Categories
Artikel

Mengenal Bulan Dzulqa’dah

*_Mengenal Bulan Dzulqa’dah_*

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

*Asal Penamaan*

Secara bahasa, *Dzul Qo’dah* terdiri dari dua kata: Dzul, yang artinya: Sesuatu yang memiliki dan Al Qo’dah, yang artinya tempat yang diduduki. Bulan ini disebut Dzul Qo’dah, karena pada bulan ini, kebiasaan masyarakat arab duduk (tidak bepergian) di daerahnya dan tidak melakukan perjalanan atau peperangan. (al-Mu’jam al-Wasith, kata: al-Qo’dah).

Bulan ini memiliki nama lain. Diantaranya, orang jahiliyah menyebut bulan ini dengan waranah. Ada juga orang arab yang menyebut bulan ini dengan nama: Al Hawa’. (al-Mu’jam al-Wasith, kata: Waranah atau Al Hawa’).

*Hadis Shahih Seputar Bulan Dzulqa’dah*

Hadis dari Abu Bakrah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

_“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.”_ (HR. Bukhari 3197 & Muslim 4477)

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

‎أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ

_“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah,…_ (HR. Bukhari 1780 & Muslim 1253)

*Masyarakat jahiliyah dan Bulan Dzulqa’dah*

Masyarakat arab sangat menghormati bulan-bulan haram, baik di masa jahiliyah maupun di masa islam, termasuk diantaranya bulan Dzul Qo’dah. Di zaman jahiliyah, bulan Dzul Qo’dah merupakan kesempatan untuk berdagang dan memamerkan syair-syair mereka. Mereka mengadakan pasar-pasar tertentu untuk menggelar pertunjukkan pamer syair, pamer kehormatan suku dan golongan, sambil berdagang di sekitar Mekkah, kemudian selanjutnya mereka melaksanakan ibadah haji. Bulan ini menjadi bulan aman bagi semuanya, satu sama lain tidak boleh saling mengganggu. (Khazanatul Adab, 2/272)

Ada beberapa pasar yang mereka gelar di bulan Dzul Qo’dah, diantaranya adalah pasar Ukkadz. Letak pasar ini 10 mil dari Thaif ke arah Nakhlah. Pasar Ukkadz diadakan sejak hari pertama Dzul Qo’dah hingga hari kedua puluh. (Al Mu’jam Al Wasith, kata: Ukkadz) Setelah pasar Ukkadz selesai, mereka menggelar pasar Majinnah di tempat lain. Pasar ini digelar selama 10 hari setelah selesainya pasar Ukkadz. Setelah selesai berdagang dan pamer syair, selanjutnya mereka melaksanakan ibadah haji. (al-Aqdul Farid, 2/299).

Allahu a’lam

Ustadz Ammi Nur Baits
(Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Categories
Artikel

Angan angan duniawi yg tak berujung

*Rubrik Berkah dan Tebar Ihsan*

*_Jumat, 27 Syawwal 1438 H / 21 Juli 2017_*

*ANGAN-ANGAN DUNIAWI YANG TAK BERUJUNG*

Berbicara tentang dunia adalah pembicaraan yang tak akan pernah ada akhirnya. Sering kali keinginan dan impian melampaui kemampuan diri. Manusia cenderung bersikap tamak dengan kenikmatan dunia yang didapatkannya. Hari ini mendamba sepeda motor, tahun depan menginginkan mobil hadir di garasi rumahnya. Hari ini punya mobil, tahun depan berharap mengganti mobil dengan yang lebih bagus dan lebih mahal atau bahkan menambah koleksinya menjadi dua, tiga ataukah empat unit mobil. Sebuah mimpi dan angan-angan yang tak berujung. Ibarat meminum air laut, tak dapat menghilangkan dahaga namun justeru menambah rasa haus.

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

Sungguh, harta yang berada dalam kuasa kita saat ini pun adalah ujian dari Allah. Tak sedikit dari hamba Allah yang dahulunya adalah orang yang dekat dengan ibadah dan ketaatan dalam kondisi perekonomian sulit, namun kemudian berubah sangat cepat menjadi lupa dan lalai karena lebih memilih untuk mengikrarkan diri menjadi hamba dinar dan dirham. Cukuplah kisah Qarun menjadi pelajaran bagi kita semua, dimana fitnah harta adalah fakta yang membahayakan keimanan dan ketaatan kita kepada Allah.

Maka tanam, semai dan penuhilah jiwa dengan sikap qana’ah (rasa cukup dengan rezki dunia yang Allah anugrahkan). Agar tak ada ruang lagi bagi fitnah dunia untuk bersemayam di hati kita.

Wallahua’lam

✍ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc

Link Facebook PPS:
https://m.facebook.com/home.php

Follow Instagram PPS:
https://www.instagram.com/parapencintasunnah/

•┈┈┈┈••❁🌹❁••┈┈┈┈•

✨ *INGIN MEMETIK PAHALA DI BULAN DZULHIJJAH?* ✨

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*_Para Pencinta Sunnah, Muslim Positif, & Takmir Masjid Al Furqan_*

_Present…_

🎁 *BAKTI SOSIAL DI BULAN DZULHIJJAH 1438 H* 🎁

🍃 Peduli akan saudara-saudara kita? Tergerak untuk memetik pahala dan berbagi kepada mereka?

🍃 Program dari Para Pencinta Sunnah, Muslim Positif & Takmir Masjid Al Furqan untuk dua daerah yaitu di Dsn. Srau dan Dsn. Dawung Kab. Pacitan kali ini dapat menyalurkan kepedulianmu :

1⃣ Tebar Jilbab Syar’i dan Buku Saku
2⃣ Pengobatan Gratis

🗓 *Pelaksanaan Bakti Sosial :*
Ahad, 27 Agustus 2017

💰 *Total Dana yang dibutuhkan:*
Rp. 20.000.000,-

🍃 Yuk bersama-sama memetik pahala dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang ada di sana.

🗳 *Bagaimana Cara Berdonasi?*

*Transfer ke rekening:*
💳 Mandiri Syariah (Kode bank : 451)
No. Rekening : 709-708-469-8
💳 BNI Syariah (Kode bank : 009)
No. Rekening : 043-475-2527
» Semua a.n Rizqi Amirurrosyid

*Konfirmasi via SMS ke:*
📱 +62 896-9752-5526 (Ardho)
📱 +62 823-3603-7726 (Farid)

*Dengan format:*
Baksos Dzulhijjah # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi.

*Contoh:*
Baksos Dzulhijjah # Nanda # Buduran Sidoarjo # BSM # 31 Juli 2017# 1.000.000.

•┈┈┈┈••❁🌹❁••┈┈┈┈•

*Bantu share info kebaikan ini ya sobat…*

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.” [HR. Muslim, 3509]

جزاكم الـلّه خيرا و بارك الـلّه فيكم….

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Categories
Artikel

Syarat – syarat Taubat (Bag. 1)

*Rubrik Muhasabah dan Renungan*

*_Kamis, 3 Dzul Qa’dah 1438 H / 27 Juli 2017_*

*Syarat-syarat taubat (I)*

Saudaraku seiman, agar kita dapat menggapai taubat yang murni ( taubatan nashuuha ), maka kita harus merealisasikan syarat-syaratnya, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para ulama.

Taubat itu memiliki syarat-syarat sahnya, dan secara lebih teliti kita akan dapati bahwa taubat memiliki lima syarat sah, yaitu:

✒ Pertama : memurnikan niat (ikhlas) hanya untuk Allah Ta`ala.

Yakni maksud tujuan orang itu dalam taubatnya hanya mengharapkan ridho Allah Ta`ala dan surgaNya, berharap agar Allah Ta`ala menerima taubatnya, mengampuninya dan memaafkannya atas segala perbuatan dosa yang telah dia lakukan. Dia bertaubat bukan bermaksud untuk berpura-pura baik, ingin dipuji orang lain, dan bukan ingin berusaha mendapatkan keridhoan manusia, serta bukan pula karena ingin terlindungi dari hukuman seorang raja atau pemerintah.

Allah Ta`ala Berfirman:

وَما أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفاءَ

“Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus …” (Albayyinah:5)

Dan taubat merupakan salah satu ketaatan yang paling mulia yang harus dimurnikan hanya untuk Allah Ta`ala semata.

Dan Nabi shollallahu `alaihi wasallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang dia niatkan”. (Diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim dari `Umar bin Khotthob rodhiyallahu `anhu).

✒ Kedua: menyesali atas perbuatan maksiat yang telah dia lakukan.

Karena perasaan menyesal yang ada pada seseorang itulah yang menunjukkan bahwa dia itu jujur dalam taubatnya. Yakni dia menyesali dan bersedih hati atas apa yang telah dia perbuat, serta tidak memandang bahwa dia sudah diampuni dosanya itu sampai dia benar-benar bertaubat kepada Allah Ta`ala dari perbuatan dosa tersebut.

وعن حميدٍ الطويل قال: قلتُ لأنسِ بن مالكٍ: أقال النبيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: الندمُ تَوْبَةٌ ؟ قال: نَعَمْ. (رواه ابن حبان في صحيحه. وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في صحيح الترغيب والترهيب: 3146 )

Dari Humaid At thowiil berkata: aku berkata kepada Anas bin Malik rodhiyallahu `anhu: apakah Nabi shollallahu `alaihi wasallam pernah bersabda: “rasa menyesal itu merupakan taubat” ?. Beliau rodhiyallahu `anhu menjawab: “ iya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya, dan di shohihkan oleh syeikh Albani dalam kitab shohih at targhiib wat tarhiib,no: 3146. Dan diriwayatkan juga oleh imam Hakim dari Abdullah bin Mas`ud rodhiyallahu `anhu dan syeikh Albani berkata: sanadnya shohih lighoirihi. Shohih at targhiib wat tarhiib,no: 3147).

Dan dari Ummu Abdillah `Aisyah rodhiyallahu `anhaa, ibu kita, ibunya orang-orang yang beriman, istri Rosulullah shollallahu `alaihi wasallam, beliau berkata: bahwa Rosulullah shollallahu `alaihi wasallam bersabda:

فإن التوبة من الذنب الندم

“ … Sesungguhnya bentuk taubat dari dosa adalah dengan menyesal “. (diriwayatkan oleh imam Bukhori 8/363-364, dan Muslim 8/116, dalam hadits beliau yang panjang tentang kisah al ifki).

Bersambung in syaa Allah ….

✍ Penulis : Ustadz Abul Mauludi, Lc

💻 Facebook: https://m.facebook.com/home.php
📷 Instagram: https://www.instagram.com/parapencintasunnah/
📺 Youtube Channel:
https://www.youtube.com/channel/UC57GxhB_9_e3Ns4S4z2qybw
📱 Twitter: https://twitter.com/PPSunnah?s=08

•┈┈┈┈••❁🌹❁••┈┈┈┈•

✨ *INGIN MEMETIK PAHALA DI BULAN DZULHIJJAH?* ✨

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*_Para Pencinta Sunnah, Muslim Positif, & Takmir Masjid Al Furqan_*

_Present…_

🎁 *BAKTI SOSIAL DI BULAN DZULHIJJAH 1438 H* 🎁

🍃 Peduli akan saudara-saudara kita? Tergerak untuk memetik pahala dan berbagi kepada mereka?

🍃 Program dari Para Pencinta Sunnah, Muslim Positif & Takmir Masjid Al Furqan untuk dua daerah yaitu di Dsn. Srau dan Dsn. Dawung Kab. Pacitan kali ini dapat menyalurkan kepedulianmu :

1⃣ Tebar Jilbab Syar’i dan Buku Saku
2⃣ Pengobatan Gratis

🗓 *Pelaksanaan Bakti Sosial :*
Ahad, 27 Agustus 2017

💰 *Total Dana yang dibutuhkan:*
Rp. 20.000.000,-

🍃 Yuk bersama-sama memetik pahala dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang ada di sana.

🗳 *Bagaimana Cara Berdonasi?*

*Transfer ke rekening:*
💳 Mandiri Syariah (Kode bank : 451)
No. Rekening : 709-708-469-8
💳 BNI Syariah (Kode bank : 009)
No. Rekening : 043-475-2527
» Semua a.n Rizqi Amirurrosyid

*Konfirmasi via SMS ke:*
📱 +62 896-9752-5526 (Ardho)
📱 +62 823-3603-7726 (Farid)

*Dengan format:*
Baksos Dzulhijjah # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi.

*Contoh:*
Baksos Dzulhijjah # Nanda # Buduran Sidoarjo # BSM # 31 Juli 2017# 1.000.000.

•┈┈┈┈••❁🌹❁••┈┈┈┈•

*Bantu share info kebaikan ini ya sobat…*

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.” [HR. Muslim, 3509]

جزاكم الـلّه خيرا و بارك الـلّه فيكم….

•┈┈••❁🌹🌹🌹❁••┈┈•

Categories
Artikel

Kaya udah punya kaplingan di surga saja..!

*Kaya udah punya kaplingan di surga saja..!*

Kata inilah yang seringkali dikatakan kepada orang yang menyampaikan ancaman neraka dari Allah ta’ala, baik melalui kitab-Nya Alqur’an, ataupun melalui lisan Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam.

Padahal ancaman² tersebut banyak sekali kita dapati dalam Alquran dan Hadits.. apakah mereka ingin ayat² dan hadits² itu disembunyikan dan tidak disampaikan kepada manusia, sebagaimana telah dilakukan oleh kaum ahli kitab (yahudi dan nasrani) dalam ajaran mereka?!

Saudaraku seiman.. jika engkau TIDAK mau diancam dg neraka Allah, maka berhentilah melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskanmu ke dalamnya, bukan malah menuduh sinis orang yang telah berbaik hati kepadamu dengan usahanya memperingatkanmu dari bahaya tindakan burukmu!

Harus kita pahami juga bahwa nash-nash tentang “ancaman” itu sama seperti nash-nash tentang “janji pahala”.. itu bukan hasil akhir yang pasti.

Lebih jelasnya, bahwa ancaman tersebut belum tentu akan benar² dialami oleh pelakunya di kemudian hari, karena bisa jadi akhirnya dia bertaubat, atau amal baiknya lebih banyak, atau Allah mengampuninya.. sehingga bisa saja ancaman itu tidak terjadi padanya.

Begitu pula sebaliknya, jika ada nash tentang janji² pahala dari Allah, misalnya tentang amalan ‘menanggung kehidupan anak yatim’ akan memasukkan seseorang ke dalam Surga, bahkan dekat dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam.. belum tentu hal ini akan benar² terjadi pada semua pelakunya, karena bisa jadi amal buruk dia lebih banyak, bisa jadi Allah tidak menerima amal itu karena tidak ikhlas atau dari harta haram, bisa jadi hidupnya ditutup dengan su’ul khatimah, dan sebab² lainnya yang menjadikannya tidak berhak mendapatkan janji tersebut.

Kita harus memahami hal ini dengan baik, sehingga kita bisa mendudukkan nash² tentang ancaman dan janji pahala dengan pas dan proporsional.

Kita juga harus memahami bahwa maksud Allah dari ancaman² dan janji² itu adalah agar kita takut melakukan kemaksiatan, dan semangat dalam menjalankan ketaatan, sehingga harusnya kita mengondisikan diri kita sebagaimana Allah kehendaki.

Kemudian, jika kita melihat nash² tentang ancaman neraka ini, ternyata mengarah kepada semua bab maksiat, mulai dari yang paling parah; kekafiran dan kesyirikan, lalu kebid’ahan, lalu dosa besar, sampai dosa² yang di bawahnya… Anda bisa perhatikan contoh² berikut ini:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا

“Orang² yang kafir dan mendustakan ayat² kami, merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. [QS. At-Taghabun: 10].

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sungguh orang yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya neraka”. [QS. Al-Maidah:72].

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار

“Seburuk-buruk perkara (dalam agama ini) adalah perkara² yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama ini) adalah bid’ah, padahal setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka”. [HR. An-Nasa’i, dishahihkan oleh Albani].

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sungguh orang-orang yang memakan harta anak² yatim, sesungguhnya mereka makan api dalam perut mereka, dan mereka akan masuk neraka”. [QS. An-Nisa: 10].

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh baginya neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selamanya”. [QS. Al-Jin: 23].

Lihatlah, nash-nash diatas, semuanya memberikan ancaman neraka, dan bukan berarti orang yang pernah melakukan hal itu, pasti akhirnya akan masuk neraka.. karena bisa jadi dia bertaubat setelah itu dan Allah mengampuninya, atau karena sebab² lainnya.

Masih sangat banyak sekali nash-nash lainnya yang senada dengan nash² di atas, kita tidak bisa menyebutkan semuanya, karena terbatasnya waktu dan tempat.. tentu semuanya harus kita sampaikan kepada manusia, sebagaimana dulu telah disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat beliau -rodhiallohu anhum-, dan para ulama setelahnya -rohimahumulloh-.

Jika demikian adanya, pantaskah kita mengatakan kepada mereka, “Kaya udah punya kaplingan di surga saja..!”

Mari berbenah diri, semoga Allah merahmati kita semua.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

📚 Ibnu Zubair