Categories
Artikel

Atsar keimanan tauhid Asma’ wa Sifat Allah

💫 Atsar keimanan tauhid Asma’ wa Sifat Allah …

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِینَ یُلۡحِدُونَ فِیۤ أَسۡمَـٰۤىِٕهِۦۚ سَیُجۡزَوۡنَ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [QS Al-A’raf 180]

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Dan sesungguhnya semua nama yang Ia miliki senantiasa d hati hamba yang taat kepada Allah, dan beriman kepada nama-nama yang baik itu, dan sungguh seorang hamba tidak akan menemukan nama yang lebih baik dan lebih agung daripada nama-nama Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kecintaan kepada-Nya dan pengetahuan tentang nama-nama Nya. (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

Dan Allah mempunyai asmā`ul ḥusnā (nama-nama yang terbaik) yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Maka gunakanlah nama-nama itu untuk tawasul kepada Allah dalam meminta sesuatu yang kalian inginkan dan pujilah menggunakan nama-nama terbaik tersebut. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar dalam memperlakukan nama-nama itu. Yaitu dengan menjadikannya sebagai nama untuk selain Allah, menafikannya dari Allah, menyelewengkan maknanya, atau menyerupakannya dengan selain Allah. Kami akan membalas orang-orang yang menyelewengkan nama-nama itu dari kebenaran dengan azab yang sangat pedih disebabkan apa yang telah mereka perbuat.

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه، Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“إِنَّ لِلَّهِ تِسْعًا وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ”.

Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu, seratus kurang satu. Barangsiapa yang dapat menghafalnya, masuk surga. Dia Maha Esa dan mencintai yang esa.
(HR Bukhari dan Imam Muslim)
Kemudian perlu untuk diketahui bahwa asmaul husna tidak hanya terbatas sampai bilangan sembilan puluh sembilan. Sebagai dalilnya ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya.
Tidak sekali-kali seseorang tertimpa kesusahan, tidak pula kese­dihan, lalu ia mengucapkan doa berikut: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambamu, anak hamba, dan amat (hamba perempuan)-Mu, ubun-ubun (roh)ku berada di dalam genggaman kekuasaan-Mu, aku berada di dalam keputusan-Mu, keadilan belakalah yang Engkau tetapkan atas diriku. Aku memohonkan kepada Engkau dengan menyebut semua nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau menyimpannya di dalam ilmu gaib di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur’an yang agung sebagai penghibur kalbuku,-cahaya dadaku, pelenyap dukaku, dan penghapus kesusahanku,” melainkan Allah menghapuskan darinya kesedihan dan kesusahannya, dan menggantikannya dengan kegembiraan. Ketika ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh mempelajarinya?” Rasulullah menjawab: Benar, dianjurkan bagi setiap orang yang mendengarnya (asmaul husna) mempelajarinya.
(Tafsir Ibnu Katsir)

Sesungguhnya iman dengan asma’ dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun jamaah dalam mu’amalah-nya dengan Allah dan dengan makhluk.

A. Pengaruhnya Dalam Bermu’amalah Dengan Allah.

Jika seseorang mengetahui asma’ dan sifatNya, juga mengetahui madlul (arti dan maksud)nya secara benar, maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan Rabb-nya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk dan khusyu’ kepadaNya, takut dan mengharapkanNya, tunduk dan memohon kepada-nya serta bertawassul kepada-nya dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu …” [QS. Al-A’raf: 180]
Jika ia mengetahui bahwa Rabb-nya sangat dahsyat adzab-Nya, Dia bisa murka, Mahakuat, Mahaperkasa dan Mahakuasa melakukan apa saja yang Dia kehendaki, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak satu pun terlepas dari ilmu-Nya, maka hal itu akan membuatnya ber-muraqabah (merasa diawasai Allah), takut dan menjauhi maksiat terhadap-Nya.
Jika ia mengetahui Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang, Mahakaya, Mahamulia, senang pada taubat hamba-Nya, mengampuni semua dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat, maka hal itu akan membawanya kepada taubat dan istighfar, juga membuatnya bersangka baik kepada Rabb-nya dan tidak akan berputus asa dari rahmat-Nya.
Jika ia mengetahui Allah adalah yang memberi nikmat, yang menganugerahi, dan yang hanya di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segalanya, Dia yang memberi rizki, membalas dengan kebaikan, dan memuliakan hamba-Nya yang mukmin, maka hal itu akan membawanya pada mahabbah kepada Allah dan ber-taqarrub kepada-Nya serta mencari apa yang ada di sisiNya dan akan berbuat baik kepada sesamanya.

B. Pengaruhnya Dalam Bermu’alah Dengan Makhluk.

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah adalah Hakim yang Mahaadil, tidak menyukai kezhaliman, kecurangan, dosa dan permu-suhan; dan Dia Maha Membalas dendam terhadap orang-orang zhalim atau orang-orang yang melampaui batas atau orang-orang yang ber-buat kerusakan, maka ia pasti akan menahan diri dari kezhaliman, dosa, kerusakan dan khianat.
Dan dia akan berbuat adil atau obyektif sekali pun terhadap dirinya sendiri, juga akan bergaul dengan teman-temannya dengan akhlak yang baik. Dan masih banyak lagi pengaruh-pengaruh terpuji lainnya karena mengetahui nama-nama Allah dan beriman kepadaNya.
Demikianlah, Allah memperkenalkan Diri-Nya dengan nama-nama itu agar hamba-Nya mengenalNya dan memohon kepada-Nya sesuai dengan isi kandungannya dan agar berbuat baik kepada hamba-Nya yang lain. Allah berfirman: “… dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Al-Baqarah: 195]

Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

ارحم من في الأرض يرحمك من في السماء.

“Sayangilah orang yang ada di bumi, maka engkau akan disayangi oleh yang ada di langit.” [Wabillahit-taufiq wal hidayah]

(Kitab Tauhid, jilid 1)

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Tauhid fundamen pokok agama

💧 Tauhid fundamen pokok agama …

Aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ. فَمَن كَانَ یَرۡجُوا۟ لِقَاۤءَ رَبِّهِۦ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا وَلَا یُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا.

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya.” [QS. Al-Kahfi: 110]

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada umatnya, “Sungguh aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu bahwa Tuhan sesembahan kalian yang benar adalah Tuhan yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, yaitu Allah.” Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan yang sesuai dengan syariatnya, disertai keikhlasan dalam melakukannya, dan tidak menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Firman Allah, Katakanlah: Ya Muhammad: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku…
Yakni aku bukanlah tuhan, dan tidak bersekutu dalam kerajaan-Nya, aku tidak mengetahui yang gaib dan tidak ada pada sisi-Ku perbendaharaan-perbendaharaan Allah. Inilah makna Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hamba Allah..
Yakni aku dilebihkan di atas kamu dengan memperoleh wahyu, yang isinya bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, di mana tidak ada yang berhak disembah dan ditujukan berbagai ibadah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Aku mengajak kamu untuk mengerjakan amal yang dapat mendekatkan dirimu kepada-Nya, mendapatkan pahala-Nya dan dijauhkan dari siksa-Nya, yaitu dengan mengerjakan amal saleh dan tidak berbuat syirk di dalamnya. Yaitu amal yang sesuai syari’at, baik yang wajib maupun yang sunat.
Seperti berbuat riya. Ayat ini menerangkan syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Keduanya ibarat sayap burung, jika salah satunya tidak ada, maka burung tidak dapat terbang. Orang yang ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam amalnya, itulah yang memperoleh apa yang dia harapkan dan yang dia minta. Sedangkan selainnya, maka dia akan rugi di dunia dan akhirat, tidak memperoleh kedekatan dengan Tuhannya dan tidak mendapat ridha-Nya.
(Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Allah menyatakan tentang fondasi pokok agama Islam adalah Tauhid yaitu penyembahan kepada Allah semata dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan didalam banyak ayat dari Al-Qur’an. Allah berfirman,

وَلَقَدۡ أُوحِیَ إِلَیۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكَ لَىِٕنۡ أَشۡرَكۡتَ لَیَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ.

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar: 65]

Firman-nya,

فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ.
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّینُ ٱلۡخَالِصُۚ.

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” [QS. Az-Zumar: 2-3]

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia. Sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, …” [QS. An-Nahl: 36]

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya:

یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.” [QS. Al-A’raf: 59, 65, 73, 85]

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh rasul عليهم السلام.
Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi’tsah- Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da’i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.
Wallahu a’lam

📚 Dinukil secara ringkas dari Kitab Tauhid jilid 1.

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Wajibnya mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم

🔥 Wajibnya mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم …

*Faedah dari hadits Nabi صلى الله عليه وسلم *

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolany رحمه الله di Bulughul Maram:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ . [رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. [HR. Bukhori dan Muslim]

Faedah dari hadits:

  1. Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
  2. Siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan.
  3. Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
  4. Perkara yang mudah tidak gugur karena perkara yang sulit.
  5. Menolak keburukan lebih diutamakan dari mendatangkan kemaslahatan.
  6. Larangan untuk saling bertikai dan anjuran untuk bersatu dan bersepakat.
  7. Wajib mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ta’at dan menempuh jalan keselamatan dan kesuksesan.
  8. Al Hafiz Ibnu Hajar berkata : Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting yang dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan.

[Dinukil dari mausu’ah Bulughul Maram]

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Ukuran kebenaran

🎗 Ukuran kebenaran …

Allah berfirman,

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ  بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُون

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. [QS. Al-Mukminun : 71].

Allah mengingatkan, seandainya Allah mengatur dan menjalankan seluruh urusan berdasarkan hawa nafsu manusia, niscaya langit dan bumi serta segala yang ada pada keduanya akan hancur binasa lantaran kejahilan mereka terhadap akibat amal perbuatan mereka dan terhadap betul tidaknya suatu urusan.
Manusia, meskipun fitrahnya lurus, ia sangat membutuhkan bimbingan al Kitab dan Sunnah untuk mengetahui kebaikan. Sebab, ada saja yang tidak diketahui olehnya, sehingga suatu kebaikan dianggap sebagai kejelekan dan sebaliknya. Akhirnya penilaian pun keliru.

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,
Jika seorang bertanya, “Mengapa kebenaran itu tidak selalu sesuai dengan keinginan mereka agar mereka beriman dan segera tunduk?” Maka jawabannya adalah ayat di atas.
Bagaimana tidak binasa dan hancur jika yang satu berkeinginan begini, sedangkan yang satu lagi berkeinginan begitu. Di samping itu, hawa nafsu atau keinginan mereka cenderung untuk bersenang-senang tidak memperhatikan maslahat kedepan, pengetahuan mereka terbatas, bahkan nafsu itu biasanya menyuruh kepada kejahatan dan kezaliman, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah. Oleh karena itu, jika kebenaran itu menuruti keinginan mereka tentu hancurlah dunia.
Ada pula yang mengartikan, “Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan dan kemuliaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” Sehingga maksudnya, jika mereka mau mengikuti Al Qur’an, maka keadaan mereka menjadi tinggi, mulia dan terhormat. Al Qur’an merupakan nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-Nya, namun mereka membalasnya dengan menolak dan berpaling, maka bukannya mereka menjadi tinggi dan terhormat, bahkan menjadi rendah dan terhina, lagi memperoleh kerugian.
(Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,
Firman Allah :

{وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ}

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya. [QS. Al Mu’minun: 71]

Mujahid dan Abu Saleh serta As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan al-haq ialah Allah
Dan makna yang dimaksud ialah bahwa sekiranya Allah menuruti kemauan hawa nafsu mereka dan mensyariatkan peraturan hukum sesuai dengan keinginan mereka.

{لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ}

pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya [QS. Al-Mu’minun: 71]
Yakni binasa karena hawa nafsu mereka dan keinginan mereka yang berbeda-beda, seperti yang diceritakan oleh Allah dalam firman-Nya menyitir kata-kata mereka:

{لَوْلا نزلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ}

Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini. [QS. Az-Zukhruf: 31]
Kemudian dijawab oleh Allah melalui firman selanjutnya:

{أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ}

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? [QS. Az-Zukhruf: 32]
Dan firman Allah:

{قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا}

Katakanlah, “Kalau seandainya kalian menguasai per­bendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan karena takut membelanjakannya.” [QS. Al-Isra: 100], hingga akhir ayat.

{أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا}

Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (Kebajikan) kepada manusia. [QS. An-Nisa: 53]
Dalam hal ini jelas terkandung pengertian yang menerangkan tentang ketidakmampuan manusia, perbedaan pendapat, dan keinginan hawa nafsu mereka. Dan bahwa hanya Allah sajalah Yang Mahasempurna dalam semua sifat, ucapan, perbuatan, syariat, takdir, dan pengaturan terhadap makhluk-Nya. Mahasuci Allah, tiada Tuhan selain Dia dan tiada Rabb selain Dia. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

{بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ}

Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka. [QS. Al Mu’minun: 71]
Yang dimaksud dengan kebanggaan mereka adalah Al-Qur’an.

{فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ}

tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. [QS. Al Mu’minun: 71]

(Tafsir Ibnu Katsir)

Jadi jelaslah ukuran kebenaran yang mutlak itu hanyalah wahyu dari Allah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohihah karena hanyalah Allah yang tahu secara pasti keberadaan alam semesta ini, baik yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi.

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.

“Allah lah yang mengetahui sedangkan kalian itu tidak mengetahui” [QS. Al-Baqarah: 216]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Mengimani Takdir Allah

💫 Mengimani Takdir Allah …

Beriman kepada takdir adalah salah satu rukun iman, dan mengingkarinya merupakan kekufuran.
Beriman kepada takdir Allah dapat menumbuhkan sikap positif atas apa yang terjadi dan apa yang akan dihadapi di masa depan. Selain itu orang yang beriman kepada takdir Allah akan mudah berserah diri atau bertawakkal kepada Allah.
Beriman kepada takdir Allah atau qada dan qadar menjadikan seseorang yakin dengan sepenuh hati bahwa segala hal yang telah , sedang dan akan terjadi adalah kehendak dari Allah.

Segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan datang semua tidak akan keluar dari ketetapan Allah, sesuai dengan ilmu-Nya dan hikmah-Nya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَالْحَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi dengan tenggang waktu 50 ribu tahun.” [HR. Muslim]

Berkata Imam Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله ,

من كذب بالقدر فقد كذب بالقرآن.

“Barangsiapa mendustakan takdir sesungguhnya dia telah mendustakan al-Qur’an.” [Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman [1/138]]

Imam at-Thahawi رحمه الله menjelaskan tentang takdir:
“Allah menciptakan makhluk dengan ilmu-Nya, lalu Allah tetapkan takdir dan ajalnya. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatupun sebelum diciptakan. Dia mengetahui perbuatan mereka sebelum diciptakan. Dia memerintahkan untuk taat kepada-Nya serta melarang berbuat maksiat kepada-Nya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan suratan takdir dan kehendak-Nya. Kehendak-Nya pasti terealisasi. Seorang hamba tidak memiliki kehendak, kecuali jika Dia memberinya kehendak. Apa yang dikehendakinya akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Seluruh makhluk berada dalam garis kehendak-Nya, antara karunia dan keadilan-Nya. Dia Maha Tinggi sehingga tidak memiliki lawan dan tandingan, tak ada yang menolak kehendak-Nya, tidak ada yang berhak berkomentar terhadap keputusan-Nya dan tidak ada yang mengalahkan perintah-Nya. Kita beriman kepada semuanya itu dan meyakini bahwa semuanya dari sisi-Nya.”
[Al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 21]

Beriman kepada takdir memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Bebas dari rasa takut dan tidak aman, karena tahu bahwa apa yang ditakdirkan Allah pasti terjadi dan tidak dapat dihindari.
  2. Tidak merasa sedih atas segala hal yang luput dan hilang, karena tahu bahwa segala hal hanyalah titipan. Selain itu, percaya seandainya ditakdirkan untuknya, bagaimanapun hal itu tak akan hilang darinya. Sebagaimana Abu Hazim Az-Zahid menjawab ketika ditanya, “Mengapa kamu tidak merasa gelisah terhadap rezekimu?”
    Dia menjawab, “Aku tahu bahwa yang menjadi milikku pasti akan datang kepadaku. Sekalipun seluruh dunia berupaya mengambilnya, tidak akan pernah bisa. Dan yang bukan milikku, seandainya aku berupaya dengan kekuatan seluruh penduduk bumi, tidak akan kudapatkan karena Allah menjadikan itu bukan untukku.”
  3. Tidak muncul kegembiraan yang berlebihan akan hal yang dimiliki seperti harta, anak atau kedudukan, karena tahu bahwa hal itu tidak kekal dan sewaktu-waktu dapat hilang sesuai dengan takdir-Nya
  4. Semangat mengamalkan kebaikan yang diperintahkan dan menjauhi segala hal yang dilarang. Jiwa pun menjadi tenang karena tahu bahwa yang ditakdirkan itulah yang akan terjadi, sedangkan yang tidak ditakdirkan tidak akan terjadi.
  5. Tahu dan paham benar bahwa musibah yang menimpa diri sesungguhnya akibat dari sebab-sebab yang telah ditakdirkan sehingga berusaha menghindari sebab-sebab yang merugikan dan berpegang pada sebab-sebab yang menguntungkan.
    (Inilah.com).

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Mendapatkan manisnya ibadah

🌺 Mendapatkan manisnya ibadah …

Ibadah adalah tujuan utama penciptaan jin manusia.
Allah berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Seseorang akan berada dalam keadaan nyaman ketika merasakan manis dan indahnya dalam melakukan suatu perbuatan tertentu.
Yang menjadikan nyaman adalah guna dan kemanfaatan atau buah manis dari apa yang dilakukan. Tidak akan mungkin untuk bertahan melakukan sesuatu yang tidak memberikan kebahagiaan, ketenangan dan kesenangan.
Seseorang akan merasa enggan dan malas melakukan ibadah adalah karena tidak tahu dan tidak pernah merasakan manisnya ibadah.
Sebagaimana yang diriwayatkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم merasakan dalam shalatnya kelezatan dan ketenangan jiwa, sebagaimana ucapannya kepada Bilal رضي الله عنه :

قم يا بلال فأرحنا بالصلاة

“Berdirilah wahai Bilal (untuk mengumandangkan iqamat), tenangkan hati kami dengan shalat“. [HR Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Berkata Imam Ahmad bin Harb bin Fairuz An Naisaburiy رحمه الله :

“عبدتُ الله خمسين سنة فما وجدت حلاوة العبادة حتى تركت ثلاثة أشياء: تركت رضا الناس حتى قدرت أتكلم بالحق، وتركت صحبة الفاسقين حتى وجدت صحبة الصالحين، وتركت حلاوة الدنيا حتى وجدت حلاوة الأخرى… ” (سير أعلام النبلاء:11/34)

“Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.” [“Siyaru A’lamin Nubala”/11/hal. 34]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Kelezatan dalam ibadah

🌹 Kelezatan dalam ibadah …

Allah tidak menciptakan manusia dalam kesia-siaan, tidak pula meninggalkan begitu saja; bahkan Allah menciptakan mereka untuk tujuan yang agung.
Allah berfirman,

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ}. [الذاريات:56]

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Allah memberikan keutamaan atas hamba-hambanya dan menganugerahkan kelezatan beribadah kepada mereka dengan kelezatan yang tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan dunia yang fana.
Kelezatan-kelezatan ini berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya sebatas kekuatan iman dan kelemahannya.

Allah berfirman,

{مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [النحل:97].

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. An-Nahl: 97]

Ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan itu hanya terjadi dalam peribadatan kepada Allah semata, menggantungkan hati kepadanya, dan terus menerus mengingatnya.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله,

“والإقبال على الله تعالى والإنابة إليه والرضا به وعنه، وامتلاء القلب من محبته واللَّهَج بذكره، والفرح والسرور بمعرفته؛ ثواب عاجل، وجنة وعيش لا نسبة لعيش الملوك إليه البتة” (الوابل الصيب، ص:69).

Menghadapkan diri kepada Allah, kembali kepada-Nya, ridho dengan-Nya maupun dari-Nya, memenuhi hati dengan kecintaan-Nya, terus menerus mengingat-Nya,
berbahagia dan senang dengan mengenal-Nya merupakan pahala yang disegerakan, surga dan kehidupan yang tidak bisa dinisbatkan dengan kehidupan para raja-raja sama sekali. [Al-Wabilus shoyyib, h: 69]

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Ridho dengan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya

🔥 Ridho dengan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya …

Keterpurukan kaum muslimin sekarang ini bukan karena sedikitnya jumlah mereka, atau sedikitnya harta benda mereka. Namun sebab utama keterpurukan ini adalah karena kaum muslimin tidak merasa cukup dengan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Ada jaminan dari Allah akan datangnya anugerah yang luas dan cukup bagi mereka jika mereka memenuhi syarat ini.

Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,’ (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” [QS. At-Taubah : 59]

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,
Dan di sini Dia berfirman, “Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka,” besar atau kecil, “dan berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami’.“ Yakni Allah yang mencukupi kami, maka kami pun rela dengan pembagian dari-Nya. Dan hendaklah mereka berharap karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka dengan berkata, “Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,’ (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” Yakni kami merendahkan diri dalam mengharap kebaikan dan menolak keburukan (niscaya mereka selamat dari kemunafikan, dan niscaya mereka ditunjukkan kepada iman dan keadaan-keadaan yang tinggi).
Kemudian Allah menerangkan tata cara pembagian sedekah wajib (zakat). [Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili]

Walaupun ayat ini turun berkaitan dengan masalah zakat dan pembagiannya, namun maknanya luas mencakup pula keridhoan dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi صلى الله عليه وسلم.
Sebagaimana yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir رحمه الله dalam kaitan tafsir ayat ini dengan kisah orang-orang Khawarij.

Berkata Imam Ibnu Katsir,
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat. (QS. At-Taubah: 58) Menurut Qatadah, artinya yaitu di antara mereka terdapat orang yang menuduhmu tidak adil dalam pembagian zakat’.

وذُكر لَنَا أَنَّ رَجُلًا مِنْ [أَهْلِ] الْبَادِيَةِ حديثَ عَهْدٍ بِأَعْرَابِيَّةٍ، أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ ذَهَبًا وَفِضَّةً، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ لَئِنْ كَانَ اللَّهُ أَمَرَكَ أَنْ تَعْدِلَ، مَا عَدَلْتَ. فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَيْلَكَ فَمَنْ ذَا يَعْدِلُ عَلَيْكَ بَعْدِي”. ثُمَّ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ: “احْذَرُوا هَذَا وَأَشْبَاهَهُ، فَإِنَّ فِي أُمَّتِي أَشْبَاهَ هَذَا، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقيَهم، فَإِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ”. وَذُكِرَ لَنَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُعْطِيكُمْ شَيْئًا وَلَا أَمْنَعُكُمُوهُ، إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ”.

Dan diceritakan kepada kami bahwa pernah ada seorang lelaki dari kalangan penduduk daerah pedalaman (orang Badui) yang baru masuk kota, ia datang kepada Nabi Saw. yang sedang membagi-bagikan emas dan perak. Lalu lelaki Badui itu berkata, “Hai Muhammad, demi Allah, seandainya Allah memerintahkan kepadamu untuk berlaku adil, niscaya engkau tidak akan berbuat adil.” Maka Nabi menjawab, “Celakalah kamu ini! Siapakah yang akan berbuat adil kepadamu sesudahku?” Kemudian Nabi bersabda: Waspadalah kalian terhadap orang ini dan orang-orang yang serupa dengannya, karena sesungguhnya di kalangan umatku akan terdapat orang-orang yang seperti orang ini. Mereka pandai membaca Al-Qur’an. tetapi Al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka (yakni tidak meresap ke dalam hati mereka). Apabila mereka keluar (memberontak). bunuhlah mereka; apabila mereka keluar, bunuhlah mereka; dan apabila mereka keluar, bunuhlah mereka. Telah diriwayatkan pula kepada kami bahwa Nabi pernah bersabda: Demi Tuhan yang jiwa aku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku tidak akan memberikan sesuatu pun kepada kalian, tidak pula mencegahnya kepada kalian. Sesungguhnya aku hanyalah sebagai bendaharawan.

Az-Zuhri juga meriwayatkan:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ فِي قِصَّةِ ذِي الخُوَيصرة -وَاسْمُهُ حُرْقوص -لَمَّا اعْتَرَضَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ، فَقَالَ لَهُ: اعْدِلْ، فَإِنَّكَ لَمْ تَعْدِلْ. فَقَالَ: “لَقَدْ خِبتُ وخسرتُ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ”. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ رَآهُ مُقَفِّيًا إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئ هَذَا قَوْمٌ يحقرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَهِ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوق السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّة، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّهُمْ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ” وَذَكَرَ بَقِيَّةَ الْحَدِيثِ

dari Abu Salamah, dari Abu Sa’ id dalam kisah Zul Khuwaisirah (si pinggang kecil) yang nama aslinya adalah Hurqus. Saat itu ia menentang Nabi yang sedang membagi-bagikan ganimah Hunain. Hurqus berkata kepada Nabi “Berlaku adillah, karena sesungguhnya engkau tidak berlaku adil.” Maka Nabi bersabda: Sesungguhnya aku pasti kecewa dan merugi jika aku bersikap tidak adil. Kemudian Rasulullah bersabda setelah melihat Hurqus pergi: Sesungguhnya kelak akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum, yang seseorang di antara kalian pasti memandang remeh salatnya dibandingkan dengan salat mereka, dan puasanya dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus sasarannya. Di mana saja kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah bangkai hidup yang paling jahat di bawah kolong langit ini. [HR Bukhory, Muslim]

Kemudian Allah berfirman mengingatkan mereka kepada apa yang sebaiknya mereka lakukan dalam keadaan seperti itu:

{وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ}

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah, “(tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). [QS. At-Taubah: 59]

Ayat yang mulia ini mengandung etika yang agung dan rahasia yang mulia, mengingat disebutkan bahwa rida itu hanyalah kepada apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya; dan hanya kepada Allah sematalah bertawakal, yaitu melalui firman-Nya:

{وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ}

dan mereka berkata, “Cukuplah Allah bagi kami.” (At-Taubah:59)

Demikian pula berharap kepada Allah semata dalam memohon kekuatan untuk taat kepada Rasulullah. mengerjakan perintah-perintahnya, meninggalkan larangan-larangannya, membenarkan berita-beritanya, dan mengikuti jejak-jejaknya.

[Diringkas dari tafsir Ibnu Katsir]

Wallohul musta’an

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik

💧 Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik …

Imam Ahmad, meriwayatkan tentang seorang lelaki dari penduduk kampung Arab Badui yang berkata,

أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ وَقَالَ: ” إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ إِلَّا أَعْطَاكَ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ “

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tanganku. Beliau pun mulai mengajarkan aku dari ilmu yang Allah Ta’ala wahyukan kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti, pen.) yang lebih baik darinya.” [HR. Ahmad no. 20739. Dishahihkan Syaikh Al-Albany dalam silsilah Adh-Dhoifah: 1/62]

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan,
Ganti yang diberikan Allah bisa jadi sesuatu yang sejenis dengan yang ditinggalkannya, atau bisa jadi dalam bentuk yang lain yang lebih baik lagi.

وقولهم من ترك لله شيئا عوضه الله خيرا منه : حق ، والعوض أنواع مختلفة ؛

Perkataan yang menyatakan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya adalah ucapan yang hak. Dan gantinya bisa bermacam-macam dan berbeda-beda ;
dan yang lebih tinggi nilainya dari apa yang digantikan dengannya, seperti :

: الأنس بالله ومحبته ، وطمأنينة القلب به ، وقوته ونشاطه وفرحه ورضاه عن ربه تعالى ” انتهى من ” الفوائد ” (ص107) .

Yaitu ketentraman dan kecintaan bersama Allah, ketenangan hati, beserta kekuatan, semangat, kebahagiaan dan keridhoan kepada Allah Rabb-nya. [Al-Fawaid: 107]

Diantara contoh ganti didunia sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qoyyim dalam Roudhotul Muhibbin h. 445:
• Tatkala Nabi Sulaiman bin Dawud عليه السلام menyembelih kuda kesayangannya yang telah menyibukkannya dari sholat ashar sampai tenggelam matahari, maka Allah menggantikannya dengan menundukkan angin yang berhembus sesuai dengan perintahnya.
• Dan tatkala orang-orang Muhajirin berhijrah meninggalkan rumah dan negeri yang sangat dicintainya (yaitu Mekkah menuju Madinah), maka Allah pun menggantikan untuk mereka kemenangan didunia, dan dikuasainya negeri timur dan barat dibawah kekuasaannya.

Demikian pula kisah Sultan Mahmud Subuktakin رحمه الله tatkala menaklukkan India, dia berkendak untuk menghancurkan kuil terbesar yang dipuja-puja oleh semua orang India dari berbagai penjuru lalu beliau ditawari untuk meninggalkan niatannya itu lalu mereka akan memberi hadiah berupa semua perhiasan yang mereka miliki.
Beliaupun istikhoroh dan memutuskan untuk tetap membinasakan kuil itu dalam rangka mencari keridhoan Allah, maka Allah menggantikan harta perhisan yang lebih melimpah yang tersimpan didalam kuil itu. [Al-Bidayah wn Nihayah oleh Ibnu Katsir, 12: 28]

Dan hukum Allah ini akan tetap berlaku sampai hari kiamat, baik bagi diri pribadi maupun sekumpulan masyarakat kaum muslimin.
Kapanpun mereka meninggalkan sesuatu karena Allah, maka pasti Allah akan menggantikan untuk mereka yang lebih baik.
Janji Allah pasti akan terjadi.

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Categories
Artikel

Mengapa terjadi perselisihan dan kekufuran… ?

🔥 Mengapa terjadi perselisihan dan kekufuran… ?

Perselisihan diantara manusia merupakan fitrah.
Hal itu sudah terjadi sejak diciptakan Adam عليه السلام.
Bagaimana Adam sempat berselisih dengan istrinya Hawa dalam menghadapi rayuan Iblis untuk memakan buah larangan.
Allah menyatakan bahwa perbedaan sudah ada sejak manusia diciptakan.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖوَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” [QS. Hud : 118]

إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ وَلِذَ ٰ⁠لِكَ خَلَقَهُمۡۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِینَ.

“kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [QS. Hud: 119]

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله, Allah menyebutkan bahwa Dia berkuasa untuk menjadikan seluruh manusia sebagai umat yang satu dalam hal keimanan atau kekufurannya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan-Nya dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا}

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. [QS. Yunus: 99]

Adapun firman Allah :

{وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ}

tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. [QS. Hud: 118-119]

Maksudnya, perselisihan masih tetap ada di kalangan manusia dalam masalah agama, dan akidah mereka menjadi terbagi ke dalam berbagai mazhab dan pendapat.

Firman Allah :

{إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ}

kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. [QS. Hud: 119]

Yaitu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat dari kalangan para pengikut rasul-rasul; yaitu mereka yang tetap berpegang teguh kepada perintah-perintah agama yang diwajibkan atas diri mereka dan disampaikan oleh rasul-rasul Allah kepada mereka. Demikianlah keadaan mereka secara terus-menerus hingga datanglah Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai akhir dari para rasul dan para nabi, lalu mereka mengikutinya, membenarkan dan membantu perjuangannya. Akhirnya mereka beruntung karena meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, mereka adalah golongan yang di­selamatkan; sepeeti sabda Nabi :

“إِنَّ الْيَهُودَ افترقت على إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَإِنَّ النَّصَارَى افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا فِرْقَةَ وَاحِدَةً”. قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي”.

Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan sesungguhnya orang-orang Nasrani itu telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan kelak umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Lalu para sahabat bertanya, “Siapakah mereka yang satu golongan itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: (Orang-orang yang) mengerjakan apa yang aku dan sahabat-sahabatku mengerjakannya. [HR Al-Hakim dan yang lainnya]

Ata’ mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. [QS. Hud: 118] Yakni orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Majusi. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. [QS. Hud: 119] Yaitu orang-orang yang memeluk agama yang hanif (agama Islam).

Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama’ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsaan mereka sama.

Firman Allah :

{وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ}

Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. [QS. Hud: 119]

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa Allah menciptakan mereka dalam keadaan berpecah belah, yakni berbeda-beda.
Pengertiannya sama saja dengan firman Allah dalam ayat yang lain, yaitu:

{فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ}

maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. [QS. Hud: 105]

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Allah menciptakan mereka untuk dirahmati.

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Najih, dari Tawus, bahwa pernah ada dua orang lelaki bersengketa kepadanya dengan persengketaan yang sengit. Lalu Tawus berkata, “Kalian sering bertengkar dan berselisih pendapat.” Salah seorang di antara keduanya menjawab, “Memang demikianlah kita diciptakan.’ Tawus berkata, “Kamu dusta.” Lalu lelaki itu berkata, “Bukankah Allah telah berfirman: ‘tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” [QS. Hud: 118-119]?”
Tawus berkata, “Allah tidaklah menciptakan mereka agar mereka berselisih pendapat, tetapi Dia menciptakan mereka agar bersatu dan untuk dirahmati.”

Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati, bukan untuk diazab.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah. Kesimpulan pendapat ini merujuk kepada pengertian yang terkandung di dalam firman Allah :

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa untuk rahmat dan perselisihan Allah menciptakan mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumberkan darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. [QS. Hud: 118-119] Bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat dalam masalah agamanya hingga terbagi-bagi menjadi berbagai macam pendapat. kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. [QS. Hud: 119]
Maka barang siapa yang dirahmati oleh Tuhanmu, berarti dia tidak berselisih pendapat. Ketika dikatakan kepadanya, “Untuk itulah Allah menciptakan mereka.”
Al-Hasan Al-Basri menjawab, “Allah men­ciptakan sebagian dari mereka untuk surganya, sebagian yang lainnya untuk neraka-Nya, dan sebagian yang lain untuk azab-Nya.”
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah dan Al-A’masy.
Ibnu Wahb pernah mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Malik tentang makna firman-Nya: tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. [QS. Hud: 118-119]
Malik menjawab bahwa segolongan dimasukkan ke dalam surga dan segolongan yang lain dimasukkan ke dalam neraka sa’ir.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan Abu Ubaid Al-Farra.
Dari Malik, menurut apa yang telah kami riwayatkan darinya di dalam kitab Tafsir sehubungan dengan makna firman Allah : Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. [QS. Hud: 119]
Disebutkan bahwa mereka diciptakan untuk dirahmati. Sedangkan suatu kaum dari kalangan ulama mengatakan bahwa mereka diciptakan untuk berselisih.
[Disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir]

Wallohu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

•┈┈•••✦✿✦•••┈┈•

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
YAYASAN PARA PEMBELA SUNNAH
NOREK : 7807878003
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

dr. M. Faishal Riza Sp.JP : 0811-360-7893
Agus Wijaya : 0812-3082-0070
M. Eko Subekti : 0812-3489-2689

Konfirmasi :

nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah