Categories
Artikel

Memilih teman duduk yang baik

Manusia adalah makhluk sosial sebagaimana mereka diciptakan oleh Allah. Yaitu manusia tidak dapat hidup sendiri atau individu melainkan manusia selalu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu setiap manusia pastinya membutuhkan teman.
Dalam memilih teman hendaknya memang harus diperhatikan dengan baik. Karena lingkungan pergaulan yang dipilih akan menentukan perkembangan diri seseorang. Lingkungan yang baik akan menciptakan pribadi baik dan sebaliknya lingkungan yang buruk akan menciptakan pribadi buruk tentunya.

Allah berfirman,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَ ٰ⁠حِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [QS. An Nisa : 1]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memberikan bimbingan kepada kaum muslimin dalam memilih teman duduknya. Karena teman duduk sangat besar sekali pengaruhnya terhadap akhlak dan kepribadian seseorang. Beliau bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رَيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman duduk yang sholeh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” [HR Al-Bukhari 2101, Muslim, 37—38]

Imam An Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa dalam hadist ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, imu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” [Syarh Shahih Muslim 4/227]

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Mu’aadz bin Jabal رضي الله عنه berkata:

إيّاك وكلّ جليسٍ لا يفيدك علماً.

“Berhati-hatilah engkau terhadap setiap teman duduk yang tidak memberikan faedah ilmu kepadamu” [Al-Adabusy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih Al-Hanbaliy, 3/544].

Teman yang sholeh punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah. Seseorang akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Bahaya menggantungkan kepada selain Allah

💧 *Bahaya menggantungkan kepada selain Allah …*

Allah berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” [QS. Az Zumar: 38]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Ayat ini dan semisalnya adalah dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menggantungkan hati kepada selain Allah ketika ingin meraih manfaat atau menolak bahaya. Ketergantungan hati kepada selain Allah dalam hal itu termasuk kesyirikan“ [Fathul Majid, 127-128]

Sikap berserah diri kepada Allah, akan membawa manusia pada pertolongan Allah dalam menghadapi setiap permasalahan. Sedangkan sikap menggantungkan diri pada selain Allah akan membawa ketidaknyamanan dalam hidup, juga rasa tidak nyaman terhadap diri sendiri sehingga kehidupan yang dijalani berimbas pada orang-orang di sekitar mereka. Akibatnya, hidup menjadi serba sulit dan menyulitkan orang lain.

Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan ancaman yang jelas bagi siapa yang menggantungkan dirinya kepada selain Allah dalam sabdanya,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa yang menggantungkan (hatinya) kepada sesuatu apapun (selain Allah) maka Allah akan biarkan dia tergantung dengannya”. [HR. Tirmidzi no. 2072, dihasankan Syaikh Al-Albany]

Berkata Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله,

أعظـم الناس خُذلَاناً :
من تعـلّق بغير اللّه.
مدارج السالكين ( 458 / 1 ).

Manusia yang paling rendah ialah yang menggantungkan (dirinya) kepada selain Allah. [Madarijus Salikin (1/458)]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Bekal Utama dalam Jalan Dakwah

🌹 *Bekal Utama dalam Jalan Dakwah…*

Allah berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين

“Katakanlah (wahai Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah di atas bashiroh (dengan ilmu), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [QS. Yusuf: 108]

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,

Makna kata :

(هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ)

haadzihi sabiilii : dakwahku dan jalanku yang aku tempuh.

(عَلَىٰ بَصِيرَةٍ)

‘alaa bashiirah : di atas ilmu dan keyakinanku.

(وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ)

wa subhaanallaah : Maha suci Allah dari segala sekutu dalam hal kekuasaan ataupun ibadah.

Adapun ayat yang kedua (108), Allah telah memerintahkan kepada rasul-Nya untuk melanjutkan dakwahnya—dakwah menuju kebaikan—dan juga orang-orang yang beriman bersamanya, firman-Nya :

(قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ)

“Katakanlah wahai Rasul, kepada manusia:
“Inilah jalanku dalam berdakwah kepada Rabbku, dengan kalian beriman kepada-Nya, hanya menyembah kepada-Nya dan mentauhidkannya.

(أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ)

di atas ilmu yang pasti akan kepada siapa aku mengajak, dengan apa aku berdakwah, serta segala efek dan hasil dari dakwah ini,

(أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ)

dari kalangan orang-orang beriman, kami semua berdakwah kepada Allah ta’ala berdasarkan ilmu. Firman-Nya :

(وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ)

Katakanlah, “Maha Suci Allah”, pensucian atas-Nya dari segala sekutu atau anak, dan katakanlah dan umumkanlah bahwa engkau berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya:

(وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ)

dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Inilah makna dari ayat kedua (108).

Pelajaran dari ayat :
• Wajibnya berdakwah kepada agama Allah ta’ala bagi orang mukmin yang mengikuti Rasul shallahu ‘alaihi wa sallam.
• Wajibnya seorang da’i untuk mempunyai ilmu yang yakin akan apa yang ia dakwahkan, karena itulah bashirah yang dimaksud dalam ayat tersebut.
• Wajibnya mentauhidkan Allah ta’ala, dalam uluhiyah, rububiyyah,dan asma’ wa shifat-Nya.

[Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan kandungan ayat ini,

فتضمنت هذه الدعوة الإخلاص والعلم لأن أكثر ما يفسد الدعوة عدم الإخلاص أو عدم العلم وليس المقصود بالعلم في قوله على بصيرة العلم بالشرع فقط بل يشمل
•العلم بالشرع
•والعلم بحال المدعو
•والعلم بالسبيل الموصل إلى المقصود وهو الحكمة

“Dakwah ini harus mencakup ikhlas dan ilmu, karena kebanyakan yang merusak dakwah adalah tidak ikhlas dan tidak ada ilmu.
Dan bukanlah maksud ilmu dalam firman Allah, “(Dakwah) di atas bashiroh (dengan ilmu)” hanyalah ilmu tentang syari’at saja, tetapi mencakup:
• Ilmu tentang syari’at,
• Ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi,
•Ilmu tentang metode yang dapat mengantarkan kepada tujuan dakwah, yaitu hikmah.”

[Al-Qoulul Mufid fi Syarhi Kitab At-Tauhid, 1/130]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Sombongnya orang munafik

Betapa banyaknya Allah membongkar sikap jahat orang-orang munafik. Dan diantara hikmahnya, supaya kaum muslimin mewaspadai perilaku kejahatan mereka.

Dan diantara kejelekan sifat mereka adalah tidak mau menerima nasihat karena kesombongannya. Dan bahkan mereka begitu congkaknya saat menolak nasehat itu.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ الَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. “[QS. Al-Munafiqun: 5]

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Ketika dikatakan kepada orang-orang munafik: “Marilah beriman kalian, maka Rasulullah akan memintakan ampun untuk kalian dari apa yang kalian lakukan berupa dosa! Kemudian mereka memalingkan wajah mereka dari pembicaraan dengan sombong. Kamu akan mendapati mereka menolak apa yang kamu bicarakan dan kamu serukan kepada mereka yaitu permohonan ampun (darimu). Mereka adalah orang-orang yang enggan bertaubat.

Ibnu Jarir dari Qatadah berkata: “Dikatakan kepada Abdullah anak ayahku: “Jika datang kepadamu Nabi صلى الله عليه وسلم, maka beliau akan memintakan ampun untukmu”, kemudian dia memalingkan kepalanya, lalu turunlah ayat ini pada ketika itu juga” . [Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar]

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Jika dikatakan kepada mereka orang-orang munafik : Kemarilah kalian menuju kepada Rasul-Nya ﷺ, semoga kalian diampuni, dan agar Allah memperbaiki hati-hati kalian dan mensucikan kalian; Dan tidaklah mereka orang-orang munafik kecuali hanya tengak-tengok ke kanan dan ke kiri untuk mengejek dan sombong; Bahkan engkau akan melihat wahai Nabi Allah, mereka menolak dari nasihat kepada mereka dengan kesombongan mereka dan kecongkaan mereka. [Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili]

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Terhadap hal yang terjadi padamu agar keadaanmu menjadi baik dan amalmu diterima. Mereka (orang-orang munafik) menolak meminta doa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari kebenaran mereka juga menolak sambil membencinya. Inilah keadaan mereka ketika diajak meminta doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hal ini termasuk kelembutan Allah dan karamah(kemuliaan)-Nya kepada Rasul-Nya yaitu mereka (kaum munafik) tidak mau datang kepada Beliau agar Beliau memintakan ampunan untuk mereka, dan sama saja bagi mereka baik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuk mereka atau tidak, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak akan mengampuni mereka karena mereka adalah orang-orang yang fasik; yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan mengutamakan kekafiran daripada keimanan. Oleh karena itu, istighfar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah bermanfaat bagi mereka meskipun melakukan istighfar untuk mereka sebanyak tujuh puluh kali (lihat At Taubah: 80).

Allah menceritakan perihal orang-orang munafik —semoga laknat Allah tertimpakan kepada mereka— bahwa mereka itu:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ}

apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, ” mereka membuang muka mereka. [QS. Al-Munafiqun: 5]

Yakni mereka menghalang-halangi dan berpaling dari apa yang dikatakan kepada mereka dengan perasaan sombong dan menghina. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

{وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ}

dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombong­kan diri. [QS. Al-Munafiqun: 5]

Kemudian mereka diberi pembalasan atas sikapnya itu. Maka Allah berfirman:

{سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ}

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [QS. Al-Munafiqun: 6]

Sama halnya dengan apa yang disebutkan di dalam surat At-Taubah yang telah diterangkan jauh sebelum ini dan juga telah disebutkan pula padanya hadits-hadits yang diriwayatkan mengenainya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al-Adani yang mengatakan bahwa Sufyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka membuang muka mereka [QS. Al-Munafiqun: 5]

Ibnu Abu Umar mengatakan bahwa Sufyan memalingkan mukanya ke arah kanan seraya melirikkan pandangan matanya dengan pandangan yang sinis, lalu berkata bahwa seperti inilah sikap mereka.
Telah disebutkan dari bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, bahwa konteks semua ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, seperti yang akan kami terangkan berikut ini.
Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan di dalam kitab As-Sirah-nya, bahwa ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba di Madinah sekembalinya dari Perang Uhud. Sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, menurut keterangan yang kuperoleh dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, merupakan seorang yang mempunyai kedudukan di kalangan kaumnya. Setiap orang mengakui kedudukannya yang terhormat; dia dihormati di kalangan kaumnya. Apabila Nabi duduk dalam khotbahnya di hari Jumat, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berdiri, lalu mengatakan, “Hai manusia, ini adalah utusan Allah berada di antara kalian, Allah telah memuliakan kalian dengan melaluinya dan menjadikan kalian berjaya karenanya. Untuk itu maka tolonglah dia, dukunglah dia, dan tunduk patuhlah kalian kepadanya.” Setelah itu ia duduk kembali.
Ketika dia melakukan apa yang dilakukannya dalam Perang Uhud, yakni dia kembali ke Madinah dengan sepertiga pasukan, lalu pasukan kaum muslim kembali, maka berdirilah ia dan melakukan kebiasaan yang sebelumnya. Maka kaum muslim memegangi bajunya dari semua sisinya, dan mereka mengatakan, “Duduklah, hai musuh Allah, kamu tidak pantas melakukan hal ini setelah apa yang engkau lakukan dalam Perang Uhud.” Lalu ia keluar dengan melangkahi leher banyak orang seraya berkata, “Demi Allah, seakan-akan aku mengatakan ucapan yang tidak pantas, padahal aku berdiri untuk memperkuat urusannya.”
Di dekat pintu masjid ia bersua dengan sejumlah orang Anshar. Mereka mengatakan, “Celakalah kamu, mengapa kamu ini?”
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul menjawab, “Aku berdiri untuk mendukung urusannya, lalu sejumlah orang dari sahabatnya menarikku dan bersikap kasar terhadapku, seakan-akan aku mengatakan hal yang tidak pantas, padahal sebenarnya aku bermaksud untuk mendukungnya.”
Mereka berkata, “Celakalah kamu ini, sekarang kembalilah kamu kepada Rasulullah, beliau akan memohonkan ampunan bagimu.”
Ibnu Salul menjawab, “Demi Allah, aku tidak ingin dia memohonkan ampunan bagiku.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Karena itu Alloh menghukum mereka dengan tidak diampuninya dosa mereka. Dan mereka tidak akan mendapatkan petunjuk dari Alloh disebabkan kesombongannya itu.

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ الَّهُ لَهُمْ ۚإِنَّ الَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

An-Nawawi berkata, “Hadist yang berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” [Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam]

Semoga bermanfaat

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Kerasnya Hati

Allah menyebutkan dalan Al-Qur’an tentang celakanya manusia yang keras hatinya.

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Az-Zumar: 22]

Tidaklah sama antara para pendurhaka yang tidak mengambil pelajaran dari kejadian di sekitarnya dengan orang-orang yang mempunyai akal sehat dan mempergunakannya untuk beriktibar. Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk menerima agama islam dan mengamalkan ajarannya lalu dia mendapat cahaya dari tuhannya sehingga mau mengikuti petunjuk rasulullah sama dengan orang yang hatinya membatu tentu tidak sama. Maka, celakalah mereka yang hatinya telah membatu karena enggan untuk mengingat Allah dan menyimpang dari jalan-Nya. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata karena tidak mendapat taufik dan hidayah Allah untuk menerima kebenaran.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,
“Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.” [Al-Fawa’id, hal. 95].

Syaikh as-Sa’di رحمه الله menerangkan tentang tafsir ayat diatas,
“Maksudnya, hati mereka tidak menjadi lunak dengan membaca Kitab-Nya, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, dan tidak merasa tenang dengan berzikir kepada-Nya. Akan tetapi hati mereka itu berpaling dari Rabbnya dan condong kepada selain-Nya…” [Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 722]

Syaikh Ibnu Baz رحمه الله menjelaskan tentang jalan-jalan yang menyebabkan kerasnya hati sebagai berikut:

الذنوب والمعاصي وكثرة الغفلة وصحبة الغافلين والفساق، كل هذه الخلال من أسباب قسوة القلوب

مجموع الفتاوى 5/244

“Perbuatan dosa, maksiat, banyak lalai (dari mengingat Allah), berteman dengan orang-orang yang lalai dan fasik, semua jenis kejelekan tersebut merupakan penyebab kerasnya hati.” [Majmu al-Fatawa 5/244]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah