Categories
Artikel

Atsar keimanan tauhid Asma’ wa Sifat Allah

💫 Atsar keimanan tauhid Asma’ wa Sifat Allah …

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِینَ یُلۡحِدُونَ فِیۤ أَسۡمَـٰۤىِٕهِۦۚ سَیُجۡزَوۡنَ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [QS Al-A’raf 180]

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Dan sesungguhnya semua nama yang Ia miliki senantiasa d hati hamba yang taat kepada Allah, dan beriman kepada nama-nama yang baik itu, dan sungguh seorang hamba tidak akan menemukan nama yang lebih baik dan lebih agung daripada nama-nama Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kecintaan kepada-Nya dan pengetahuan tentang nama-nama Nya. (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

Dan Allah mempunyai asmā`ul ḥusnā (nama-nama yang terbaik) yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Maka gunakanlah nama-nama itu untuk tawasul kepada Allah dalam meminta sesuatu yang kalian inginkan dan pujilah menggunakan nama-nama terbaik tersebut. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar dalam memperlakukan nama-nama itu. Yaitu dengan menjadikannya sebagai nama untuk selain Allah, menafikannya dari Allah, menyelewengkan maknanya, atau menyerupakannya dengan selain Allah. Kami akan membalas orang-orang yang menyelewengkan nama-nama itu dari kebenaran dengan azab yang sangat pedih disebabkan apa yang telah mereka perbuat.

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه، Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“إِنَّ لِلَّهِ تِسْعًا وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ”.

Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu, seratus kurang satu. Barangsiapa yang dapat menghafalnya, masuk surga. Dia Maha Esa dan mencintai yang esa.
(HR Bukhari dan Imam Muslim)
Kemudian perlu untuk diketahui bahwa asmaul husna tidak hanya terbatas sampai bilangan sembilan puluh sembilan. Sebagai dalilnya ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya.
Tidak sekali-kali seseorang tertimpa kesusahan, tidak pula kese­dihan, lalu ia mengucapkan doa berikut: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambamu, anak hamba, dan amat (hamba perempuan)-Mu, ubun-ubun (roh)ku berada di dalam genggaman kekuasaan-Mu, aku berada di dalam keputusan-Mu, keadilan belakalah yang Engkau tetapkan atas diriku. Aku memohonkan kepada Engkau dengan menyebut semua nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau menyimpannya di dalam ilmu gaib di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur’an yang agung sebagai penghibur kalbuku,-cahaya dadaku, pelenyap dukaku, dan penghapus kesusahanku,” melainkan Allah menghapuskan darinya kesedihan dan kesusahannya, dan menggantikannya dengan kegembiraan. Ketika ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh mempelajarinya?” Rasulullah menjawab: Benar, dianjurkan bagi setiap orang yang mendengarnya (asmaul husna) mempelajarinya.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Sesungguhnya iman dengan asma’ dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun jamaah dalam mu’amalah-nya dengan Allah dan dengan makhluk.

A. Pengaruhnya Dalam Bermu’amalah Dengan Allah.

Jika seseorang mengetahui asma’ dan sifatNya, juga mengetahui madlul (arti dan maksud)nya secara benar, maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan Rabb-nya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk dan khusyu’ kepadaNya, takut dan mengharapkanNya, tunduk dan memohon kepada-nya serta bertawassul kepada-nya dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu …” [QS. Al-A’raf: 180]
Jika ia mengetahui bahwa Rabb-nya sangat dahsyat adzab-Nya, Dia bisa murka, Mahakuat, Mahaperkasa dan Mahakuasa melakukan apa saja yang Dia kehendaki, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak satu pun terlepas dari ilmu-Nya, maka hal itu akan membuatnya ber-muraqabah (merasa diawasai Allah), takut dan menjauhi maksiat terhadap-Nya.
Jika ia mengetahui Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang, Mahakaya, Mahamulia, senang pada taubat hamba-Nya, mengampuni semua dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat, maka hal itu akan membawanya kepada taubat dan istighfar, juga membuatnya bersangka baik kepada Rabb-nya dan tidak akan berputus asa dari rahmat-Nya.
Jika ia mengetahui Allah adalah yang memberi nikmat, yang menganugerahi, dan yang hanya di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segalanya, Dia yang memberi rizki, membalas dengan kebaikan, dan memuliakan hamba-Nya yang mukmin, maka hal itu akan membawanya pada mahabbah kepada Allah dan ber-taqarrub kepada-Nya serta mencari apa yang ada di sisiNya dan akan berbuat baik kepada sesamanya.

B. Pengaruhnya Dalam Bermu’alah Dengan Makhluk.

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah adalah Hakim yang Mahaadil, tidak menyukai kezhaliman, kecurangan, dosa dan permu-suhan; dan Dia Maha Membalas dendam terhadap orang-orang zhalim atau orang-orang yang melampaui batas atau orang-orang yang ber-buat kerusakan, maka ia pasti akan menahan diri dari kezhaliman, dosa, kerusakan dan khianat.
Dan dia akan berbuat adil atau obyektif sekali pun terhadap dirinya sendiri, juga akan bergaul dengan teman-temannya dengan akhlak yang baik. Dan masih banyak lagi pengaruh-pengaruh terpuji lainnya karena mengetahui nama-nama Allah dan beriman kepadaNya.
Demikianlah, Allah memperkenalkan Diri-Nya dengan nama-nama itu agar hamba-Nya mengenalNya dan memohon kepada-Nya sesuai dengan isi kandungannya dan agar berbuat baik kepada hamba-Nya yang lain. Allah berfirman: “… dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Al-Baqarah: 195]

Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

ارحم من في الأرض يرحمك من في السماء.

“Sayangilah orang yang ada di bumi, maka engkau akan disayangi oleh yang ada di langit.” [Wabillahit-taufiq wal hidayah]

(Kitab Tauhid, jilid 1)

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Senjata yang paling kuat bagi seorang mukmin

Ada keteguhan hati orang yang berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga mereka tidak akan mudah goyah ketika datang gelombang syubhat menerpanya.

Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan Rasûl-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu. [QS. Al-Hujurat:15]

Barangsiapa yang berpegang teguh terhadap Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya, dengan berpedoman dan berlandaskan pada keduanya, maka keselamatan, istiqamah dan jauh dari penyelewengan akan menyertainya atas izin Allah.

Keteguhan di atas Islam akan terwujud dengan berlandaskan pada Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan Islam tidak bisa kokoh pada diri seseorang, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Dua hal inilah yang dibawa oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلن, seperti dalam firman-Nya.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama. [QS. At-Taubah: 33]

❐ Berkata Al-Allamah Sholih Al-Fauzan حفظه الله,

【 إذا تسلحت بالكتاب والسنة
فإنك لا تغلب أبداً.
لكن إذا لم يكن عندك علم
فأنت تذهب مع أوّل شبهة. 】
[شرح النووية (1/176)].

ًTatkala kamu bersenjatakan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kamu tidak akan terkalahkan selama-lamanya. Akan tetapi apabila tidak ada ilmu dalam dirimu maka kamu akan tenggelam bersamaan awal pertama adanya syubhat.

[Syarh An-Nawawiyyah (1/176)]

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Categories
Artikel

Ukuran kebenaran iman

🔥 *Ukuran kebenaran iman …*

Allah telah menetapkan rambu kebenaran untuk mengetahui batas kebenaran iman seseorang.

Allah berfirman,

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian (para sahabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 138]

Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya, Bila orang-orang kafir dari kalangan orang-orang Yahudi, Nasrani dan selain mereka beriman pula kepada apa yang kalian imani dan beriman pula kepada apa yang dibawa oleh Rasul maka telah mendapat hidayah kepada kebenaran. Namun bila mereka berpaling maka mereka terjatuh kedalam khilaf (perselisihan) yang keras, maka Allah akan mencukupkanmu wahai Rasul dari keburukan mereka dan menolongmu atas mereka. Dia maha mendengan perkataanmu dan Maha Mengetahui keadaanmu. [Tafsir Al-Muyassar]

Allah berfirman,

فَإِنْ آمَنُواْ …

“Maka jika mereka beriman,” yakni orang-orang kafir dan ahli kitab serta lain-lainnya mau beriman, “kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya,” hai orang-orang mukmin, yakni mereka beriman kepada semua kitab dan rasul Allah, serta tidak membedakan seorang pun di antara mereka, “sungguh mereka telah mendapat petunjuk,” yakni mereka telah menempuh jalan yang hak dan mendapat bimbingan ke arahnya.

Allah mengingatkan mereka yang tidak mau mengikuti firmannya,

وَّإِن تَوَلَّوْاْ …

“Dan jika mereka berpaling,” yakni dari jalan yang benar dan menempuh jalan yang batil, sesudahnya hujjah mematahkan alasan mereka, “sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu), maka Allah akan memelihara kamu dari mereka,” yakni Allah akan menolongmu dalam menghadapi mereka dan Dia akan memberikan kemenangan kepada kalian atas mereka, “Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Yunus ibnu Abdul A’la telah membacakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Abu Na’im yang menceritakan bahwa mushaf Usman ibnu Affan dikirimkan kepada sebagian khulafa untuk dikoreksi. Ziad melanjutkan kisahnya, “Maka aku bertanya kepadanya (Nafi’ ibnu Abu Na’im), ‘Sesungguhnya orang-orang mengatakan bahwa mushaf (kopi asli Usman ibnu Affan) berada di atas pangkuannya ketika ia dibunuh, lalu darahnya menetesi mushaf yang ada tulisan firman-Nya:

فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[QS. Al-Baqarah [2]: 137]

Nafi’ mengatakan, “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri darah itu ada yang menetes pada ayat ini, tetapi agak pudar karena berlalunya masa.” [Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim Imam Ibnu Katsir]

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan, bahwa ayat ini menunjukkan akan keutamaan para sahabat dan wajibnya kembali kepada pemahaman para sahabat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin dalam ayat ini kebenaran keimanan mereka. [Miftah Dar As-Sa’adah]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel

Ukuran kebenaran iman

🔥 *Ukuran kebenaran iman …*

Allah telah menetapkan rambu kebenaran untuk mengetahui batas kebenaran iman seseorang.

Allah berfirman,

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian (para sahabat) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 138]

Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya, Bila orang-orang kafir dari kalangan orang-orang Yahudi, Nasrani dan selain mereka beriman pula kepada apa yang kalian imani dan beriman pula kepada apa yang dibawa oleh Rasul maka telah mendapat hidayah kepada kebenaran. Namun bila mereka berpaling maka mereka terjatuh kedalam khilaf (perselisihan) yang keras, maka Allah akan mencukupkanmu wahai Rasul dari keburukan mereka dan menolongmu atas mereka. Dia maha mendengan perkataanmu dan Maha Mengetahui keadaanmu. [Tafsir Al-Muyassar]

Allah berfirman,

فَإِنْ آمَنُواْ …

“Maka jika mereka beriman,” yakni orang-orang kafir dan ahli kitab serta lain-lainnya mau beriman, “kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya,” hai orang-orang mukmin, yakni mereka beriman kepada semua kitab dan rasul Allah, serta tidak membedakan seorang pun di antara mereka, “sungguh mereka telah mendapat petunjuk,” yakni mereka telah menempuh jalan yang hak dan mendapat bimbingan ke arahnya.

Allah mengingatkan mereka yang tidak mau mengikuti firmannya,

وَّإِن تَوَلَّوْاْ …

“Dan jika mereka berpaling,” yakni dari jalan yang benar dan menempuh jalan yang batil, sesudahnya hujjah mematahkan alasan mereka, “sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu), maka Allah akan memelihara kamu dari mereka,” yakni Allah akan menolongmu dalam menghadapi mereka dan Dia akan memberikan kemenangan kepada kalian atas mereka, “Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Yunus ibnu Abdul A’la telah membacakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Abu Na’im yang menceritakan bahwa mushaf Usman ibnu Affan dikirimkan kepada sebagian khulafa untuk dikoreksi. Ziad melanjutkan kisahnya, “Maka aku bertanya kepadanya (Nafi’ ibnu Abu Na’im), ‘Sesungguhnya orang-orang mengatakan bahwa mushaf (kopi asli Usman ibnu Affan) berada di atas pangkuannya ketika ia dibunuh, lalu darahnya menetesi mushaf yang ada tulisan firman-Nya:

فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[QS. Al-Baqarah [2]: 137]

Nafi’ mengatakan, “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri darah itu ada yang menetes pada ayat ini, tetapi agak pudar karena berlalunya masa.” [Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim Imam Ibnu Katsir]

Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan, bahwa ayat ini menunjukkan akan keutamaan para sahabat dan wajibnya kembali kepada pemahaman para sahabat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin dalam ayat ini kebenaran keimanan mereka. [Miftah Dar As-Sa’adah]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Categories
Artikel Hadits

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

*MUTIARA HADITS*

*KUMPULAN HADITS ARBA’IN*

*📚 Hadits Ke 2*

*🔹IMAN, ISLAM, DAN IHSAN🔹*

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : “Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”

Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”

Kemudian dia berkata: “anda benar“.

Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.

Kemudian dia bertanya lagi “Beritahukan aku tentang Iman“.

Lalu beliau bersabda “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“

Kemudian dia berkata: “ anda benar“.
Kemudian dia berkata lagi “Beritahukan aku tentang ihsan“.

Lalu beliau bersabda “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” .

Kemudian dia berkata “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”.

Beliau bersabda “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “.

Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “,

Beliau bersabda “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“,

Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.

Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”.

Aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “.

Beliau bersabda “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

[HR. Muslim]

*📝 Faedah Hadits :*

🔺 Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.

🔺 Siapa yang menghadiri majelis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

🔺 Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.

🔺 Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.

🔺 Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.

🔺 Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.

🔺 Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

🔺 Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majelis ilmu.

Semoga Bermanfaat.

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel Manhaj

ASAL MUASAL PERKATAAN: “MEREKA (YANG TIDAK MENGIKUTI SUNNAH NABI) LEBIH BAIK AKHLAKNYA DARIPADA YANG MENGIKUTI SUNNAH

*ASAL MUASAL PERKATAAN: “MEREKA (YANG TIDAK MENGIKUTI SUNNAH NABI) LEBIH BAIK AKHLAKNYA DARIPADA YANG MENGIKUTI SUNNAH.”*

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ أُوتُوْا نَصِيْبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْـجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلًا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisaa’: 51]

[2]- Imam Ibnu Katsir -rahimahullaah- berkata:

“Firman Allah:

…وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلًا

“…dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”

Yakni: mereka (orang-orang Yahudi) menganggap orang-orang kafir (kaum musyrikin) lebih utama dari kaum muslimin. (Anggapan semacam ini) dikarenakan kebodohan mereka (Yahudi), dan tipisnya agama mereka, serta kekafiran mereka terhadap kitab Allah (Taurat) yang ada pada mereka.

Imam Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan (dengan sanadnya)…dari ‘Ikrimah, ia berkata: Huyay bin Akhthab dan Ka’b bin Al-Asyraf (tokoh-tokoh Yahudi) datang ke Makkah, mereka (kaum musyirikin) berkata (kepada orang-orang Yahudi tersebut): “Kalian adalah Ahlul Kitab dan Ahli ilmu, maka kabarkanlah kepada kami tentang kami dan tentang Muhammad!” Mereka (orang-orang Yahudi) berkata: “Bagaimana keadaan kalian dan keadaan Muhammad?” Mereka (kaum musyrikin) berkata: “Kami menyambung silaturahmi, menyembelih unta (untuk dibagikan), memberi minum air dan juga susu, memerdekakan budak-budak, dan memberi minum kepada jama’ah Haji. Sedangkan Muhammad adalah “Shunbuur” (terputus, tidak punya keturunan laki-laki), memutus silaturahmi, pengikutnya adalah para pencuri dari kaum Ghifar yang mencuri Jama’ah Haji. Maka, apakah kami yang lebih baik ataukah dia?” Maka orang-orang Yahudi menjawab: “Kalian lebih baik dan lebih benar jalannya.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ أُوتُوْا نَصِيْبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْـجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلًا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisaa’: 51]

(Tafsiran) ini diriwayatkan dari banyak jalan, dari Ibnu ‘Abbas, dan dari sekelompok ulama Salaf.”

[“Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Azhiim” (II/335- cet. Daar Thayyibah)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

Categories
Artikel

Mari sejenak kita beriman!

*Mari sejenak kita beriman!*

Judul di atas adalah petikan dari perkataan sahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal dalam shohih Bukhori secara Muallaq (terpotong sanadnya dari penulis) dan dimaushulkan (diberikan Sanad bersambung) oleh imam Ibnu Abi Syaibah (11/26) dan al-Baihaqi dalam Syuabul iman (44):

“اِجْلِسْ بِنَا نُؤْمِن سَاعَة”

“duduklah bersama kami untuk beriman barang sejenak”. [Fathul Baari, I/45, cet. Daar Fikr]

Maksud dari perkataannya adalah: marilah menambah keimanan dengan duduk bersama di majelis iman, majelis ilmu. Sesibuk apapun anda, sempatkanlah dan luangkan walau sejenak untuk hadir di majelis ilmu.
Karena iman yang anda miliki akan usang. Layaknya pakaian yang melekat di badan yang akan usang apabila tidak diperbaharui. Karena iman yang anda miliki bisa bertambah dan bisa juga berkurang. Sebanyak anda menambah ilmu dan mengamalkannya, sebanyak itu pula iman akan bertambah. Sejarang dan semalas anda menghadiri majelis ilmu dan tidak mengamalkannya, seperti itu pula berkurangnya iman anda.

Umair bi Habib bin Hamasah berkata :

إِنَّ الإِيمَانَ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ، قَالُوا: وَمَا زِيَادَتُه وَنُقْصَانُه؟ قَالَ: إِذَا ذَكَرْنَا اللهَ وَخَشِيْنَاه فَذَلِكَ زِيَادَتُه، وَإِذَا غَفِلْنا وَنَسِيْنَا وَضَيَّعْنَا فَذَلِكَ نُقْصَانُه.

“ sesungguhnya Iman itu bertambah dan berkurang, mereka berkata: apa tambahan dan kurangnya? Ia berkata: apabila kita mengingat Allah, dan takut padanya, itulah tambahan iman, dan apabila kita lalai, lupa dan menyia-nyiakan, itulah tanda kurangnya iman kita” [Fathul Baari, Ibnu Rajab al-Hambali, I/13, Dar Ibn Jauzi, 1422 H.]

Betapa banyak dalil yang menyatakan keutamaan ilmu dan ahlinya. Berapa banyak ayat dan hadis yang memerintahkan kita untuk menghadiri majelis ilmu. Dan hampir semua kaum muslimin mengetahui bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup! lantas mengapa kita masih malas melangkahkan kaki ke majelis ilmu? Bahkan mungkin tidak pernah sekalipun hadir bersimpuh di majelis ilmu dengan berbagai alasan! Entah karena kerja, keluarga, atau karena sekolah dan kuliah, dan berjuta alasan lainnya untuk tidak hadir dalam pengajian ilmiyyah. Kalaulah kita tahu meninggalkan kewajiban adalah berdosa, lantas mengapa kita rela menumpuk dosa dengan tidak mau belajar ilmu syar’ie dan acuh tak acuh terhadapnya.

Padahal !!! untuk mencapai surga yang diidamkan semua orang tidaklah mudah. Karena selalu saja manusia dihalangi oleh setan dan jalan menuju padanya dihiasi dengan hal yang dibenci manusia. Kecuali penuntut ilmu, Allah permudah bagi mereka jalan menuju padanya. Lantas ?! Mengapa kita masih memilih jalan yang sulit untuk ditempuh? Bahkan Bisa jadi kita tidak akan sampai selamanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“surga dihiasi dengan hal-hal yang dibenci, sedangkan neraka dihiasi dengan syahwat” [HR. Muslim (2822)]

Dan beliau ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“siapa saja yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan permudah jalan menuju surga. Dan sungguh malaikat meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena ridho terhadapnya. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, serta ikan di lautan yang dalam. Dan sungguh keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah, sebagaimana keutamaan cahaya bulan purnama dibandingkan seluruh bintang. Dan sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham, akan tetapi hanya mewarisi ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian (warisan) yang banyak.” [HR. Abu Dawud (3463), HR. Tirmidzi (2682), & HR Ibnu Majah (223)]

Cukuplah hadis spektakuler di atas menjadi pemicu kita agar semangat menuntut ilmu. iya,! Allah dan rasulnya tidak memerintahkan anda untuk meninggalkan pekerjaan dan pergi menuntut ilmu, akan tetapi luangkanlah sehari dalam sepekan menghadiri kajian, satu jam dalam sehari untuk membaca Al-Qur’an, satu jam dalam sehari untuk membaca buku agama. sesaat demi sesaat bagilah waktu anda! Sebagaimana nasihat Ibnu Mas’ud kepada murid muridnya, Abu Wail berkata: Abdullah bin Mas’ud mengajarkan manusia pada setiap hari Kamis. Berkatalah padanya seseorang: wahai Abu Abdirohman, aku sangat senang jika engkau mau mengajarkan kami setiap hari. Ia berkata :

أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

“adapun yang mencegahku melakukan itu, aku takut membuat kalian bosan, dan aku menyeling kalian dalam memberikan nasihat, sebagaimana Nabi ﷺ menyelingi kami dalam memberikan nasihat takut membuat kami menjadi bosan.” [HR. Bukhori 70 & HR. Muslim 2821]

Janganlah gemerlapnya dunia membuatmu terpana dengan kemolekannya sehingga anda lupa untuk apa anda diciptakan, sehingga dunia senantiasa dikejar padahal setiap saat dunia pergi menjauhi kita, dan setiap saat ajal mendekati kita. janganlah sibuknya anda dengan pekerjaan,sibuk dengan perniagaan, sibuk dengan lemburan, sibuk dengan tugas kuliah, anak dan istri Membuat anda lalai menuntut ilmu.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [QS. Al-Kahfi:28]

📚 Dika Wahyudi Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah