MASA MENYUSUI RASULULLAH Shallallahu Alaihi Wa Sallam



0 Comment

*SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 9 —————

*🗓 “MASA MENYUSUI RASULULLAH Shallallahu Alaihi Wa Sallam”*

Setelah dilahirkan oleh ibunya, Aminah, dia menyusuinya selama 3 atau 7 hari. Pernah diasuh oleh ‘Ummu Aiman’, ‘Barakah Al-Khabsyiyyah’, kemudian setelah itu disusui oleh ‘Tsuwaibah’, mantan budak Abu Lahab selama beberapa hari.

Tradisi kalangan bangsa Arab yang tinggal di kota adalah mencari para wanita yang dapat menyusui bayi-bayi mereka, sebagai tindakan preventif terhadap tersebarnya penyakit-penyakit kota.

Hal itu mereka lakukan agar tubuh bayi-bayi mereka kuat, berotot kekar dan mahir berbahasa Arab sejak masa kanak-kanak.

Oleh karena itu, Abdul Muththalib mencari wanita-wanita yang dapat menyusui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia mendapatkan wanita penyusu dari kabilah ‘Bani Sa’ad bin Bakr’ bernama ‘Halimah binti Abu Dzuaib’. Suaminya bernama ‘Harits bin Abdul Uzza’ (berjuluk Abu Kabsyah), berasal dari kabilah yang sama.

Dengan begitu, di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memiliki banyak saudara, yaitu ‘Abdullah bin al-Harits’, ‘Anisah binti al-Harits’, ‘Hudzafah’ atau ‘Judzamah binti al-Harits’ (berjuluk asy-Syaima’).

Halimah merawat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam serta ‘Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib’, saudara sepupu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Paman beliau, ‘Hamzah bin Abdul Muththalib’ juga disusui di tengah kabilah Bani Sa’ad bin Bakr. Suatu hari, ibu susuannya menyusui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, saat beliau berada di sisi Halimah. Dengan demikian Hamzah merupakan saudara sesusuan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dari dua pihak, yaitu Tsuaibah dan Halimah as-Sa’diyyah.

Halimah merasakan keberkahan dari kehadiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang membuatnya berkisah yang aneh-aneh tentang dirinya.

‘Ibnu Ishaq berkata’, “Halimah pernah berkisah, bahwasannya ketika dia pergi bersama suami & bayinya bersama rombongan wanita Bani Sa’ad bin Bakr yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi untuk disusui, ketika itu musim paceklik di mana kami tidak memiliki apa-apa lagi, aku pergi mengendarai keledai betina putih kehijauan milikku beserta seekor unta tua.

Demi ALLAH!
Tidak setetes pun susu dihasilkannya, kami tidak bisa melewati malam dengan pulas lantaran tangis bayi kami yang kelaparan sedangkan air susu payudaraku tidak cukup. Air susu unta tua kami sudah tidak berisi. Keledai betinaku tidak kuat meneruskan perjalanan sehingga rombongan kami merasa kesulitan akibat letih & kondisi kekeringan. Akhirnya kami sampai ke Makkah.

Tidak seorang wanita pun di antara kami ketika ditawarkan untuk menyusui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam melainkan menolaknya karena kondisi beliau yang yatim.
Sebab, tujuan kami, hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedang beliau bayi yatim.
Apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu & kakeknya buat kami?
Kami semua tidak menyukainya karena hal itu.
Akhirnya semua wanita penyusu mendapat kan bayi susuan kecuali aku.
Aku berkata pada suamiku,
“Demi ALLAH!
Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan.
Demi ALLAH!
Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku”.

Lalu suamiku berkata,
“Tidak mengapa bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan ALLAH menjadikan kehadirannya di tengah kita sebagai suatu keberkahan”.

Akhirnya aku pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam & membawanya serta. Motivasiku membawanya serta hanyalah karena aku tidak mendapatkan bayi susuan selain beliau.

Setelah itu, aku kembali membawanya menuju tungganganku. Ketika dia kubaringkan di pangkuanku, kedua susuku seakan menyongsongnya meneteki seberapa dia suka hingga kenyang, dilanjutkan oleh bayiku hingga kenyang pula. Keduanya tertidur lelap.

Suamiku memeriksa unta tua kami & ternyata susunya sudah berisi,
Dia memerahnya untuk diminum dan aku ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu adalah malam tidur terindah yang pernah kami rasakan, di mana kami tidur dengan lelap.

Pagi harinya,
Suamiku berkata, “Demi ALLAH!tahukah kamu wahai Halimah?
Kamu telah mengambil manusia yang diberkahi”.

Aku menimpali,
“Demi ALLAH!
Aku berharap demikian”.

Kemudian kami pergi lagi, menunggangi keledai betinaku beserta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam di atasnya.

Demi ALLAH!
Keledai tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh unta-unta merah mereka, sehingga teman-teman wanitaku penuh heran berkata,
“Wahai putri Abu Zuaib!
Ada apa denganmu!
Kasihanilah kami, bukankah keledai ini yang dulu engkau tunggangi ketika pergi?”.

Aku menjawab, “Demi ALLAH, inilah keledai yang dulu itu”.

Mereka berkata, “Demi ALLAH, pasti ada sesuatu pada keledai ini”.

Kemudian sampailah kami di tempat tinggal kami.
Tidak ada bumi ALLAH yang lebih tandus darinya.
Sejak kami pulang membawa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kambingku tampak kenyang dan air susunya banyak sehingga kami memerah dan meminumnya. Padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susu pun meskipun di kantong susu kambing.

Kaumku berkata pada penggembala mereka, “Celakalah kalian! Pergilah, ikuti kemana saja penggembala kambing putri Abu Zuaib menggembalakan kambingnya”.

Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari ALLAH hingga tak terasa 2 tahun berlalu & tiba waktuku untuk menyapihnya.

Dia tumbuh tidak seperti kebanyakan anak sebayanya, sebab sebelum mencapai usia 2 tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor.

Halimah melanjutkan;
Akhirnya kami mengunjungi ibunya,
Kami sangat berharap dia masih bisa berada di tengah keluarga kami. Kami membujuk ibunya.

Aku berkata kepadanya, “Kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang bisa menjangkiti kota Makkah”.

Kami terus memelas hingga dia bersedia mengembalikannya untuk tinggal bersama kami lagi.

Begitulah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam akhirnya tetap tinggal di perkampungan Bani Sa’ad, hingga terjadi peristiwa dibelahnya dada beliau ketika berusia 4 atau 5 tahun.”

Bersambung In Syaa Allah

📜 “FOOTNOTES:” 📜

PEMBELAHAN DADA

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam didatangi oleh Jibril ‘alaihis sallam saat beliau tengah bermain bersama teman-teman sebayanya. Jibril menangkap dan merebahkan beliau di atas tanah lalu membelah jantungnya, kemudian mengeluarkannya, dari jantung ini dikeluarkan segumpal darah.

Jibril berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu (sehingga bila tetap ada, ia dapat memperdayaimu, pent.)!”.

Kemudian mencuci jantung tersebut dengan air zamzam di dalam baskom yang terbuat dari emas, lalu memperbaikinya & menaruhnya di tempat semula. Teman-teman sebayanya tersebut berlarian mencari ibu susuannya seraya berkata, “Muhammad telah dibunuh!”

Mereka akhirnya beramai-ramai menghampirinya & menemukannya dengan rona muka yang sudah berubah.

Anas (periwayat hadist) berkata, “Sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam”. [Shahih Muslim, Kitab al-Isra’, 1/92]

Semua itu sebagai bentuk pengagungan & persiapan untuk memikul beban amanah bukan semata untuk membuang sesuatu yang menjijikkan karena Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memiliki fisik yang sempurna.

Kejadian itu menunjukkan ke-ma’shum-an Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sejak kecil, karena bagian dari setan telah dihilangkan semenjak kecil.

Hal yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam akan besar dalam kondisi tidak terdapat jatah setan dalam kehidupannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terjaga dengan pengertian yang khusus agar tampil beda dengan manusia lainnya.

KEMATIAN AMINAH

Setelah peristiwa pembelahan dada tersebut, Halimah merasa khawatir atas diri beliau sehingga dikembalikan lagi kepada ibundanya. Beliau tinggal bersama ibundanya sampai berusia 6 tahun.

Sebagai bentuk kesetiaannya, Aminah memandang perlu untuk menziarahi kuburan suaminya di Yatsrib (Madinah). Untuk itu, dia keluar dari Makkah menempuh perjalanan yang mencapai 500 km bersama anaknya yang masih kecil, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, pembantunya, Ummu Aiman dan mertuanya, Abdul Muththalib.

Setelah tinggal selama sebulan di sana, dia kembali pulang ke Makkah akan tetapi di tengah perjalanan dia terserang sakit sehingga akhirnya meninggal dunia di suatu tempat bernama al-Abwa’, yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Salla

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply