Categories
Artikel

Jalan menuju hidayah

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Berkata Dr. Wahbah az-Zuhaili,
Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah dan berjihad melawan musuh mereka. Mereka mengerahkan kemampuannya untuk mencari keridhaan-Nya. Yakni yang menyampaikan mereka kepada Kami, karena mereka adalah orang-orang yang berbuat ihsan. Dengan memberikan bantuan, pertolongan dan hidayah. Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang layak mendapatkan kebenaran adalah orang yang sungguh-sungguh, dan bahwa orang yang berbuat ihsan dalam melaksanakan perintah Allah, maka Dia akan membantunya serta memudahkan sebab-sebab hidayah. Ayat ini juga menunjukkan, bahwa orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu syar’i, maka dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan dari Allah. Di samping itu, mencari ilmu merupakan salah satu di antara dua jihad, di mana tidak ada yang melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan, yang pertama yaitu jihad dengan ucapan dan lisan kepada kaum kafir dan munafik, jihad untuk berusaha mengajarkan agama dan membantah orang-orang yang menyelisihi yang hak, sedangkan yang kedua adalah jihad fisik (perang). Selesai tafsir surah Al ‘Ankabut dengan memuji Allah dan dengan pertolongan-Nya. [Tafsir Al-Wajiz / Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili]

Berkata Syaikh As-Sa’dy dalam menafsirkan ayat ini, Mereka adalah orang orang yang berhijrah di jalan Allah dan berjihad melawan musuh mereka serta mereka mencurahkan kesungguhan mereka untuk mengikuti keridhoan Allah. (Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami) Yaitu jalan jalan yang mengantarkan kepada Kami yang demikian dikarenakan mereka adalah orang yang senantiasa berbuat ihsan. (Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik). Yaitu dengan bantuan, pertolongan dan hidayah.
Ini menunjukkan :
bahwa orang yang paling pantas untuk diberi taufiq mencocoki kebenaran adalah ahlul jihad
bahwa siapa saja yang berbuat ihsan dalam hal yang diperintahkan maka Allah akan menolongnya dan Allah akan mudahkan baginya sebab sebab mendapatkan hidayah.
Bahwa siapa saja yang bersungguh sungguh dan bersemangat dalam thalabul ilmi syar’i maka akan sampai kepadanya petunjuk dan pertolongan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, demikian ini adalah urusan dan kuasa Allah, diluar jangkauan kesungguhannya. Dan Allah akan mudahkan baginya perkara ilmu, karena tholabul ilmi syar’i adalah termasuk jihad fiisabilillah, bahkan salah satu dari dua macam jihad yang tidak akan bisa menegakkannya kecuali orang orang khusus, yaitu :
– jihad dengan ucapan dan lisan menghadapi orang kafir dan munafik dan
– mengajarkan perkara perkara agama serta membantah penyimpangannya orang-orang yang menyelisihi al haq walaupun mereka dari kalangan orang islam.

[Tafsir As sa’dy]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Kitab Tauhid

Nabi Tidak Dapat Memberikan Hidayah, Kecuali Dengan Kehendak Allah

Bab 18

Nabi Tidak Dapat Memberikan Hidayah, Kecuali Dengan Kehendak Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 56)

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Ibn Al-Musayyab, bahwa bapaknya berkata,

Tatkala Abu Thalib akan meninggal, datanglah Rasulullah kepadanya dan saat itu ‘Abdullah bin Abu Umayyah serta Abu Jahl berada di sisinya, maka beliau bersabda kepadanya, Wahai pamanku! Ucapkanlah “La Ilaha Illallah” suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu di hadapan Allah. Tetapi disambut oleh ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl, “Apakah kamu membenci agama Abdul Muththalib?” Lalu Nabi mengulangi sabdanya lagi, akan tetapi mereka pun mengulang-ulangi kata-katanya itu pula. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetap pada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan “La Ilaha Illallah”. Kemudian Nabi bersabda, “Sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang.” Lalu Allah menurunkan firmanNya,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۤ اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَ لَوْ كَانُوْۤا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 113)

Kandungan Bab Ini

1. Tafsiran ayat: “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi.” (Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah masuk Islam hanya di Tangan Allah saja, tiada seorang pun yang dapat menjadikan seseorang menepati jalan kebenaran ini kecuali dengan kehendakNya; dan mengandung bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa para nabi dan wali dapat mendatangkan manfaat dan menolak mucharat, sehingga diminta untuk memberikan ampunan, menyelamatkan diri dari kesulitan dan untuk kepentingan-kepentingan lainnya.)

2. Tafsiran ayat: “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (Ayat ini menunjukkan bahwa haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik; dan haram pula ber-wala’ (mencintai, memihak dan membela) kepada mereka.)

3. Masalah penting sekali, yaitu tafsiran sabda beliau, Ucapkanlah, “La Ilaha Illallah”, berbeda dengan yang dipahami oleh orang yang mengaku berilmu. (Tafsirannya adalah, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan apa yang menjadi konsekwensinya, yaitu memurnikan ibadah kepada Allah dan membersihkan diri dari ibadah kepada selainNya seperti malaikat, nabi, wali, kuburan, batu, pohon, setan dan lain sebagainya.)

4. AbuJahl dan kawan-kawannya mengerti maksud Nabi tatkala beliau masuk dan bersabda kepada pamannya, Ucapkanlah, “La Ilaha Illallah.” Karena itu, celakalah orang yang salah pengertiannya dengan Abu Jahl tentang asas utama Islam.

5. Kesungguhan dan usaha maksimal Rasulullah kepada paman beliau untuk masuk Islam.

6. Bantahan terhadap orang yang mengatakan ‘Abdul Muththalib dan leluhurnya menganut Islam.

7. Abu Thalib tidak diberi ampunan oleh Allah ketika Rasulullah memintakan ampun untuknya, bahkan beliau dilarang.

8. Bahaya bagi seseorang yang jika berkawan dengan orang-orang berpikiran dan berperilaku buruk.

9. Bahaya mengagung-agungkan leluhur dan orang-orang terkemuka.

10. “Nama besar” mereka inilah yang menjadikan orang-orang Jahiliyah sebagai tolok ukur kebenaran yang mesti dianut.

11. Hadits tersebut mengandung suatu bukti bahwa amal seseorang dilihat dari akhir hidupnya; sebab seandainya Abu Thalib mau mengucapkan kalimat Syahadat, niscaya akan berguna dirinya di hadapan Allah.

12. Perlu direnungkan, betapa beratnya hati orang-orang tersesat itu untuk menerima kalimat tauhid, karena dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal pikiran mereka; sebab dalam kisah tadi disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Thalib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan kalimat tauhid, padahal Nabi sudah berusaha semaksimal mungkin dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya. Oleh karena kalimat tauhid ini sudah jelas maknanya dan besar konsekwensinya menurut mereka, maka cukuplah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.

Categories
Artikel

PENYIMPANGAN SETELAH HIDAYAH

.: *PENYIMPANGAN SETELAH HIDAYAH* :.

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:

_”Wahai Syaikh, mengapa ada sebagian orang yang justru *berbalik (menyimpang)* setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)?”_

Syaikh berkata;

_Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal:_

_Pertama, dia mungkin *tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq)*, atau yang kedua, ia *tidak bersyukur* setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah._

_Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,_

_camkanlah bahwa itu *bukan* karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,_

_melainkan itu adalah *rahmat dari-Nya yang meliputimu.*_

_Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut *kapan saja* darimu._

_Oleh karena itu, *jangan engkau tertipu* dengan amalanmu, *jangan pula disilaukan* oleh ibadahmu._

*_Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya._*

_*Kalau bukan karena rahmat Allah padamu*, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu._

_Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan,_

_“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”_

_Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi._

_Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam):_

_“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam)…”_

*_Maka apalagi engkau…!!?_*

_Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita_

_Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya._

_Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik._

Ibnu al-Qayyim berkata:

*_Kebutuhan hamba akan doa dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian._*

_Maka rutinkanlah membaca doa dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam,_

*_“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”_*

_Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang._

_Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya._

Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah