MEMBANGUN KA’BAH



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 14 —————

*🕋 “MEMBANGUN KA’BAH” 🕋*

Pada saat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam berusia 35 tahun, kabilah quraisy membangun kembali Ka’bah karena kondisi fisiknya sebelum itu hanya berupa tumpukan-tumpukan batu berukuran di atas tinggi badan manusia, yaitu setinggi 9 hasta sejak dari masa Nabi Ismail ‘alaihis sallam dan tidak memiliki atap sehingga yang tersimpan di dalamnya dapat dicuri.

Karena merupakan peninggalan sejarah yang berumur tua, Ka’bah sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunan & merontokkan sendi-sendinya. 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasul, Makkah pernah dilanda banjir bandang, sampai masuk ke Masjidil Haram sehingga bangunan Ka’bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya demi menjaga pamornya & bersepakat untuk tidak membangunnya kecuali dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mengambilnya dari dana mahar yang didapat secara zhalim, transaksi ribawi dan hasil tindak kezhaliman terhadap seseorang.

Semula mereka segan merobohkan bangunannya, hingga akhirnya diprakarsai oleh ‘Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi’. Setelah itu, barulah orang-orang mengikutinya setelah melihat tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya.

Mereka terus merobohkan hingga sampai ke pondasi pertama yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam. Mereka memulai membangun kembali, dengan cara membagi-bagi per bagian bangunan Ka’bah, masing-masing kabilah mendapat 1 bagian. Setiap kabilah mengumpulkan batu sesuai jatahnya, dan dimulailah pembangunan. Pimpinan proyeknya adalah arsitek asal Romawi bernama ‘Baqum’.

Tatkala pengerjaan sampai kepada peletakan ‘Hajar Aswad’, mereka bertikai tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkannya ke tempat semula. Bani Abdul Ad-Dar mendekatkan bejana berisi darah, kemudian mereka bersama Bani Adi Ka’ab bin Luai bersumpah untuk siap mati dan kondisi menegangkan itu berlangsung selama 4 atau 5 malam, bahkan semakin meruncing hingga hampir terjadi peperangan dahsyat di tanah al-Haram.

Untunglah ‘Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi’ menawarkan penyelesaian pertikaian dengan satu cara, yaitu menjadikan pemutus perkara tersebut kepada siapa yang paling pertama memasuki pintu masjid. Tawaran ini diterima oleh semua pihak, dan atas kehendak ALLAH Ta’ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lah orang yang pertama memasukinya.

Tatkala melihatnya, mereka saling menyeru, “Inilah Al-Amin (orang yang amanah)!”

Kami rela!

Inilah Muhammad!”

Dan ketika beliau mendekati mereka dan memberitahukan kepadanya tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengahnya, lalu meminta agar semua kepala kabilah yang bertikai memegangi ujung-ujung selendang tersebut dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi hingga manakala mereka telah mengangkatnya sampai ke tempatnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang membuat semua pihak rela.

Namun, Orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik sehingga meninggalkan pembangunan Ka’bah sekitar 6 hasta dari bagian utara Ka’bah, yaitu yang dinamakan ‘Hijr Ismail’ dan ‘Al-Hathim’ lalu mereka meninggikan pintunya yang semula berada di tanah agar tidak ada orang memasukinya kecuali orang yang mereka kehendaki. Tatkala pembangunan mencapai 15 hasta, mereka mengatapinya dan menyangganya dengan 6 buah tiang.

Setelah proyek renovasi selesai, Ka’bah tersebut berubah jadi berbentuk kubus dengan tinggi +- 15 meter, panjang sisi yang berada di bagian Hajar Aswad adalah 10 meter & bagian depan yang berhadapan dengannya 10 meter.

Hajar Aswad sendiri dipasang di atas ketinggian 1,5 meter dari permukaan lantai dasar thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu depan yang sehadapan dengannya adalah 12 meter, sedangkan tinggi pintunya adalah 2 meter dari atas permukaan tanah. Dan dari bagian luarnya dikelilingi oleh tumpukan batu bangunan, tepatnya di bagian bawahnya, tinggi rata-ratanya adalah 0,25 meter dan lebar rata-ratanya 0,30 meter. Bagian terakhir ini dikenal dengan nama ‘Asy-Syadzirwan’ yang merupakan bagian dari pondasi asal Ka’bah akan tetapi orang-orang Quraisy membiarkannya.

Bersambung minggu depan In Syaa Allah……..

📝 “FOOTNOTES:”

‘KA’BAH Pada Waktu Itu’ (tidak diberi atap), kainnya ditutupkan di atasnya lalu terurai ke bawah, dan memiliki dua sudut. Rumah-rumah penduduk mengelilingi Ka’bah. Pada riwayat Bukhari dari Amr bin Dinar dan Ubaidillah bin Abi Yazid berkata,

“Pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Ka’bah tidak memiliki tembok yang mengelilinginya, hingga tibalah masa Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dan membangun sekelilingnya tembok penghalang,

Ubaidillah berkata, ‘Dinding Ka’bah pendek kemudian dibangun oleh Ibnu Az-Zubair’.” [Shahih Al-Bukhari dengan Fathu Al-Bari, 7/146. Hadits no. 3830]

Oleh karena itu, apabila hujan datang, maka selalu berhadapan dengan air deras yang mengalir dari gunung Makkah, karena tidak ada tembok di sekelilingnya yang bisa menghalaunya.

‘Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma Berkata’, “Tatkala Ka’bah dibangun, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pergi bersama Al-Abbas radhiyallahu anhu; Mereka berdua mengangkat batu, kemudian Al-Abbas berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ‘Letakkan sarung kamu di atas pundakmu agar batu tidak melukaimu, tetapi tiba-tiba dia terjatuh ke tanah dan matanya melihat ke langit, dan setelah tersadar dia berkata, ‘Sarungku, sarungku, kemudian Al-Abbas menutupkan kembali sarungnya’.’’ [Shahih Al-Bukhari bersama Al-Fathu, Kitab Manaqib Al-Anshar bab Bunyan Al-Ka’bah, 7/145]

📜 HIKMAH (PELAJARAN)

Ketika mereka membuat aturan untuk tidak menginfakkan harta haram hasil prostitusi, kezhaliman, dan riba, menunjukkan bahwa orang Arab memahami tentang kejinya memakan riba. Itulah sebabnya mereka tidak menerimanya dalam pembangunan Ka’bah, lalu komentar apa yang akan kita katakan terhadap fenomena ini kepada mereka sebelum datangnya cahaya Islam yang berupaya untuk tidak melibatkan harta yang haram dari transaksi riba dalam neraca kehidupan mereka. Sementara sekarang setelah datangnya cahaya Islam, setelah harta sudah melimpah ruah, ternyata transaksi riba semakin semarak dalam kehidupan masyarakat Islam dan telah menjadi masalah yang tidak diingkari lagi’. Bahkan sebagian umat Islam malah menjadi pemilik saham pada bank konvensional yang produk utamanya adalah transaksi riba.

Orang kafir Makkah sepakat tentang haramnya riba. Mereka mengantisipasi harta riba itu jangan sampai masuk ke dalam pembangunan Ka’bah. Sementara itu di antara umat Islam, ada yang memasukkan bagian dari makanan dan minumannya dari harta riba, biaya makan dan tempat tinggal anak-anak mereka dari harta riba. Kalau demikian masalahnya, lalu apa yang baru yang telah dibawakan oleh Islam kepada kita, kalau ternyata kita masih mengabaikan masalah yang pada zaman jahiliyah saja dihindari. Riba itu adalah perang orang Yahudi terhadap harta kita, hingga harta menjadi penyebab seorang lupa dengan aturan agamanya, menyebabkan urusan agama mereka ternodai dengan harta yang haram.[Fikih Sirah Nabawiyah]

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:
– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply