KELAHIRAN NABI MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam



0 Comment

————— EPISODE 8 —————

*🌌 “KELAHIRAN NABI MUHAMMAD Shallallahu Alaihi Wa Sallam”*

Sayyidul Mursalin,
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di kota Makkah pada hari Senin, tanggal 9 Rabi’ul awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah atau 40 tahun dari berlalunya kekuasaan ‘Kisra Anusyirwan’. Juga bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahung 571M sesuai analisis seorang ulama besar, Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri dan seorang astrolog (ahli ilmu falak), Mahmud Basya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan, Ibunda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menceritakan, “Ketika aku melahirkannya, dari faraj-ku (kemaluan-ku) keluarlah cahaya yang karenanya istana-istana negeri Syam tersinari”. [Imam Ahmad, Ad-Darimi dan periwayat selain keduanya juga meriwayatkan versi yang hampir mirip dengan riwayat tersebut]

Sumber lainnya menyebutkan, telah terjadi ‘irhashat’ (tanda-tanda awal yang menunjukkkan akan diutusnya nabi) ketika kelahiran beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, diantaranya; Jatuhnya 14 beranda istana kekaisaran Persia, padamnya api yang disembah kaum Majusi, dan robohnya gereja-gereja di sekitar danau sawah setelah airnya menyusut. Riwayat tersebut dilansir oleh ath-Thabari, al-Baihaqi, dan lainnya [1] namun tidak memiliki sanad yang valid.

Setelah beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan, ibundanya mengirim utusan ke kakeknya, Abdul Muththalib untuk memberitahukan kepadanya berita gembira kelahiran cucunya tersebut. Kakeknya langsung datang dengan sukacita dan memboyong cucunya tersebut masuk ke Ka’bah; Berdoa kepada ALLAH dan bersyukur kepada-NYA. Kemudian memberinya nama ‘Muhammad’. Padahal nama seperti ini tidak popular ketika itu di kalangan bangsa Arab, dan pada hari ketujuh kelahirannya Abdul Muththalib mengkhitan beliau sebagaimana tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab.[2]

Abdul Muththalib memotong kambing dan mengundang Quraisy. Setelah mereka selesai makan, mereka bertanya, “Wahai Abdul Muththalib, siapa nama anak kamu yang karenanya kamu memanggil kami?”

“Saya namakan dia Muhammad.”,
Kata Abdul Muththalib.

Mereka bertanya lagi,
“Bagaimana kamu menamakan anakmu dengan nama yang bukan nama dari kakek kamu dan juga bukan nama yang dikenal pada kaummu.”

“Saya berharap penduduk bumi memujinya dan penduduk langit pun memujinya.”, Kata Abdul Muththalib.

Nama Muhammad adalah nama langka di kalangan arab jahiliyah,
Kecuali beberapa orang tua yang mengetahui bahwa nabi akhir zaman adalah bernama Muhammad dan berharap anaknya menjadi nabi,
Maka dia pun menamakan anaknya dengan Muhammad.

Selain itu,
ALLAH Ta’ala, menjaga setiap orang yang bernama Muhammad pada waktu itu dari mengaku sebagai nabi,
Atau bahkan menampakan masalah yang membuat orang lain bertanya-tanya.

Wanita pertama yang menyusui beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam setelah ibundanya adalah ‘Tsuwaibah’. Wanita ini merupakan budak wanita ‘Abu Lahab’ yang saat itu juga tengah menyusui bayinya yang bernama ‘Masruh’. Sebelumnya, dia juga telah menyusui ‘Hamzah bin Abdul Muththalib’, Kemudian menyusui Abu Salamah bin ‘Abdul Asad al-Makhzumi’ [3] setelah menyusui beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,
“Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan pada tahun Gajah dan inilah yang terkenal di kalangan mayoritas ulama”. Ibrahim bin Al-Mundzir berkata, “Dan yang tidak diragukan oleh seorang pun dari ulama kita adalah beliau dilahirkan pada tahun Gajah, tahun 571 Miladiyah”.

Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu,
Di berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ibuku telah bermimpi melihat ada cahaya keluar dari dirinya yang menerangi istana-istana yang ada di Syam”. [4]

Bersambung In Syaa Allah…

📜 “FOOTNOTES:”

📝 PELAJARAN

(A)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan setelah ayahnya meninggal. Dalam hal ini, Ibnu katsir Rahimahullah berkata, “Ini adalah kondisi yatim dalam urutan yang tinggi (beliau ditinggal mati ayahnya sebelum lahir).”

Hikmah yatimnya beliau adalah agar tidak menjadi alasan bagi penolak dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk berkata, “Muhammad melakukan dakwahnya itu karena arahan ayahnya, atau sebagai warisan ayahnya.” Karena ayahnya telah meninggal sebelum dia lahir dan sama sekali belum pernah bertemu. Dengan demikian, alasan sebagai warisan kepemimpinan, arahan, dan permintaan dari seorang ayah terputus.

(B)
Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dilahirkan dalam keadaan yatim, Hal ini menjadikannya lebih respons dengan nilai-nilai kemanusiaan, Karena orang yang telah merasakan berbeda jauh dengan yang belum pernah melalui masa itu. Anak orang kaya bagaimanapun respons sosialnya tidak akan bisa merasakan perihnya kemiskinan. Kondisi kehidupan seperti yang telah dilalui oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberikan baginya pengalaman dalam menempuh dakwah tatkala diutus.

(C)
Kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam usia balita bersama ibunya tanpa ditemani ayahnya bukan secara kebetulan,
Karena sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, telah hidup para Nabi yang dibesarkan oleh ibunya dalam jumlah yang tidak sedikit, Dan hal ini menunjukkan besarnya peran seorang ibu dalam mendidik anak-anak mereka.

[1] Ad-Dala’il, karya al-Baihaqi, 1/126,127; Tarikh ath-Thabari, op.cit., 2/166,167; al-Bidayah wan Nihayah, 2/268/269

[2] Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau lahir dalam kondisi sudah bersunat (Talqih Fuhumi Ahil al-Atsar, jal.4). Ibnul Qayyim berkata, “Tidak terdapat satu pun hadits yang valid tentang hal ini” (Zad al-Ma’ad, 1/18)

[3] Lihat, Shahih al-Bukhari, no. hadits: 2645, 5100, 5106, 5107, 5572)

[4] Ad-Darami, Sunan, 1/17 nomor 13, pentahqiqnya berkata: diriwayatkan juga oleh Ahmad, At-Thabrani dalam Kitab Al-Kabir, dan sanad Ahmad hasan, Al-Albani menshahihkan dalam kitab Al-Jami’ As-Shagir, hadits nomor 3451.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *