Menyampaikan Al-Haq secara terang-terangan



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 23 —————

*“MENYAMPAIKAN AL-HAQ (bagian 1)”*

– Menyampaikan Al-Haq secara terang-terangan –

[A]
Teriakan lantang yang dipekikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut masih berasa gaungnya di seluruh penjuru Makkah. Puncaknya saat turunnya firman ALLAH Subhanahu wa Ta’ala,

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” [QS. Al-Hijr: 94]

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dakwah Islam secara terang-terangan di tempat-tempat berkumpul dan bertemunya kaum musyrikin.

Beliau membacakan Kitabullah kepada mereka dan menyampaikan ajakan yang selalu disampaikan oleh para rasul terdahulu kepada kaum mereka,
“Wahai kaumku! Sembahlah ALLAH.
Kalian tidak memiliki Tuhan selain-NYA”.

Beliau juga mulai memamerkan praktek ibadahnya kepada ALLAH di depan mata mereka; melakukannya di halaman Ka’bah pada siang hari secara terang-terangan dan disaksikan khalayak ramai.

Dakwah yang beliau lakukan tersebut semakin mendapatkan sambutan sehingga banyak orang yang masuk ke dalam Agama ALLAH satu persatu.

Namun kemudian antara mereka (yang sudah memeluk Islam) dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadi gap; saling membenci dan saling menjauhi. Melihat hal ini, kaum Quraisy merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitkan mereka.

[B]
Quraisy mengira bahwa dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan dakwah lainnya yang muncul di Makkah, yang tidak lama kemudian akan hilang & punah, seperti perkataan Zaid bin Amr bin Nufail, Umayyah bin Abi As-Shalat, Qais bin Sa’idah, dan yang lainnya.

Namun, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dakwah secara terang-terangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bercerita tentang bahaya kemusyrikan dan pelakunya, dan menjelaskan hakikat patung bahwasanya dia tidak mampu mencegah bagi dirinya kemudharatan yang akan menimpanya juga tidak mampu mendatangkan manfaat baginya apalagi mendatangkan manfaat dan mencegah kemudharatan untuk selain dirinya, karena dia hanyalah sebatas batu biasa tidak lebih dari itu.

Pada saat itu, orang Quraisy memahami bahwa dakwah tersebut tidaklah sama dengan sebelumnya, karena dia adalah sebuah dakwah yang mulai merasuki setiap rumah, yang dampaknya mengalir sebagaimana air mengalir di dahan pohon.

In Syaa Allah bersambung minggu depan…………..

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply