘Ammâr bin Yâsir Radhiyallahu anhu mengatakan :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّ اخَمْسَةُ أَعْبُدٍ،وَامْرَأَتَانِ وَأَبُو بَكْرٍ

Aku melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada awal da’wah beliau) hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita dan Abu Bakar [HR. al-Bukhâri, no. 3660]

Hal ini tidak akan pernah terlupakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُوبَكْرٍ صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي

Sesungguhnya Allâh mengutusku kepada kalian, akan tetapi kalian justru (dahulu) mengatakan, ‘Engkau telah berdusta.’ Sementara Abu Bakar Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Dia (Muhammad n ) telah jujur. Abu Bakar pun banyak membantuku dengan jiwa dan hartanya, apakah kalian akan meninggalkan sahabatku itu?’ [HR. al-Bukhâri, no. 3661]

✅6. Abu Bakar Radhiyallahu anhu memiliki sifat lemah lembut dan pemaaf
Kisah terfitnahnya ibu kaum beriman ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma putri Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah bukti hasadnya (kedengkian) orang-orang munâfiq terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Namun merupakan kebesaran Allâh Azza wa Jalla , Dia akan memuliakan orang-orang yang menjadi hamba-Nya, hingga turunlah ayat pensucian ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dari tuduhan tersebut (Surat an-Nûr/24:11-20), sehingga jikalau terjadi penuduhan dari seseorang setelah turun ayat tersebut, niscaya kekufurannya terhadap al-Qur’ân semakin jelas.

Ketika terjadi penuduhan, Mishthoh bin Utsatsah adalah seorang yang terlibat dalam fitnah tersebut, padahal Abu Bakar Radhiyallahu anhu selama ini yang memberinya nafkah, maka beliau marah dan bersumpah untuk tidak memberikan nafkah kembali, hingga turunlah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allâh, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allâh mengampunimu? Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang? [an-Nûr/24:22].

Maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu segera mengatakan :

بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ الَّذِي كَانَ يُجْرِي عَلَيْهِ

“Ya, demi Allâh, sungguh aku lebih suka Allâh mengampuni dosaku.” Kemudian Beliau Radhiyallahu anhu kembali memberikan nafkah kepada Mishthah. [HR. al-Bukhâri, no. 2661 dan Muslim, no. 2770. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 6/20]

Ketika perang Badar telah usai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam merundingkan para tawanan dengan para sahabatnya. Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menganjurkan untuk membunuh semuanya, sedangkan Abu Bakar Radhiyallahu anhu justru mengatakan :

يَا نَبِيَّ اللهِ، هُمْ بَنُو الْعَمِّ وَالْعَشِيرَةِ، أَرَى أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُمْ فِدْيَةً فَتَكُونُ لَنَا قُوَّةً عَلَى الْكُفَّارِ، فَعَسَى اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُمْ لِلْإِسْلَامِ

Wahai Nabi Allâh, mereka adalah anak dari paman dan keluarga kita, aku memandang jikalah engkau mengambil denda dari mereka sehingga dapat memperkuat kita dalam menghadapi orang kafir, mudah-mudahan Allâh memberi hidayah mereka agar masuk Islam. [HR. Muslim, no. 1763]

✅7. Terdapat banyak isyarat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan. kekhilafahan kepada beliau Radhiyallahu anhu
Diantara hadits-hadits tersebut adalah perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memimpin shalat lima waktu ketika beliau sakit keras diakhir hayatnya, bahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan untuk mewakilkan kepada selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma menceritakan saat-saat terakhir sebelum ajal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjemput :

فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ, وِفِيْهِ : فَصَلَّى أَبُوبَكْرٍ تِلْكَ الأَيَّامَ

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang agar menyuruh Abu Bakar Radhiyallahu anhu memimpin shalat, dalam riwayat tersebut dikatakan: maka Abu Bakar menjadi imam pada hari-hari itu.[HR. al-Bukhâri, no. 687 dan Muslim, no. 418]

al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadits tersebut mengisyaratkan tentang kedudukan Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang paling berhak untuk menjadi khalifah.[Lihat kitab Fathul Bâri: 11/60, cetakan Daarul ma’rifah]

Bahkan didalam hadits yang dihasankan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul baari: 12/153), ketika terjadi sedikit perbedaan pendapat dalam menentukan khalifah setelah wafatnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menjadikan alasan tersebut sebagai sebab kuat bahwa Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang paling berhak. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan :

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ
قَدْ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يَؤَّ النَّاسَ؟ فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَبَابَكْرٍ؟ فَقَالَتِ الْأَنْصَارُ : نَعُوذُ بِاللهِ أَنْ نَتَقَدَّمَ أَبَابَكْرٍ

Wahai kaum Anshar, bukankah kalian tau bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin sholat kaum Muslimin, maka siapakah diantara kalian yang rela untuk melangkahi Abu Bakar? Maka orang-orang Anshar pun menjawab: Kita berlindung kepada Allâh dari melangkahi Abu Bakar”.[HR. Ahmad: 1/282, cetakan Mu’assasah ar-risalah].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan berangan-angan untuk menuliskan wasiat sekalipun akhirnya tidak terlaksana, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ، أَبَاكِ، وَأَخَاكِ، حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ : أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّ اأَبَابَكْرٍ

Panggilkan Abu Bakar ayahmu, dan juga saudaramu agar aku tuliskan sebuah wasiat, karena sungguh aku khawatir akan ada orang yang bercita-cita, atau ada yang mengatakan, ‘Aku lebih berhak,’ sementara Allâh dan orang-orang yang beriman merasa enggan kecuali hanya kepada Abu Bakar”. [HR. Muslim, no. 2387]

Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut secara jelas menjelaskan bahwa Abu Bakar lah yang paling berhak untuk mendapatkan posisi khalifah. [Lihat kitab al-Minhâj Syarah Muslim Ibnul Hajjaj: 15/155 cetakan daar ihya’ut turots].

Demikianlah apa yang dapat kami kumpulkan tentang keutamaan Abu Bakar Radhiyallahu anhu , tentu keutamaan beliau Radhiyallahu anhu sangatlah banyak, akan tetapi apa yang disebutkan cukuplah menjadi isyarat tentang banyaknya keistimewaan yang lain, wallahu ta’ala a’lam bis shawab.

📚 [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply