METODE KAUM MUSYRIKIN MENGHADAPI DAKWAH ISLAM (bagian 3)

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 29 —————

*“METODE KAUM MUSYRIKIN MENGHADAPI DAKWAH ISLAM (bagian 3)”*

[A]
3. MENGHALANGI ORANG-ORANG AGAR TIDAK DAPAT MENDENGARKAN AL-QUR’AN

Dan mengimbanginya dengan dongengan-dongengan orang-orang dahulu serta menyibukkan mereka dengan hal itu.

Disebutkan bahwa an-Nadhar bin al-Harits pergi ke Hirah. Di sana dia belajar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, cerita-cerita itu tentang Rustum dan Asvandiar.[1] Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk di suatu majelis dalam rangka berwasiat tentang ALLAH dan mengingatkan manusia akan pembalasan-NYA, maka seusai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu, an-Nadhar berbicara kepada orang-orang seraya berkata, “Demi ALLAH, ucapan Muhammad tersebut tidaklah lebih baik dari ucapanku ini.” Kemudian dia mengisahkan kepada mereka cerita raja-raja Persia, Rustum dan Asvandiar. Setelah itu, dia berceloteh, “Jadi, berdasarkan apa, ucapan Muhammad bisa lebih bagus dari ucapanku ini?” [2]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa an-Nadhar membeli seorang budak perempuan. Maka, setiap dia mendengar ada seseorang yang tertarik terhadap Islam, dia segera menggandengnya menuju budak perempuannya tersebut, lalu berkata (kepada budak perempuannya), “Hidangkan untuknya makanan serta bernyanyi-lah untuknya. Ini adalah lebih baik dari apa yang ditawarkan oleh Muhammad kepadamu.” Maka turunlah ayat mengenai dirinya, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan ALLAH.” [QS. Luqman: 6) [3]

[B]
Di saat ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan kondisi orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang mengambil petunjuk dari Kitabullah serta mengambil manfaat dari mendengarkannya, maka DIA mengiringinya dengan menyebutkan kondisi orang-orang yang celaka, yaitu orang-orang yang berpaling untuk mengambil manfaat dari mendengarkan Kalamullah serta antusias mendengarkan alat-alat musik dan lagu dengan senandung & alat-alat musik.

Sebagaimana, perkataan Ibnu Mas’ud tentang firman-NYA “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan ALLAH,” [QS. 31:6], ‘Demi ALLAH itu adalah lagu. Demi ALLAH yang tidak ada ilah (yang hak) kecuali DIA.’ Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Jabir, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, ‘Amr bin Syu’aib dan ‘Ali bin Badzimah.

Al-Hasan al-Bashri berkata, diturunkannya ayat ini “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan ALLAH tanpa pengetahuan,” [QS. 31:6], ‘Pada lagu dan alat-alat musik.’

Dan firman ALLAH Subhanahu wa Ta’ala “Dan menjadikan jalan ALLAH itu olok-olokan.” [QS. 31:6].
Mujahid berkata ‘Dan menjadikan jalan ALLAH bahan olok-olok.’ Qatadah berkata: ‘Yaitu menjadikan ayat-ayat ALLAH sebagai bahan olok-olok.’
Pendapat Mujahid lebih utama.

Firman-NYA “Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan,” [QS. 31:6]. Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayat ALLAH dan jalan-NYA (agama-NYA), mereka pun akan dihinakan pada hari Kiamat dalam siksaan yang pedih dan terus menerus.

Kemudian ALLAH Ta’ala berfirman:
“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinga-nya,” [QS. 31:7]. Yaitu orang yang antusias dengan kelalaian, permainan dan alat musik jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, dia berpaling, membangkang, mundur, pura-pura tuli seakan-akan tidak mendengarnya, karena dia merasa sakit dengan mendengarnya. Karena sama sekali tidak ada manfaat baginya dan tidak ada keinginan terhadapnya.

“Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih,” (QS. 31:7)
Yaitu pada hari Kiamat dia akan disakiti, sebagaimana dia merasa sakit dengan mendengarkan Kitabullah dan ayat-ayat-NYA. [4]

In Syaa Allah bersambung sabtu depan………………………………..

Sumber Buku:

[A] Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

[B] Tafsir Ibnu Katsir (Juz 21), Jilid 7; Penyusun Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh (Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta)

[1] Keduanya adalah tokoh-tokoh penting Bangsa Persia (pent.)

[2] Diringkas dari Sirah Ibnu Hisyam, op.cit., hal. 299, 300, 358.

[3] Lihat ad-Durr al-Mantsur, Tafsir surat Luqman, ayat 6, 5/307.

[4] Diringkas dari Tafsir Ibnu Katsir; Juz 21; Surat Luqman; hal.198-200; Jilid 7.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *