Tahun baruan, Apanya yang baru …?



0 Comment

Awas sebentar lagi ! Kaum muslimin akan latah, ikut-ikutan merayakan perayaan ini.
Jauh sebelum munculnya fenomena ini Allah sudah mengingatkan akan bahayanya latah, meniru-niru kebiasaan orang kafir.
Ini adalah ritual orang kafir, dan tasyabbuh (niru-niru) dengan orang kafir adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam.
Allah memperingatkan bahayanya jalan orang kafir.

Allah berfirman,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 120]

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyingkap apa yang terdapat di dalam hati orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani berupa ketidaksenangan mereka terhadap Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Seluruh kemampuan yang mereka miliki, mereka gunakan untuk menggiring kaum muslimin agar mengikuti agama dan keyakinan mereka yang batil. Mereka jalankan makar tersebut sedikit demi sedikit, hingga akhirnya seorang muslim keluar dari Islam dan condong kepada agama mereka, wal ‘iyadzu billah.
Karena itu, agama Islam menganjurkan untuk selalu menyelisihi kebiasaan orang-orang kafir sebagai sikap berlepas diri dari mereka dan keyakinan mereka. Selain itu, juga upaya menutup pintu masuknya pengaruh dan sikap kecondongan kepada agama dan tradisi yang mereka bawa.

Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini berkata, “(Allah subhanahu wa ta’ala) mengabarkan kepada Rasul-Nya bahwa Yahudi dan Nasrani tidak senang kepadanya kecuali (bila kita) mengikuti agama mereka. Sebab mereka senantiasa mengajak kepada apa yang menjadi keyakinan mereka dan menyangka bahwa itu adalah petunjuk.
Oleh karena itu, katakanlah kepada mereka, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala yang engkau diutus dengannya adalah petunjuk yang sebenarnya. Adapun apa yang kalian yakini itu adalah hawa nafsu,’ dengan dalil firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ .

Dan jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu, maka Allah tidak akan menjadi wali dan penolongmu. ” [QS. Al-Baqarah: 120]

Di dalam ayat ini terdapat larangan besar untuk mengikuti hawa nafsu Yahudi dan Nasrani. Larangan menyerupai mereka terhadap apa yang khusus dari agama mereka. Pembicaraan ini walaupun ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sebenarnya umatnya termasuk di dalamnya. Sebab yang menjadi ibrah adalah keumuman maknanya dan bukan kekhususan siapa yang diajak berdialog, sebagaimana pula yang menjadi ibrah adalah keumuman suatu lafadz dan bukan dikhususkan pada sebab turunnya.” [Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 64—65]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:

إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ

“Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.

وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ

“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” [QS. Al-Baqarah : 120].

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi menjadi geram karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka, hingga mereka mengatakan : “Apa yang diinginkan orang ini – maksudnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – ?
Tidaklah ia membiarkan perkara kita sedikitpun kecuali ia pasti menyelisihi kita dalam perkara itu”.

Tidak akan lurus jalan seorang hamba yang diperintah Allah untuk mengikuti jalan yang hak, kecuali dengan menyelisihi jalan yang dimiliki umat-umat lain. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar berdoa kepada-Nya dengan doa :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus” [QS. Al-Fatihah : 6].

Kemudian Allah ta’ala mengenalkan jalan itu, dalam firman-Nya :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” [QS. Al-Fatihah : 7].

Karena jalan ini diberi rintangan berupa perkara yang akan membuat rusak kelurusannya, maka Allah menambahkan keterangan yang telah lalu dengan memperingatkan orang-orang yang menempuh jalan lurus tersebut dari jalan-jalan yang ditempuh oleh umat-umat yang lain, dalam firman-Nya :

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” [QS. Al-Fatihah : 7].

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah