MENYAMPAIKAN AL-HAQ (bagian 2)



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 24 —————

*MENYAMPAIKAN AL-HAQ (bagian 2)*

– Sidang Majelis Membahas Upaya Menghalangi Jamaah Haji agar Tidak Mendengar Dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam –

Sepanjang hari-hari tersebut,
ada hal lain yang membuat kaum Quraisy gundah gulana, yaitu hanya berselang beberapa hari atau beberapa bulan saja dakwah jahriyyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa) mendekati musim haji. Kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi Arab akan datang ke negeri mereka. Oleh karena itu mereka melihat perlu adanya satu pernyataan yang nantinya (secara sepakat) akan mereka sampaikan kepada delegasi tersebut perihal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dakwah yang disiarkannya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jiwa-jiwa delegasi Arab tersebut.

Maka berkumpullah mereka di rumah Al-Walid bin Al-Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan disepakati bersama tersebut. Lalu Al-Walid berkata, “Bersepakatlah mengenai perihalnya (Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga membuat sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian lagi mementahkan pendapat sebagian yang lain!”.

Mereka berkata kepadanya,
“Katakan kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan!”.

Lalu dia berkata, “Justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian dan aku sebagai pendengar.”

Mereka berkata, “(Kita katakan) dia adalah seorang dukun.”

Al-Walid menjawab, “Tidak! Demi ALLAH dia bukanlah seorang dukun. Kita telah menyaksikan bagaimana (praktek) para dukun, sedangkan yang dikatakannya bukan seperti komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para dukun.”

Mereka berkata lagi, “Kita katakan saja, dia orang gila.”

Dia menjawab, “Tidak! Demi ALLAH, dia bukan orang gila. Kita telah mengetahui esensi gila dan telah mengenalnya, sedangkan yang dikatakannya bukan dalam kategori tertekan, kerasukan atau pun was-was sebagaimana kondisi kegilaan tersebut.”

Mereka berkata lagi, “Kalau begitu kita katakan saja, dia adalah seorang penyair.”

Dia menjawab, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengenal semua bentuk syair; rajaz, hazaj, qaridh, maqbudh, dan mabsuthnya,[1] Sedangkan yang dikatakannya bukanlah syair.”

Mereka berkata lagi, “Kalau begitu dia adalah tukang sihir.”

Dia menjawab, “Dia bukanlah seorang tukang sihir. Kita telah menyaksikan para tukang sihir dan macam-macam sihir mereka, sedangkan yang dikatakannya bukanlah jenis nafts (hembusan penyihir) ataupun uqad (buhul-buhul) mereka.”

Mereka kemudian berkata, “Kalau begitu, apa yang harus kita katakan?”

Dia menjawab, “Demi ALLAH!! Sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan indah. Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian menuduhnya dengan salah satu dari hal tersebut melainkan akan diketahui kebatilannya. Sesungguhnya, pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dia seorang tukang sihir yang membawa suatu ucapan berupa sihir, yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudara, istri, dan keluarganya. Mereka semua menjadi terpisah darinya lantaran hal itu.”

Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa tatkala Al-Walid menolak semua pendapat yang mereka kemukakan kepadanya, mereka berkata kepadanya, “Kemukakan kepada kami pendapatmu yang tidak ada celanya!”

Lalu dia berkata kepada mereka, “Beri aku kesempatan barang sejenak untuk memikirkan hal itu!”

Lantas Al-Walid berpikir dan menguras otaknya hingga dia dapat menyampaikan kepada mereka pendapatnya tersebut sebagaimana yang disinggung di atas.

Dan mengenai Al-Walid ini, ALLAH Ta’ala menurunkan enam belas ayat yang merupakan bagian dari surat Al-Muddatstsir -yaitu dari ayat 11 hingga ayat 26. Di antara ayat-ayat tersebut terdapat gambaran bagaimana dia berpikir keras sebagaimana dalam Firman-NYA (artinya), “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia Bagaimanakah dia menetapkan, kemudia dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”

Setelah majelis menyepakati keputusan tersebut, mereka mulai menerapkannya dengan cara duduk-duduk di jalan-jalan yang dilalui orang hingga delegasi Arab datang pada musim haji. Setiap ada orang yang lewat, mereka peringatkan dan mereka singgung di hadapannya perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala musim haji telah datang adalah membuntuti jamaah-jamaah yang datang hingga sampai ke tempat-tempat mereka (berkemah),
Di pasar ‘Ukazh, Majinnah, dan Dzul Majaz. Beliau mengajak mereka untuk menyembah ALLAH, Sedangkan Abu Lahab selalu membuntuti di belakang beliau memotong setiap ajakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbalik mengatakan kepada mereka, “Jangan kalian patuhi dia karena dia adalah seorang pembawa agama baru lagi pendusta.”[2]

Kenyataannya, justru dari musim itulah perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi pusat perhatian delegasi Arab sehingga namanya menjadi buah bibir orang di seantero negeri Arab.

In Syaa Allah bersambung minggu depan…………..

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

[1] Rajaz, hajaz, qaridh, maqbudh dan mabsuth adalah beberapa jenis syair Arab (pent.)

[2] Mengenai perbuatannya ini, Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab Musnadnya, 3/492; 4/341 dan lihat juga, Al-Bidayah wan Nihayah, 5/75 dan Kanz Al-Ummal, 449, 450.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *