ASUHAN SANG KAKEK AMAT MENYAYANGI, ASUHAN SANG PAMAN PENUH BELAS KASIH



0 Comment

*🌙 SIRAH NABAWIYAH*

————— EPISODE 10 —————

*🌤 “ASUHAN SANG KAKEK AMAT MENYAYANGI, ASUHAN SANG PAMAN PENUH BELAS KASIH”*

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dibawa kembali ke Makkah oleh kakeknya. Perasaan kasih kepada cucunya yang yatim semakin bertambah, dan hal ini ditambah lagi dengan adanya musibah baru yang menggores luka lama yang belum sembuh betul. Dia tidak membiarkan cucunya hanyut dalam kesendirian, bahkan ‘dia lebih mengedepankan kepentingan cucunya daripada kepentingan anak-anaknya’.

‘Ibnu Hisyam berkata’, “Biasanya sudah terhampar permadani untuk Abdul Muththalib di bawah naungan Ka’bah, lalu anak-anaknya duduk di sekitar permadani tersebut hingga ia datang, tak seorang pun dari anak-anaknya tersebut yang berani duduk di situ. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah ketika usia sekitar 2 tahun datang & langsung duduk di permadani tersebut, paman-pamannya serta merta mencegahnya agar tidak mendekati tempat itu. Bila kebetulan melihat tindakan anak-anaknya itu,

Abdul Muththalib berkata kepada mereka, ‘Jangan kau ganggu cucuku!Demi ALLAH! Sesungguhnya dia nanti akan menjadi orang yang besar!’.

Kemudian ia duduk-duduk bersama beliau di permadani tersebut sembari mengusap-usap punggungnya. Dia merasa senang dengan kelakuan cucunya tersebut.

Saat beliau berusia 8 tahun 2 bulan 10 hari, kakek beliau meninggal di kota Makkah. Sebelum meninggal, dia memandang bahwa selayaknya dia menyerahkan tanggung jawab terhadap cucunya tersebut kepada paman beliau, ‘Abu Thalib’, saudara kandung ayahanda beliau, Ibu mereka adalah Fathimah binti Amr bin ‘Aidz.

Abu Thalib adalah seorang yang miskin dan memiliki tanggungan yang banyak. Abu Thalib melaksanakan amanah yang diembankan kepadanya untuk mengasuh keponakannya dengan sebaik-baiknya & menggabungkan beliau dengan anak-anaknya. ‘Dia bahkan mendahulukan kepentingannya ketimbang kepentingan mereka’.

Dia juga, mengistimewakannya dengan penghormatan & penghargaan. ‘Perlakuan tersebut berlanjut hingga beliau berusia di atas 40 tahun’, pamannya masih tetap memuliakan beliau, membentangkan perlindungan terhadapnya, menjalin persahabatan ataupun mengobarkan permusuhan dalam rangka membelanya.

Dia sangat mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dia tidur bersamanya dan pergi bersamanya. Dia melawan kaumnya di Makkah karena membela Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, hingga dia meninggal pada tahun ke-10 kenabian.

‘Ibnu Asakir meriwayatkan hadits dari Jalhamah bin Arfathah,’ dia berkata, “Ketika aku datang ke Makkah, mereka sedang mengalami musim paceklik (tidak turun hujan),

Lantas kaum Quraisy berseru, ‘Wahai Abu Thalib! Air lembah telah mengering dan kemiskinan merajalela, untuk itu mari kita meminta agar diturunkan hujan!’

Kemudian Abu Thalib keluar membawa seorang anak yang laksana matahari yang diselimuti oleh awan tebal pertanda hujan lebat akan turun, yang darinya muncul kabut tebal, yang di sekitarnya terdapat sumber mata air sumur.

Lalu Abu Thalib memegang anak tersebut, menyandarkan punggungnya ke Ka’bah, serta menaunginya dengan jari-jemarinya (dari panas matahari), ketika itu tidak ada gumpalan awan sama sekali, ‘namun tiba-tiba awan datang dari sana sini, kemudian turunlah hujan dengan lebatnya sehingga lembah mengalirkan air dan lahan-lahan tanah menjadi subur’.

Mengenai peristiwa ini, Abu Thalib menyinggungnya dalam rangkaian baitnya,

“… Dan (bocah yang) putih, sang penolong anak-anak yatim dan pelindung para janda melalui ‘kedudukan’nyalah hujan diharapkan turun” [Mukhtashar Siratul Rasul, karya Syaikh Abdullah an-Najd, hal. 15-16]

In Syaa Allah bersambung minggu depan

📜 “FOOTNOTES:” 📜

🏞 MENGGEMBALA KAMBING 🏞

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menggembala kambing bersama saudara susuannya di perkampungan Bani Sa’ad telah dijelaskan, tatkala ada 2 malaikat yang datang & membelah dada beliau.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “tidak ada Nabi kecuali telah pernah menjadi penggembala kambing”.

Mereka, para sahabat, bertanya,
“Engkau juga ya Rasulullah?”

Beliau berkata, “Iya, saya telah menggembala dengan imbalan beberapa dinar dari penduduk Makkah”. [HR Al-Bukhari, Kitab Al-Ijarah, 3/48]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata, “Kami pada suatu saat bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam di tempat bernama ‘Marr az-zhahran’, kami memetik buah yang matang dari pohon bernama ‘Al-Araak’ (dinamakan juga Al-Kibaats, rantingnya dipakai untuk bersiwak)”

Nabi berkata,
“Pilihlah yang berwarna hitam”,

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya baginda pernah menggembala kambing”,

Dia berkata,
“Iya, tidak ada seorang Nabi kecuali telah menjadi penggembala kambing”,
atau sekitar itulah maksudnya.
[HR Muslim, 3/1621 nomor 2050]

💭 MENGAPA PARA NABI MENJADI PENGGEMBALA KAMBING?

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
Ulama berkata, “Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika umat manusia”. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, 1/144]

Para nabi berprofesi sebagai pengembala kambing semenjak kecil,
agar mereka menjadi penggembala manusia pada waktu mereka besar. Sebagaimana Nabi Musa ‘alaihis sallam dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam serta para nabi lainnya Shalawatullahi ‘Alaihim wa Salamuh.

Pada awal kehidupan mereka telah berhasil menjadi penggembala kambing yang baik, agar mengambil pelajaran setelah keberhasilan mengendalikan binatang ternak menuju keberhasilan mengurus anak cucu Adam dalam mengajak, memperbaiki, dan mendakwahi mereka’. Agar sang da’i bisa sukses dalam berdakwah, maka perlu memiliki pengetahuan tentang pentingnya kesinambungan dan praktik secara langsung.

Mari bersholawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Mari mempelajari perjalanan hidup suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Sumber Buku:

– Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, edisi revisi); Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Penerbit Darul Haq, Jakarta)

– Fikih Sirah Nabawiyah; Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid (Penerbit Darus Sunnah, Jakarta)

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

*PROGRAM TA’AWUN GROUP PARA PENCINTA SUNNAH*

Bagi yang ingin berdonasi di kegiatan ta’awun Para Pencinta Sunnah, dana dapat disalurkan ke :

Rekening PPS
BNI SYARIAH
NURKHOLID ASHARI
NOREK : 0431487389
KODE BANK : 427 (Jika transfer dari bank lain)

Lalu konfirmasi ke salah satu Admin :

Farid : 0823-3603-7726
Nugroho : 0881-5006-720
Nurkholid : 081-331-946-911

Konfirmasi :
#nama#tanggal transfer#jumlah#keperluan

Atas partisipasi dan ta’awunnya kami ucapkan jazaakumullohu khoiron (Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

🌐 Website: bit.ly/ParaPencintaSunnah
💻 Facebook: bit.ly/fb-ParaPencintaSunnah
📷 Instagram: bit.ly/IG-ParaPencintaSunnah
📺 Youtube Channel:
bit.ly/Youtube-ParaPencintaSunnah
📱 Twitter: bit.ly/Twitter-ParaPencintaSunnah
🖨 Telegram: bit.ly/Telegram-ParaPencintaSunnah

Leave a Reply