KEAGUNGAN BULAN ROJAB

?KEAGUNGAN BULAN ROJAB?

Al hamdulillah sehubungan kita sudah berada di bulan Rajab, maka demi mendapatkan bekal untuk ngalap berkah keagungan bulan ini, kami sampaikan pembahasan hukum yang terkait dengan bulan Rajab dalam poin poin berikut ini :

1⃣ Keberadaan bulan Rajab

Bulan Rojab adalah bulan yang ke tujuh dalam kalender islam, diapit antara jumadits Tsani dan Sya’ban.

2⃣ Makna Rojab :

Dalam kitab kitab Lisanul Arab disebutkan :

رَجِبَ الرجلُ رَجَباً وَرَجَبٌ شهْرٌ سموه بذلك لِتَعْظِيْمِهِمْ إِيَّاهُ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ عَنِ الْقِتَالِ فِيْهِ وَلَا يَسْتَحِلُّوْنَ الْقِتَالَ فِيْهِ

“Rajab artinya mulia, sebagaimana perkataan, “Rajabar Rajulu Rajaban” artinya sesorang memuliakan dengan sebuah pemuliaan. Rajab adalah nama bulan. Dinamakan dengan rajab (mulia) karena mereka dahulu sangat mengagungkannya pada masa jahiliyyah, yaitu dengan tidak menghalalkan peperangan pada bulan tersebut”. (Lisanul Arob 1/411)

3⃣ Rajab adalah salah satu dari bulan Haram (suci) yang empat.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada 4 bulan yang haram, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian di bulan-bulan itu.” (QS At-Taubah: 36)

Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Sebagaimana yang telah diterangkan dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Tahun itu terdiri dari 12 bulan, diantaranya 4 bulan haram; tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhar, berada diantara Jumaada dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu)

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan,

فأخبر سبحانه أنه منذ خلق السماوات والأرض وخلق الليل والنهار يدوران في الفلك وخلق ما في السماء من الشمس والقمر والنجوم وجعل الشمس والقمر يسبحان في الفلك وينشأ منهما ظلمة الليل وبياض النهار فمن حينئذ جعل السنة اثني عشر شهرا بحسب الهلال فالسنة في الشرع مقدرة بسير القمر وطلوعه لا بسير الشمس وانتقالها كما يفعله أهل الكتاب.

”Allah Ta’ala memberitahukan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya beredar pada porosnya. Selain itu sejak penciptaan benda yang ada di langit berupa matahari, bulan dan bintang Allah menjadikan matahari dan bulan beredar pada porosnya. Sehingga menimbulkan gelapnya malam dan terangnya siang. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan peredaran matahari dan perpindahannya sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 202)

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa Rajab termasuk bulan haram. Dinamakan bulan haram karena Allah ta’ala memberikan penkhususan terhadap bulan ini dengan mengagungkannya melebihi bulan-bulan yang lain, demikian pula dosa dan amal shalih di bulan-bulan ini dilipatgandakan.

Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata :

{فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ} فِي كلِّهن، ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وعَظم حُرُماتهن، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.

“Maka janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian (berbuat dosa) di bulan-bulan itu.” (At-Taubah: 36) Maksudnya adalah pada seluruh bulan diharamkan berbuat zalim (dosa), kemudian Allah ta’ala mengkhususkan empat bulan, menjadikannya haram (mulia) dan mengagungkan kemuliaan bulan-bulan tersebut, demikian pula Allah ta’ala menjadikan dosa di bulan-bulan itu lebih besar dan amal shalih serta pahala lebih agung.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/148)

Imam al Qurthubi –rahimahullah- berkata :

هَذِهِ الآْيَةُ تَدُل عَلَى أَنَّ الْوَاجِبَ تَعْلِيقُ الأَحْكَامِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَغَيْرِهَا، إِنَّمَا يَكُونُ بِالشُّهُورِ وَالسِّنِينَ الَّتِي تَعْرِفُهَا الْعَرَبُ، دُونَ الشُّهُورِ الَّتِي تَعْتَبِرُهَا الْعَجَمُ وَالرُّومُ وَالْقِبْطُ

“Ayat ini menunjukan bahwa perkara yang seharusnya dilakukan adalah mengaitkan hukum hukum ibadah dan yang selainnya dengan bulan bulan dan tahun tahun yang dikenal oleh bangsa Arab bukan bulan bulan yang dijadikan patokan oleh orang non Arab, Romawi dan Qibti (mesir kuno)” (Tafsir al Qurthubi 8/133)

4⃣ Anjuran memperbanyak amalan ibadah secara umum.

Dianjurkan untuk memperbanyak dan meningkatkan amalan shalih pada bulan bulan haram yang empat yaitu Dzulqa’idah, dzulhijjah, muharram dan Rajab.

Namun amal shalih yang dimaksud di sini adalah amalan-amalan yang biasa kita kerjakan (yang berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah), seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a, dan lain-lain.

Contohnya, sholat tahajjud, sholat dhuha, puasa 3 hari tiap bulan, puasa Senin Kamis, memperbanyak puasa di bulan-bulan haram, dan lain-lain.

Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata :

شهر رجب مفتاح أشهر الخير والبركة قال أبو بكر الوراق البلخي: شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع وعنه قال: مثل شهر رجب مثل الريح ومثل شعبان مثل الغيم ومثل رمضان مثل القطر وقال بعضهم: السنة مثل الشجرة وشهر رجب أيام توريقها وشعبان أيام تفريعها ورمضان أيام قطفها والمؤمنون قطافها

“Bulan Rajab adalah kunci bulan bulan kebaikan dan keberkahan. Abu Bakar al Warraq al Balkhi berkata, Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan sya’ban adalah bulan mengairi tanaman, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan menuai hasilnya.”. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, perumpamaan bulan Sya’ban seperti awan, sedangkan bulan Ramadhan seperti hujan”. Sebagian ulama mengatakan, “Tahun itu ibarat pohon, dan bulan rajab adalah masa bersemainya dedaunan, bulan Sya’ban bagaikan masa berbuah, sedangkan Ramadhan adalah masa untuk memanen. dan orang orang Mukmin itu adalah yang akan memanen. (Latho’iful Ma’arif 1/121)

Adapun melakukan amalan khusus di waktu-waktu khusus maka membutuhkan dalil, contohnya puasa Arafah tgl. 9 Dzulhijjah, Asyuro’ tgl. 10 Muharram, dan lain-lain, boleh dikhususkan karena adanya dalil yang menunjukkannya. Barangsiapa mengkhususkan suatu amalan tanpa dalil maka berarti ia telah mengada-ada; berbuat bid’ah dalam agama.

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata :

إنما سماها حُرُماً لمعنيين. أحدهما : تحريم القتال فيها، وقد كان أهل الجاهلية يعتقدون ذلك أيضاً. والثاني : لتعظيم انتهاك المحارم فيها أشدَّ من تعظيمه في غيرها، وكذلك تعظيم الطاعات فيها.

”Dinamakan bulan haram karena dua makna :

Pertama : Pada bulan tersebut diharamkan peperangan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua : Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Zaadul Masiir, 2/256, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Ibnu Rojab al hanbali –rahimahullah- berkata :

وقد كان بعض السلف يصوم الأشهر الحرم كلها منهم ابن عمر والحسن البصري وأبو اسحاق السبيعي وقال الثوري: الأشهر الحرم أحب إلي أن أصوم فيها

“Dan sungguh sebagian para Salaf suka melakukan puasa pada bulan bulan haram semuanya (dzulqaidah, dzulhijjah, muharram dan rajab) diantara mereka Ibnu Umar, al Hasan al Bashri, Abu ishaq as Subai’i, dan Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho’iful Ma’arif 1/118)

Namun bukan berarti menkhususkan puasa tertentu dengan istilah puasa rajab karena pengkhususan puasa di bulan Rajab ini butuh dalil sementara dalam masalah ini tidak ada dalil yang shahih berkaitan dengannya, adapun riwayat riwayat yang beredar di masyarakat tentang ibadah puasa khusus bulan rajab tidaklah shahih bahkan sebagiannya hadits palsu sebagaimana akan disampaikan di akhir bahasan. (lihat poin ke-7)

Ibnu rajab -rahimahullah- berkata ;

وأما الصيام فلم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه

“Adapun puasa maka tidak ada satupun hadits yang shahih dari nabi shalallahu alaihi wasallam tentang keutamaan puasa bulan rajab secara khusus, tidak pula dari para Sahabatnya..” (Latho’iful Ma’arif 1/118)

5⃣ Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram

Dosa yang kecil bisa menjadi besar karena sebab dilakukan pada waktu yang mulia seperti pada bulan bulan haram ini.

Ibnu ’Abbas mengatakan :

اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وعَظم حُرُماتهن، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.

”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

6⃣ Mengkhususkan ibadah di bulan Rajab

Bulan Rajab tidak memiliki keutamaan khusus selain sebagi bulan haram saja yang dianjurkan padanya memperbanyak ibadah dan meninggalkan dosa dan maksiat sekecil apapun.

Oleh karena itu tidak diperbolehkan mengerjakan puasa bulan Rajab secara khusus atau mengkhususkan puasa pada hari-hari pertama bulan Rajab. Bahkan hal ini menyelisihi para salafus shalih dimana dahulu ’Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu pernah melarang seorang melakukan puasa Rajab, dan memaksanya untuk membatalkan puasanya tersebut.

Diriwayatkan dari Khursyah bin Al-Hur ia berkata ;

رَأَيْتُ عُمُرَ يَضْرِبُ أَكْفَ النَّاسِ فِي رَجَبٍ حَتَّى يَضَعُوْهَا فِي الْجَفَانَ وَيَقُوْلُ كُلُوْا فَإِنَّمَا هُوَ شَهْرٌ كَانَ يُعَظِّمُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ.

”Aku pernah melihat ’Umar radhiyallahu anhu memukul telapak tangan orang-orang yang berpuasa Rajab hingga mereka meletakkan tangan-tangan mereka di piring. ’Umar radhiyallahu anhu berkata, ”Makanlah!” Karena sesungguhnya ini adalah bulan yang dahulu pernah diagung-agungkan oleh kaum jahiliyah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 3/102)

7⃣ Diantara hadits yang tidak shahih bahkan diantaranya palsu terkait bulan Rajab baik dalam masalah puasa ataupun shalat.

? Hadits pertama :

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku” (Hadits Lemah, As-Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 9/ 4400)

? Hadits Kedua :

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْراً يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضاً مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْماً وَاحِداً سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ

“Di Surga ada sungai yang disebut Rajab. (Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu). Barangsiapa yang berpuasa sehari pada bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari sungai itu.” (Hadits Batil, As-Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 4 / 1898)

? Hadits Ketiga :

مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ وَكَعَاتٍ … لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ.

“Barangsiapa puasa di bulan Rajab dan shalat 4(empat) raka’at …, maka ia tidak akan meninggal hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan untunya.” (Hadits Palsu, Al-Maudhu’at 2/123-124)

? Hadits Keempat :

رَجَبٌ شَهْرٌ عَظِيْمٌ يُضَاعَفُ اللَّهُ فِيْهِ الْحَسَنَاتَ فَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ سَنَةٌ وَمَنْ صَامَ مِنْهُ سَبْعَةُ أَيَّامٍ غُلِقَتْ عَنْهَ سَبْعَةُ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ وَمَنْ صَامَ مِنْهُ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابِ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ مِنْهُ عَشْرَةَ أَيَّامٍ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَمَنْ صَامَ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا نَادَى مُنَادِ فِي السَّمَاءَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا مَضَى فَاسْتَأْنَفَ الْعَمَلُ وَمَنْ زَادَ زَادَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَفِيْ رَجَبٍ حَمَلَ اللَّهُ نُوْحًا فِي السَّفِيْنَةِ فَصَامَ رَجَبَ وَأَمَرَ مَنْ مَعَهُ أَنْ يَصُوْمُوْا فَجَرَتْ بِهِمُ السَّفِيْنَةَ سِتَّةَ أَشْهُرِ آخِرُ ذَلِكَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ أَهْبَطَ عَلَى الْجُوْدِيْ فَصَامَ نَوْحٌ وَمَنْ مَعَهَ وَالْوَحْشِ شُكْرًا لِهََِ عَزَّ وَجَلَّ . وَفِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَفْلَقَ اللَّهُ الْبَحْرَ لِبَنِيْ إِسْرَائِيْلَ. وَفِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ تَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى آدَمَ (وَعَلَى مَدِيْنَةِ يُوْنُسَ وَفِيْهِ وُلِدَ إِبْرَاهِيْمُ (لِمَ تَتِمُّ دِرَاسَتٍ).

“Rajab adalah bulan yang agung Allah melipat gandakan di dalam bulan tersebut kebaikan-kebaikan. Barangsiapa yang berpuasa 1(satu) hari di bulan Rajab, maka seolah-olah ia berpuasa 1(satu) tahun. Barangsiapa yang berpuasa di dalamnya 7(tujuh) hari, maka ditutup baginya 7(tujuh) pintu (Neraka) Jahannam. Barangsiapa yang berpuasa di dalamnya 8(delapan) hari, maka dibukakan baginya 8(delapan) pintu Surga. Barangsiapa yang berpuasa di dalamnya 10(sepuluh) hari, maka tidaklah ia meminta kepada Allah sesuatu kecuali (Allah) akan mengabulkan permintaannya. Barangsiapa yang berpuasa di dalamnya 15(lima belas) hari, maka terdengarlah seruan dari langit, “Sungguh telah diampuni (dosa-dosamu) yang telah lalu.” Maka mulailah mengamalkannya. Dan barangsiapa yang menambah (puasa pada bulan tersebut), maka Allah Ta’ala akan menambah (pahala baginya). Pada bulan Rajab Allah membawa Nabi Nuh dengan kapal, Nabi Nuh (pada waktu itu) berpuasa Rajab dan memerintakan kepada orang-orang yang bersamanya untuk berpuasa (Rajab). Maka berlayarlah kapal tersebut selama 6(enam) bulan. Dan berakhir pada Hari Asy-Syura’, Allah menurunkan mereka di suatu tempat, dengan kemurahan(-Nya). Maka berpuasalah Nabi Nuh berserta dengan orang-orang yang bersamanya, sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Pada Hari Asy-Syura’ Allah membelah lautan untuk Bani Isra’il. Pada Hari Asy-Syura’ (pula) Allah menerima taubatnya Nabi Adam, Nabi Yunus, dan pada hari tersebut Nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak, sebagai akhir dari ujian-ujian (baginya).” (Hadits Palsu, As-Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 10/ 5413)

? Hadits kelima :

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ عَدَلَ صِيَامَ شَهْرٍ

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.” (Hadits Palsu, al-Fawaa-id al-Majmu’ah no. 290).

? Hadits keenam :

لاَ تَغْفُلُوْا عَنْ أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ فَإِنَّهَا لَيْلَةٌ تُسَمِّيْهَا الْمَلاَئِكَةُ الرَّغَائِبَ…

“Janganlah kalian lalaidari (beribadah) padamalamJum’atpertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaa-ib…” (Hadits Palsu, Al-ManaarulMuniif fish Shahihwa dh Dha’if no. 168-169).

? Hadits ketujuh :

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبَانَ كَفَضْلِي عَلىَ سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى سَائِرِ العِبَادِ.

“Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaan ku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.” (Hadits Palsu, al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky)

? Hadits kedelapan :

مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ اْلأَمِيْنَ جِبْرِيْلُ عَلَّمَنِيْ ذَلِكَ. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ: حَفِظَهُ اللَّهُ فِيْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ.

“Barang siapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya duapuluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’” (Hadits palsu, al-Maudhu’at Ibnu Jauzy (2/123)

? Hadits kesembilan :

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ مِائَةَ مَرَّةٍ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَ فِي الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد, لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ

“Barang siapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelumiamati). (Hadits Palsu, Al-Maudhu’at (II/123-124).

? Hadits kesepuluh ;

مَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ كُتِبَ لَهُ صِيَامُ شَهْرٍ وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ أَغْلَقَ اللهُ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ فَتَحَ اللهُ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ نِصْفَ رَجَبَ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَاباً يَسِيْراً

“Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barang siapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barangsiapa puasa nishfu (setengahbulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.” (Hadits palsu, al-Laaliy al-Mashnu’ah, Imam As Suyuthi )

8⃣ Perkataan para Ulama tentang hadits hadits keutamaan bulan Rajab dan ibadah yang dikhususkan padanya.

Imam An Nawawi –rahaimhullah- berkata tentang shalat Raghaib dan shalat alfiyah :

الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيحَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذَكَرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَإِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ وَلَا بِالْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ فِيهِمَا فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ

“Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib, yaitu shalat 12 raka’at dilakukan antara magrib dan Isya dimalam jum’at pertama dibulan Rajab, dan shalat dimalam nishfu Sya’ban 100 raka’at (yang disebut shalat alfiyah) , maka kedua shalat tersebut adalah dua shalat yang BID’AH lagi munkar yang JELEK. Jangan tertipu dengan disebutkannya kedua shalat tersebut dalam kitab Qutul Qulub dan kitab Ihya Ulumudin jangan pula tertipu dengan adanya hadits tersebut, karena semuanya itu adalah hadits yang BATIL” (Al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab 4/56)

Imam Ibnu Qayyim –rahimahullah- berakata :

وَكَذَلِكَ أَحَادِيثُ صَلاةِ الرَّغَائِبِ لَيْلَةَ أَوَّلُ جُمُعَةِ مِنْ رَجَبٍ كُلُّهَا كَذِبٌ مُخْتَلَقٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dan demikian juga hadits hadits tentang shalat raghaib dimalam jumat pertama dibulan rajab semuanya DUSTA mengatasnamakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam” (Manarul munif no : 167)

Beliau –rahimahullah- juga mengatakan :

وَكُلُّ حَدِيثٍ فِي ذِكْرِ صَوْمِ رَجَبٍ وَصَلاةِ بَعْضِ اللَّيَالِي فِيهِ فَهُوَ كَذِبٌ مُفْتَرًى كَحَدِيثِ “مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً جَازَ عَلَى الصِّرَاطِ بِلا حِسَابٍ”.

“Setiap hadits yang menyebutkan tentang puasa Rajab, shalat sebagian malamnya, semuanya adalah dusta seperti hadits Barangsiapa yang shalat bada maghrib di awal malam bulan Rajab 20 raka’at maka ia akan melintasi shirat tanpa hisab” (Al manarul Munif, hal. 92 no : 170)

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata :

لَمْ يَرِدْ فِيْ فَضْلِ شَهْرِ رَجَبٍ وَلَا فِي صِيَامِهِ وَلَا فِيْ صِيَامِ شَيْءٍ مِنْهُ مُعَيَّن وَلَا فِيْ قِيَامِ لَيْلَةٍ مَخْصُوْصَةٍ فِيْهِ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ يَصْلُحُ لِلْحُجَّةِ

Tidak ada hadits shahih yang dapat dijadikan hujjah seputar amalan khusus dibulan Rajab, baik puasa maupun shalat malam dan sejenisnya..” (Tabyinul ‘Ajab, Ibnu Hajar, hal. 6). Demikian semoga bermanfaat, Wallahu waliyyut Taufiq.

✍ Abu Ghozie As Sundawie


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply